Jumat, Agustus 26, 2011

(GoVlog-Ramadan) Musafir dan Sate Kerang

Teringat suatu masa di bulan ramadhan. Aku dan Arif, pacarku ketika itu, bersama-sama pulang dengan naik mobil travel sampai ke Surabaya, kemudian baru berangkat ke kota asal kami dengan penerbangan masing-masing. Sesampainya kami di bandara Juanda, ternyata kami tiba terlalu dini, memang sebenarnya kami memilih jadual yang agak siang untuk menghindari ketinggalan pesawat. Selisih jam keberangkatan kami selisih beberapa menit saja, dia ke Banjarmasin dan aku ke Balikpapan. Karena masih terlalu lama, akhirnya kami memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke mall, mana bulan puasa lagi, sungguh godaan ketika itu sangat banyak. Mabuk sepanjang perjalanan, rasa gerah di tubuh, dan menunggu itu adalah saat yang paling membosankan.

Arif membawaku ke Tunjungan Plaza, dan tetap dengan menjinjing koperku yang cukup berat. Ketika akan memasuki mall, terpaksa aku harus rela membuka koperku untuk diperiksa oleh security demi keamanan mall, kali aja ketika itu aku membawa bom yang bisa memakan banyak korban seperti yang sempat terjadi di Bali. Masuk mall adem, yang pertama kali kami lakukan adalah mencari tempat penitipan barang agar bisa jalan dengan lebih leluasa.

Sudah tau lagi puasa, kami malah masuk ke dalam sebuah supermarket, niat hati menguji iman, aku sudah lupa supermarket apa di Tunjungan Plaza itu, kejadian ini sudah sekitar 6 tahun yang lalu. Sibuk cuci mata kesana-kemari, kami malah melintas di deretan makanan siap saji dimana kami melihat berjejernya sate kerang di sana. Mata kami langsung tertuju pada sate kerang dan tertegun di depannya. Kemudian aku dan doi sama-sama melirik licik, maklum ... kami sama-sama penyuka seafood. Yang terjadi kemudian adalah, doi bertanya padaku sambil tersenyum nakal, "Gimana?". Aku masih bimbang dan hanya diam, sampai akhirnya doi memutuskan, "Sudahlah, kan musafir.". Jadilah kami keluar dari supermarket itu dengan membawa beberapa tusuk sate kerang dan memakannya sepanjang perjalanan. Astaghfirullah ... #^___^#

Catatan: Bukan maksud mengingat kebersamaanku dengan si doi, tapi beberapa hal menarik, kegokilan kami ketika itu, kebersamaan kami sebagai anak rantau, alangkah sayangnya jika tidak diabadikan dalam bentuk tulisan. Dan moment ramadhanku di kampung halaman kali ini, mengingatkan pada masa-masa itu.



Kamis, Agustus 25, 2011

Memberi kesempatan setan merasuki jiwa

Hari ini aku sengaja pulang kantor lebih cepat dari biasanya. Lagi semangat ingin membuat kolam lebih berwarna dengan ikan-ikan hias, langsung mengajak adik pergi untuk membelinya. Membeli 10 ekor ikan mas koi, yang mana perekornya dihargai Rp.20000,-, dan filter air kolamnya seharga Rp.65000,-, dan makanan ikan dua plastik seharga Rp.20000,-, dan raib-lah langsung Rp.285000,- dalam sekejab. Berhubung mood lagi baik, jadi ya suka cita aja ngeluarin duit segitu. Lagipula toh agar kolamnya hidup juga, dan memang itu yang kumau.

Nggak disangka sepulangnya dari tempat penjualan ikan yang nun jauh di sana, disambut oleh pandangan surprise dari bokap dan nyokap yang 'nggak banget' deh pokoknya. Mood mendadak turun 50%. Dengan mood yang sudah sangat turun, aku membersihkan kotoran-kotoran yang ada di kolam agar ikan-ikan bisa hidup dengan nyaman, hingga waktu berbuka tiba. Sambil mengendapkan kembali lumut ke dasar kolam dan filter air dinyalakan, ikan-ikan kami biarkan di dalam kantong plastik dari toko tadi yang konon kata si penjual bisa bertahan 12 jam ikannya di dalam.

