Jumat, September 02, 2011

Buat Kau Indonesiaku ...

Puisi ini saya copy dari 'note' di facebook saya yang saya tulis beberapa saat yang lalu, yang menggambarkan betapa bangganya saya pada TimNas, walau kalah di final, namun mereka tetap pemenang bagi kami.

Tadi malam saya sedikit kecewa dengan TimNas karena Iran begitu mudahnya mencuri gol dari kalian. Namun setelah membaca puisi ini, saya teringat kembali gol demi gol yang sempat kalian ciptakan di pertandingan-pertandingan sebelumnya, dan hal ini membangkitkan kepercayaan saya lagi terhadap kalian.

Berikut adalah lukisan kebanggaan hati saya terhadap TimNas ketika itu, dan sampai sekarang pun rasa bangga masih tersimpan di lubuk hati yang paling dalam.


HomeProfileFriendsMessages

Buat kau Indonesiaku ...
By Annisa Tang

Sampai final bukan perkara gampang ...

Bukan karna Gonzalez, bukan krn Bachdim, BP, Okto, Bustomi, Firman, juga Markus ...

Melainkan kalian adalah TimNas ...

TimNas RI, kebanggaan kami ...

 'Sporty' harus selalu diawali dengan prinsip SPORTIF ...

Dan kami melihatnya saat kalian mulai membusungkan dada dan menyanyikan lagu 'Indonesia Raya' ...

Saat kalian mulai berlari dan peluh membasahi kening ...

Kami tahu bahwa kalianlah PEMENANGnya ...

Garuda tak terkalahkan ...

Karena selalu berpegang teguh pada PANCASILA ...

Tak perlu bersembunyi di balik sinar laser dan serbuk gatal ...

Maju terus pantang mundur ...

Malam ini kami bangga pada kalian ...

TimNas Indonesia ...

You are The Win !!!

January 1 at 6:31am · 12 · Unlike · Edit · Delete
You, توفيق إدي برينو and 10 others like this.

Aryanto Pratowo HIDUP...GARUDA....!!
Dec 29, 2010 · Like · Remove

Hey Kau ... !!!

Balikpapan, September Rain.

Hey Kau !!!

Tahukah kau apa yang kupikirkan saat ini ?
Apapun itu, semuanya adalah tentang kamu !
Ya kamu ! Semuanya hanya kamu !
Tak tahukah kamu atau tidak mau tahukah kamu ?

Tahukah kau apa yang kurasakan saat ini ?
Sakit ! Karena aku tidak tahu kabarmu hari ini.
Kangen ! Karena cukup lama kita tidak bersua.
Pilu ! Karena aku tak tahu apa yang kau rasakan padaku.

Tahukah kau bahwa hanya kau yang kuharapkan ?
Orang pertama yang ingin kulihat ketika membuka mata di pagi hari.
Orang pertama yang menanyakan kabarku hari ini.
Namun orang terakhir yang ingin kulihat di malam menjelang tidurku.

Kau ! Kau ! Dan kau ! Kau lagi !
Dan malam ini, lagi-lagi aku merasakan rindu padamu.
Ingin berada di sampingmu, selalu dengan kamu.
Tak perduli bagaimana kondisimu, yang kumau hanya kamu.

Ketika kau mulai ingat untuk menanyakan kabarku.
Ketika kau mulai rindu untuk bertemu denganku.
Ketika kau mulai merasakan hal yang sama denganku.
Aku masih di sini menunggu, hanya untukmu.

Kamis, September 01, 2011

Jangan marah padaku, Sahabat.

