Rabu, Agustus 22, 2012

Berakhirnya hubungan singkat

Akhirnya hubungan kami benar-benar berakhir setelah 11 bulan kami menjalaninya dengan segala omong-kosong tentang pernikahan. Hal sepele yang sebenarnya tidak perlu terjadi menyulut pertengkaran hingga tak tahan kukeluarkan ultimatum mengenai putusnya hubungan kami dan tidak percayanya dia bahwa aku benar-benar mengharapkan berpisah dengannya membuatku langsung men-delete kontak BBMnya dari BBku, walau terkadang sikap tidak tahu dirinya masih terus mengirimkan SMS pernyataan sayang seperti jelangkung (datang tak diundang pulang tak diantar).

Pria seperti dia hanya menganggap wanita adalah orang yang lemah yang tidak dapat mengambil keputusan tegas. Secinta apapun aku dengan seorang pria, aku tidak akan membiarkan harga diriku tercabik-cabik dengan kata-kata kasar dan sikap kasar dari seorang pria. Hatiku bulat untuk putus dengannya. Aku memberinya kesempatan untuk mengejarku, tapi bahkan nomor PIN BBku pun tidak disimpannya dan tidak ada usaha untuk bertanya kepada teman-teman lain yang mengetahui PIN BBku, alasannya adalah karena ia tidak mau banyak orang yang bertanya tentang hubungan kami karena pacarku sendiri tidak tahu nomor PINku. Ya itu deritamu, dalam hatiku. Pria yang benar-benar menyayangiku akan rela mengorbankan harga dirinya demi aku. Akan rela bersusah payah demi mendapatkan cintaku kembali karena jujur, cintaku sudah luntur padanya. Sudah tak tersisa rasa cinta sedikitpun. Yang ada hanya kebencian yang mendalam di dasar hatiku yang kutujukan padanya.

Aku memiliki impian untuk mendapatkan seorang pria yang tulus mencintaiku, meletakkanku pada tingkatan yang paling tinggi di dunia saja (kalau di dunia akhirat tentu saja hanya Allah SWT yang tertinggi), mengistimewakan keberadaanku, bukan hanya bersyukur melainkan sangat bersyukur karena aku ada untuknya, tidak melecehkanku, tidak meninggalkanku karena teman-temannya, tidak membela teman-temannya daripada aku. Aku tidak bohong kalau mengatakan kepadanya aku lebih baik tidak menikah seumur hidup daripada harus terikat dengan pria jahat seperti dirinya. Buat apa menikah hanya untuk direndahkan. Demi status menjadi istri kok rela direndahkan, rela disiksa, ... itu hal yang bodoh dan konyol menurutku! Kecuali ada seorang pria baik-baik yang sayang denganku dan keluargaku, barulah aku rela menjalani pernikahan dengannya. Dan dia sudah 'mengaminin' permintaanku itu, berarti dia mendoakanku agar menemukan pria yang baik. Sadar juga kalau dia bukan pria baik-baik.

Bukan materialistis, demi kawan-kawannya dia rela mengeluarkan uang berapapun, kalau demi aku bahkan ditagih untuk sebuah kado pun harus susah payah. Apa ada yang pantas dipertahankan dari dirinya? Hanya karena dia Haji dan sedang menjalani pendidikan S2 sama sekali tidak ngefek buat aku. kecuali ada perubahan yang drastis dari dirinya untuk bersikap kepada diriku. Aku adalah seorang wanita yang walau tidak cantik, tapi berparas lumayanlah, tinggi badan pas untuk ukuran seorang wanita, bentuk tubuh walau tidak proporsional namun aku memiliki lekak-lekuk seorang wanita dan berat badan sama tinggi badan pun lumayan sebanding, dan yang paling penting adalah walau aku belum berpendidikan S2 namun aku adalah lulusan S1 dengan nilai B di kampus negeri akreditas B dan yang terpenting aku adalah wanita pekerja (aku pegawai tetap di sebuah bank swasta). Sedangkan dia belum lulus kuliah S2 dan di usia yang sama denganku belum memiliki pekerjaan tetap. Jadi yang pantas untuk dipertahankan itu aku atau dia? Aku ngga berat untuk melepasnya, oleh karena itu aku berkata dengan jujur padanya, kalau dia sungguh-sungguh tidak mau melepaskan aku, dia harus punya usaha buat mendapatkan hatiku kembali karena hatiku mati suri.

Kalau sudah marah ... bahkan keluargaku pun dia sumpahin, bahkan teman SDku pun tak satupun boleh aku temanin karena kecemburuannya terhadap dua orang di antara mereka. Sedangkan dia bisa sesuka hati bergaul dengan komunitasnya yang tidak aku sukai. Dia punya pegangan telpon rumahku, sedangkan aku hanya punya dua PIN BB temannya, itupun masih belum cukup baginya masih saja menanyakan no telp dan PIN BB teman-teman kantorku, ... sungguh tidak adil buat aku. Dan ketika aku ngga mau memberikan kepadanya, dia menuduhku macam-macam. Entah pendustalah, penipulah, pembohonglah,...padahal aku ngga tau aja kelakuannya di sana kalau dia sudah menghilang tanpa kabar. Keegoisannya membuat aku semakin ingin pergi jauh darinya. Sungguh pria yang tidak pantas dipertahankan. Pria yang tidak pernah introspeksi diri juga. Tidak pernah mau mengaku salah, tidak pernah mau memakai cara lembut untuk mendekatiku selain dengan paksaan dan ancaman. Aku tidak perduli, yang penting aku terbebas dari cowok jahat yang bisa membahayakan diriku dan yang suka memutuskan tali silaturahmi dengan semua orang yang sudah terjalin begitu lama dan begitu baiknya, sungguh dosa besar. Allah sangat membenci orang yang suka memutuskan tali silaturahmi, jadi aku sangat yakin kalau hubunganku dengannya sudah pasti tidak mendapat restu dari Allah SWT karena hanya membawa keburukan bagi kami berdua.

Ya Allah, ... tunjukkan jalanMu ... Engkau pasti memiliki cara untuk menjauhkanku dari pria yang hanya berniat dzalim kepada diriku dan keluargaku. Aku percayakan semuanya padaMu. Jodoh dan mati hanya di tanganMu. La illaha illa anta subhnaka inni kuntum minna dzaalimiin. Rabbana attinafi dunya hasana wafil akhirati hasanata waqina azabannar. Amin amin ya Rabbal a'lamiin.

2 komentar: