Luapan perasaanku, yang tak dapat aku ungkapkan kepada siapapun, yang tak mampu terpuaskan dengan kata-kata, terkadang ada kata yang terlupa jika secara lisan, kutuangkan dalam bentuk tulisan. Walaupun siapapun bisa saja berkunjung di blog ini, namun semua yang kuungkapkan di sini adalah sebuah 'kejujuran', karena 'rasa' memang tak dapat berbohong.
Jumat, November 25, 2011
You are so beautiful
Kemarin seorang India yang sudah cukup lama tinggal di Indonesia, dan berbicara dalam bahasa Inggris bercampur dengan Melayu datang kepadaku dan memintaku untuk membantunya mengirim uang kepada anaknya yang berada di Malaysia melalui Western Union. Proses demi proses pengiriman pun saya lakukan sesuai prosedur. Yang paling spesial dari semuanya adalah kalimat penutup 'basa-basi' yang diucapkan oleh si Bapak itu, yaitu 'You are so beautiful', yang bisa diartikan sebagai 'cantik' yang sebenarnya ataukah 'cantik' karena sikap ramah dan bersahabat yang saya tunjukan kepadanya, tapi apapun itu, hikmah yang bisa diambil dari cerita saya kali ini adalah kalimat yang sebenarnya 'simple', namun bisa membuat hati seseorang senang dan merasa dihargai, begitu pun yang saya rasakan ketika mendengar kalimat 'basa-basi' tersebut. Kemudian saya hanya menjawab singkat sambil tersenyum; 'Thank you'.
Minggu, November 20, 2011
Memanjakan ego menciptakan kehancuran
Ketika kamu merasa terabaikan olehku sehingga mempertanyakan kembali hatiku, tahukah kamu betapa sakitnya aku menyadari adanya ketidak-percayaanmu terhadapku. Dan tidak tahukah kamu rasa abai yang kamu rasakan sesungguhnya adalah ketidak-mampuanku memenuhi segala hal yang kamu inginkan dariku. Pernahkah terpikirkan olehmu, apa yang aku rasakan ketika kamu tidak memberi kabar padaku, dan sikap yang aku ambil sebelum dan setelah mendengar penjelasan darimu. Dibandingkan sikap yang kamu ambil sebelum dan sesudah mendengarkan penjelasanku, bahkan terkadang kamu tak memberi kesempatan padaku untuk menjelaskan.
Ketika aku memilih diam daripada menerima ajakanmu untuk beradu mulut, saling menyalahkan satu sama lain, kau mengatakan bahwa aku sedang lari dari masalah, yang sesungguhnya aku tak pernah menyingkir dari masalah melainkan itu caraku untuk mengatasinya, membiarkan kita sama-sama tenang sampai akhirnya bisa berbicara tanpa adanya emosi yang meledak-ledak. Yang perlu kamu tahu adalah aku adalah wanita yang bisa dipegang kepercayaannya. Entah kamu pernah mengalami hal apa dengan wanita-wanita yang sebelumnya, aku tak perduli, namun yang perlu kamu tahu adalah aku bukanlah 'mereka', dan kamu tak perlu berulang kali menanyakan isi hatiku karena jawabannya tetap sama.
Ketika tidak sempat menerima telponmu, ketika tidak sempat membalas smsmu, ketika BBM mu terabaikan olehku ... bukanlah suatu kesengajaan ... namun sadarkah kamu bahwa sebelumnya aku selalu memberi-tahu kegiatanku beserta waktunya ... dan kamu tentu sudah tahu apa yang sedang aku lakukan ketika aku tidak sempat membalas telpon dan pesan-pesan yang kau kirimkan ke ponselku. Setelah kemaren aku seharian bepergian bersama kawan yang lain menghadiri pernikahan salah seorang kawan kita juga, maafkan aku karena telah membawaku ke sikap abai terhadap dirimu. Ketika hari ini aku harus menghadiri pernikahan salah seorang kawan lamaku, maafkan aku karena membuatmu merasa jauh dariku. Maafkan aku karena tak bisa sepenuhnya memahami perasaanmu, dan memenuhi apa yang menjadi keinginanmu sebenarnya. Yang aku tahu hanyalah aku mencintaimu, dan cinta ini tak akan membangkitkan ego untuk membatasi ruang gerakmu dan memanjakan emosiku semata sehingga menyulut suatu pertengkaran yang malah membawa kehancuran pada hubungan kita. Karena aku tak mau kehilangan dirimu.