Kemudian setelah berbuka puasa dan solat magrib, aku makan terlebih dahulu, baru kemudian menengok ke dalam plastik yang berisi ikan-ikan koi tersebut. Agak terkejut melihat ada koi yang sudah tampak tak bernyawa, langsung keringat dingin dan rasanya lemas banget karena menyangkut ' nyawa'. Dengan segera aku membuka ikatan plastik ikan-ikan itu dan melepaskannya ke dalam kolam, dan benar saja, ada seekor yang mati. Kemudian aku segera mengambil gunting tadi untuk menggali tanah demi menguburkan ikan yang sudah mati tadi. Takut banget ketahuan papa kalau ada yang sudah mati. Si adik marah-marah melarangku menggunakan gunting. Aku memintanya mencarikanku sebuah penggali tanah apalah itu, ia malah berteriak padaku, "Cari dimana?!". Apalagi ketika seorang kawannya datang, makin jadi dia berteriak kepadaku, kebetulan saat itu papa juga lagi kedatangan dua orang tamu. Yang namanya 'cari' itu ya 'cari', bukan 'dimana', kalau aku tahu 'dimana'nya ya pasti langsung aku ambillah tanpa perlu mencari-cari lagi, pikirku.

Darahku langsung naik sampai ke ubun-ubun, dalam hatiku, nih adik kurang ajar banget, padahal satu didikan dengan orang tuaku, walau sebenarnya kami tidak ada hubungan darah, pikirku ketika itu ... sudah tidak pernah puasa, tubuh tatoo-an, solat tidak bisa, bergaul dengan anak-anak punk, merokok ... dipikirnya aku tidak berani balas membentaknya karena ketika itu sedang banyak orang mungkin ... Manisnya cuman ketika minta dibelikan sesuatu saja, ... Hmmm, oke Dek pikirku, langsung aku berteriak-teriak bak orang kesurupan memakinya membuat pandangan orang yang sedang berkunjung ke rumahku heran kebingungan, bahkan teman adikku melongok di depan pagar ... yahhh, karena memang sungguh tak sesuai dengan wajahku yang terlihat lembut dan tabah ... sungguh ketika itu aku merasa seperti orang GILA.

Kemudian aku masuk ke dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya. Di BBM update status, di facebook juga update, ... untung dalam hal update status aku masih bisa menggunakan otakku untuk berpikir sehingga tidak terlalu 'buka-bukaan'. Maklum, tekanan sudah terlalu banyak, tekanan di tempat kerja, tekanan di rumah yang serba terbatas (bahkan untuk kesenanganku sendiri harus membatasi diri, "padahal yang kerja aku loh" pikirku), kemudian ditambah seorang adik (hanya seorang) yang sudah sangat berani membentakku. Masih dengan emosi, aku mengambil air wudhu, kemudian kubentangkan sajadah dan mengenakan mekenah-ku. Berulang-ulang aku mengucapkan kalimat iftitah, hingga akhirnya emosiku reda dan aku bisa memulai solat tanpa melakukan kesalahan. Seusai solat aku berdzikir, "Astaghfirullah", kemudian aku memohon ampun karena mungkin saja karena ucapanku yang sebenarnya hanya aku tujukan pada adikku, namun ada beberapa pihak yang juga merasa tersinggung. Dan untungnya aku tak mengucapkan kalimat yang sangat sensitif buat adikku.

Entah apa yang membuatku memberi kesempatan pada setan merasuki jiwaku. Aku sudah berbuka puasa dan solat magrib, tapi malam itu aku malah lengah sehingga membiarkan setan memanaskan hatiku dan mendikte ucapanku. Ya Allah, aku memohon padaMu, jangan biarkan setan mampir ke dalam tubuhku lagi. Astaghfirullah ...

Rabu, Agustus 24, 2011

Mencintai itu ikhlas

Aku ingat pertama kali ketika kita berkenalan. Aku mengantarkan berkas ke meja salah seorang manajer, dan saat itu, hanya ada kamu satu-satunya yang berada di sekitar ruangannya. "Tolong sampaikan ya ke ibu kalau aku  ada menaruh surat yang perlu ditanda-tangani.". "Oke.", katamu ketika itu. Kemudian ketika aku sudah berbalik badan, kamu memanggilku lagi, "Dari siapa ya?". "Annisa.", kataku sambil tersenyum.

