Minggu, Agustus 21, 2011

Belajar dari kisah sederhana

Sebegitu mudahnya kah kaum lelaki berpindah ke lain hati ? Untuk hal yang satu ini, apakah saya harus bertanya pada diri saya sendiri ? Saya adalah seorang wanita, ketika hari sebelumnya saya begitu 'berbunga-bunga' menanggapi perhatian yang diberikan oleh seseorang yang berniat melamar saya, seketika pula seseorang yang sudah lama saya taksir menghubungi saya dan mulai mendekati saya, dan kisah yang tadinya indah menjadi begitu memuakkan bagi saya. Begitu pula ketika saya sedang tidak memiliki siapa pun untuk mendengarkan cerita saya dan membawa saya 'mencari angin segar' untuk membuang rasa suntuk saya, seorang teman pria yang kebetulan dekat dengan saya dan menganggap saya 'lebih dari sekedar teman dekat' selalu bersedia membawa saya kemanapun saya inginkan. Namun setelah mendapatkan perhatian dari seseorang yang saya cintai, saya hampir melupakannya dan semua dari dirinya adalah 'salah' di mata saya.

Setelah membaca buku 'Cerita sebuah pensil' karya Vanny Chrisma W, dimana terdapat bagian dengan bab yang berjudul 'Arrrght', saya rasa ini waktunya introspeksi diri. Pokok yang terkandung dalam kisah itu adalah, 'bila kita tidak mampu menerima orang lain apa adanya, bagaimana kita bisa berhubungan dengan orang lain dan menemukan kekasih bagi diri kita sendiri ?'

Sebut saja pria C, dia orang yang membuat saya jatuh cinta, benar-benar cinta. Awalnya dia begitu perhatian pada saya, namun kemudian berubah 180 derajad pada saya dan itu membuat saya sangat bingung sekaligus sakit hati. Saya kemudian berpikir, apa itu juga yang dirasakan oleh pria A dan pria B yang sempat dekat dengan saya tadi. Kesan pertama terhadap pria A, adalah pria yang sopan dan berbudi pekerti luhur. Namun kemudian yang saya sadari adalah ia yang kebetulan memang anak orang yang cukup terkenal di Kota ini, mencari istri yang ingin didapatkan secara 'cuma-cuma', tidak begitu mengenal yang namanya 'harga diri seorang wanita'. Kesalahan terbesar saya adalah, ketidak-sukaan terlalu drastis diperlihatkan.

Begitupun dengan pria B yang notabene adalah sahabat dekat saya. Dengannya saya hanya tidak tahu bagaimana cara menolaknya ketika ia mengajak saya pergi hanya berduaan. Saya juga selalu menghindar dari pernyataan cintanya, sehingga kadang saya terkesan jutek padanya. Pengetahuan umumnya yang terlampau sedikit dan 'loading' yang terlalu lama dalam hal membahas sesuatu, membuat saya cukup il-feel padanya.

Perubahan sikap yang drastis oleh pria C pada saya mengingatkan saya pada pria A dan B. Saya sungguh menyukai C, karena ia pria yang sangat menghormati wanita, ganteng (wajahnya selera gue banget deh), sopan, dan cukup berpendidikan. Rasa sakit yang saya rasakan saat ini, mungkinkah karma akan 'sakit' yang dirasakan kedua pria yang sempat dekat pada saya sebelumnya ?

Yah, mungkin C telah menemukan wanita yang lebih baik dari saya. Seperti saya yang menemukan banyak kekurangan pada diri pria-pria sebelumnya, begitupun ia menemukan banyak kekurangan pada diri saya. Dan kali ini saya yang harus belajar ikhlas dan mengambil hikmah atas rasa 'sakit' yang saya rasakan saat ini. Walau 'sakit', saya harus berbesar hati untuk mengucapkan, 'Selamat tinggal PRIA PLANET MARS, semoga berbahagia.'




Jumat, Agustus 12, 2011

Ketika dia melintas

Beberapa kali mengalami sikap acuh tak acuh dari seorang pria yang sangat saya sukai, membuat saya pada akhirnya memutuskan bahwa saya benar-benar harus melupakannya demi harga diri saya sebagai seorang wanita. Saya memutuskan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan YME dan menunaikan ibadah Ramadhan saya dengan khusu' tanpa dipengaruhi oleh hasrat untuk memilikinya, fokus menunggu datangnya 'hari kemenangan'.

