Tampilkan postingan dengan label Home sweet home. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Home sweet home. Tampilkan semua postingan

Kamis, September 27, 2012

Muhammad Sachio Kaulika

Ini nih yang menjadi kesayanganku hampir 3 bulan belakangan ini ... Kenapa aku bilang 'hampir' yaitu karena tanggal 28 besok usianya barulah 3 bulan. Namanya Muhammad Sachio Kaulika, dan panggilannya adalah Sinyo.

Beberapa teman bertanya mengenai anak ini melalui akun facebook-ku karena aku khusus membuat album tentangnya berjudul 'My Baby Bala-bala'. Dipikir mereka Sinyo adalah anak kandungku. Wong merit aja belum gimana bisa punya baby. Ya bisa saja sih itu terjadi tapi yang jelas aku ingin punya baby setelah aku merit, bukan sebelumnya.

Aku memang sayang sama Sinyo seperti kepada anak kandungku sendiri. Sayangnya, Sinyo memiliki papa dan mama sendiri yaitu adik dan adik iparku. Ini mungkin sedikit menjawab ketidak-percayaan kawan-kawanku karena menganggap aku mendustai anak sendiri, ˆ⌣ˆ ƗƚɑƗƚɑƗƚɑƗƚɑ


Best Regard,
Tang Annisa Inocentia Husna, SST.Par

Minggu, Agustus 29, 2010

Wanita spesial itu adalah Mamiku

Aku hanya memiliki satu orang mami, tapi mami memiliki 'banyak anak' dari penjuru tempat di Indonesia. Aku terlahir sebagai anak kedua, mami pernah melahirkan tiga tahun sebelum aku dilahirkan, namun takdir tidak mengijinkan kakak perempuanku untuk mengenal dunia lebih lama, beliau meninggal 15 hari setelah dilahirkan. Mami merasa sangat terpukul dan hampir kehilangan kesadarannya. Namanya 'Citra Revalusi', mami memajang puisi tentangnya di dalam sebuah bingkai dan memajangnya di ruang keluarga. Aku membaca puisi itu dan sangat menyukainya, sampai usiaku ke 10 aku tidak melihat puisi itu di dinding ruang keluarga kami lagi, mungkin mami sudah tidak ingin mengingat hal-hal yang bisa membuatnya bersedih dan tidak ingin aku ikut terobsesi dengan sosok Kakak Citra, atau mungkin juga karena aku sudah memiliki seorang adik laki-laki yang walau bukan lahir dari rahim mami, namun sudah memiliki ikatan bathin yang sangat kuat dengan kami sekeluarga sehingga mami memutuskan untuk 'menatap jauh ke depan' dan 'berhenti menoleh ke belakang'.

Mami mengadopsi adikku itu sejak usianya masih 15 hari dan usiaku sudah jalan 8 tahun, kulitnya hitam, pipinya tembem, dan matanya sangat besar. Seperti coklat pada GERY CHOCOLATOS; warnanya yang hitam namun rasanya sangat manis dan menggiurkan, begitu lucunya adikku itu. Sungguh kontras jika bersanding denganku. Mami sangat menyayanginya. Dua kali mengalami operasi caesar membuat dokter melarang mami untuk melahirkan lagi karena bisa sangat beresiko bagi mamiku. Sebelum menikah dengan mami, papa sudah pernah menikah dengan wanita keturunan Tiong Hoa juga dan memiliki seorang anak lelaki. Kakak lelakiku itu usianya cukup jauh dariku. Mami juga menganggap kokoku itu anaknya sendiri. Mami sangat bangga mengatakan bahwa ia memiliki tiga orang anak, hidupnya lengkap memiliki; seorang anak tiri, seorang anak kandung, dan seorang anak angkat. Bahkan kokoku itu telah memberi mami dan papa empat orang cucu.