Dear sahabat,

Jangan marah padaku ...
Diammu membuat pilu hatiku
Cuekmu membuat gelisah hatiku
Hilangmu membuat resah hatiku

Jangan marah padaku ...
Ketika aku menolak berdua denganmu
Ketika aku tak membalas pesanmu
Ketika aku mengabaikan telpon masuk darimu

Jangan marah padaku ...
Karena aku adalah sahabatmu
Tempatmu berbagi suka dan duka
Aku sayang kamu

Jangan marah padaku ...
Bukan karena aku tak menginginkanmu
Bukan karena aku tak menyukaimu
Bukan karena aku benci padamu

Jangan marah padaku, Sahabatku ...
Sampai kapanpun aku adalah sahabatmu
Walau cintaku bukan untukmu
Tapi posisimu tak tergantikan

Maaf karena kebersamaan ini menyakitkanmu

Senin, Agustus 29, 2011

Fang Fang

Membaca judul di atas pasti kalian sudah menduga kalau judul itu menggunakan nama seseorang. Yah, namanya Fang Fang, perempuan keturunan Tiong Hoa campur Jawa, dan marganya adalah Tang, sama dengan saya. Secara langsung saya belum pernah bertemu dengannya, mungkin ketika kecil dulu pernah dan itupun saya sudah lupa tampangnya seperti apa, namun dalam hal hubungan darah, kami cukup dekat karena ia adalah anak dari kakak laki-laki papa saya, dengan artian kalau ia adalah sepupu sekali saya.

Saya memanggil Oom saya itu dengan sebutan Apek, ia sudah almarhum sejak beberapa tahun yang lalu. Apek menikah beberapa kali, anak Apek yang paling dekat dengan saya adalah koko Ahok, karena ia sudah ikut dengan keluarga saya sejak baru lulus SMP. Ibu kandung koko Ahok adalah wanita Batak yang tinggal di daerah Sibolga. Kemudian Apek ada beberapa kali menikah; ada dengan wanita India, Jawa, dan juga sesama Chinese. Nah, Fang Fang adalah anak kedua dari seorang wanita Jawa yang dinikahi oleh Apek.

Baru-baru ini Fang Fang ada menghubungi papa saya, mengabari kalau ia sekarang berada di kawasan transmigran di Kalimantan Tengah mengikuti suaminya, ia mengetahui nomor HP papa pasti dari la'ko (kakak perempuan papa yang berada di Jakarta). Sewaktu saya dan mami berlibur ke Jakarta, kami sempat bertemu dengan chi-chi Amey di rumahnya di daerah Muara Karang, ia adalah salah seorang anak la'ko, dan mengalirlah cerita dari mulutnya kalau Fang Fang sempat tinggal di rumahnya, dan mau dikursuskan salon agar bisa membantu chi-chi Amey di salon miliknya, tapi Fang Fang selalu lari ke dapur untuk mencuci piring. Kemudian chi-chi Risa, kakak sepupu saya juga, diceritakan oleh chi-chi Amey, sempat mau mengajak Fang Fang untuk tinggal bersamanya di Australia dan dijodohkan dengan bule Aussie, Fang Fang menolak dengan tegas.

Fang Fang jatuh hati dengan seorang buruh bangunan yang ketika itu bekerja pada tetangga chi-chi Amey, lalu mereka pun menikah. Chi-chi Amey tak habis pikir akan jalan yang dipilih oleh Fang Fang. Tapi kalau cinta sudah berbicara, pertanyaan seperti apapun tak akan ada jawabannya.

Kembali pada Fang Fang, dia berbicara dengan papa melalui telepon seperti sudah lama mengenal papa, sempat saya menguping pembicaraan mereka, terdengar akrab. Fang Fang merayakan lebaran juga sama seperti kami, namun ia merayakan lebaran sehari sebelum kami yaitu pada tanggal 30 Agustus 2011. Kemudian papa mengenalkan Fang Fang pada mami, ia juga menanyakan kabarku pada mami, dan ia menangis pada mami. Ia bercerita pada mami kalau ia hanya lulusan SD, ia berkata ingin seperti saya yang bisa sekolah tinggi sehingga bisa bekerja di bank. Apek memang semasa hidupnya kurang memperhatikan anak-anaknya, oleh karena itulah koko Ahok dulu tinggal bersama kami agar bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Apa daya, Fang Fang luput dari kami, karena ketika Apek meninggal dunia, kami pun sedang mengalami krisis moneter. Semoga alm Apek tidak merasa terganggu dengan diceritakannya kisah ini.

