Senin, November 02, 2009

Hasil 'kaweeen' ma Dude Harlino


Heheee ... beginilah anakku dengan Dude Harlino ... Pizzz Dude ... Anabella Harlino ...

Jumat, Oktober 30, 2009

Rasa sesal

Ada seekor anak kucing dibuang di muka rumahku.Sepanjang malam mengeong tak henti,berjalan tak tentu arah sampai di persinggahan terakhirnya yaitu di belakang rumahku (benar-benar persinggahan terakhirnya).

Pagi hari yang cerah aku mandi keramas,blow rambutku yang masih basah,masih pula kudengar suara kucing yang mengeong itu.Aku mengintipnya dari teras atas kamarku,anak kucing itu terus mengeong,mondar mandir mencari induknya.

Tergerak hatiku ingin memungutny,namun kemudian kuurungkan niatku itu mengingat papaku sedikit terganggu dengan hadirnya banyak kucing di halaman rumahku.Saat itu juga kebetulan ada ibu-ibu gendut bersepeda motor yang sedang melihat rumah kontrakan nenekku.

Masih mondar-mandir ga jelas antara mau mengambil naik anak kucing itu atau hanya sekedar mencarikannya wadah untuk mengantarkanny susu demi menyelamatkan sedikit dari rasa lapar,aku dengar suara gaduh dari luar.

Ibu gendut itu sibuk minta-minta maaf pada mami,mendadak jantungku berhenti berdetak melihat sang anak kucing yang sudah tergelepar tak berdaya tepat di belakang ban motor si ibu gendut.Sontak aku ambil langkah seribu menuju TKP.Dengan tangan gemetar aku ambil anak kucing yang masih kejang-kejang mengeluarkan darah terus-terusan dari mulutnya.Ternyata ia terlindas tepat di lehernya.

Walau rasa tak mungkin,pertolongan pertama tetap kami coba lakukan dengan meminumkannya cairan tulang harimau,namun apa daya anak kucing itu menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya.Air mataku tak berhenti mengalir karenanya,diselimuti rasa sesal yang begitu mendalam.

Penuh kata 'seaindainya' dalam hati.Seandainya saja aku tegas,langsung membawanya naik tanpa banyak pikiran antara sebab-akibat.Seandainya saja aku tak terlalu memikirkan ucapan orang atas perbuatan baik yang aku lakukan.Seandainya saja aku selalu mengikuti hati nuraniku,mungkin aku tak pernah menyesal.

Kami menguburkan anak kucing itu di dekat kuburan Kitty dan adik tiri Kitty yang belang tiga loreng.Kali ini adalah kematian tragis kucing yang pernah aku saksikan.Bukan hanya tragis baginya,tapi juga tragis bagi hatiku,sakiiit banget,mungkin juga tragis bagi ibu-ibu gendut tadi karena tanpa sengaja telah menjadikannya seorang pembunuh.

Kadang aku berpikir,mungkinkah Tuhan ingin menghukumku atas dosa-dosa yang pernah aku perbuat sehingga membuatku menjadi orang yang yang selalu mengambil keputusan yang salah yang membuatku menjadi sangat menyesal.Apalagi tadi malam seorang rekanku yang datang berkunjung ke rumahku mendoakanku agar mendapatkan rezeki yang banyak karena suka memberi makan kucing,ketika melihat banyak kucing di rumahku,ternyata hari ini seekor anak kucing malah mati tragis di sekitar rumahku.Ya Allah,maafkanlah aku,jangan buat aku merasa menyesal lagi karena sesuatu hal,jangan hukum aku seperti ini.

Selasa, Oktober 27, 2009

Party ala BunCit





Ini nih party ala BunCit ... BCL ... alias, Bunga Citra Lestari ...
Ketika masih lajang tentunya ...
Tp ini jg kudapat dari kawan sih...imel beruntun alias hasil forward sana-sini...
Tau deh mereka dapet darimana, tapi oke juga buat koleksi, secara BunCit tuh cantik banget.
Waaah...jadi pengen party nih!!!

Senin, Oktober 26, 2009

Latest edition bra ...

Ini nih model bra terbaru...
Limited edition!!!
Wak wak wakkk...
Ada-adaaa aja...