Mami sangat tahu mengkondisikan dirinya sebagai seorang ibu, bahkan semua ponakkannya memanggil mami dengan sebutan 'mami', bukan 'tante' seperti yang pada umumnya digunakan oleh para ponakkan terhadap bibinya. Itu yang membuatku sangat menyayangi mami dan selalu menyelipkan nama mami di dalam doaku, seperti mami selalu menyelipkan nama anak-anaknya di dalam doanya. Kuingat betapa tabahnya mami saat seorang wanita mencoba merebut papa, tidak terselip sedikitpun benci dari pandangan matanya, mungkin itu pula yang membuat papa sangat mencintai mami.

Mami bisa segalanya. Masakan mami yang 'is the best' (tiada duanya) baik soal appetizer, main course, apalagi dessert. Mami yang ahli soal renovasi rumah, bisa tukang-menukang, bantuin papa benerin genteng, pintar design baju dan menjahit, pintar 'make up artist', ahli bercocok tanam, pandai menulis ceerita, pintar politik, juga pengetahuan umum yang bahkan lulusan S2 tidak mengetahuinya. Sejak aku mengenalkan mami dengan facebook, di waktu-waktu senggang mami selalu menyempatkan 'mengintip' profilenya demi menyapa 'anak-anaknya' dari berbagai penjuru tempat di Indonesia. Di facebook, 'anak-anak mami' itu memanggil mami dengan sebutan 'bunda'. Mereka sangat menyukai 'update status' mami yang selalu pintar, bijak dan penuh nasehat. Betapa bangganya aku untuk mengatakan bahwa sosok itu adalah mamiku. Aku sayang mami.


Keterangan Foto: Aku dan Mami

Jumat, Oktober 30, 2009

Rasa sesal

Ada seekor anak kucing dibuang di muka rumahku.Sepanjang malam mengeong tak henti,berjalan tak tentu arah sampai di persinggahan terakhirnya yaitu di belakang rumahku (benar-benar persinggahan terakhirnya).

Pagi hari yang cerah aku mandi keramas,blow rambutku yang masih basah,masih pula kudengar suara kucing yang mengeong itu.Aku mengintipnya dari teras atas kamarku,anak kucing itu terus mengeong,mondar mandir mencari induknya.

Tergerak hatiku ingin memungutny,namun kemudian kuurungkan niatku itu mengingat papaku sedikit terganggu dengan hadirnya banyak kucing di halaman rumahku.Saat itu juga kebetulan ada ibu-ibu gendut bersepeda motor yang sedang melihat rumah kontrakan nenekku.

Masih mondar-mandir ga jelas antara mau mengambil naik anak kucing itu atau hanya sekedar mencarikannya wadah untuk mengantarkanny susu demi menyelamatkan sedikit dari rasa lapar,aku dengar suara gaduh dari luar.

Ibu gendut itu sibuk minta-minta maaf pada mami,mendadak jantungku berhenti berdetak melihat sang anak kucing yang sudah tergelepar tak berdaya tepat di belakang ban motor si ibu gendut.Sontak aku ambil langkah seribu menuju TKP.Dengan tangan gemetar aku ambil anak kucing yang masih kejang-kejang mengeluarkan darah terus-terusan dari mulutnya.Ternyata ia terlindas tepat di lehernya.

Walau rasa tak mungkin,pertolongan pertama tetap kami coba lakukan dengan meminumkannya cairan tulang harimau,namun apa daya anak kucing itu menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya.Air mataku tak berhenti mengalir karenanya,diselimuti rasa sesal yang begitu mendalam.

Penuh kata 'seaindainya' dalam hati.Seandainya saja aku tegas,langsung membawanya naik tanpa banyak pikiran antara sebab-akibat.Seandainya saja aku tak terlalu memikirkan ucapan orang atas perbuatan baik yang aku lakukan.Seandainya saja aku selalu mengikuti hati nuraniku,mungkin aku tak pernah menyesal.