Ketika aku memilih diam daripada menerima ajakanmu untuk beradu mulut, saling menyalahkan satu sama lain, kau mengatakan bahwa aku sedang lari dari masalah, yang sesungguhnya aku tak pernah menyingkir dari masalah melainkan itu caraku untuk mengatasinya, membiarkan kita sama-sama tenang sampai akhirnya bisa berbicara tanpa adanya emosi yang meledak-ledak. Yang perlu kamu tahu adalah aku adalah wanita yang bisa dipegang kepercayaannya. Entah kamu pernah mengalami hal apa dengan wanita-wanita yang sebelumnya, aku tak perduli, namun yang perlu kamu tahu adalah aku bukanlah 'mereka', dan kamu tak perlu berulang kali menanyakan isi hatiku karena jawabannya tetap sama.
Ketika tidak sempat menerima telponmu, ketika tidak sempat membalas smsmu, ketika BBM mu terabaikan olehku ... bukanlah suatu kesengajaan ... namun sadarkah kamu bahwa sebelumnya aku selalu memberi-tahu kegiatanku beserta waktunya ... dan kamu tentu sudah tahu apa yang sedang aku lakukan ketika aku tidak sempat membalas telpon dan pesan-pesan yang kau kirimkan ke ponselku. Setelah kemaren aku seharian bepergian bersama kawan yang lain menghadiri pernikahan salah seorang kawan kita juga, maafkan aku karena telah membawaku ke sikap abai terhadap dirimu. Ketika hari ini aku harus menghadiri pernikahan salah seorang kawan lamaku, maafkan aku karena membuatmu merasa jauh dariku. Maafkan aku karena tak bisa sepenuhnya memahami perasaanmu, dan memenuhi apa yang menjadi keinginanmu sebenarnya. Yang aku tahu hanyalah aku mencintaimu, dan cinta ini tak akan membangkitkan ego untuk membatasi ruang gerakmu dan memanjakan emosiku semata sehingga menyulut suatu pertengkaran yang malah membawa kehancuran pada hubungan kita. Karena aku tak mau kehilangan dirimu.
Senin, November 07, 2011
Cerita Kita
Dear kamu ...
Awal pertemuan kita sekitar dua bulan yang lalu merupakan takdir kita untuk dapat bersatu, pertemuan dua hati, kemudian saling jatuh cinta, tanpa harus menyakiti yang lain membuatku berada di persimpangan, ... maaf karena aku tak pandai menyusun kata-kata menjadi sebuah kalimat untuk aku share di salah satu akun jejaring sosialku sehingga membuatmu marah besar. Kamu menyebut namaku dengan sangat jelas, dan pelafalan namaku olehmu pada saat itu adalah yang paling sakit kurasakan menusuk jantung hatiku.
Dear kamu,
Dapatkah kamu menyelami isi hatiku ? Aku telah memilihmu menjadi bagian cerita dalam hidupku. Kamu yang telah mengisi kekosongan jiwa ini, kamu telah menciptakan binar di mataku, kamu melukiskan senyum di wajahku, ... tahukah kamu bahwa aku pernah menangis semalaman karena kamu marah padaku ? dan tahukah kamu aku tertawa bahagia ketika kamu juga sedang tertawa ?
Dear kamu ...
Kamu pernah mengatakan lebih baik menjadi yang terakhir daripada menjadi yang pertama tanpa pernah menjadi yang terakhir. Tentu akan lebih menyenangkan jika menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir. Namun sangat jarang terjadi, kecuali cerita dari negri dongeng, seorang putri yang menemukan cinta pertamanya kemudian menikah dan hidup bahagia. Setiap orang punya masa lalu, aku memilikinya begitupun denganmu. Dan lembaran masa lalu itu telah aku tutup dengan rapat, bersamaan dengan berakhirnya kisah itu walau tidak dengan bahagia, inilah awal cerita kita yang masih belum diketahui ending-nya. Kita adalah penulis kisah ini, akhir dari cerita adalah kita yang menentukan sebagai penulisnya.
Dear kamu ...
Cerita menjadi menarik karena ada konflik, namun kembali lagi kepada si penulis apakah konflik itu akan berkepanjangan sehingga cerita menjadi sangat membosankan seperti yang sering kita temui pada beberapa sinetron kejar tayang, ataukah beberapa konflik yang cukup memberi warna pada cerita kita. Seperti ketika seorang tokoh antagonis masuk ke dalam kisah kita, dan dengan cerita-ceritanya tentangku yang membuatmu cukup 'termakan' kemudian marah besar kepadaku dan menuduhku telah mengkhianatimu. Ketika seorang tokoh 'abu-abu' yang tidak diketahui apakah lawan atau kawan yaitu seorang wanita yang memperkenalkan diri sebagai bagian dari masa lalumu melalui inbox di facebook-ku yang membuatku cukup terganggu, kemudian para figuran yang melintas dalam kehidupan kita, dan tokoh-tokoh lainnya.
Dear kamu ...