Minggu, Oktober 25, 2009

Indah bila kukenang

Taraaa...setelah lama tak memotong rambut menjadi sangat pendek...akhirnya aku melakukannya lagi kemarin, Sabtu 24 Oktober 2009. Potong rambut ala Yuanita 'take me out' host kulakoni juga. Ini mengingatkan aku saat-saat kuliah dulu, aku yang biasanya pergi berdua dengan sobat kentalku, Jill Joy de Queljoe (ahaaa, lengkap namamu Jill tak tulis...), si nona Ambon manise, kala itu di siang hari yang terik, di tengah ke Be Te-an dan kesendirianku di dalam kamar kos DW29X Nusa Dua, kosku di bukit nan kering, muncul ide dalam benakku...berbekal motor Jupee-ku tersayang, helm dan jaket andalan, aku pergi hang out ke Mall Bali Galleria di Simpang Siur, by myself alias alone!

Saat itu entah sedang terjadi masalah dalam bathinku, mumetnya pikiranku, ditambah kondisi kos yang sedang sepi...nyanyi teriak-teriak dalam kamar sudah bosan aku kerjakan sehari-harinya...Sesampainya di Mall Bali Galleria, aku berjalan kesana-kemari bak anak hilang, ke hypermart (so pasti!), ke matahari, liat film di twenty one pas ga ada yang bagus, sampai aku kehabisan tujuan. Sampai ketika aku melewati Jhonny Andrean, mengingat rambutku yang modelnya sudah terlalu monoton, mengingat usiaku yang masih terlalu muda untuk terus mempertahankan rambut panjang bak mbok-mbok, aku memutuskan untuk memotong rambutku pendeeek sekali, hampir kayak cowok-lah...xixixixixiii...

Sempat shock juga melihat wajahku di kaca...beda 180 derajad! Seperti bukan diriku, aku yang biasanya anggun dengan rambut panjang lurus tergerai, mendadak menjadi rada emo Jepang dengan rambutku yang sangat pendeknya. Oh my gosh! Tapi tak apalah pikirku, itung-itung buang sial,...semoga aja pikiranku ga penuh lagi, hatiku plong, dan juga jiwaku kembali berkobar.

Sesampainya aku di kos, aku menggedor kamar Jill. Yaaa, kalian yang mengenal kami berdua pasti langsung dapat membayangkan ekspresinya dan tahu betapa cemprengnya suaranya meneriakkan kegilaanku. Di kos yang sepi kala itu, suara kami berdua saja yang terdengar riuh, sejenak aku bisa melupakan masalah yang sedang melandaku saat itu.

Entah saat-saat itu bisa terulang kembali atau tidak. Yang jelas, aku memotong rambutku kali ini, bukan karena masalah yang memburuku, bukan karena kesendirianku (padahal, justru kali ini aku lagi jomblo), tetapi...hanya karena sanggul! Hahaaa...pasti kalian berpikir akan hubungannya antara sanggul dan potong rambut...yaitu karena kantorku sekarang mengharuskan kami yang berambut panjang untuk menyanggul rambut kami. Dan karenanya, hampir setiap hari rambutku termakan oleh karet gelang (banyak sekali), sedangkan rambutku panjang, tebal dan cukup indahlah (menurutku khannn???), sayang kalau harus rusak hanya karena sanggul!!!

Kita lihat saja, apa komentar orang-orang mengenai perubahan rambutku setelah aku upload fotoku before dan after di blogku ini, maupun di facebook. Yang jelas tak akan sama dengan riuhnya suasana kami sesama anak kos2an...seperti saat suatu ketika aku pergi ke salon bersama Jill di Jhonny Andrean Ramayana Mall Bali, aku potong rambut (rencananya sih bob nungging kruis-kruis ala Nirina Zubir saat itu) sedangkan Jill hanya Hair Spa sambil menemaniku potong rambut.

Kemudian, setelah potong rambut, kami yang memang janjian dengan dua rekan kami Arif dan Dimas, menunggu mereka sambil makan di food court, sambil terus mengeluhkan kekesalanku pada si mbok tukang potong rambut yang sangat tidak profesional dan hasilnya sangat jauh dari bayanganku. Dan benar saja, masih di ujung escalator, Dimas yang melihatku dari kejauhan langsung tertawa terbahak-bahak dan memanggilku 'Dora'. Whuaaa...Saat-saat itu yang sangat memalukan, tapi ternyata kangen jika kukenang saat ini...