Kami menguburkan anak kucing itu di dekat kuburan Kitty dan adik tiri Kitty yang belang tiga loreng.Kali ini adalah kematian tragis kucing yang pernah aku saksikan.Bukan hanya tragis baginya,tapi juga tragis bagi hatiku,sakiiit banget,mungkin juga tragis bagi ibu-ibu gendut tadi karena tanpa sengaja telah menjadikannya seorang pembunuh.

Kadang aku berpikir,mungkinkah Tuhan ingin menghukumku atas dosa-dosa yang pernah aku perbuat sehingga membuatku menjadi orang yang yang selalu mengambil keputusan yang salah yang membuatku menjadi sangat menyesal.Apalagi tadi malam seorang rekanku yang datang berkunjung ke rumahku mendoakanku agar mendapatkan rezeki yang banyak karena suka memberi makan kucing,ketika melihat banyak kucing di rumahku,ternyata hari ini seekor anak kucing malah mati tragis di sekitar rumahku.Ya Allah,maafkanlah aku,jangan buat aku merasa menyesal lagi karena sesuatu hal,jangan hukum aku seperti ini.

Kamis, Oktober 22, 2009

'Mangga belakang rumah'

Tak ada yang istimewa sebenarnya dengan mangga di belakang rumahku maupun dengan judul di atas. Hanya saja, setiap membayangkan mangga belakang rumahku itu, rasanya air liurku menggenang di bawah lidah. Di belakang rumahku terdapat banyak banget pohon mangga, sebatang pohon rambutan, sebatang dua batang pohon jambu, pohon pepaya, pohon pisang, ubi jalar, singkong, sukun, dan sebagainya. Bukan karena rumahku di desa nun jauh di sana dari perkotaan, bukan pula karena rumahku di tengah hutan,...hanya saja, kakekku tersayang sejak jaman dahulu kala memiliki tanah luas di tengah kota dan beliau seumur hidupnya dipenuhi dengan kerja dan kerja.

Kakekku adalah seorang Komandan Airud pertama KalTim dan seorang yang mengabdi pada negara sebagai polisi sampai hari pensiunnya. Beliau juga seorang yang sangat menyukai bertukang dan berkebun. di waktu senggangnya dulu, beliau membangun rumah-rumah kayu dan menanam berbagai macam tanaman. Tanah yang kami tinggali juga merupakan bagian dari tanah kakek dulu, dan posisinya tepat menghadap ke jalan besar.

Begitulah, karena hobi kakek yang menyukai bercocok tanam dan bertukang, kakek bisa menikmati hasil uang kontrakan dari 6 rumah bangsalnya selain hanya bergantung pada uang pensiunnya, disamping itu, kami (anak dan cucunya) bisa menikmati hasil pohon buah-buahan dan tak pernah takut kehabisan makanan deh istilahnya. Bangga banget deh punya kakek seperti kakekku, walau dikalangan anak2nya, kakekku adalah seorang yang pemarah dan tegas, untungnya tidak begitu bagi para cucu. (Pengarang lagi senyum-senyum sendiri nih sambil memikirkan mo nulis apa lagi...)

Nah, tadi sekilas latar belakang sampai terjadinya suasana rindang di sekitar rumahku, sekarang lanjut lagi mengenai mangga favorite-ku itu. Aku tinggal di Bali selama lima tahun, merantau untuk menempuh ilmuku di sebuah kampus panas di puncak bukit kawasan Nusa Dua. Aku yang sangat menyukai buah-buahan, terutama pencok atau rujak dan semacamnya, tentu saja langsung mencicipi rujak Bali (baik rujak gula maupun rujak kuah pindang). Mangga yang dibuat rujak di Bali, adalah mangga yang masih sangat hijau dagingnya. Bagi mereka yang sangat takut dengan rasa asam, pasti langsung ngilu melihatnya. Untungnya aku tidak. Aku coba aja dan ternyata mangga Bali tidak ada rasa asam, tawar biasa namun ada sedikit aroma mangga. Didaerah manapun aku makan rujak Bali atau membeli mangga di pasar, selalu dapat mangga yang serupa.