Fang Fang cerita tentang kondisi dirinya yang hanya menghidupi diri dengan bertani, ia sudah memiliki seorang putri, dan di musim kemarau ini, ia harus setengah mati menggarap sawahnya. Ibunya sedang sakit dan masuk rumah sakit di Jawa, sedangkan kakak lelakinya tidak begitu peduli. Kakak lelakinya itu memang sempat terkena kasus pencurian di rumah seorang kerabat kami juga di Jakarta.

Hati saya terenyuh juga mendengar kisahnya. Saya belum sempat bertemu dengannya, namun saya sudah merasa cukup dekat dengannya. Sebagai wanita dewasa yang sudah wajib zakat, saya merasa alangkah baiknya jika penerimanya itu adalah dia, dan ketika saya menelponnya untuk memastikan apakah kiriman saya sudah sampai atau belum, ia terdengar seperti wanita yang santun, walau pendidikannya tidak memadai. Dan jika suatu saat saya mendapat rezeki yang lebih lagi, saya sudah tahu harus membaginya pada siapa. Tetap menjadi wanita yang kuat ya ... saudariku Fang Fang ...

Minggu, Agustus 28, 2011

Oom korannya Oom ...

Sibuk jungkir balik mencari remote televisi di kamar saya, mulai menyelidik ke seluruh ruangan sampai guling-guling di tempat tidur (untuk merasakan ada atau tidaknya benda di balik springbed yang cukup tebal), dan kemudian malah menemukannya terselip di belakang laptop yang sedang saya gunakan untuk menulis blog saat ini.

Niat meneruskan menonton acara Mario Teguh Golden Ways yang sempat saya tonton sebentar di ruang keluarga, dan kebetulan memang acara favorite saya dan keluarga, setelah menekan tombol power dan mengganti-ganti channel guna mencari channel Metro TV, saya malah berhenti menekan remote ketika melihat sekilas acara religi yang ditayangkan oleh trans TV.

Tak terlalu mengerti mula cerita, yang saya lihat hanya seorang pemuda yang nampak terburu-buru untuk pergi solat Ied, entah karena telat bangun atau apa, yang jelas ia tampak sangat kewalahan mencari atributnya (peci) untuk pergi solat. Di tengah jalan ia bertemu dengan seorang bocah berusia sekitar 13 tahunan berkulit hitam legam dan berambut keriting (lihat perawakannya seperti orang dari daerah Timur Indonesia) sambil membawa koran.

Bocah lelaki itu sibuk mencegat pemuda yang sedang terburu-buru tadi sambil menawarkan korannya, "Oom, korannya Oom.". Pemuda itu menjawab dengan jutek, "Tidak, saya sedang terburu-buru.". Si bocah masih keukeuh mengikuti pemuda itu sambil menyodor-nyodorkan korannya, "Oom, korannya Oom.". Melihat si bocah terus berada di sekitarnya sehingga membatasi ruang geraknya yang sedang ingin segera sampai ke tujuan, pemuda tadi murka dan membentak si bocah, kemudian meninggalkan si bocah yang masih menyodorkan korannya.

Sesampainya di lokasi solat Ied, si pemuda baru sadar kalau ia lupa membawa sajadah. Tiba-tiba di belakangnya sudah ada bocah berkulit hitam tadi sambil menyodorkan korannya kembali, "Oom, korannya Oom.". Pemuda itu sudah siap membentak lagi hingga kemudian terdiam ketika si bocah membentangkan korannya di lantai, lalu berkata, "Dengan koran ini, Oom bisa melaksanakan solat Ied. Silakan Oom.".