"Would you marry me?"

Berada di antara mereka yang telah menikah, aku merasa sedikit minder, mengingat usiaku yang sudah seperempat abad. Bukan hanya karena aku belum menikah, melainkan karena pacar pun aku belum punya. Bukan karena aku terlalu pilih-pilih, melainkan memang belum ada pria yang benar-benar dekat denganku saat ini. Di samping itu, kedua orang-tuaku yang 'serba berlebihan' membuatku selalu takut mau menjalin hubungan dengan seorang pria. Padahal mamiku paling suka mengatakan hal-hal yang sensitive bagi wanita seusiaku yang membuatku semakin merasa minder, entah mengataiku 'jomblo forever'-lah, 'stres karena jomblo'-lah, dan sebagainya, disamping itu juga selalu mendesakku untuk segera menikah dan ingat sama umur. Bingung juga dengan sikap mamiku. Apalagi tak ada lelaki 'yang beres' di mata papaku. Lama-lama aku berpikir, mungkin mereka memang senang kalau anaknya tak ada yang menikah. Walau selalu cool tampangku, tapi rasa bimbang ada juga terbersit di hatiku.

Pernah suatu waktu papa berkata pada adik lelakiku ketika adikku meminta uang untuk pergi malam mingguan bersama teman wanitanya, "Kalau tidak ada uang, tak usah pacaran dulu!". Kata-kata itu mengingatkanku pada kakak tiriku (anak papaku dari Ibu yang lain), yang telah menikah (dalam keadaan miskin), bahkan telah memiliki 4 orang anak! Dan juga masih selalu ingin melibatkan keluarga kami dalam keadaan miskinnya, untungnya kami juga hidup tak serba berlebihan sehingga si doi tak bisa terlalu merepotkan keluargaku. (Kata-kata papaku itu lebih pantas disampaikan pada kakak lelakiku itu sepertinya)

Kembali lagi padaku. Impian seorang wanita untuk segera menikah adalah tentu saja kalau bukan masalah memiliki bayi, selain karena risih rong-rongan para nenek-nenek sok tahu di sekitarku. Saat ke Bali bulan Mei kemarin, aku mengunjungi seorang kawanku sejak SMU sampai sama-sama berkuliah di Bali hingga akhirnya ia menetap di Bali dan menikah dengan seorang bule Australia. Ia telah memiliki seorang bayi perempuan yang sangaaat lucu. Melihat bayinya, terbersit rasa iri di hatiku. Belum lagi berjumpa dengan sahabatku semasa kuliah yang telah memiliki dua orang anak balita laki-laki yang tampan-tampan. Sempurnalah hidup mereka karena telah menjadi seorang ibu.

Harusnya aku memang tidak perlu merasa terlalu malu akan status lajangku, mengingat aku adalah seorang wanita pekerja, namun impian terbesar dalam diriku adalah merasakan menjadi seorang ibu. Memiliki sepasang anak, lelaki dan perempuan, sudahlah cukup bagi diriku. Membesarkan mereka dengan kasih sayang, mengajarkan berbagai hal dalam hidup ini, menjadikan mereka anak-anak yang penuh percaya diri, dan sebagainya. Tapi tak mungkin juga semua dilewati tanpa menempuh jenjang pernikahan, kecuali kita hidup di negeri antah-berantah yang tak memiliki adat-istiadat tentunya.

Bosan juga mendengar para orang tuha bertanya di setiap kedatanganku pada acara pernikahan kerabat kami, "Kapan nyusulnya?". Lucu juga membaca tulisan humor seseorang di networking web twitter, konon ceritanya ia bosan jika di setiap pernikahan rekannya, para orang tuha suka bertanya kapan nyusulnya, maka...ia berencana di suatu acara pemakaman, ia akan bertanya kapan nyusulnya juga ke orang tuha tersebut. Pikiranku, wah...gue banget tuh!

Kadang aku berpikir, haruskah aku hengkang dari rumah agar aku lebih berani melangkah lebih jauh, tidak jalan di tempat, lebih bebas melebarkan sayapku, tidak serba khawatir akan anggapan orang-orang sekitarku terhadap pilihanku, dan juga agar aku lebih bisa menentukan sikap. Ataukah aku tetap diam manis di rumah, menunggu sang pangeran berkuda putih datang menjemputku di rumah kemudian mengatakan padaku, "Would you marry me?"