Kemudian ketika aku melintas di hadapanmu, kamu selalu menggoda dengan, "Ehm..." yang diiringi dengan godaan kawan-kawanmu yang lain. Walau hanya sekedar candaan, tapi aku selalu menanggapinya dengan spesial jika yang melakukannya adalah kamu. Kemudian aku mencari tahu tentang dirimu yang kemudian kusadari bahwa dirimu sudah memiliki seorang kekasih, melalui akun facebook-mu.

Seorang pria yang kebetulan tinggal di dekat rumahku, memintaku untuk menjadi istrinya melalui seorang yang dipercaya, seorang ustadzah, yang kemudian beliau menyampaikannya kepada orang tuaku. Mamiku memintanya untuk masuk dalam kehidupanku sendiri dan memberi akun facebook-ku kepadanya melalui sang ustadzah. Kemunculannya di sebuah message di facebook membuatku sedikit heran, karena aku belum pernah berkenalan dengannya sebelumnya. Akhirnya kami menjadi sedikit akrab, dan bertukar nomor ponsel. Beberapa hari kemudian, aku baru mengetahui maksud dan tujuannya melalui mami. Aku menanggapinya dengan cukup baik, toh aku juga sedang tidak memiliki seorang kekasih.

Pertama kali bertemu, aku cukup tertarik padanya. Dia tidak tampan, kulitnya hitam, hanya beberapa senti lebih tinggi dariku, ... yang sebenarnya dari semuanya dia bukan tipeku ... tapi dia seorang yang beragama, itu kesan pertama yang membuatku menyukainya, membuat senyumnya dengan deretan giginya yang putih dan rapi itu terlihat sangat manis.

Suatu saat seorang pria muncul dan memintaku menjadi temannya di BBM. Merasa tak mengenalnya, aku menyapanya. Dia membalasnya, orangnya cukup kocak, kami berbalas-balasan candaan yang tidak 'garing' menurutku, hingga kemudian kuketahui kalau ia adalah pria di kantorku. Ternyata ia seorang yang sopan dan sangat menghormati wanita.

Saat aku pergi ke Tenggarong, ada dua pria yang rajin berhubungan denganku melalui BBM. Pria tetanggaku itu dan teman kantorku. Sepulangnya dari Tenggarong, aku berencana pergi berdua dengan pria tetangga rumahku, kami pergi menonton di XXI. Sementara teman kantorku mengajak nonton juga, aku sudah telanjur berjanji dengan pria pertama.

Berdua dengan si doi membuatku lebih mengenalnya. Ia bukan tipe pria yang aku inginkan. Yang aku inginkan adalah pria yang membuatku merasa nyaman dan dilindungi, namun semua itu tak ada pada dirinya. Sebagai wanita, aku merasa 'remeh' di hadapnya. Syukurlah teman kantorku belum kapok mengajakku nonton, selang sehari, aku pergi nonton berdua dengan pria kedua. Sangat berbeda, kesan yang aku dapat, aku merasa nyaman, walau aku tidak bisa sepenuhnya menunjukkan perasaanku padanya, sungguh rasa suka yang ada di hatiku ini bukanlah 'permainan' belaka. Aku sangat menyukainya.

Dari kawannya yang lain aku mengetahui bahwa ia baru saja putus dari kekasihnya. Aku sempat berpikir, apakah aku adalah pelariannya saja ? Belum lagi bibirku mengeluarkan kata-kata, hatiku sudah menjawab, "Kalaupun pelarian, so what ? Bukannya cinta tak harus memiliki ?"

Hampir tidak pernah aku menghubungi pria tetanggaku lagi. Jika pun doi menghubungiku, aku selalu menjawabnya seperlunya. Yang aku lakukan adalah terus menunggu, menunggu datangnya cinta yang tulus, yang mensyukuri segala kelebihanku dan menerima segala kekuranganku, dari pria yang juga aku cintai.

Masih sering aku melirik ke dalam akun facebook-nya, masih terpampang fotonya dengan wanita di masa lalunya itu, putih dan cantik. Aku bisa memiliki harapan akannya, dia juga sah-sah saja memiliki harapan akan mendapatkan kembali cinta dari wanita masa lalunya itu. Walaupun pria yang aku cintai tidak mencintaiku dan hanya menganggapku sebagai 'pelarian' sementara, aku tak akan pernah menyesal, karena yang aku tahu hanyalah aku mencintainya, dan mencintai itu berarti ikhlas dengan segala sesuatunya. Aku ikhlas mencintainya, dan ikhlas berarti 'bebas tuntutan'. Hanya saja aku tetap memiliki satu harapan, berharap suatu saat kamu akan menyadari kehadiranku, dan mengetahui bahwa aku benar-benar mencintaimu.