Si pemuda tertegun sejenak namun kemudian bertindak sesuai perkataan si bocah. Sementara bocah itu terus mengamati jamaah solat Ied sambil tersenyum dari belakang. Seusai solat Ied, jamaah saling bersalam-salaman lalu bubaran, si bocah memunguti koran-koran bekas yang digunakan untuk para jamaah solat barusan. Si pemuda menghampiri si bocah lalu meminta maaf, "Maaf ya, saya pikir tadi kamu jualan koran.". Bocah itu tersenyum, "Tidak apa Oom.". "Oh iya, kamu suka opor nggak?", tanya si pemuda itu yang kemudian diiringi dengan anggukan dan senyuman manis si bocah. "Kalau begitu, habis ini kamu ke rumah saya ya, kita makan opor. Sini saya bantu kamu.", kata pemuda itu pada akhirnya sambil membantu si bocah memunguti koran.

Cerita ringan itu membuat air mata saya mengalir tanpa saya sadari. Bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru saya melihat akhir yang begitu indahnya. Ketika memiliki awal yang buruk, alangkah baiknya jika berakhir dengan tanpa dendam dan saling memaafkan. Dan kalimat bocah itu, masih membayangi saya hingga blog ini saya tulis, "Oom, korannya Oom.". Karena kalimat itu diucapkan berdasarkan dari hati yang tulus ikhlas.

Jumat, Agustus 26, 2011

(GoVlog-Ramadan) Musafir dan Sate Kerang

Teringat suatu masa di bulan ramadhan. Aku dan Arif, pacarku ketika itu, bersama-sama pulang dengan naik mobil travel sampai ke Surabaya, kemudian baru berangkat ke kota asal kami dengan penerbangan masing-masing. Sesampainya kami di bandara Juanda, ternyata kami tiba terlalu dini, memang sebenarnya kami memilih jadual yang agak siang untuk menghindari ketinggalan pesawat. Selisih jam keberangkatan kami selisih beberapa menit saja, dia ke Banjarmasin dan aku ke Balikpapan. Karena masih terlalu lama, akhirnya kami memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke mall, mana bulan puasa lagi, sungguh godaan ketika itu sangat banyak. Mabuk sepanjang perjalanan, rasa gerah di tubuh, dan menunggu itu adalah saat yang paling membosankan.

Arif membawaku ke Tunjungan Plaza, dan tetap dengan menjinjing koperku yang cukup berat. Ketika akan memasuki mall, terpaksa aku harus rela membuka koperku untuk diperiksa oleh security demi keamanan mall, kali aja ketika itu aku membawa bom yang bisa memakan banyak korban seperti yang sempat terjadi di Bali. Masuk mall adem, yang pertama kali kami lakukan adalah mencari tempat penitipan barang agar bisa jalan dengan lebih leluasa.

Sudah tau lagi puasa, kami malah masuk ke dalam sebuah supermarket, niat hati menguji iman, aku sudah lupa supermarket apa di Tunjungan Plaza itu, kejadian ini sudah sekitar 6 tahun yang lalu. Sibuk cuci mata kesana-kemari, kami malah melintas di deretan makanan siap saji dimana kami melihat berjejernya sate kerang di sana. Mata kami langsung tertuju pada sate kerang dan tertegun di depannya. Kemudian aku dan doi sama-sama melirik licik, maklum ... kami sama-sama penyuka seafood. Yang terjadi kemudian adalah, doi bertanya padaku sambil tersenyum nakal, "Gimana?". Aku masih bimbang dan hanya diam, sampai akhirnya doi memutuskan, "Sudahlah, kan musafir.". Jadilah kami keluar dari supermarket itu dengan membawa beberapa tusuk sate kerang dan memakannya sepanjang perjalanan. Astaghfirullah ... #^___^#

Catatan: Bukan maksud mengingat kebersamaanku dengan si doi, tapi beberapa hal menarik, kegokilan kami ketika itu, kebersamaan kami sebagai anak rantau, alangkah sayangnya jika tidak diabadikan dalam bentuk tulisan. Dan moment ramadhanku di kampung halaman kali ini, mengingatkan pada masa-masa itu.