Cerita Kita akan terus berlanjut dengan adanya aku dan kamu yang masih saling menjalin hubungan. Aku menuliskan kisah ini dengan sangat baik, dan aku harap kita sejalan dalam membuat cerita ini, karena kita adalah partner untuk kisah ini. Aku mencintaimu, ending dari cerita ini sudah ada dalam benakku, jika kamu adalah partner yang tepat buatku, kamu akan membantuku mencapai ending itu. Tokoh utama dari kisah ini adalah aku, dan lawan mainku adalah kamu, namun penulis dalam kisah kehidupan ini adalah aku dan kamu.
Dari yang mencintaimu,
Aku
Awal pertemuan kita sekitar dua bulan yang lalu merupakan takdir kita untuk dapat bersatu, pertemuan dua hati, kemudian saling jatuh cinta, tanpa harus menyakiti yang lain membuatku berada di persimpangan, ... maaf karena aku tak pandai menyusun kata-kata menjadi sebuah kalimat untuk aku share di salah satu akun jejaring sosialku sehingga membuatmu marah besar. Kamu menyebut namaku dengan sangat jelas, dan pelafalan namaku olehmu pada saat itu adalah yang paling sakit kurasakan menusuk jantung hatiku.
Dear kamu,
Dapatkah kamu menyelami isi hatiku ? Aku telah memilihmu menjadi bagian cerita dalam hidupku. Kamu yang telah mengisi kekosongan jiwa ini, kamu telah menciptakan binar di mataku, kamu melukiskan senyum di wajahku, ... tahukah kamu bahwa aku pernah menangis semalaman karena kamu marah padaku ? dan tahukah kamu aku tertawa bahagia ketika kamu juga sedang tertawa ?
Dear kamu ...
Kamu pernah mengatakan lebih baik menjadi yang terakhir daripada menjadi yang pertama tanpa pernah menjadi yang terakhir. Tentu akan lebih menyenangkan jika menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir. Namun sangat jarang terjadi, kecuali cerita dari negri dongeng, seorang putri yang menemukan cinta pertamanya kemudian menikah dan hidup bahagia. Setiap orang punya masa lalu, aku memilikinya begitupun denganmu. Dan lembaran masa lalu itu telah aku tutup dengan rapat, bersamaan dengan berakhirnya kisah itu walau tidak dengan bahagia, inilah awal cerita kita yang masih belum diketahui ending-nya. Kita adalah penulis kisah ini, akhir dari cerita adalah kita yang menentukan sebagai penulisnya.
Dear kamu ...
Cerita menjadi menarik karena ada konflik, namun kembali lagi kepada si penulis apakah konflik itu akan berkepanjangan sehingga cerita menjadi sangat membosankan seperti yang sering kita temui pada beberapa sinetron kejar tayang, ataukah beberapa konflik yang cukup memberi warna pada cerita kita. Seperti ketika seorang tokoh antagonis masuk ke dalam kisah kita, dan dengan cerita-ceritanya tentangku yang membuatmu cukup 'termakan' kemudian marah besar kepadaku dan menuduhku telah mengkhianatimu. Ketika seorang tokoh 'abu-abu' yang tidak diketahui apakah lawan atau kawan yaitu seorang wanita yang memperkenalkan diri sebagai bagian dari masa lalumu melalui inbox di facebook-ku yang membuatku cukup terganggu, kemudian para figuran yang melintas dalam kehidupan kita, dan tokoh-tokoh lainnya.
Dear kamu ...
Cerita Kita akan terus berlanjut dengan adanya aku dan kamu yang masih saling menjalin hubungan. Aku menuliskan kisah ini dengan sangat baik, dan aku harap kita sejalan dalam membuat cerita ini, karena kita adalah partner untuk kisah ini. Aku mencintaimu, ending dari cerita ini sudah ada dalam benakku, jika kamu adalah partner yang tepat buatku, kamu akan membantuku mencapai ending itu. Tokoh utama dari kisah ini adalah aku, dan lawan mainku adalah kamu, namun penulis dalam kisah kehidupan ini adalah aku dan kamu.
Dari yang mencintaimu,
Aku
Sabtu, Oktober 29, 2011
Didera penyesalan akibat dosa
Tanggal 28 Oktober 2011 aku dan keluarga besar mengantarkan kakek yang akan menghajikan almarhumah nenek buyut yang tak lain adalah ibu kandung dari kakek yang meninggal pada tanggal 02 Desember 2000 saat dimana KM Fudi memberangkatkanku ke Surabaya, kemudian melanjutkan perjalanan ke Pulau Dewata, untuk survey kampus yang konon akan menjadi tujuanku melanjutkan pendidikan selesai SMU.