Bukan hanya menahan lapar dan haus, saya yang tadinya tidak sepenuhnya menjalankan shalat lima waktu mendadak menjadi begitu alimnya, rasanya ada yang kurang jika kelewatan satu waktu saja. Ketika bepergian ke mall, saya merasa sangat risih tanpa menggunakan pakaian tertutup dan jilbab sebagai penutup kepala. Saya juga meyakinkan diri saya bahwa dengan mendekatkan diri kepada Tuhan YME, saya bisa mendapatkan yang lebih dari padanya.

Dalam doa, selalu memohon satu hal, jika ia jodoh saya, mohon dekatkanlah ia pada saya, namun jika bukan, mohon petunjuk dari Yang Kuasa. Saya juga selalu memohon agar Ia menuntun saya ke jalan dimana jodoh saya berada, dan agar jodoh saya pun dituntun untuk menghampiri saya. Karena di usia saya yang sudah 27 tahun saya belum memiliki pasangan hidup sementara wanita seusia saya lainnya sudah menjadi seorang istri dan ibu dari anak-anak mereka.

Apa daya, saya dan pria pujaan hati saya kerja di perusahaan yang sama di Kota Balikpapan. Ketika saya sedang mengamati dokumen yang ada di meja saya, saya merasakan ada sekelebat bayangan yang melintas di hadapan saya, pria yang tinggi dan putih, kemudian menengok sekejap ke arah saya dan tersenyum dengan sangat manisnya. Serrrrr, bak disembur dengan air sorga, hati saya terasa adem, hanya sekejap namun membuat hari saya ketika itu sangat indah. Harapan untuk menemukan pria lain musnah kemudian kembali pada harapan agar bisa dicintai olehnya.

Saya menyebutnya PRIA PLANET MARS, karena sikapnya yang susah ditebak, kadang sangat manis pada saya, namun terkadang pula membuat saya merasa serba kurang (kurang cantik, kurang muda, kurang langsing, kurang PD, bahkan kurang perhatian). Setiap saya berusaha kembali untuk melupakannya karena dia tidak memperdulikan BBM atau apalah yang datangnya dari saya, dia selalu melintas di hadapan saya dengan senyum termanisnya dan permainan matanya yang seakan menggoda hati saya untuk mengikuti kemanapun ia pergi.

Kemudian dalam doa saya di setiap malam hari ia melemparkan senyuman mautnya pada saya, saya selalu menyebut namanya, "Ya Tuhan, kalau memang ia jodoh saya, tolong dekatkanlah, namun jika bukan, kirimkanlah ia untuk saya, sebagai jodoh saya, pria terakhir dalam hidup saya."

Karena yang saya mau hanya kamu, tetap kamu, selalu kamu.

Rabu, Agustus 10, 2011

'Kesejukan' di tengah teriknya Nusa Dua

Nusa Dua ...

Entah apa yang aku pikirkan dulu ketika memilihnya menjadi tempat rantauanku selama 5 tahun lamanya, 4 tahun aja sih rencananya ... jadi 5 tahun karena setahunnya free pass (emangnya karaokean di Inul Vista, heheheee). Tempat yang sangat panas dan gersang, terutama tempat aku bermukim, tempatnya anak kos kere yang cuman ngesot sampe kampus, yaitu bukit Kampial dimana di puncaknya-lah berdiri kampus kami yang luas kawasannya berhektar-hektar.

Di sanalah aku mulai mengenal arti persahabatan, di sanalah aku mengalami perdebatan jiwa karena konflik yang berkepanjangan dengan beberapa pihak yang menyebut diri mereka 'musuh', di sana pulalah aku mulai mengenal cinta dan patah hati, kemudian di sana juga aku mulai akrab dengan yang namanya 'senasib sepenanggungan'. Nusa Dua 2002-2007 ramai dengan riuh tawa kami dan juga banjir oleh air mata kami.