Sekali waktu, aku ingin sekali makan mangga yang seperti di belakang rumahku, aku cari keliling Bali, baik di pasar maupun supermarket (bukan karena ngidam lowh), tapi tak juga aku temukan. Mangga favorite-ku itu adalah mangga kampung biasa sebenarnya, bukan sejenis gadung, golek, kuini, maupun manalagi yang sangat ranum. Mangga itu adalah mangga yang walaupun amat sangat kuning, tetap ada sedikit rasa asam (yang tidak mengilukan) dan full serat. Duh, ngiler nih gara-gara nulis blog soal mangga yang satu ini. Yang aku dapat malah Wani, sejenis mangga yang warnanya putiiih sekali (mungkin ini yang di sebut mangga susu oleh guru SMAku dulu), namun rasanya jauh berbeda dari mangga impianku.

Waktu SMSan sama papaku (masih ketika aku masih di Bali), aku sempat mengatakan kangen sama mangga belakang rumah. Selang beberapa hari, aku menerima paket dari papaku yang isinya itu mangga belakang rumahku, duh senang banget.

Saat ini aku sudah bekerja, dan untuk menghemat uang gajiku, setiap hari aku bawa sangu makanan dari rumah. Mamiku tersayang yang setiap pagi repot mengurusi sangu makanku untuk bekerja (sementara aku masih mandi). Sangu makanku itu dikemas di rantang dua susun, yaitu rantang yang paling atas selalu berisi lauknya, nasi dibungkus sama bungkus nasi (kebetulan mami punya banyak bungkusan nasi karena sempat punya warung makan), kemudian rantang yang di bawah berisi dessert, dan selalu ada surprised setiap harinya. Lauknya bisa ayam goreng tepung, ayam goreng mentega, ikan tuna balado, telur orak-arik, telur masak habang, udang goreng tepung dan sebagainya. Kemudian untuk dessert-nya, awalnya sih simple saja, timun diiris-iris direndam gula, lombok dan garam. Kemudian belimbing yang dipotong-potong, direndam gula-garam-lombok juga (di halamanku terdapat pohon belimbing yang selalu berbuah setiap harinya). Sampai aku menemukan 'mangga belakang rumahku' didalam rantangku sebagai penutup makan siangku.

Memang tak ada yang istimewa dengan mangga itu, bahkan dengan cerita ini sebenarnya, hanya saja, dengan menuliskan blog ini, aku bisa mengungkapkan kecintaanku pada 'mangga belakang rumah'ku itu. So yummy!!!

Sabtu, Oktober 17, 2009

Rasa yang hilang

Sedikit mengenang tentang Kitty, kucing belang tiga dari induk yang loreng belang tiga ...
Rasanya sakit banget menghadapi saat-saat harus menyadari kalo kucing kecilku yang sangat manis dan manja ini telah tiada. Sebelum aku disibukkan oleh dunia kerjaku sebagai CS yang sistem shift waktu itu, aku sangat dekat dengannya. Makan siang dan malam sudah pasti didapatnya. Memang kami mengkhususkan setiap minggu membeli sekilo ikan tembang di pasar untuk makannya berdua dengan induknya setiap hari, karena kami sungguh menyayanginya.

Sebagai fresh graduated, memang agak lama aku mengalami saat-saat menjadi 'pengacara' (pengangguran banyak acara....ahaaa...), ga juga sih...paling hari-hariku disibukkan dengan kucing-kucing yang ada di sekitar rumahku. Sampai salah seekor induk kucing betina loreng belang tiga yang always ada di rumahku beranak tiga ekor anak kucing...bocah2 yang lucu-lucu...2 jantan dan 1 betina...2 jantan langsung deh menghilang dari rumahku selang beberapa minggu setelah kelahirannya...sisa satu betina berbulu tebal belang tiga yang maniiiiisss banget...Qberi nama Kitty...Papa yang tidak menyukai hewan berbulu (karena menurutnya jorok) itu pun sangat sayang pada Kitty.