Senin, Agustus 22, 2011

Pertemuan kembali setelah sekian lama

Buka Puasa Bersama teman-teman SMU sudah direncanakan sejak berabad-abad yang lalu (lebay) ... tapi baru terealisasikan untuk pertama kalinya pada hari minggu 14 Agustus 2011, karena sibuk mencari 'bandar' dari acara buka puasa bersama, sampai salah satu dari kami murka dan merubahnya menjadi akhir yang cukup baik. Berawal dari BBM group SMURADHA 2002, dari pembicaraan yang tidak penting sampai akhirnya tercetus ide untuk kumpul-kumpul kembali, silaturahmi.

Dari banyaknya teman seangkatan yang kami hubungin, yang terkumpul hanya aku, Aries, Rachmad, Fathur dan Novi (kebetulan mereka suami-istri), Nurdin, kemudian Mayel beserta istri dan anaknya. Hanya 9 orang kami berkumpul di Solaria Sky Bridge, dengan biaya sekitar Rp.50.000,-/orang kami berkumpul dan menikmati buka puasa bersama. Saya berencana memesan nasi fillet ikan asam manis, tapi berhubung menu ikan pada hari itu sedang kosong, akhirnya saya memesan cheesy chicken steak plus french fries. Berikut bisa disaksikan kebahagiaan kami ketika itu.




Sekeluarnya dari Solaria, kami bertemu dengan Riswan yang kebetulan sedang jaga stan Mazda, dan kebetulan lokasi stannya berada tepat di depan Sport Station dimana ada seorang alumni Patra Dharma angkatan kami juga di sana yaitu Rano Jeber. Sedang asyik berkumpul bersama Riswan dan Rano, melintas pula Reno Setyanto seorang teman kami juga di escalator menuju lantai 1. Bertambah ramailah acara kumpul-kumpul kami ketika itu.

Kemudian kembali kami rencanakan acara kumpul-kumpul selanjutnya, dimana kawan kami yang tinggalnya di dalem utan bisa ikutan ngumpul (monyet donk ... xixixiii ... pizzz) karena uda masuk kota. Nah, ditentukanlah hari Sabtu tanggal 21 Agustus 2011 bertempat di Jimbaran Cafe Kemala Beach. Kebetulan aku dan Betty seorang kawan yang menjadi guru di Penajam sudah janjian terlebih dahulu bertemu di BC. Kemudian kami sampai di Kemala Beach sekitar jam lima lewat sedikit, belum ada tanda-tanda kehidupan anak Patra di sana. Menikmati angin sepoi-sepoi di pinggir pantai, kemudian kami memutuskan untuk masuk saja ke deretan cafe-cafe di sana, menuju cafe yang paling pojok, yaitu Jimbaran de Cafe. Pertama numpang ke toilet dulu, kemudian menanyakan bookingan tempat anak-anak Patra. Tak lama kemudian Rachmad mengabari kalau sudah tiba di Kemala. Dan berkumpullah kami bertiga bergaya narsis fotoan.



Tak lama kemudian, Aries dan Hazmy dateng ... kebetulan mereka adalah pasangan baru ... bukan baru menikah sih, melainkan baru 'jadian' ! Heheheee. Akhirnya BB beralih ke tangan Hazmy, dan inilah hasil jepretannya.


Kemudian datang pasangan yang tak terduga juga. Berpikir bertemu dengan seseorang yang aku kenal, aku berteriak memanggilnya, "Yuniko!". Tak disangka dia dan pria di sebelahnya berjalan ke arah kami, kebetulan Yuniko adalah rekan satu kerjaanku, spontan aku bertanya padanya, "Kamu angkatan berapa?". Dia malah tertawa dan berkata, "Aku hanya menemani pacarku kok.". Ternyata pria di sebelahnya adalah Krisna Galih, yang juga teman seangkatanku di SMU. Inilah photo pasangan kita pada acara buka bareng hari itu.




Setelahnya Dwitia datang, kebetulan ia sedang berbadan dua. Kemudian Mayel dan Niken juga datang, lalu Empi. Akhirnya berkumpullah kami 11 orang untuk berbuka puasa bersama pada hari itu. Ngobrol ngalor-ngidul, kemudian mengabadikan moment-moment kebersamaan kami hingga malam hari.