Entah apa yang menyebabkan aku mendadak teringat dengan Nusa Dua dan orang-orang yang terlibat di dalamnya dalam kurun waktu 5 tahun itu. Mungkin karena perasaan yang sedang campur aduk, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, tak cukup diluapkan dengan tangisan, seperti ada sesuatu yang hilang dari dalam diri ini. Sanggupkah aku kembali ke sana ? Kembali ke Nusa Dua ? Jika tidak, sanggup kah aku tetap bertahan di sini ? Di Balikpapan, dimana aku sendiri tak mengerti akan rasa ini ketika aku tetap berada di sini.

Masih jelas dalam ingatanku, panas yang membakar kulit, peluh yang menetes tak henti dari kening yang pucat, kamar yang panas dan lembab ... Nusa Dua oh Nusa Dua ... namun tak lupa pula, sahabat yang selalu ada saat dibutuhkan, menawarkan bantuan sebelum diminta, membantu menghapus air mata di kala duka, menemani tertawa di saat canda, mengisi ruang hampa di dalam jiwa, memberikan pundak sebagai tempatku bersandar.

Beberapa photo yang aku pajang di sini, semoga saja dapat mengobati rasa kangenku dengan Nusa Dua yang panas terik dan para penyejuk jiwaku ini.


















Kumpulan kisah lama

Ketika membuka kumpulan album foto digital alias CD-CD foto yang sudah lawas, tampak beberapa foto kenangan antara aku dan doi masih terselip di dalamnya. Namanya Arif, cowo asal Banjarmasin, yang mempertemukan kami adalah kami sama-sama memilih tempat kuliah yang sama di satu pulau, pulau tempat berkumpulnya para Dewa. Yang lebih istimewa adalah kami satu indekosan. Awal kuliah kami semua berteman akrab, maklum ... masa-masanya ospek 'mau nggak mau' di antara para cama (calon mahasiswa) dan para cami (calon mahasiswi) kudu akur satu sama lain.

Saat itu aku dan seorang raka (kakak pembina ospek) sudah taksir-taksiran dan kemudian selesai ospek kami menjalin kasih. Ia pria Hindu, asli Nusadua, aku memanggilnya dengan sebutan Cit-cit, seperti teman-temannya memanggilnya. Koleksi foto-foto bersamanya sudah aku bakar bersamaan dengan dimulainya hubungan baruku dengan Arif. Hanya tersisa satu foto yang juga terselip di dalam CD-ku ketika awal-awal HP kamera keluar di pasaran, masa-masa N3660-ku.


Dia beda usia dua tahun di atasku. Anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga, dan ia sudah tidak ber-ayah. Perbedaan yang bersifat prinsip tak bisa disatukan oleh waktu atau apapun juga, cinta kami kandas setelah dua tahun menjalin kasih, tanpa masalah apapun aku memutuskan hubungan ini begitu saja, walau akhirnya aku nangis sendiri bak kebo di dalam kamar, dan ribet sendiri menghindarinya, karena ketika itu ia menolak kata putus melalui sms, terus mencariku di kos, kampus, dsb, ia ingin bertemu empat mata denganku, ... sedangkan kalau waktu itu aku mengiyakan untuk bertemu empat mata dengannya, pasti kami tak akan pernah putus, karena aku tak akan sanggup melihat tatapan matanya. Sekarang ia sudah menjadi bapak dari dua orang putri yang masih balita.

Saat aku pacaran dengan Cit-cit, Arif menjadi musuh besarku di indekos, karena ia selalu menjahiliku dengan gayanya yang 'nggak' banget deh menurutku. Garing dan sok eksis! Tapi yah begitulah, benci dan cinta jaraknya hanya sejengkal saja. Ia menjadi sahabat penghiburku di kala aku patah hati, selalu ada saat aku butuhkan, menemaniku kemanapun aku ingin pergi, bahkan ia lah satu-satunya pria yang sempat nginap di UGD ketika kecelakaan motor bersamaku dan korban lebam di wajah ketika membela kehormatanku dari pria-pria mabuk di jalanan.