Setelah bekerja, capek dan lelah selalu menyertaiku (apalagi kalau pulang malam), karenanya...papa yang mengambil alih memperhatikan Kitty...Suatu saat, papa lalai memberinya makan, maklum...papa kan juga sudah tua, pasti sering lupa...Kami mendapati Kitty mati kaku di bawah pohon belimbing di halaman rumah kami...hancur hatiku...air mataku mengalir tak henti sampai aku tertidur...mungkin Kitty yang kelaparan menumpang makan di tempat orang yang makanan itu ditujukan untuk membunuh tikus alias sudah dikasih racun tikus....Tapi apa boleh buat, sudah takdir terjadi, menyesal pun tak berguna...tak ada yang bisa aku salahkan...hanya saja, ada sesuatu yang hilang dari diriku sejak saat itu...ada suatu rasa yang entah apa, aku sendiripun tak bisa mengungkapkannya...

Jumat, Oktober 16, 2009

Papa dan Kucing

Papaku seorang sosok yang paling hygiene di rumah. Semua perabotan makan yang sudah dicuci oleh pembantu kami selalu dibilas ulang oleh beliau dan dilap dengan tissue sebelum beliau pergunakan. Sebagai seorang yang tingkat hygiene-nya tinggi, beliau bukan seorang yang terlalu menyukai hewan peliharaan seperti anjing dan kucing, karena menurut beliau jorok dan hewan-hewan seperti itu hanya meninggalkan kuman-kuman penyakit di rumah kami. Berbeda denganku dan mami yang pecinta hewan peliharaan terutama kucing, hewan berbulu yang manja dan menggemaskan itu.

Tersebutlah seekor induk kucing liar yang sering nongkrong di rumah kami dan menyukai rumah kami sebagai tempat melahirkan yang nyaman dan aman. Mungkin karena aku dan mami yang sering memberinya makan, ia merasa bahwa kami adalah orang-orang yang bisa dijadikan tempat berlindung yang paling aman. Papaku sempat komplain ketika melihat di rumah kami semakin banyak kucing karena si induk kucing melahirkan anak kembar tiga. Di antara si kembar tiga, ada salah satu yang belang tiga, bulunya lebat dan lembut, tapi sayang betina.

Yang dua lainnya ketika sudah berusia beberapa minggu, langsung lepas dari pengawasan dan mungkin sudah menjadi milik orang lain, memang banyak orang lebih memilih memelihara kucing jantan daripada betina, biasanya sih untuk menangkap tikus di rumahnya masing-masing. Si belang tiga yang masih stand by di rumah kami dengan si induk. Kemanjaan si belang tiga yang kemudian kami beri nama Kitty itu membuat kami satu rumah termasuk papa mulai luluh, menyukai dan menyayanginya. Apalagi bulunya yang tebal dan belang tiga itu membuatnya beda dengan kucing-kucing yang lain, ia juga terlihat bersih, aku rajin memandikannya. Maklum, ia dilahirkan dari induk kucing belang tiga loreng-loreng yang berbulu tebal juga. Sistem kerja kantorku yang sistem shift, membuatku tidak bisa memperhatikan Kitty dengan maksimal, jadilah papa yang rutin memberi makan. Namun, sesayang apapun, papa akan berteriak mengusir si induk dan Kitty jika melihat mereka berlenggang dengan santainya di dalam rumah kami.

“Keluar! Keluar!” Kata papa tanpa memperhatikan kalau saat itu rumah kami sedang kedatangan tamu. Jadilah tamu kami terburu-buru pamit pulang karena berpikir papa sedang menyindir mereka. Suatu hari lagi, saat tanteku (adik dari mami) datang dari Samarinda mengunjungi rumah kami di Balikpapan ponselnya berbunyi, “Meong…meong…”, papa langsung berseru, “Loh! Mana dia?! Masuk lagi dia!” Spontan kami tertawaan satu ruangan.