Kamis, Agustus 25, 2011

Memberi kesempatan setan merasuki jiwa

Hari ini aku sengaja pulang kantor lebih cepat dari biasanya. Lagi semangat ingin membuat kolam lebih berwarna dengan ikan-ikan hias, langsung mengajak adik pergi untuk membelinya. Membeli 10 ekor ikan mas koi, yang mana perekornya dihargai Rp.20000,-, dan filter air kolamnya seharga Rp.65000,-, dan makanan ikan dua plastik seharga Rp.20000,-, dan raib-lah langsung Rp.285000,- dalam sekejab. Berhubung mood lagi baik, jadi ya suka cita aja ngeluarin duit segitu. Lagipula toh agar kolamnya hidup juga, dan memang itu yang kumau.

Nggak disangka sepulangnya dari tempat penjualan ikan yang nun jauh di sana, disambut oleh pandangan surprise dari bokap dan nyokap yang 'nggak banget' deh pokoknya. Mood mendadak turun 50%. Dengan mood yang sudah sangat turun, aku membersihkan kotoran-kotoran yang ada di kolam agar ikan-ikan bisa hidup dengan nyaman, hingga waktu berbuka tiba. Sambil mengendapkan kembali lumut ke dasar kolam dan filter air dinyalakan, ikan-ikan kami biarkan di dalam kantong plastik dari toko tadi yang konon kata si penjual bisa bertahan 12 jam ikannya di dalam.

Kemudian setelah berbuka puasa dan solat magrib, aku makan terlebih dahulu, baru kemudian menengok ke dalam plastik yang berisi ikan-ikan koi tersebut. Agak terkejut melihat ada koi yang sudah tampak tak bernyawa, langsung keringat dingin dan rasanya lemas banget karena menyangkut ' nyawa'. Dengan segera aku membuka ikatan plastik ikan-ikan itu dan melepaskannya ke dalam kolam, dan benar saja, ada seekor yang mati. Kemudian aku segera mengambil gunting tadi untuk menggali tanah demi menguburkan ikan yang sudah mati tadi. Takut banget ketahuan papa kalau ada yang sudah mati. Si adik marah-marah melarangku menggunakan gunting. Aku memintanya mencarikanku sebuah penggali tanah apalah itu, ia malah berteriak padaku, "Cari dimana?!". Apalagi ketika seorang kawannya datang, makin jadi dia berteriak kepadaku, kebetulan saat itu papa juga lagi kedatangan dua orang tamu. Yang namanya 'cari' itu ya 'cari', bukan 'dimana', kalau aku tahu 'dimana'nya ya pasti langsung aku ambillah tanpa perlu mencari-cari lagi, pikirku.

Darahku langsung naik sampai ke ubun-ubun, dalam hatiku, nih adik kurang ajar banget, padahal satu didikan dengan orang tuaku, walau sebenarnya kami tidak ada hubungan darah, pikirku ketika itu ... sudah tidak pernah puasa, tubuh tatoo-an, solat tidak bisa, bergaul dengan anak-anak punk, merokok ... dipikirnya aku tidak berani balas membentaknya karena ketika itu sedang banyak orang mungkin ... Manisnya cuman ketika minta dibelikan sesuatu saja, ... Hmmm, oke Dek pikirku, langsung aku berteriak-teriak bak orang kesurupan memakinya membuat pandangan orang yang sedang berkunjung ke rumahku heran kebingungan, bahkan teman adikku melongok di depan pagar ... yahhh, karena memang sungguh tak sesuai dengan wajahku yang terlihat lembut dan tabah ... sungguh ketika itu aku merasa seperti orang GILA.