Seusai solat Jumat, aku dan keluarga mengantarkan kakek ke Benua Patra untuk menyelesaikan segala urusan administratif. Entah ada perasaan yang lain saja ketika melihat kakek berjalan meninggalkan kami dan masuk ke dalam gedung. Perasaan tambah campur aduk melihat seorang kakek yang menggunakan kursi roda dan seorang nenek yang sudah tua renta mendampingi, menggunakan seragam yang sama juga dengan kakek dan juga memasuki gedung yang sama, ada rasa haru yang tak terkira. Sedih melihat tatapan nenek yang terus memandangi kakek sampai kakek menghilang dari pandangannya. Beberapa tahun yang lalu, ketika aku dan adik-adik sepupuku yang hanya selisih setahun dua tahun denganku masih di Sekolah Dasar, kami sempat mengalami perasaan ini, tapi tak seharu saat ini, karena ketika itu kakekku masih gagah, setidaknya keriputnya tidak sebanyak saat ini dan nenekku masih kuat berdiri tegak dan berjalan di samping kakekku dengan gagah, kemudian kembali ke tanah air membawa predikat haji dan hajjah. Sekarang kakek pergi seorang diri untuk memberangkatkan nenek buyut (alm).
Mamiku menangis tersedu-sedu dan aku memeluknya, tapi tanpa sadar air mataku ikut mengalir. Apalagi mengingat kakekku yang sangat perhitungan, tadi sebelum masuk ke pagar kawasan Benua Patra, tiba-tiba memberikan pada Adit, adik sepupuku yang paling bontot selembar uang seratus ribu. Dalam hati selalu berdoa, semoga perjalanan kakek ke tanah suci lancar-lancar saja.
Setelah lama berdiri di depan gedung Benua Patra, kami sekeluarga (2 mobil ketika itu) memutuskan untuk mendahului ke asrama haji. Sesampainya di sana, kami bertemu anak kucing tiga ekor yang sedang tidur saling menghangatkan satu sama lain. Aku dan Oom Denny sibuk memotret anak-anak kucing yang lucu itu. Tiba-tiba adikku dengan gayanya yang menyebalkan tanpa etika dan sikap 'tak penting'nya itu mengusik anak-anak kucing itu dengan senggolan kakinya yang cukup kasar sehingga pada anak-anak kucing itu pada bangun dan ngacir ketakutan. Aku langsung membentaknya dan mengatakan padanya kalau sampai anak-anak kucing ini kelindas mobil itu sebagian besar adalah kesalahannya.
Lucu sekali anak-anak kucing itu. Aku dan Lini sempat berfoto bersama mereka. Kemudian kami sempat melupakan mereka sesaat, kemudian sibuk menghabiskan rasa bosan kami dengan berfoto sambil menunggu kakek datang ke asrama dan bisa menghampiri kami walau bentar di luar asrama. Setelah menunggu lama, bahkan tak terasa hari sudah sore, tante Renny menelpon kakek menanyakan kabar, ternyata kakek benar-benar tidak bisa keluar dari asrama walau sebentar. Akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan asrama haji. Kakek berangkat ke tanah suci jam sebelas malam.
Dan inilah akhir dari cerita ... oom Denny tak sengaja memundurkan mobil tanpa mengecek keadaan di bawah mobil, seekor anak kucing terlindas oleh ban mobil dan glepar-glepar di jalanan. Aku yang berada di dalam mobil yang berbeda dengan yang dikendarai oom Denny dapat melihat dengan jelas kejadian itu. Terucap kalimat "astaghfirullah" dari bibirku dengan pandangan yang tak lepas dari si anak kucing seakan aku ikut merasakan sakitnya si kecil itu, air mata tak berhenti mengalir beriringan dengan kalimat "astaghfirullah" yang terus mengalir dari bibirku ketika itu.
Ampuni segala dosa kami ya Allah. Kami semua didera rasa bersalah. Aku yang terus menyalahi diriku sendiri karena kurang perhatian terhadap anak kucing itu sehingga tidak menyadari keberadaannya terlebih dahulu di bawah mobil, dan aku tau oom Denny yang sangat menyukai kucing pun pasti merasakan hal yang sama. Kami pasti telah berbuat kesalahan (dosa) yang sedemikian tak termaafkanNya sehingga kami diberi sebuah rasa penyesalan dan bersalah yang terus kami bawa sampai mati, terutama aku yang tak mudah lepas dari rasa sesal.
Ya Allah, tunjukkanlah kami akan kesalahan yang kami perbuat tanpa kami sadari agar kami bisa segera memperbaikinya. Sepanjang jalan kami terus berdoa semoga mobil yang dikemudikan oom Denny dari Batakan sampai ke rumah baik-baik saja karena berdasarkan mitos, setelah menabrak kucing, bisa terjadi hal yang lainnya (yang tidak berani aku sebutkan, astaghfirullah jangan sampai ... jauhkan bala ...). Kami juga terus berdoa semoga perjalanan kakek ke tanah suci baik-baik saja.