Malam semakin larut, akhirnya jam tangan sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam. Kami rencana bubaran dari acara BukBar tersebut hingga tiba-tiba muncul dua kawan kami lagi, Zenith dan Yudi. Kembali kami abadikan kebersamaan itu dalam kamera compact-ku.



Yup ... itu hasil photo terakhir edisi kali ini, diharapkan akan ada session selanjutnya. Sepulang dari Jimbaran de Cafe, aku dan Betty ngacir ke e-walk BSB untuk shopping, kemudian esok harinya aku dan Betty juga Rachmad nonton Harry Potter bersama di XXI. Bulan November, Betty akan menikah dengan orang Surabaya yang kebetulan pacarnya semasa kuliah dulu, dan ia akan mengurus mutasi kerja ke Surabaya. Entah kapan akan bertemu lagi setelahnya. Keep in touch ya friend ... semoga masih terus berlanjut hingga 10 tahun ke depan, insyaAllah. Terima kasih buat dua harinya yang cukup berkesan.

Minggu, Agustus 21, 2011

Belajar dari kisah sederhana

Sebegitu mudahnya kah kaum lelaki berpindah ke lain hati ? Untuk hal yang satu ini, apakah saya harus bertanya pada diri saya sendiri ? Saya adalah seorang wanita, ketika hari sebelumnya saya begitu 'berbunga-bunga' menanggapi perhatian yang diberikan oleh seseorang yang berniat melamar saya, seketika pula seseorang yang sudah lama saya taksir menghubungi saya dan mulai mendekati saya, dan kisah yang tadinya indah menjadi begitu memuakkan bagi saya. Begitu pula ketika saya sedang tidak memiliki siapa pun untuk mendengarkan cerita saya dan membawa saya 'mencari angin segar' untuk membuang rasa suntuk saya, seorang teman pria yang kebetulan dekat dengan saya dan menganggap saya 'lebih dari sekedar teman dekat' selalu bersedia membawa saya kemanapun saya inginkan. Namun setelah mendapatkan perhatian dari seseorang yang saya cintai, saya hampir melupakannya dan semua dari dirinya adalah 'salah' di mata saya.

Setelah membaca buku 'Cerita sebuah pensil' karya Vanny Chrisma W, dimana terdapat bagian dengan bab yang berjudul 'Arrrght', saya rasa ini waktunya introspeksi diri. Pokok yang terkandung dalam kisah itu adalah, 'bila kita tidak mampu menerima orang lain apa adanya, bagaimana kita bisa berhubungan dengan orang lain dan menemukan kekasih bagi diri kita sendiri ?'

Sebut saja pria C, dia orang yang membuat saya jatuh cinta, benar-benar cinta. Awalnya dia begitu perhatian pada saya, namun kemudian berubah 180 derajad pada saya dan itu membuat saya sangat bingung sekaligus sakit hati. Saya kemudian berpikir, apa itu juga yang dirasakan oleh pria A dan pria B yang sempat dekat dengan saya tadi. Kesan pertama terhadap pria A, adalah pria yang sopan dan berbudi pekerti luhur. Namun kemudian yang saya sadari adalah ia yang kebetulan memang anak orang yang cukup terkenal di Kota ini, mencari istri yang ingin didapatkan secara 'cuma-cuma', tidak begitu mengenal yang namanya 'harga diri seorang wanita'. Kesalahan terbesar saya adalah, ketidak-sukaan terlalu drastis diperlihatkan.

Begitupun dengan pria B yang notabene adalah sahabat dekat saya. Dengannya saya hanya tidak tahu bagaimana cara menolaknya ketika ia mengajak saya pergi hanya berduaan. Saya juga selalu menghindar dari pernyataan cintanya, sehingga kadang saya terkesan jutek padanya. Pengetahuan umumnya yang terlampau sedikit dan 'loading' yang terlalu lama dalam hal membahas sesuatu, membuat saya cukup il-feel padanya.

Perubahan sikap yang drastis oleh pria C pada saya mengingatkan saya pada pria A dan B. Saya sungguh menyukai C, karena ia pria yang sangat menghormati wanita, ganteng (wajahnya selera gue banget deh), sopan, dan cukup berpendidikan. Rasa sakit yang saya rasakan saat ini, mungkinkah karma akan 'sakit' yang dirasakan kedua pria yang sempat dekat pada saya sebelumnya ?