Suatu hari kami satu rumah berduka-cita, Kitty ditemukan mati di halaman rumah kami. Kelihatannya dia keracunan. Mungkin dia menumpang makan di rumah orang ketika sedang kelaparan, sedangkan orang tersebut menaruh makanan tersebut untuk mengumpani tikus dengan racunnya. Kitty yang kebetulan sedang sangat kelaparan, memakannya. Papa sangat menyesal karena terlambat memberinya makanan. Untunglah si induk masih hidup dan sehat.

Setelah Kitty mati, kami memungut seekor anak kucing jantan yatim-piatu yang mengeong-ngeong di depan rumah kami. Kami beri nama Kucrut. Kucrut yang ketika itu kurus dan dekil, sekarang sudah beranjak remaja dan gembul. Kami juga semakin menyayangi si induk karena induk adalah ibu dari Kitty, dan berusaha tidak telat memberinya makanan. Sampai suatu saat si induk bunting lagi dan papa mengijinkannya beranak di dalam rumah kami, tumben-tumbenan kan? Kemudian si induk kembali melahirkan kembar tiga. Anak-anak induk memang bagus-bagus, apalagi salah satunya belang tiga dan betina lagi, bahkan belang tiganya lebih menarik daripada Kitty dulu. Papa sangat memanjakan si induk dan anak-anaknya. Selang beberapa minggu tinggal bersama kami di dalam rumah, rupanya anak-anak kucing tersebut sudah bisa buang air besar. Akhirnya papa mengungsikan mereka semua kembali ke halaman rumah kami. Dasar kucing jorok, begitu komentar papa sewaktu melihat kotoran anak-anak kucing itu.

Akhirnya induk dan anak-anaknya tinggal di halaman rumah kami sambil si induk terus berjagaan jangan sampai kucing-kucing lain mengusik ketenangan anak-anaknya. Bahkan Kucrut sudah sering diserang oleh si induk, padahal Kucrut hanya ingin bermain dengan anak-anak si induk. Kasihan Kucrut.

Suatu sore papa marah besar terhadap si induk, karena papa tidak menemukan dimanapun anak-anak kucing itu berada. Papa pikir induk telah membawa lari anak-anaknya. “Pergi!” Bentak papa sambil menendang si induk. “Kucing tidak tahu diri, sudah diberi tumpangan begitu lama, masih saja bawa lari anak-anaknya!”

Si induk yang tidak tahu menahu apa salahnya tetap tidak mau pergi. Semarah apapun papa, tidak membuatnya takut, ia tetap berusaha kembali ke teras tempat ia tidur-tiduran sebelum papa tiba-tiba mengusirnya tadi. Tiba-tiba, “Meong…” Menyembullah kepala kecil dari bawah sofa teras, ternyata si induk tidak mau pergi karena anak-anaknya masih berada di rumah kami. Aku tertawa geli waktu melihat papa mengelus-elus kepala si anak kucing belang tiga. “Kalau ada mereka, tikus tidak berani dekat.” Begitu kata papa. Kemudian papa kembali memukul si induk ketika si induk mulai menggeram terhadap si Kucrut. Sedangkan Kucrut langsung ngumpet di dalam taman bunga kami.

Keterangan: Photo di atas (kucing putih), adalah photo Kucrut sebelum ia diambil oleh orang yang tidak bertanggung-jawab. Semoga saja walaupun orang itu tidak bertanggung-jawab karena telah mengambil alih Kucrut tanpa ijin dari kami, namun kami berharap ia akan bertanggung-jawab akan hidup dan kebahagiaan Kucrut...itu sudah cukup dan cukup untuk membuat kami rela kehilangan Kucrut serta memaafkanmu...



Kitty in Memoriam (Masih terus mengenangnya)


Anak-anak si induk;Si hitam-putih, si abu-abu (yang meninggal beberapa hari setelah kembarannya, abu-abu juga, meninggal), dan si belang tiga.


Si induk dan bocah belang tiga.