Berdasarkan cerita, anak kucing itu meninggal di pangkuan tante Tati, istri dari oom Denny, dalam perjalanan dari asrama haji ke rumah, dan dikubur di pekarangan rumah nenek. Dan aku terus menyalahkan adikku sendiri juga karena telah mengusik tidur si anak-anak kucing itu sejak kami baru saja menginjakkan kaki di kawasan itu. Dalam artian, sejak awal kedatangan kami saja, kami adalah petaka bagi keluarga kuning yang bahagia itu. Dan air mata saya mengalir kembali dengan ditulisnya blog ini. Bayangan anak-anak kucing yang masih tidur, hingga salah satunya menggeliat-geliat kesakitan masih terus terbayang dalam benak saya. Ampuni kami ya Allah.
Seusai solat Jumat, aku dan keluarga mengantarkan kakek ke Benua Patra untuk menyelesaikan segala urusan administratif. Entah ada perasaan yang lain saja ketika melihat kakek berjalan meninggalkan kami dan masuk ke dalam gedung. Perasaan tambah campur aduk melihat seorang kakek yang menggunakan kursi roda dan seorang nenek yang sudah tua renta mendampingi, menggunakan seragam yang sama juga dengan kakek dan juga memasuki gedung yang sama, ada rasa haru yang tak terkira. Sedih melihat tatapan nenek yang terus memandangi kakek sampai kakek menghilang dari pandangannya. Beberapa tahun yang lalu, ketika aku dan adik-adik sepupuku yang hanya selisih setahun dua tahun denganku masih di Sekolah Dasar, kami sempat mengalami perasaan ini, tapi tak seharu saat ini, karena ketika itu kakekku masih gagah, setidaknya keriputnya tidak sebanyak saat ini dan nenekku masih kuat berdiri tegak dan berjalan di samping kakekku dengan gagah, kemudian kembali ke tanah air membawa predikat haji dan hajjah. Sekarang kakek pergi seorang diri untuk memberangkatkan nenek buyut (alm).
Mamiku menangis tersedu-sedu dan aku memeluknya, tapi tanpa sadar air mataku ikut mengalir. Apalagi mengingat kakekku yang sangat perhitungan, tadi sebelum masuk ke pagar kawasan Benua Patra, tiba-tiba memberikan pada Adit, adik sepupuku yang paling bontot selembar uang seratus ribu. Dalam hati selalu berdoa, semoga perjalanan kakek ke tanah suci lancar-lancar saja.
Setelah lama berdiri di depan gedung Benua Patra, kami sekeluarga (2 mobil ketika itu) memutuskan untuk mendahului ke asrama haji. Sesampainya di sana, kami bertemu anak kucing tiga ekor yang sedang tidur saling menghangatkan satu sama lain. Aku dan Oom Denny sibuk memotret anak-anak kucing yang lucu itu. Tiba-tiba adikku dengan gayanya yang menyebalkan tanpa etika dan sikap 'tak penting'nya itu mengusik anak-anak kucing itu dengan senggolan kakinya yang cukup kasar sehingga pada anak-anak kucing itu pada bangun dan ngacir ketakutan. Aku langsung membentaknya dan mengatakan padanya kalau sampai anak-anak kucing ini kelindas mobil itu sebagian besar adalah kesalahannya.
Lucu sekali anak-anak kucing itu. Aku dan Lini sempat berfoto bersama mereka. Kemudian kami sempat melupakan mereka sesaat, kemudian sibuk menghabiskan rasa bosan kami dengan berfoto sambil menunggu kakek datang ke asrama dan bisa menghampiri kami walau bentar di luar asrama. Setelah menunggu lama, bahkan tak terasa hari sudah sore, tante Renny menelpon kakek menanyakan kabar, ternyata kakek benar-benar tidak bisa keluar dari asrama walau sebentar. Akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan asrama haji. Kakek berangkat ke tanah suci jam sebelas malam.
Dan inilah akhir dari cerita ... oom Denny tak sengaja memundurkan mobil tanpa mengecek keadaan di bawah mobil, seekor anak kucing terlindas oleh ban mobil dan glepar-glepar di jalanan. Aku yang berada di dalam mobil yang berbeda dengan yang dikendarai oom Denny dapat melihat dengan jelas kejadian itu. Terucap kalimat "astaghfirullah" dari bibirku dengan pandangan yang tak lepas dari si anak kucing seakan aku ikut merasakan sakitnya si kecil itu, air mata tak berhenti mengalir beriringan dengan kalimat "astaghfirullah" yang terus mengalir dari bibirku ketika itu.