Kemudian aku masuk ke dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya. Di BBM update status, di facebook juga update, ... untung dalam hal update status aku masih bisa menggunakan otakku untuk berpikir sehingga tidak terlalu 'buka-bukaan'. Maklum, tekanan sudah terlalu banyak, tekanan di tempat kerja, tekanan di rumah yang serba terbatas (bahkan untuk kesenanganku sendiri harus membatasi diri, "padahal yang kerja aku loh" pikirku), kemudian ditambah seorang adik (hanya seorang) yang sudah sangat berani membentakku. Masih dengan emosi, aku mengambil air wudhu, kemudian kubentangkan sajadah dan mengenakan mekenah-ku. Berulang-ulang aku mengucapkan kalimat iftitah, hingga akhirnya emosiku reda dan aku bisa memulai solat tanpa melakukan kesalahan. Seusai solat aku berdzikir, "Astaghfirullah", kemudian aku memohon ampun karena mungkin saja karena ucapanku yang sebenarnya hanya aku tujukan pada adikku, namun ada beberapa pihak yang juga merasa tersinggung. Dan untungnya aku tak mengucapkan kalimat yang sangat sensitif buat adikku.

Entah apa yang membuatku memberi kesempatan pada setan merasuki jiwaku. Aku sudah berbuka puasa dan solat magrib, tapi malam itu aku malah lengah sehingga membiarkan setan memanaskan hatiku dan mendikte ucapanku. Ya Allah, aku memohon padaMu, jangan biarkan setan mampir ke dalam tubuhku lagi. Astaghfirullah ...

Rabu, Agustus 24, 2011

Mencintai itu ikhlas

Aku ingat pertama kali ketika kita berkenalan. Aku mengantarkan berkas ke meja salah seorang manajer, dan saat itu, hanya ada kamu satu-satunya yang berada di sekitar ruangannya. "Tolong sampaikan ya ke ibu kalau aku  ada menaruh surat yang perlu ditanda-tangani.". "Oke.", katamu ketika itu. Kemudian ketika aku sudah berbalik badan, kamu memanggilku lagi, "Dari siapa ya?". "Annisa.", kataku sambil tersenyum.

Kemudian ketika aku melintas di hadapanmu, kamu selalu menggoda dengan, "Ehm..." yang diiringi dengan godaan kawan-kawanmu yang lain. Walau hanya sekedar candaan, tapi aku selalu menanggapinya dengan spesial jika yang melakukannya adalah kamu. Kemudian aku mencari tahu tentang dirimu yang kemudian kusadari bahwa dirimu sudah memiliki seorang kekasih, melalui akun facebook-mu.

Seorang pria yang kebetulan tinggal di dekat rumahku, memintaku untuk menjadi istrinya melalui seorang yang dipercaya, seorang ustadzah, yang kemudian beliau menyampaikannya kepada orang tuaku. Mamiku memintanya untuk masuk dalam kehidupanku sendiri dan memberi akun facebook-ku kepadanya melalui sang ustadzah. Kemunculannya di sebuah message di facebook membuatku sedikit heran, karena aku belum pernah berkenalan dengannya sebelumnya. Akhirnya kami menjadi sedikit akrab, dan bertukar nomor ponsel. Beberapa hari kemudian, aku baru mengetahui maksud dan tujuannya melalui mami. Aku menanggapinya dengan cukup baik, toh aku juga sedang tidak memiliki seorang kekasih.

Pertama kali bertemu, aku cukup tertarik padanya. Dia tidak tampan, kulitnya hitam, hanya beberapa senti lebih tinggi dariku, ... yang sebenarnya dari semuanya dia bukan tipeku ... tapi dia seorang yang beragama, itu kesan pertama yang membuatku menyukainya, membuat senyumnya dengan deretan giginya yang putih dan rapi itu terlihat sangat manis.

Suatu saat seorang pria muncul dan memintaku menjadi temannya di BBM. Merasa tak mengenalnya, aku menyapanya. Dia membalasnya, orangnya cukup kocak, kami berbalas-balasan candaan yang tidak 'garing' menurutku, hingga kemudian kuketahui kalau ia adalah pria di kantorku. Ternyata ia seorang yang sopan dan sangat menghormati wanita.

Saat aku pergi ke Tenggarong, ada dua pria yang rajin berhubungan denganku melalui BBM. Pria tetanggaku itu dan teman kantorku. Sepulangnya dari Tenggarong, aku berencana pergi berdua dengan pria tetangga rumahku, kami pergi menonton di XXI. Sementara teman kantorku mengajak nonton juga, aku sudah telanjur berjanji dengan pria pertama.

Berdua dengan si doi membuatku lebih mengenalnya. Ia bukan tipe pria yang aku inginkan. Yang aku inginkan adalah pria yang membuatku merasa nyaman dan dilindungi, namun semua itu tak ada pada dirinya. Sebagai wanita, aku merasa 'remeh' di hadapnya. Syukurlah teman kantorku belum kapok mengajakku nonton, selang sehari, aku pergi nonton berdua dengan pria kedua. Sangat berbeda, kesan yang aku dapat, aku merasa nyaman, walau aku tidak bisa sepenuhnya menunjukkan perasaanku padanya, sungguh rasa suka yang ada di hatiku ini bukanlah 'permainan' belaka. Aku sangat menyukainya.

Dari kawannya yang lain aku mengetahui bahwa ia baru saja putus dari kekasihnya. Aku sempat berpikir, apakah aku adalah pelariannya saja ? Belum lagi bibirku mengeluarkan kata-kata, hatiku sudah menjawab, "Kalaupun pelarian, so what ? Bukannya cinta tak harus memiliki ?"

Hampir tidak pernah aku menghubungi pria tetanggaku lagi. Jika pun doi menghubungiku, aku selalu menjawabnya seperlunya. Yang aku lakukan adalah terus menunggu, menunggu datangnya cinta yang tulus, yang mensyukuri segala kelebihanku dan menerima segala kekuranganku, dari pria yang juga aku cintai.

Masih sering aku melirik ke dalam akun facebook-nya, masih terpampang fotonya dengan wanita di masa lalunya itu, putih dan cantik. Aku bisa memiliki harapan akannya, dia juga sah-sah saja memiliki harapan akan mendapatkan kembali cinta dari wanita masa lalunya itu. Walaupun pria yang aku cintai tidak mencintaiku dan hanya menganggapku sebagai 'pelarian' sementara, aku tak akan pernah menyesal, karena yang aku tahu hanyalah aku mencintainya, dan mencintai itu berarti ikhlas dengan segala sesuatunya. Aku ikhlas mencintainya, dan ikhlas berarti 'bebas tuntutan'. Hanya saja aku tetap memiliki satu harapan, berharap suatu saat kamu akan menyadari kehadiranku, dan mengetahui bahwa aku benar-benar mencintaimu.

Senin, Agustus 22, 2011

Pertemuan kembali setelah sekian lama

Buka Puasa Bersama teman-teman SMU sudah direncanakan sejak berabad-abad yang lalu (lebay) ... tapi baru terealisasikan untuk pertama kalinya pada hari minggu 14 Agustus 2011, karena sibuk mencari 'bandar' dari acara buka puasa bersama, sampai salah satu dari kami murka dan merubahnya menjadi akhir yang cukup baik. Berawal dari BBM group SMURADHA 2002, dari pembicaraan yang tidak penting sampai akhirnya tercetus ide untuk kumpul-kumpul kembali, silaturahmi.

Dari banyaknya teman seangkatan yang kami hubungin, yang terkumpul hanya aku, Aries, Rachmad, Fathur dan Novi (kebetulan mereka suami-istri), Nurdin, kemudian Mayel beserta istri dan anaknya. Hanya 9 orang kami berkumpul di Solaria Sky Bridge, dengan biaya sekitar Rp.50.000,-/orang kami berkumpul dan menikmati buka puasa bersama. Saya berencana memesan nasi fillet ikan asam manis, tapi berhubung menu ikan pada hari itu sedang kosong, akhirnya saya memesan cheesy chicken steak plus french fries. Berikut bisa disaksikan kebahagiaan kami ketika itu.