Sekilas aku ingin mengenang potret kebahagiaan kami ketika itu sebelum aku siap untuk menghancurkan semua CD-CD ini. Yah, foto bersamanya lah yang paling banyak. Karena masa-masa bersamanya, HP kamera sudah menjamur, hanya dengan membawa HP, sudah bisa mengabadikan segalanya, dan aku tak pernah melupakan untuk membawa HP kemana pun aku pergi.








Walau berakhirnya kisah cinta kami bisa terbilang tragis. Mulai dari rasa jenuh yang selalu mewarnai pertengkaran kami, kemudian saling cemburu, dan yang membuat kami benar-benar berakhir adalah jarak yang memisahkan. Ia mengantarkan kepulanganku ke Balikpapan, membantuku mengatasi kesulitanku dalam membawa pulang semua perabotanku, dari mengirim motor jupee-ku melalui suryagita nusaraya (cargo bandara), mengangkat TV-komputer juga perabotanku yang lain, sampai over weight di bagasi 60 Kg yang akhirnya disusutkan menjadi 15 Kg karena keterbatasan uang yang kami bawa. 60Kg = Rp.1.200.000,- seharga tiket pesawat dua orang ketika itu. Wow !

Kemudian setelah seminggu di Balikpapan, mengantarkan kepulangannya ke terminal bus dan itulah akhir dari segalanya. Sebulan setelahnya, yaitu akhir September 2007, hubungan kami berakhir. Mengingat begitu dekatnya hubungan kami dulu. Yah ... 2 pasang nomor kembar ala kami pun berakhir, tersisa nomor As-ku 555 yang menemukan pasangan baru. Inilah potret kemesraan ketika itu yang terakhir saya publish di blog ini. Setelah ini, semua 'tentang'nya musnah. I promise !!!


Annisa siap menerima cinta yang baru, pria dari PLANET manapun yang bisa membuatku jatuh cinta dan bersedia menerimaku apa adanya. Dimanakah kau manusia planet ? ^___^ PRIA PLANET MARS

Selasa, Agustus 09, 2011

'Lagu' patah hati malam rabu

Ketika asa yang melambung tinggi dihempaskan hingga ke dasar lautan, menyebabkan hati yang utuh hancur berkeping-keping, menahan beban rindu, cinta yang tak berbalas, datang dan pergi begitu saja, dia mungkin memang bukan untukku, tapi dapatkah ia mengembalikan cinta yang telah ia curi dariku, agar aku bisa memberikannya kepada yang lebih membutuhkannya ?

Permainan dalam hidup ... permainan cinta, permainan takdir, permainan jiwa ...

Pertama bertemu dan berkenalan ... aku tahu bahwa ia yang aku butuhkan ... dan aku pun selalu siap menjadi sandaran baginya ... menjadi tongkat baginya ketika ia sedang goyah ... menjadi kedua matanya ketika ia sedang tidak bisa menghadapi kenyataan dalam hidup ... bahkan menjadi penguat hatinya agar ia tak pernah merasa takut ...

Cinta itu telah dibawa pergi, namun ia tak pernah menukar dengan cintanya ... dia 'mencuri' dengan ijinku, berhakkah aku menuntutnya untuk mengembalikan cinta itu atau meminta cintanya sendiri ?

Pintu hati sudah tertutup rapat ... melakukan penolakan besar terhadap efek cinta yang tak diinginkan ... bagaimana denganku ? Aku berharap hati dapat terbuka kembali ... dan menerima cinta yang lain agar jiwa ini tak terasa hampa ... tapi aku tak sanggup membujuk hati yang sekeras baja ...

Apa ini jalan hidupku ? HIdup tanpa cinta di hati ... dengan jiwa yang hanya setengah ... tiada yang menemani di sisi ... setelah mengucapkan 'selamat tinggal' kepada dua cinta yang meminta cintaku dan berjanji menukar dengan cintanya, cinta itu kuberikan cuma-cuma kepada cinta yang bukan untukku ... dan ikhlas yang sempat terjadi, berakhir dengan uraian air mata juga ...