Ampuni segala dosa kami ya Allah. Kami semua didera rasa bersalah. Aku yang terus menyalahi diriku sendiri karena kurang perhatian terhadap anak kucing itu sehingga tidak menyadari keberadaannya terlebih dahulu di bawah mobil, dan aku tau oom Denny yang sangat menyukai kucing pun pasti merasakan hal yang sama. Kami pasti telah berbuat kesalahan (dosa) yang sedemikian tak termaafkanNya sehingga kami diberi sebuah rasa penyesalan dan bersalah yang terus kami bawa sampai mati, terutama aku yang tak mudah lepas dari rasa sesal.
Ya Allah, tunjukkanlah kami akan kesalahan yang kami perbuat tanpa kami sadari agar kami bisa segera memperbaikinya. Sepanjang jalan kami terus berdoa semoga mobil yang dikemudikan oom Denny dari Batakan sampai ke rumah baik-baik saja karena berdasarkan mitos, setelah menabrak kucing, bisa terjadi hal yang lainnya (yang tidak berani aku sebutkan, astaghfirullah jangan sampai ... jauhkan bala ...). Kami juga terus berdoa semoga perjalanan kakek ke tanah suci baik-baik saja.
Berdasarkan cerita, anak kucing itu meninggal di pangkuan tante Tati, istri dari oom Denny, dalam perjalanan dari asrama haji ke rumah, dan dikubur di pekarangan rumah nenek. Dan aku terus menyalahkan adikku sendiri juga karena telah mengusik tidur si anak-anak kucing itu sejak kami baru saja menginjakkan kaki di kawasan itu. Dalam artian, sejak awal kedatangan kami saja, kami adalah petaka bagi keluarga kuning yang bahagia itu. Dan air mata saya mengalir kembali dengan ditulisnya blog ini. Bayangan anak-anak kucing yang masih tidur, hingga salah satunya menggeliat-geliat kesakitan masih terus terbayang dalam benak saya. Ampuni kami ya Allah.
Rabu, Oktober 12, 2011
Drama Kehidupanku
Awalnya kehidupanku datar-datar saja, tak ada yang spesial. Aku terlahir sebagai anak ketiga, sebagai anak kedua, bahkan sebagai anak pertama. Aku punya seorang kakak tiri, punya seorang kakak kandung yang telah almarhum, juga memiliki seorang adik angkat. Menjalani sekolah pendidikan dasar dengan rada autis, kuper, dan cengeng. Kemudian menjalani sekolah menengah pertama yang menjadi momok menakutkan bagi diriku, peralihan dari sekolah swasta ke sekolah negeri yang penuh anak-anak monster di dalamnya. Kemudian menjadi anak baik-manis-pinter-pendiam di sekolah menengah atas, tak terlalu banyak tingkah, dan mengalami pertama kali dekat dengan pria. Dari anak kontraktor yang cukup berjaya ketika itu, mendadak jatuh menjadi orang yang biasa-biasa saja, cukup punya rumah yang masih layak kami tinggali, tapi sudah mulai harus terbiasa berpanas-panas ria dengan sepeda motor.
Kehidupanku yang datar, lumayan bergejolak, akhirnya menjadi sangat luar biasa ketika aku menjalani kehidupan anak kos di Nusa Dua - Bali. Jatuh cintanya orang Jawa yang sudah lahir dan besar di Bali kepada diriku, awal perkenalan di mesjid ketika aku mengikuti perkumpulan muslim Nusa Dua di Puja Mandala, kemudian menjadi 'suami' siaga, jam setengah tujuh pagi sudah stand by di kos, kemudian pulang kampus hingga jam dua belas malam menungguiku. Sempat menjalani keadaan itu beberapa bulan hingga aku melibatkan seseorang untuk membuatnya menjauhiku, setelah pernyataan cintanya yang tak terbalaskan tetap setia kepadaku. Dan dia benar-benar menyerah menghadapiku, karena seorang pria yang ketika itu kucintai.
Kemudian huru-hara antar wanita di kos yang melibatkan aku dan lima orang teman yang juga satu indekos ditambah lima orang lagi yang di luar kos kami. Diawali oleh sikap dominasi seseorang terhadap kami semua, hingga kasus pencurian HP yang membuat kami saling curiga bahkan menuduh satu sama lain. Dicekokin air dukun sampai berantem mulut di indekos. Sahabat yang tak terduga, ternyata mengidap kleptomania sejak lama lah yang ternyata biang dari perpecahan di antara kami, dengan kata kunci yang ngetren ketika itu, 'maling teriak maling.'
