Hari ini aku sengaja pulang kantor lebih cepat dari biasanya. Lagi semangat ingin membuat kolam lebih berwarna dengan ikan-ikan hias, langsung mengajak adik pergi untuk membelinya. Membeli 10 ekor ikan mas koi, yang mana perekornya dihargai Rp.20000,-, dan filter air kolamnya seharga Rp.65000,-, dan makanan ikan dua plastik seharga Rp.20000,-, dan raib-lah langsung Rp.285000,- dalam sekejab. Berhubung mood lagi baik, jadi ya suka cita aja ngeluarin duit segitu. Lagipula toh agar kolamnya hidup juga, dan memang itu yang kumau.
Nggak disangka sepulangnya dari tempat penjualan ikan yang nun jauh di sana, disambut oleh pandangan surprise dari bokap dan nyokap yang 'nggak banget' deh pokoknya. Mood mendadak turun 50%. Dengan mood yang sudah sangat turun, aku membersihkan kotoran-kotoran yang ada di kolam agar ikan-ikan bisa hidup dengan nyaman, hingga waktu berbuka tiba. Sambil mengendapkan kembali lumut ke dasar kolam dan filter air dinyalakan, ikan-ikan kami biarkan di dalam kantong plastik dari toko tadi yang konon kata si penjual bisa bertahan 12 jam ikannya di dalam.
Kemudian setelah berbuka puasa dan solat magrib, aku makan terlebih dahulu, baru kemudian menengok ke dalam plastik yang berisi ikan-ikan koi tersebut. Agak terkejut melihat ada koi yang sudah tampak tak bernyawa, langsung keringat dingin dan rasanya lemas banget karena menyangkut ' nyawa'. Dengan segera aku membuka ikatan plastik ikan-ikan itu dan melepaskannya ke dalam kolam, dan benar saja, ada seekor yang mati. Kemudian aku segera mengambil gunting tadi untuk menggali tanah demi menguburkan ikan yang sudah mati tadi. Takut banget ketahuan papa kalau ada yang sudah mati. Si adik marah-marah melarangku menggunakan gunting. Aku memintanya mencarikanku sebuah penggali tanah apalah itu, ia malah berteriak padaku, "Cari dimana?!". Apalagi ketika seorang kawannya datang, makin jadi dia berteriak kepadaku, kebetulan saat itu papa juga lagi kedatangan dua orang tamu. Yang namanya 'cari' itu ya 'cari', bukan 'dimana', kalau aku tahu 'dimana'nya ya pasti langsung aku ambillah tanpa perlu mencari-cari lagi, pikirku.
Darahku langsung naik sampai ke ubun-ubun, dalam hatiku, nih adik kurang ajar banget, padahal satu didikan dengan orang tuaku, walau sebenarnya kami tidak ada hubungan darah, pikirku ketika itu ... sudah tidak pernah puasa, tubuh tatoo-an, solat tidak bisa, bergaul dengan anak-anak punk, merokok ... dipikirnya aku tidak berani balas membentaknya karena ketika itu sedang banyak orang mungkin ... Manisnya cuman ketika minta dibelikan sesuatu saja, ... Hmmm, oke Dek pikirku, langsung aku berteriak-teriak bak orang kesurupan memakinya membuat pandangan orang yang sedang berkunjung ke rumahku heran kebingungan, bahkan teman adikku melongok di depan pagar ... yahhh, karena memang sungguh tak sesuai dengan wajahku yang terlihat lembut dan tabah ... sungguh ketika itu aku merasa seperti orang GILA.
Kemudian aku masuk ke dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya. Di BBM update status, di facebook juga update, ... untung dalam hal update status aku masih bisa menggunakan otakku untuk berpikir sehingga tidak terlalu 'buka-bukaan'. Maklum, tekanan sudah terlalu banyak, tekanan di tempat kerja, tekanan di rumah yang serba terbatas (bahkan untuk kesenanganku sendiri harus membatasi diri, "padahal yang kerja aku loh" pikirku), kemudian ditambah seorang adik (hanya seorang) yang sudah sangat berani membentakku. Masih dengan emosi, aku mengambil air wudhu, kemudian kubentangkan sajadah dan mengenakan mekenah-ku. Berulang-ulang aku mengucapkan kalimat iftitah, hingga akhirnya emosiku reda dan aku bisa memulai solat tanpa melakukan kesalahan. Seusai solat aku berdzikir, "Astaghfirullah", kemudian aku memohon ampun karena mungkin saja karena ucapanku yang sebenarnya hanya aku tujukan pada adikku, namun ada beberapa pihak yang juga merasa tersinggung. Dan untungnya aku tak mengucapkan kalimat yang sangat sensitif buat adikku.
Entah apa yang membuatku memberi kesempatan pada setan merasuki jiwaku. Aku sudah berbuka puasa dan solat magrib, tapi malam itu aku malah lengah sehingga membiarkan setan memanaskan hatiku dan mendikte ucapanku. Ya Allah, aku memohon padaMu, jangan biarkan setan mampir ke dalam tubuhku lagi. Astaghfirullah ...
annisaaaaaaa.... klo aku ga baca tulisan2mu ini aku ga bakal tau km tu orang yg seperti apa, penilaian dari sisi luar memang ga selalu benar
BalasHapus