'Lagu sedih' ini adalah 'lagu' patah hati malam rabu ...

http://www.sayasedangsedih.com

Senin, Agustus 08, 2011

Manisnya kurma di sore hari

Saya memasukkan sebuah kurma ke dalam mulut dan mengulumnya, menikmati dikit demi dikit dagingnya dan merasakan manisnya di pangkal lidah. Manisnya kurma semanis perasaan saya saat ini, sore hari yang cerah, duduk di balkon rumah sambil menunggu mentari terbenam. Hari ini saya memang sedang tidak puasa karena 'tamu bulanan' sudah menghampiri.

Jarang-jarang karyawan bank seperti saya sudah berada di rumah sebelum hari gelap. Moment seperti ini tentu saja tak ingin saya lewatkan begitu saja. Sepulangnya dari rumah tepat jam 5 sore tadi, saya tak ingin membuang-buang waktu lebih lama, saya menghabiskan waktu hanya lima belas menit untuk mandi dan berpakaian, kemudian membawa cherry ke balkon rumah, menikmati matahari sore dan angin sepoi-sepoi, menulis blog diiringi nyanyian-nyanyian rohani dari masjid dekat rumah saya.


Sweet monday ... mungkin baru kali ini saya merasakan bahwa hari ini bukanlah 'monster day' melainkan 'monumental day', yaitu hari peringatan untuk perasaan saya yang sedang sangat manis di hari senin. Pohon mengkudu, pohon mangga yang sangat lebat daunnya, pohon kelapa dengan nyiurnya yang melambai-lambai dan buahnya yang berwarna orange, menambah sejuk perasaan saya.



Pemukiman kampung yang sangat padat, berbagai bentuk rumah, dari yang minimalis dengan balkon yang sangat luas namun kering, hanya terlihat anten parabola berwarna karat (atau memang uda karatan ya? heheee). Kemudian rumah tingkat dua dengan balkon yang agak lebih kecil, tampak seperti gudang, terlihat penuh dengan barang tak terpakai, dan jemuran pakaian, tampak si empunya rumah sedang mengangkatin pakaian-pakaian tersebut. Ada juga bangunan yang rasanya sudah dari setahun yang lalu direnovasi, tapi belum selesai-selesai. Sisanya hanya terlihat atap yang sambung-menyambung karena terlalu padat dan hanya satu lantai.

Di kejauhan terlihat bangunan-bangunan tinggi, menyolok di antara kawasan padat penduduk, hotel-hotel yang sangat indah dan paling terang di malam hari. Dari hotel bintang tiga sampai hotel bintang 5.  Kemudian yang selalu meramaikan suasana bulan ramadhan di kampung kami adalah sebuah bangunan ber-cet peach dipadu dengan hijau, masjid Al Mukhayar, kebetulan kemarin adalah giliran keluarga saya mengantar tajil ke sana.



Tak terasa sudah hampir sepuluh buah kurma sepanjang tulisan saya kali ini, saya menghitung biji-biji yang saya letakkan tepat di samping saya duduk, ada delapan buah. Walau hanya sesaat duduk di balkon, hari sudah mulai gelap, namun saya tak akan pernah melupakan rasa yang begini manisnya, rasa kurma di sore hari.


Minggu, Agustus 07, 2011

Dari jendela kamar saya

Bangunan mini berdinding cet warna cream, beratap seng warna merah, dengan teras yang cukup luas dan teduh di tengah panasnya matahari jam 12 siang di Kota Balikpapan. Saya membayangkan seorang pria berusia hampir 70 tahun sedang membaca koran di teras itu, seorang wanita yang berusia lebih muda sedikit darinya sedang mengobrol di depan televisi bersama seorang wanita berusia sekitar 30an tahun, dan seorang gadis remaja sedang menonton DVD kesayangannya seputar kehidupan remaja Korea masa kini di dalam kamarnya. Sementara seorang wanita tua yang terlihat pucat sedang tidur pulas di dalam kamarnya. Sebuah rumah adalah tempat berlindung dan berkumpul sebuah keluarga. Saya yang sedang asyik bersama 'Cherry', laptop kesayangan saya, sambil sesekali menengok ke arah jendela kamar saya yang tirainya sudah sengaja saya singkap agar saya bisa leluasa mengamati segala sesuatunya.