Jumat, Oktober 23, 2009

Akibat proses Western Union

Kemarin seorang warga negara Australia datang kepada saya untuk menguangkan kiriman Western Union dari seorang kerabatnya. Kebetulan kondisinya adalah dimana supervisor kami di divisi CS sedang cuti, sedangkan untuk memprosesnya, hanya ia yang berwenang menanganinya, dalam artian untuk login dan sebagainya. Sebenarnya seorang rekanku sudah memberi-tahuku untuk menolak nasabah yang bertujuan untuk Western Union (WU), namun disamping aku ini seorang yang pelupa, aku juga merasa sedikit lucu kalau menolak nasabah dengan alasan atasan sedang cuti (tapi rupanya maksud rekanku adalah menolak dengan alasan sistemnya lagi error).

Akhirnya belagak seorang pahlawan kesiangan, aku menerima nasabah Australia yang berniat mengambil kiriman uangnya dari Maryland melalui WU tersebut. Dibantu dengan supervisor pengganti yang merupakan Area Operation Manager Back Office, sebut saja namanya Ibu Irene, kami mengirimkan form yang sudah diisi oleh si bule melalui alamat imelnya ke supervisor CS kami di cabang lain untuk memproses penerimaan uang (maklum, sebagai CS kami tidak memiliki imel sendiri). Lama diam di Back Office menunggu balasan dari cabang lain, ternyata kabar yang didapat adalah koneksinya mengalami gangguan. Selang sekitar setengah jam kami menunggu, akhirnya kami memutuskan untuk membatalkan proses WU ini.

Keluarlah aku menghadapi si Mr Smith (bukan nama sebenarnya). Aku memohon maaf atas ketidak-nyamanan yang sudah terjadi dan memintanya untuk datang ke kantor cabang kami yang lain atau mencobanya di bank lain. Masih dalam keadaan menjelaskan dan memohon maaf, Ibu Irene keluar dan berkata kalau kondisi di kantor cabang sudah bisa konek ke WU dengan nilai rupiah setelah dikurskan adalah sekian-sekian. Seperti tidak konsisten memang, kami menawarkan bantuan kembali pada Mr Smith mengenai WU-nya, kembalilah Ibu Irene menghubungi ke kantor cabang untuk meneruskan transaksinya.

Mr Smith berasal dari Auckland. Sambil menunggu kabar proses penerimaan WU-nya, aku mengajak Mr Smith ngobrol. Aku bercerita padanya kalau aku mempunyai saudara jauh yang tinggal di Gold Coast, "She said that it's a nice place.", kataku sok akrab. Si bule tersenyum, "Yah, it's a very nice place.", katanya menambahi komentarku tadi. Rumahnya berseberangan dengan Bond University, ceritaku sok tau, maklum...saudaraku itu mengirimkan banyak sekali foto keadaan tempat tinggalnya di Gold Coast. Dengan dibukanya pembicaraan, Mr Smith jadi ikut bertanya mengenaiku, entah mengenai keluargaku, pekerjaan papaku dan sebagainya. "My father have a boarding house.", ceritaku padanya. "Good", sahutnya. "Do you visit Balikpapan with your family?, tanyaku lagi. "No, just by myself.", sahutnya. "Ouw, where do you stay?", semakin seru aku bertanya. "Le grandeur.", katanya sambil melirik jam tangannya.

Sebenarnya pembicaraan pribadi adalah sangat tidak profesional, tapi mungkin menawarkan produk kami padanya juga hal yang tidak mungkin karena tanda pengenal yang Mr Smith miliki hanyalah passport karena ia hanyalah seorang businessman yang melakukan kunjungan bisnis ke Balikpapan. Lagipula melihat Mr Smith yang tampak mulai bosan, aku berpikir harus menciptakan pembicaraan semenarik mungkin dengannya.

Mr Smith menanyaiku "Are you married?". "Not yet.", sahutku sambil tersenyum. "Your age?", tanyanya, "dua puluh?", sambungnya lagi. Rupanya Mr Smith tahu sedikit bahasa Indonesia. "No, twenty five.", sahutku tersenyum. "Too young.", komentarnya sambil tersenyum. Entah kalau yang mengatakannya seorang bule adalah tulus dari hatinya ataukah kalimat hiburan seperti kebanyakan orang Indonesia menggunakannya, heheee...maklum, di usia 25 aku memang belum pernah menikah.

Mr Smith mengingatkanku pada kegilaan aku dan kawan-kawanku sewaktu bersama kuliah di Bali selama 5 tahun. Awal menginjakan kaki di Bali, bak turis nyasar, aku bersama kawanku yang sama-sama merantau dari Balikpapan, hampir setiap hari menyusuri pulau Bali berboncengan dengannya diatas kanzen (jenis motor matic yang ukuranny cukup besar). Kegilaan kami adalah dengan bule, walau saat itu hanya tahu sepatah dua patah kata bahasa Inggris, Pe De saja kami tersenyum-senyum yang bener-bener eye contact (alias kedap-kedip nda jelas) dengan bule di jalanan, apalagi yang cakep.

Nah suatu waktu di lampu merah menuju Sanur, motor kami berada tepat di samping mobil dua orang bule. Bule tersebut tersenyum pada kami, dan ga mungkin banget gitu lowh kalau kami ga membalasnya, begitulah sekiranya pikiran kami berdua saat itu. Ntah mereka berdua ada mengobrol sesuatu yang ga gitu jelas kami dengar, tapi sambil tetap melihat ke arah kami. Tampaknya ada juga yang ingin mereka sampaikan pada kami. Sementara kami masih tetap dengan senyuman termanis kami. Ga begitu lama, kedengaran di sela-sela pembicaraan sang bule, terselip kata Crazy-crazy gitu lah...sebodoh-bodohnya kami waktu itu, kalau sekedar kata Crazy...ya ngertilah...

Setelah lampu hijau dan motor kami mulai jalan. Kami mulai ngerumpi mengenai si bule tadi, pas nih sepasang, canda kami waktu itu. Sudah sekitar lima menit kita berpisah dengan si bule-bule tadi, barulah kami sadar kalau lampu motor kami menyala terang benderang di sore hari itu. Saat itu belum ada peraturan untuk menyalakan lampu kendaraan di siang hari. "Ya ampyun!" Kata sobatku menyadari kebodohannya. "Pantasan tadi si bule ada ngomong-ngomong crazy segala, rupanya ngatain kita toh!", kami tertawa terbahak-bahak berdua di jalan raya menyadari kedunguan kami berdua. Kami kira si bule tebar pesona, ternyata mereka bermaksud memberi-tahu untuk mematikan lampu kendaraan kami, tapi kami yang tak mengerti malah senyum-senyum nda jelas kekijilan.

Kembali pada Mr Smith. Sudah terlalu lama menunggu, aku coba menghubungi langsung ke kantor cabang, ternyata kabar yang datang sangat mengecewakan karena belum juga bisa konek ke WU. Akhirnya aku bertanya pada Mr Smith apakah mau di cancel saja karena ia sudah terlalu lama menunggu. Dengan berat hati Mr Smith mengiyakan. Aku merekomendasikan bank yang terdekat dari kantor kami, tapi Mr Smith tidak berminat, ia hanya mau ke bank internasional sehingga aku memberikan alamat kantor cabang kami yang lokasinya cukup jauh dari kantor kami. Cukup tersanjung mendengarnya. Apalagi ia tidak marah dengan kondisi yang ada, ia cukup maklum, dan ia mengatakan senang bisa berbicara denganku.

Sesungguhnya, akupun senang bisa mengobrol dengannya. Ada untungnya juga aku nekad menawarkan jasa untuk membantunya walaupun kemungkinannya ternyata sangat kecil dengan kondisi tanpa spv-ku tersayang. Maaf ya Mr Smith, our walk in customer, nice to meeting you!

Kamis, Oktober 22, 2009

'Mangga belakang rumah'

Tak ada yang istimewa sebenarnya dengan mangga di belakang rumahku maupun dengan judul di atas. Hanya saja, setiap membayangkan mangga belakang rumahku itu, rasanya air liurku menggenang di bawah lidah. Di belakang rumahku terdapat banyak banget pohon mangga, sebatang pohon rambutan, sebatang dua batang pohon jambu, pohon pepaya, pohon pisang, ubi jalar, singkong, sukun, dan sebagainya. Bukan karena rumahku di desa nun jauh di sana dari perkotaan, bukan pula karena rumahku di tengah hutan,...hanya saja, kakekku tersayang sejak jaman dahulu kala memiliki tanah luas di tengah kota dan beliau seumur hidupnya dipenuhi dengan kerja dan kerja.

Kakekku adalah seorang Komandan Airud pertama KalTim dan seorang yang mengabdi pada negara sebagai polisi sampai hari pensiunnya. Beliau juga seorang yang sangat menyukai bertukang dan berkebun. di waktu senggangnya dulu, beliau membangun rumah-rumah kayu dan menanam berbagai macam tanaman. Tanah yang kami tinggali juga merupakan bagian dari tanah kakek dulu, dan posisinya tepat menghadap ke jalan besar.

Begitulah, karena hobi kakek yang menyukai bercocok tanam dan bertukang, kakek bisa menikmati hasil uang kontrakan dari 6 rumah bangsalnya selain hanya bergantung pada uang pensiunnya, disamping itu, kami (anak dan cucunya) bisa menikmati hasil pohon buah-buahan dan tak pernah takut kehabisan makanan deh istilahnya. Bangga banget deh punya kakek seperti kakekku, walau dikalangan anak2nya, kakekku adalah seorang yang pemarah dan tegas, untungnya tidak begitu bagi para cucu. (Pengarang lagi senyum-senyum sendiri nih sambil memikirkan mo nulis apa lagi...)

Nah, tadi sekilas latar belakang sampai terjadinya suasana rindang di sekitar rumahku, sekarang lanjut lagi mengenai mangga favorite-ku itu. Aku tinggal di Bali selama lima tahun, merantau untuk menempuh ilmuku di sebuah kampus panas di puncak bukit kawasan Nusa Dua. Aku yang sangat menyukai buah-buahan, terutama pencok atau rujak dan semacamnya, tentu saja langsung mencicipi rujak Bali (baik rujak gula maupun rujak kuah pindang). Mangga yang dibuat rujak di Bali, adalah mangga yang masih sangat hijau dagingnya. Bagi mereka yang sangat takut dengan rasa asam, pasti langsung ngilu melihatnya. Untungnya aku tidak. Aku coba aja dan ternyata mangga Bali tidak ada rasa asam, tawar biasa namun ada sedikit aroma mangga. Didaerah manapun aku makan rujak Bali atau membeli mangga di pasar, selalu dapat mangga yang serupa.

Sekali waktu, aku ingin sekali makan mangga yang seperti di belakang rumahku, aku cari keliling Bali, baik di pasar maupun supermarket (bukan karena ngidam lowh), tapi tak juga aku temukan. Mangga favorite-ku itu adalah mangga kampung biasa sebenarnya, bukan sejenis gadung, golek, kuini, maupun manalagi yang sangat ranum. Mangga itu adalah mangga yang walaupun amat sangat kuning, tetap ada sedikit rasa asam (yang tidak mengilukan) dan full serat. Duh, ngiler nih gara-gara nulis blog soal mangga yang satu ini. Yang aku dapat malah Wani, sejenis mangga yang warnanya putiiih sekali (mungkin ini yang di sebut mangga susu oleh guru SMAku dulu), namun rasanya jauh berbeda dari mangga impianku.

Waktu SMSan sama papaku (masih ketika aku masih di Bali), aku sempat mengatakan kangen sama mangga belakang rumah. Selang beberapa hari, aku menerima paket dari papaku yang isinya itu mangga belakang rumahku, duh senang banget.

Saat ini aku sudah bekerja, dan untuk menghemat uang gajiku, setiap hari aku bawa sangu makanan dari rumah. Mamiku tersayang yang setiap pagi repot mengurusi sangu makanku untuk bekerja (sementara aku masih mandi). Sangu makanku itu dikemas di rantang dua susun, yaitu rantang yang paling atas selalu berisi lauknya, nasi dibungkus sama bungkus nasi (kebetulan mami punya banyak bungkusan nasi karena sempat punya warung makan), kemudian rantang yang di bawah berisi dessert, dan selalu ada surprised setiap harinya. Lauknya bisa ayam goreng tepung, ayam goreng mentega, ikan tuna balado, telur orak-arik, telur masak habang, udang goreng tepung dan sebagainya. Kemudian untuk dessert-nya, awalnya sih simple saja, timun diiris-iris direndam gula, lombok dan garam. Kemudian belimbing yang dipotong-potong, direndam gula-garam-lombok juga (di halamanku terdapat pohon belimbing yang selalu berbuah setiap harinya). Sampai aku menemukan 'mangga belakang rumahku' didalam rantangku sebagai penutup makan siangku.

Memang tak ada yang istimewa dengan mangga itu, bahkan dengan cerita ini sebenarnya, hanya saja, dengan menuliskan blog ini, aku bisa mengungkapkan kecintaanku pada 'mangga belakang rumah'ku itu. So yummy!!!

Selasa, Oktober 20, 2009

Pelanggan ber-'PRINSIP' dan kawan2nya

Sebagai seorang Customer Service (CS), mengharuskanku bertemu dengan berbagai orang dengan karakter yang berbeda-beda. Walaupun cukup menguras banyak 'tenaga' (bukan dalam hal fisik sesungguhnya, melainkan lebih dalam hal pikiran dan hati...maklum sebagai CS kami dituntut untuk pandai-pandai menganalisa permasalahan yang ada pada para pelanggan kami, juga bersikap tetap sabar dan santun dalm menghadapi mereka-mereka yang emosinya sudah sampai ke ubun-ubun).

Saat ini aku bekerja di sebuah bank, setelah sebelumnya bekerja di sebuah provider telekomuinkasi yang cukup terkenal di Indonesia dengan lokasi kantor pelayanan di Kota Balikpapan. Tetap sebagai CS.

Bekerja di bank saat ini, aku belum begitu banyak mengenal para nasabah karena kebetulan memang baru dua bulan aku menapaki jejak di sebuah bank internasional di Kota kelahiranku ini. Pengalaman bersama para pelanggan aku dapatkan selama bekerja setahun di tempat sebelumnya. Bisa aku mulai ceritaku dengan seorang pelanggan keturunan Tiong Hoa yang memang sudah terkenal sekali di kalangan para seniorku sebagai seorang yang 'berprinsip', heheee...nanti kalian akan tahu bagaimana saklek-nya beliau.

Awal bertemunya aku dengan Mr Chang (sebut saja seperti itu), adalah ketika dia melakukan pembayaran kartu pasca bayar yang ia gunakan sekeluarga, ada sekitar 4 nomor yang menjadi kewajiban dia. Dia datang bersama anak perempuannya yang berseragam eS eM U. Saat melakukan pembayaran, dia membawa bill payment yang dikirimkan dari kantor pusat kami ke alamat penagihannya. Saat aku membacakan tagihan yang wajib dia bayar (terlihat pada sistem kami di komputer), wajahnya yang sudah berkerut-merut tambah merut sambil membandingkan tagihan yang tertera pada bill payment-nya. Ternyata Mr Chang menemukan perbedaan jumlah yang membuatnya sangat tidak puas. Dia memperlihatkan bill payment miliknya padaku dan memintaku konfirmasi kepada atasanku. Berhubung aku merasa masih bisa mengatasinya, aku meminta maaf sebelumnya dan membantunya menghitung seluruh tagihan tercetaknya, sambil menjelaskan padanya tagihannya dan pembayarannya satu persatu dari tanggal yang ada kelebihan pembayaran maupun kekurangan pembayaran sampai tercapainya hasil akhir yang seharusnya.

Ternyata setelah menghitung dan mendapatkan hasil akhirnya. Aku memang menemukan selisih untuk tagihan yang seharusnya Mr Chang bayar. Masing-masing nomor terdapat selisih sekitar Rp.100-Rp.200. Mr Chang berkata penuh kemenangan, "Nah kan? Saya hanya mau bayar sesuai tagihan saya. Bukan masalah nilainya, tapi masalah prinsip."

Akhirnya aku menghadap juga pada supervisor-ku tersayang untuk memintanya melakukan follow up refresh tagihan pelanggan kami tersebut. Setelah dilakukannya refresh, Mr Chang melakukan pembayaran. Belum cukup sampai disitu permasalahan 'prinsip'nya, tagihan Mr Chang yang berjumlah 'sulit' (dalam artian sulit dalam hal angsul-mengangsul), hitunglah tagihannya Rp.129875,-. Agak susah memang mencari uang Rp 25,- di jaman sekarang ini. Aku mengembalikan uangnya hanya Rp.100 karena aku berpikir apalah arti Rp.25 baginya, ternyata Mr Chang menagih kembalian yang kurang. Aku hanya bisa meminta maaf atas ketidak-nyamanannya karena saat ini kami tidak mempunyai kembalian 25 perak, dan berjanji akan menggantinya lain waktu ketika pelanggan datang kembali ke kantor kami. Mr Chang tampak tidak puas, ia hanya menjawab "Sudahlah simpan di sini saja."