Mulai perginya aku dan sahabat-sahabatku ke night club sekedar menikmati kehidupan malam. Suara musik yang sangat nyaring, lampu kerlap-kerlip yang yang membuatku cukup menikmati suara musik, mabuknya sahabat-sahabat pria kami, orang-orang Jakarta yang sedang berlibur ke Bali. Keadaan yang cukup mencekam karena mobil yang dikendarai oleh orang mabuk, mampirnya kami ke penginapan mereka agar si pengendara bisa beristirahat terlebih dahulu sehingga kemudian bisa mengantarkan kami pulang kembali ke indekos. Pertama kalinya aku pulang ke kos jam 4 pagi.
Kemudian kedekatanku dengan seorang pria karena sahabatku ketika itu sedang tertarik pada sahabatnya. Seorang pria dengan kesan yang sangat baik di mataku, berbeda agama denganku, begitupun sahabatku dan sahabatnya yang juga berbeda keyakinan. Kemudian mengalir cerita dari pria itu bahwa sahabatnya sudah memiliki istri dan anak, patah hatinya sahabatku, surat putus yang membuat sahabatku nangis berhari-hari dan matanya menjadi bengkak, renggangnya hubunganku dan pria itu karena ternyata aku tak mencintainya.
Kemudian seorang pria Bali yang lain mendekatiku, kebetulan satu kampus dan satu tempat, yaitu Nusa Dua, yah pria Nusa Dua. Kami saling jatuh cinta dan menjadi kekasih. Pertama kalinya aku merasakan cinta dan takut akan kehilangan. Walau ketika itu kami sama-sama menyadari bahwa perbedaan di antara kami tak dapat dipersatukan oleh waktu sekalipun. Kemudian sahabatku yang sama-sama dari Balikpapan menjalani hubungan dengan sahabat dari priaku itu. Sempat merasa berdosa pada sahabatku itu ketika aku yang pada akhirnya mengetahui bahwa pria itu bukanlah pria yang cukup baik buat sahabatku. Dia memiliki kekasih yang belum putus sampai diikrarkan juga hubungannya dengan sahabatku itu, kemudian sempat mengajakku untuk menjalani affair yang artinya aku mengkhianati kekasih dan sahabatku sekaligus.
Bom Bali 1 yang terjadi di Pedish dan Sari Club, membuat pandangan orang Bali sedikit berubah kepada kami kaum minoritas, kekecewaan tergambar jelas di mata masing-masing orang yang merupakan warga setempat termasuk beberapa dari dosen kami. Kami yang merasa sangat berduka, sempat berhari-hari berduka cita namun juga bersyukur karena di antara kami tidak ada yang jadi korban, libur dari hura-hura dan mengheningkan cipta di kamar kos.
Hampir dilabraknya oleh kakak kelas karena rasa curiga yang berlebihan kalau aku memiliki hubungan gelap dengan kekasihnya. Kebetulan wanitanya beragama Hindu dan prianya beragama Islam, sama seperti diriku. Kebetulan prianya adalah kakak tingkatku di kampus dan sempat mencoba bermain mata denganku, namun namanya juga cinta, wanitanya tidak menyalahkan prianya, malah menyalahkanku. Nasib ...
Putusnya aku dan pria Baliku karena aku merasa harus mengakhirinya sebelum semuanya berjalan lebih jauh lagi. Dua tahun yang menyenangkan berakhir dengan kata putus yang kukirimkan lewat sms kepadanya. Dia yang mengajak bertemu empat mata, sementara aku yang selalu menghindar dari tatapan matanya, bahkan tak punya nyali untuk bertemu. Kemudian sahabat yang sempat menjadi musuh beratku di kos, membantuku menghapus air mata, menemaniku kala sakit, dan selalu ada saat kubutuhkan, akhirnya menjadi kekasihku. Pria yang seagama denganku, satu pulau denganku dan sama-sama merantau sebagai mahasiswa di Pulau Bali.
Persahabatanku dengan dua orang sahabatku di kos tak luput dari ujian. Seorang sahabat yang memiliki kekasih, dan kekasih dari sahabatku yang selalu mencari gara-gara denganku dan sahabat yang satunya lagi. Kemudian pindahnya ia dari kos kami demi menghindar dari pertengkaran antara kami dan prianya yang tak kunjung usai. Sampai kemudian kabar kehamilannya dan cerita di balik kehamilannya yang mengalir deras dari kawan kami yang lainnya.
Kecelakaan motor yang menimpa aku dan kekasihku, truk parkir di jalan kecil dan gelap yang dihantam oleh priaku itu mengakibatkannya jatuh pingsan dan darah yang terus mengucur deras dari dagunya. Beruntungnya aku tidak mengalami luka sedikitpun maupun hantaman yang keras, hanya terasa sakit sedkit di bagian dada karena angin yang begitu kuatnya menghantam dadaku, sehingga masih bisa melakukan upaya penyelamatan terhadap kekasihku itu. Beruntungnya dia hidup, walau dengan 4 jahitan di dagunya.