Sekeluarnya dari Solaria, kami bertemu dengan Riswan yang kebetulan sedang jaga stan Mazda, dan kebetulan lokasi stannya berada tepat di depan Sport Station dimana ada seorang alumni Patra Dharma angkatan kami juga di sana yaitu Rano Jeber. Sedang asyik berkumpul bersama Riswan dan Rano, melintas pula Reno Setyanto seorang teman kami juga di escalator menuju lantai 1. Bertambah ramailah acara kumpul-kumpul kami ketika itu.

Kemudian kembali kami rencanakan acara kumpul-kumpul selanjutnya, dimana kawan kami yang tinggalnya di dalem utan bisa ikutan ngumpul (monyet donk ... xixixiii ... pizzz) karena uda masuk kota. Nah, ditentukanlah hari Sabtu tanggal 21 Agustus 2011 bertempat di Jimbaran Cafe Kemala Beach. Kebetulan aku dan Betty seorang kawan yang menjadi guru di Penajam sudah janjian terlebih dahulu bertemu di BC. Kemudian kami sampai di Kemala Beach sekitar jam lima lewat sedikit, belum ada tanda-tanda kehidupan anak Patra di sana. Menikmati angin sepoi-sepoi di pinggir pantai, kemudian kami memutuskan untuk masuk saja ke deretan cafe-cafe di sana, menuju cafe yang paling pojok, yaitu Jimbaran de Cafe. Pertama numpang ke toilet dulu, kemudian menanyakan bookingan tempat anak-anak Patra. Tak lama kemudian Rachmad mengabari kalau sudah tiba di Kemala. Dan berkumpullah kami bertiga bergaya narsis fotoan.



Tak lama kemudian, Aries dan Hazmy dateng ... kebetulan mereka adalah pasangan baru ... bukan baru menikah sih, melainkan baru 'jadian' ! Heheheee. Akhirnya BB beralih ke tangan Hazmy, dan inilah hasil jepretannya.


Kemudian datang pasangan yang tak terduga juga. Berpikir bertemu dengan seseorang yang aku kenal, aku berteriak memanggilnya, "Yuniko!". Tak disangka dia dan pria di sebelahnya berjalan ke arah kami, kebetulan Yuniko adalah rekan satu kerjaanku, spontan aku bertanya padanya, "Kamu angkatan berapa?". Dia malah tertawa dan berkata, "Aku hanya menemani pacarku kok.". Ternyata pria di sebelahnya adalah Krisna Galih, yang juga teman seangkatanku di SMU. Inilah photo pasangan kita pada acara buka bareng hari itu.




Setelahnya Dwitia datang, kebetulan ia sedang berbadan dua. Kemudian Mayel dan Niken juga datang, lalu Empi. Akhirnya berkumpullah kami 11 orang untuk berbuka puasa bersama pada hari itu. Ngobrol ngalor-ngidul, kemudian mengabadikan moment-moment kebersamaan kami hingga malam hari.










Malam semakin larut, akhirnya jam tangan sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam. Kami rencana bubaran dari acara BukBar tersebut hingga tiba-tiba muncul dua kawan kami lagi, Zenith dan Yudi. Kembali kami abadikan kebersamaan itu dalam kamera compact-ku.



Yup ... itu hasil photo terakhir edisi kali ini, diharapkan akan ada session selanjutnya. Sepulang dari Jimbaran de Cafe, aku dan Betty ngacir ke e-walk BSB untuk shopping, kemudian esok harinya aku dan Betty juga Rachmad nonton Harry Potter bersama di XXI. Bulan November, Betty akan menikah dengan orang Surabaya yang kebetulan pacarnya semasa kuliah dulu, dan ia akan mengurus mutasi kerja ke Surabaya. Entah kapan akan bertemu lagi setelahnya. Keep in touch ya friend ... semoga masih terus berlanjut hingga 10 tahun ke depan, insyaAllah. Terima kasih buat dua harinya yang cukup berkesan.