Yah, mungkin C telah menemukan wanita yang lebih baik dari saya. Seperti saya yang menemukan banyak kekurangan pada diri pria-pria sebelumnya, begitupun ia menemukan banyak kekurangan pada diri saya. Dan kali ini saya yang harus belajar ikhlas dan mengambil hikmah atas rasa 'sakit' yang saya rasakan saat ini. Walau 'sakit', saya harus berbesar hati untuk mengucapkan, 'Selamat tinggal PRIA PLANET MARS, semoga berbahagia.'




Jumat, Agustus 12, 2011

Ketika dia melintas

Beberapa kali mengalami sikap acuh tak acuh dari seorang pria yang sangat saya sukai, membuat saya pada akhirnya memutuskan bahwa saya benar-benar harus melupakannya demi harga diri saya sebagai seorang wanita. Saya memutuskan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan YME dan menunaikan ibadah Ramadhan saya dengan khusu' tanpa dipengaruhi oleh hasrat untuk memilikinya, fokus menunggu datangnya 'hari kemenangan'.

Bukan hanya menahan lapar dan haus, saya yang tadinya tidak sepenuhnya menjalankan shalat lima waktu mendadak menjadi begitu alimnya, rasanya ada yang kurang jika kelewatan satu waktu saja. Ketika bepergian ke mall, saya merasa sangat risih tanpa menggunakan pakaian tertutup dan jilbab sebagai penutup kepala. Saya juga meyakinkan diri saya bahwa dengan mendekatkan diri kepada Tuhan YME, saya bisa mendapatkan yang lebih dari padanya.

Dalam doa, selalu memohon satu hal, jika ia jodoh saya, mohon dekatkanlah ia pada saya, namun jika bukan, mohon petunjuk dari Yang Kuasa. Saya juga selalu memohon agar Ia menuntun saya ke jalan dimana jodoh saya berada, dan agar jodoh saya pun dituntun untuk menghampiri saya. Karena di usia saya yang sudah 27 tahun saya belum memiliki pasangan hidup sementara wanita seusia saya lainnya sudah menjadi seorang istri dan ibu dari anak-anak mereka.

Apa daya, saya dan pria pujaan hati saya kerja di perusahaan yang sama di Kota Balikpapan. Ketika saya sedang mengamati dokumen yang ada di meja saya, saya merasakan ada sekelebat bayangan yang melintas di hadapan saya, pria yang tinggi dan putih, kemudian menengok sekejap ke arah saya dan tersenyum dengan sangat manisnya. Serrrrr, bak disembur dengan air sorga, hati saya terasa adem, hanya sekejap namun membuat hari saya ketika itu sangat indah. Harapan untuk menemukan pria lain musnah kemudian kembali pada harapan agar bisa dicintai olehnya.

Saya menyebutnya PRIA PLANET MARS, karena sikapnya yang susah ditebak, kadang sangat manis pada saya, namun terkadang pula membuat saya merasa serba kurang (kurang cantik, kurang muda, kurang langsing, kurang PD, bahkan kurang perhatian). Setiap saya berusaha kembali untuk melupakannya karena dia tidak memperdulikan BBM atau apalah yang datangnya dari saya, dia selalu melintas di hadapan saya dengan senyum termanisnya dan permainan matanya yang seakan menggoda hati saya untuk mengikuti kemanapun ia pergi.

Kemudian dalam doa saya di setiap malam hari ia melemparkan senyuman mautnya pada saya, saya selalu menyebut namanya, "Ya Tuhan, kalau memang ia jodoh saya, tolong dekatkanlah, namun jika bukan, kirimkanlah ia untuk saya, sebagai jodoh saya, pria terakhir dalam hidup saya."

Karena yang saya mau hanya kamu, tetap kamu, selalu kamu.

Rabu, Agustus 10, 2011

'Kesejukan' di tengah teriknya Nusa Dua

Nusa Dua ...

Entah apa yang aku pikirkan dulu ketika memilihnya menjadi tempat rantauanku selama 5 tahun lamanya, 4 tahun aja sih rencananya ... jadi 5 tahun karena setahunnya free pass (emangnya karaokean di Inul Vista, heheheee). Tempat yang sangat panas dan gersang, terutama tempat aku bermukim, tempatnya anak kos kere yang cuman ngesot sampe kampus, yaitu bukit Kampial dimana di puncaknya-lah berdiri kampus kami yang luas kawasannya berhektar-hektar.