Saya bisa menggambarkan kondisi keluarga yang berada di dalam rumah mungil itu karena, itu adalah rumah kakek saya, dimana di dalamnya terdiri dari kakek, nenek, tante Nelly, adik sepupu saya si Lini, dan juga nenek kecil saya (panggilan kepada kakak perempuannya nenek) yang memang sedang sakit.

Beralih pada pepohonan yang hijau, membuat hati dan pikiran menjadi sejuk, walau mentari memancarkan cahaya dengan sangat terang membuat peluh pada dahi seseorang tak berhenti mengalir. Pandangan saya tertuju pada pohon pisang yang berada di sudut lapangan di samping rumah nenek. Hijau dan lembut daunnya pasti membuat ulat betah meliuk-liuk di dedaunnya, mencari tempat yang pas untuk membuat sarangnya menyerupai gumpalan kapas dan bergelantungan dengan nyamannya (kepompong), kemudian yang lainnya sudah terbangun dari tidur panjang dan mengepakkan sayapnya yang indah berwarna-warni (kupu-kupu), terbang ke sana ke mari.

Mobil-mobil yang terparkir di lapangan itu seakan teriak kepanasan, merasa lembab dan tak dapat bernapas dengan lapang. Mobil-mobil itu adalah milik beberapa anak kos yang tinggal di rumah saya dan milik orang yang ngontrak rumahnya tante Renny yang lokasinya juga tak jauh dari rumah saya. Ia pasti sudah teriak memanggil-manggil si empunya, "Furqan, engkau puasa berteduh di dalam rumah, bagaimana denganku?", yang lainnya kemudian menyusul dengan keluhannya juga, "Pak Supiyan...bisakah aku ikut tidur bersamamu di kamar ber - AC itu?"

Semakin dekat dengan rumah saya, saya memandang pohon kedondong dengan buahnya yang masih berwarna hijau terang bergelantungan, sementara yang sudah kering berjatuhan di sekitarnya. Di sampingnya berdiri tegak pohon sirsak yang tidak begitu tinggi, dan sangat jarang berbuah.

Mayang, si belang tiga, kucing tercantik di kampung ini tengah mengendap-endap di rerumputan, tampak ia menggendong bayinya dengan moncongnya, entah kemana lagi akan dia bawa bayi-bayinya setelah seminggu berada di teras rumah kami.

Banyak sekali yang bisa dilihat dari jendela kamar saya ini, dan saya lukiskan dengan pikiran saya sendiri, kemudian saya tuangkan dalam bentuk tulisan di blog, hingga kalian yang berkunjung dapat ikut menikmati hasil pandangan dan bayangan saya ini.

Saya sendiri di dalam kamar, bertemankan laptop bernama Cherry, dan pemandangan yang terlihat dari jendela kamar saya sedikit menyingkirkan rasa jenuh dan kesepian dari diri saya. Melihat Mas Rajab dengan wajah lelahnya memarkir taxy bandara, tempat ia mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istrinya, melihat seorang ibu yang keberatan membawa barang belanjaan atau apa entahlah, kemudian sang ànak yang masih sangat belia membantunya, melihat seorang pria paruh baya yang lari tergopoh-gopóh di jalanan turun di samping rumah saya tersebut, dan masih banyak orang yang bisa saya amati.

Jendela kamar saya sesungguhnya adalah potret kehidupan saya. Terlihat sangat tenang, namun banyak cerita di dalamnya.

Sabtu, Agustus 06, 2011

Menemukan jawaban takdir dan berharap tetap 'MANIS'

Bertemu dengan setiap orang tanpa direncanakan terlebih dahulu bagi saya adalah suatu takdir. Bertemu, kemudian berkenalan dan menjalin suatu hubungan, hubungan kekeluargaan, persahabatan bahkan percintaan. Ketika saya dilahirkan di muka bumi ini, itulah takdir saya menjadi bagian dari anggota keluarga saya saat ini, menjadi seorang anak, seorang kakak, seorang adik, seorang ponakkan, seorang cucu, dan lainnya. Kemudian ketika saya bertemu dengan pria, kakak kelas di kampus yang berbeda jurusan dengan saya, kemudian menjalin hubungan kasih, bagi saya itu juga merupakan sebuah takdir. Walau akhirnya hubungan itu harus berakhir dengan adanya 'perbedaan' yang bersifat prinsip di antara kami, saya tak akan pernah menyesali takdir yang sudah terjadi.