Entah kebetulan atau tidak, sebulan kemudian ketika Mr Chang kembali melakukan pembayaran ke kantor kami, kembali lagi aku yang melayaninya, dan kebetulan uang Mr Chang kurang Rp.25, aku sih diem-diem saja, tapi Mr Chang telanjur bilang duluan, "Uang saya juga masih ada kan segitu disini?" (buseeet, inget aja dia, pikirku, padahal aku juga sudah hampir lupa)

Masih dengan Mr Chang, bulan berikutnya ketika ia kembali melakukan pembayaran, uang kembalian yang seharusnya hanya 50 perak, aku kembalikan padanya 100 perak. (Entah berjodoh atau apa, setiap beliau datang, selalu terdaulat untuk meng-handle-nya). Dia hanya berkomentar tanpa menyinggung masalah 'prinsip'nya itu, "Kelebihan uangnya." Ketika aku menjawab tidak apa, tanpa berkomentar ia menyimpan uang kembaliannya dalam dompet. Bukan hanya masalah pembayaran, anak perempuannya tidak pernah diisikan pulsa lebih dari Rp.5000 setiap bulannya setiap dia datang ke kantor kami, walaupun si gadis merengek setengah mati padanya.

Suatu waktu Mr Chang datang, yang meng-handle adalah juniorku yang masih belum menguasai masalah pembayaran. Kelabakannya dia menghadapi pelanggan 'berprinsip' seperti Mr Chang. Saat itu aku sedang ada pelanggan lain. Sempat kudengar Mr Chang berkomentar karena merasa tidak puas dengan pelayanan juniorku tersebut, "Biasanya aku di-handle sama si Acong itu", sambil dagunya ditunjukan ke arahku, "Tapi kelihatannya lagi sibuk dia", sambungnya lagi. Geli juga mendengarnya menyebutku 'Acong', mungkin karena kami sama-sama Tiong Hoa, tapi bukankah lebih pas Amey dan sebagainya kalau untuk anak perempuan? Heheee. Unik memang pelanggan kami yang sangat 'berprinsip' seperti Mr Chang.

Tak ada habisnya kalau pelanggan kami diceritakan satu-persatu. Ada seorang yang berpenampilan lusuh, berambut agak kribo, datang ke kantor kami dengan tujuan menanyakan RBT atau yang biasa juga kita kenal dengan NSP, melepas sendalnya di keset depan pintu kantor kami. Ketika security kami memintanya menggunakan saja sendalnya, sang pelanggan menolak karena menurutnya sendalnya kotor. Ada juga seorang ibu yang penampilannya juga kucel membawa sebuah buntelan dan bertanya panjang kali lebar kali tinggi tak ada ujungnya, dan kadang bertanya hal yang sama (alias yang itu-itu saja). Ada juga seorang ibu yang memang pelanggan kami, hampir setiap hari mengisi pulsa di tempat kami bersama dengan anak lelakinya yang bandelnya bukan kepalang. Entah anak itu melompat ke sana-kemari (sang ibu tidak menegurnya), menghamburkan flyer dan brosur2 kami, sampai pernah jungkir balik di sofa kami sangking grasak-grusuknya. Ada juga seorang pelanggan yang datang langsung menuju mejaku dan menunjuk-nunjuk ke arahku dengan sangat marahnya karena hadiah yang dimenangkannya melalui radio belum didapatkannya selang dua minggu, ia mengira sebelumnya berhadapan denganku, padahal sebelumnya yang meng-handle adalah rekananku. Kata orang-orang sih kami memang hampir serupa sehingga bagi yang belum begitu mengenal kami, bisa tertukar menandai kami.

Begitulah. Menjadi seorang CS kadang makan hati, penuh tekanan, dan sebagainya, namun sesungguhnya banyak hal-hal menarik, lucu dan menyenangkan kalau diingat-ingat lagi. Apalagi berhubungan dengan sosok 'berprinsip' yang memang menyebalkan pada saat itu, tapi membuat geli jika diingat-ingat kembali.