Di sanalah aku mulai mengenal arti persahabatan, di sanalah aku mengalami perdebatan jiwa karena konflik yang berkepanjangan dengan beberapa pihak yang menyebut diri mereka 'musuh', di sana pulalah aku mulai mengenal cinta dan patah hati, kemudian di sana juga aku mulai akrab dengan yang namanya 'senasib sepenanggungan'. Nusa Dua 2002-2007 ramai dengan riuh tawa kami dan juga banjir oleh air mata kami.

Entah apa yang menyebabkan aku mendadak teringat dengan Nusa Dua dan orang-orang yang terlibat di dalamnya dalam kurun waktu 5 tahun itu. Mungkin karena perasaan yang sedang campur aduk, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, tak cukup diluapkan dengan tangisan, seperti ada sesuatu yang hilang dari dalam diri ini. Sanggupkah aku kembali ke sana ? Kembali ke Nusa Dua ? Jika tidak, sanggup kah aku tetap bertahan di sini ? Di Balikpapan, dimana aku sendiri tak mengerti akan rasa ini ketika aku tetap berada di sini.

Masih jelas dalam ingatanku, panas yang membakar kulit, peluh yang menetes tak henti dari kening yang pucat, kamar yang panas dan lembab ... Nusa Dua oh Nusa Dua ... namun tak lupa pula, sahabat yang selalu ada saat dibutuhkan, menawarkan bantuan sebelum diminta, membantu menghapus air mata di kala duka, menemani tertawa di saat canda, mengisi ruang hampa di dalam jiwa, memberikan pundak sebagai tempatku bersandar.

Beberapa photo yang aku pajang di sini, semoga saja dapat mengobati rasa kangenku dengan Nusa Dua yang panas terik dan para penyejuk jiwaku ini.


















Kumpulan kisah lama

Ketika membuka kumpulan album foto digital alias CD-CD foto yang sudah lawas, tampak beberapa foto kenangan antara aku dan doi masih terselip di dalamnya. Namanya Arif, cowo asal Banjarmasin, yang mempertemukan kami adalah kami sama-sama memilih tempat kuliah yang sama di satu pulau, pulau tempat berkumpulnya para Dewa. Yang lebih istimewa adalah kami satu indekosan. Awal kuliah kami semua berteman akrab, maklum ... masa-masanya ospek 'mau nggak mau' di antara para cama (calon mahasiswa) dan para cami (calon mahasiswi) kudu akur satu sama lain.

Saat itu aku dan seorang raka (kakak pembina ospek) sudah taksir-taksiran dan kemudian selesai ospek kami menjalin kasih. Ia pria Hindu, asli Nusadua, aku memanggilnya dengan sebutan Cit-cit, seperti teman-temannya memanggilnya. Koleksi foto-foto bersamanya sudah aku bakar bersamaan dengan dimulainya hubungan baruku dengan Arif. Hanya tersisa satu foto yang juga terselip di dalam CD-ku ketika awal-awal HP kamera keluar di pasaran, masa-masa N3660-ku.


Dia beda usia dua tahun di atasku. Anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga, dan ia sudah tidak ber-ayah. Perbedaan yang bersifat prinsip tak bisa disatukan oleh waktu atau apapun juga, cinta kami kandas setelah dua tahun menjalin kasih, tanpa masalah apapun aku memutuskan hubungan ini begitu saja, walau akhirnya aku nangis sendiri bak kebo di dalam kamar, dan ribet sendiri menghindarinya, karena ketika itu ia menolak kata putus melalui sms, terus mencariku di kos, kampus, dsb, ia ingin bertemu empat mata denganku, ... sedangkan kalau waktu itu aku mengiyakan untuk bertemu empat mata dengannya, pasti kami tak akan pernah putus, karena aku tak akan sanggup melihat tatapan matanya. Sekarang ia sudah menjadi bapak dari dua orang putri yang masih balita.

Saat aku pacaran dengan Cit-cit, Arif menjadi musuh besarku di indekos, karena ia selalu menjahiliku dengan gayanya yang 'nggak' banget deh menurutku. Garing dan sok eksis! Tapi yah begitulah, benci dan cinta jaraknya hanya sejengkal saja. Ia menjadi sahabat penghiburku di kala aku patah hati, selalu ada saat aku butuhkan, menemaniku kemanapun aku ingin pergi, bahkan ia lah satu-satunya pria yang sempat nginap di UGD ketika kecelakaan motor bersamaku dan korban lebam di wajah ketika membela kehormatanku dari pria-pria mabuk di jalanan.