Takdir pula yang mempertemukan saya dengan kekasih saya yang berikutnya, berawal dari pertemuan awal mengenal kampus, satu indekos, kemudian menjadi teman, bahkan menjadi musuh karena sesuatu hal, kemudian menjadi sepasang kekasih yang akhirnya dipisahkan oleh jarak. Takdir pula yang membuat nomor XL saya (0819) dengan nomor belakang 5566 hangus terbakar, sedangkan pasangannya (5544) yang dipegang oleh kekasih saya itu masih bertahan hingga saat ini. Nomor yang lainnya yang juga kembar dengannya adalah nomor As (0852), dengan nomor belakang 555 dan 888. Nomor As yang 555 masih bertahan hingga saat ini, saya bahkan menggunakannya di BB saya, sedangkan beberapa bulan yang lalu saya mendapat kabar dari kekasih saya itu (mantan pacar saya), nomor 888 yang ia pegang sudah hangus terbakar. Takdir yang berbicara, takdir yang memutuskan bahwa tak akan ada alasan lagi kepada kami untuk saling mengenang satu sama lain.

Takdir banyak berbicara dalam kehidupan saya, sesungguhnya sih dalam kehidupan setiap orang, namun karena saya seorang yang sangat sensitif, maka saya merasa bahwa 'takdir' sangat berarti bagi saya. Takdir membuat orang silih berganti datang dalam kehidupan saya. Seorang pemuda yang mungkin diimpikan setiap wanita; kaya, cukup tampan, berpendidikan tinggi, anak dari orang terkenal, ... memutuskan untuk berkenalan dengan saya dan menginginkan suatu hubungan spesial. Seorang kawan masa kecil yang terpisah belasan tahun, dipertemukan kembali di social web, kemudian menjadi dekat dan salah seorang dari mereka merasakan perasaan yang berbeda, bukan lagi persahabatan melainkan percintaan, bagi saya semua itu adalah takdir.

Takdir berikutnya juga sedang berbicara pada saya. Seorang pria yang baru sekitar tiga bulan dekat dengan saya juga, berawal dari munculnya BB contact yang tdk saya kenal di BB saya, kemudian saling BBM-an, jalan bareng, dan saling bercerita tentang segala hal pada saya. Sesuatu yang mengejutkan, istrinya teman kecil saya adalah teman kecilnya juga. Beberapa teman kecil saya adalah kawan-kawannya ketika ia beranjak dewasa. Dan yang terakhir adalah nomor As yang ia gunakan bernomor belakang 666, dan nomor As saya adalah 555 !!!!

Kalau dulu saya dan kekasih saya memang berjanji untuk menggunakan nomor yang kembar, dengan alasan supaya berpasangan seumur hidup. Tapi dengan pria yang di mata saya saat ini sangat spesial itu, tak pernah ada perjanjian sebelumnya di antara kami untuk menggunakan nomor yang berpasangan. Lagi-lagi takdir ! Dan saya sangat menyukai hal ini.

Sekali lagi saya ingin sekali mendengar jawaban takdir. Baru saja saya BBM mantan saya itu dengan hati berdebar untuk menanyakan mengenai nomor XL-nya itu. Apakah masih aktif ataukah sudah almarhum seperti nomor XL saya. Dan, sekali lagi saya mendengar jawaban takdir !


Nomor XLnya sudah hangus, dalam artian nomor XL 'pasangan' ala kami sudah tidak ada, dan nomor As saya menemukan pasangan baru. Saya sangat menyukai kebetulan ini. Thanks God atas takdir yang begitu manisnya. (Buat yang baru mampir di blog saya ini, harap jangan merasa 'lebay' ketika membaca tulisan saya kali ini, seorang penulis pasti menyukai hal-hal yang berbau seni, apalagi seni dalam berkata-kata yang bagi sebagian orang adalah hal yang 'lebay'. Heheheee.)