Sekilas aku ingin mengenang potret kebahagiaan kami ketika itu sebelum aku siap untuk menghancurkan semua CD-CD ini. Yah, foto bersamanya lah yang paling banyak. Karena masa-masa bersamanya, HP kamera sudah menjamur, hanya dengan membawa HP, sudah bisa mengabadikan segalanya, dan aku tak pernah melupakan untuk membawa HP kemana pun aku pergi.








Walau berakhirnya kisah cinta kami bisa terbilang tragis. Mulai dari rasa jenuh yang selalu mewarnai pertengkaran kami, kemudian saling cemburu, dan yang membuat kami benar-benar berakhir adalah jarak yang memisahkan. Ia mengantarkan kepulanganku ke Balikpapan, membantuku mengatasi kesulitanku dalam membawa pulang semua perabotanku, dari mengirim motor jupee-ku melalui suryagita nusaraya (cargo bandara), mengangkat TV-komputer juga perabotanku yang lain, sampai over weight di bagasi 60 Kg yang akhirnya disusutkan menjadi 15 Kg karena keterbatasan uang yang kami bawa. 60Kg = Rp.1.200.000,- seharga tiket pesawat dua orang ketika itu. Wow !

Kemudian setelah seminggu di Balikpapan, mengantarkan kepulangannya ke terminal bus dan itulah akhir dari segalanya. Sebulan setelahnya, yaitu akhir September 2007, hubungan kami berakhir. Mengingat begitu dekatnya hubungan kami dulu. Yah ... 2 pasang nomor kembar ala kami pun berakhir, tersisa nomor As-ku 555 yang menemukan pasangan baru. Inilah potret kemesraan ketika itu yang terakhir saya publish di blog ini. Setelah ini, semua 'tentang'nya musnah. I promise !!!


Annisa siap menerima cinta yang baru, pria dari PLANET manapun yang bisa membuatku jatuh cinta dan bersedia menerimaku apa adanya. Dimanakah kau manusia planet ? ^___^ PRIA PLANET MARS

Selasa, Agustus 09, 2011

'Lagu' patah hati malam rabu

Ketika asa yang melambung tinggi dihempaskan hingga ke dasar lautan, menyebabkan hati yang utuh hancur berkeping-keping, menahan beban rindu, cinta yang tak berbalas, datang dan pergi begitu saja, dia mungkin memang bukan untukku, tapi dapatkah ia mengembalikan cinta yang telah ia curi dariku, agar aku bisa memberikannya kepada yang lebih membutuhkannya ?

Permainan dalam hidup ... permainan cinta, permainan takdir, permainan jiwa ...

Pertama bertemu dan berkenalan ... aku tahu bahwa ia yang aku butuhkan ... dan aku pun selalu siap menjadi sandaran baginya ... menjadi tongkat baginya ketika ia sedang goyah ... menjadi kedua matanya ketika ia sedang tidak bisa menghadapi kenyataan dalam hidup ... bahkan menjadi penguat hatinya agar ia tak pernah merasa takut ...

Cinta itu telah dibawa pergi, namun ia tak pernah menukar dengan cintanya ... dia 'mencuri' dengan ijinku, berhakkah aku menuntutnya untuk mengembalikan cinta itu atau meminta cintanya sendiri ?

Pintu hati sudah tertutup rapat ... melakukan penolakan besar terhadap efek cinta yang tak diinginkan ... bagaimana denganku ? Aku berharap hati dapat terbuka kembali ... dan menerima cinta yang lain agar jiwa ini tak terasa hampa ... tapi aku tak sanggup membujuk hati yang sekeras baja ...

Apa ini jalan hidupku ? HIdup tanpa cinta di hati ... dengan jiwa yang hanya setengah ... tiada yang menemani di sisi ... setelah mengucapkan 'selamat tinggal' kepada dua cinta yang meminta cintaku dan berjanji menukar dengan cintanya, cinta itu kuberikan cuma-cuma kepada cinta yang bukan untukku ... dan ikhlas yang sempat terjadi, berakhir dengan uraian air mata juga ...

'Lagu sedih' ini adalah 'lagu' patah hati malam rabu ...

http://www.sayasedangsedih.com