Seandainya saja perjalanan jodoh saya bisa semanis takdir yang sudah sangat dalam saya rasakan. Jodoh dimana kedua orang yang dipertemukan oleh takdir, kemudian saling jatuh cinta, berakhir di pelaminan dan memiliki anak-anak yang lucu. Saya sudah banyak sekali menemukan jawaban takdir, tapi untuk takdir akan jodoh saya, saya masih terus berharap, berharap menjadi seperti yang saya mau (#^___^#). Karena saya sangat menyukai takdir yang sedang terjadi pada saya saat ini, saya sangat menginginkan takdir kali ini juga akan memberi jawaban akan 'jodoh' saya. Let's sing a song, "Tetap kumau, kau sebagai...kaaasihkuuu...", Melly Goeslow mode on.

Sabtu, Juli 30, 2011

Mengejar bayangan PRIA PLANET MARS

Aku duduk menatap langit, malam itu kurasakan angin berhembus kencang bertubi-tubi menghantam tubuhku. Tak terlihat bintang, bulan pun hampir tertutup awan. Dinginnya malam ini dan sunyinya jiwa ini, menambah kenistaan diri ini, terisolasi dari kumpulan riuh tawa kebahagiaan.

Sayup kudengar nyanyian pilu hati ini, "Gelap...gelap...aku ingin keluar dari tempat ini...aku takut, aku benci gelap dan sendiri...aku ingin pergi keluar, mencari hati yang lain, agar satu jiwa menjadi utuh...keluarkan aku dari sini...tolong...tolong...sebelum penderitaan ini semakin dalam kurasakan...sebelum nafas cinta pergi membuatku tak bernyawa lagi...tolong aku...tolong aku..."

Malam semakin larut, kurasakan tulang rusukku ngilu tak sanggup lagi menahan dinginnya malam, aku masuk ke dalam rumah, membuat secangkir kopi susu hangat dan mengambil jaketku. Masih beratapkan langit tanpa bintang, tubuhku sedikit lebih hangat walau hatiku mulai beku. Perlahan kuminum kopi yang sudah aku buat itu, demi menghangatkan bagian dalam tubuh ini, mencairkan es yang menutup jantung hatiku.

Kali ini aku mendengar nyanyian sunyi jiwaku, "Dimana kau yang sempat menjadi pelengkapku, bagian dariku. Aku tak dapat bertahan tanpa bagian yang lain. Tanpamu aku hanya sebagian hal yang tak berarti, tak dapat menghidupkan hati yang sudah beku. Bahkan air kesedihan tak mau keluar dari tatapan mata yang hampa. Kemana kau belahanku. Datang padaku, hangatkan hati tuanku, teteskan air mata harunya, ciptakan senyum di bibirnya, agar aku menjadi lebih berarti baginya."

Aku tersentak ketika melihat rintik hujan mulai membasahi balkon kamarku. Sekali lagi aku pandangi handphone-ku, masih sama, sunyi tak menandakan akan ada pesan ataupun telpon masuk. Aku meneguk kopiku hingga habis tak bersisa. Aku membawa Handphone-ku dan bersiap masuk ke dalam kamar, namun belum sempat terlaksana, ia bersenandung menandakan bahwa ada pesan yang sedang mendesak untuk aku baca. Tertulis pada layar, "Maaf.". Nama pengirim: Pria planet MARS.

Aku melepas jaketku, kurentangkan tangan di pinggir pagar, membiarkan hujan membasahi tubuhku, kurasakan hati ini panas, air mata mengalir membasahi wajahku dan hujan menjadi penyempurna basah itu, kesakitan itu, kekecewaan yang bisa terluapkan oleh jatuhnya air mata di pipi. Janji yang diucapkan, ingkar yang yang sudah telanjur terjadi, kata 'maaf' yang sangat mudah terucap setelah penantian tanpa penjelasan. Aku tak dapat mengerti apa yang telah terjadi dan apa yang sedang terjadi pada diriku, yang aku tahu, cinta ini membuat aku selalu menerima kata 'Maaf' itu, baik puluhan kali, ratusan kali, ribuan kali, bahkan jutaan kali. Khusus buat 'PRIA PLANET MARS'.