Bom Bali 2 yang sangat mengejutkan karena terjadi di daerah Jimbaran, Kuta dan Renon. Kebetulan aku dan teman-teman sedang PKL di daerah Kedonganan, di deretan kafe-kafenya yang berbatasan pas dengan kafe di Jimbaran, dan sore hari aku dan sahabatku sering nongkrong makan rujak gula tepat di samping kafe Nyoman, kafe yang menjadi korban bom ketika itu. Bersyukurnya kami ketika itu sedang memutuskan untuk libur dari kegiatan PKL. Lagi-lagi Tuhan berbaik hati kepada kami semua.
Digebukinnya priaku karena menyelamatkan kehormatanku dari pria-pria yang mengusiliku di jalanan. Pria-pria mabuk yang menggangguku sehingga membuat kekasihku tergoda untuk membela kehormatanku juga harga dirinya sendiri. Sampai akhirnya doi yang kusayang yang tak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiranku akan meninggalkanku akhirnya kutawarkan pekerjaan di tempatku bekerja harian dan kemudian tertarik dengan seorang gadis Gorontalo yang kebetulan sedang training di tempatku bekerja itu, bermain di belakangku. Tamparan di pipinya olehku, pikiran yang kalut kemudian melarikan motor langsung menemui sahabatku di rumahnya dan menangis tersedu-sedu cerita kepadanya. Kata putus yang keluar dari bibirku, kemudian kata maaf yang terus terucap dari bibirnya, dan cinta yang hilang dari hatiku, namun menyetujui untuk 'rujuk' karena rasa saling membutuhkan, hingga akhirnya ia mengantarkan kepulanganku ke Balikpapan, membawa barang-barangku pulang, dan ia pulang juga ke kampung halamannya, dan berakhirnya kisah cinta yang sudah kami jalani selama 3 tahun lamanya.
Pulangnya ke Balikpapan ... kehidupanku datar kembali. Kerja, trus pulang kerja diam di rumah sampai pagi kembali menjelang. Tidak punya pria di sisi, bahkan tidak memiliki sahabat. Yang berubah hanyalah tidak memiliki kamar di rumah sendiri. Selama aku kos di Bali, ternyata kamarku pun dikoskan ke orang lain, termasuk 4 kamar lainnya. Aneh saja rasanya tinggal serumah dengan orang asing. Untung dibatasi oleh tangga. Mereka di lantai dasar, sedangkan kami sekeluarga tinggal di lantai atas. Direlakannya kamar mami dan papa untuk tempatku tidur, dalihnya karena aku anak perempuan, tidak boleh tidur di luar. Adikku dengan kamarnya yang cukup sempit juga karena kamarnya di lantai dasar juga menjadi kamar anak kos.
Perginya wisuda ke Bali mempertemukanku dengan mantan yang ternyata kembali merantau di Bali, namun karena rasa sakit hati membuatku sedikit malas untuk melihat kepadanya. Kemudian pulangnya aku ke Balikpapan kembali dan menjadikanku pegawai bank. Tak terasa dua tahun sudah menjadi karyawan bank, dan status pegawai tetap sejak 21 Agustus 2011.
Sempat dilamarnya aku dengan anak tokoh yang cukup terkenal di Balikpapan, namun kemudian jatuh hatinya aku dengan seseorang di satu kerjaanku yang akhirnya membuatku sakit hati karena wanita di masa lalunya yang belum bisa ia lupakan. Kemudian bertemu dengan kawan lama sejak SMA dan saling jatuh cinta, mengikrarkan hubungan 11 September 2011, 11 tahun silam yang bertemu kembali 11 tahun kemudian di tahun 11. Berharap hubungan akan berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun.
Belum ada gambaran tentang akhir dari drama kehidupanku ini. Drama ini akan terus berlanjut dan penuh dengan kejutan. Akhir ceritanya akan diketahui bersamaan dengan akhir masaku di dunia. Apakah happy ending ataukah sad ending ? Yang jelas setiap kehidupan pasti punya cerita. Ini ceritaku, apa ceritamu ?
Kehidupanku yang datar, lumayan bergejolak, akhirnya menjadi sangat luar biasa ketika aku menjalani kehidupan anak kos di Nusa Dua - Bali. Jatuh cintanya orang Jawa yang sudah lahir dan besar di Bali kepada diriku, awal perkenalan di mesjid ketika aku mengikuti perkumpulan muslim Nusa Dua di Puja Mandala, kemudian menjadi 'suami' siaga, jam setengah tujuh pagi sudah stand by di kos, kemudian pulang kampus hingga jam dua belas malam menungguiku. Sempat menjalani keadaan itu beberapa bulan hingga aku melibatkan seseorang untuk membuatnya menjauhiku, setelah pernyataan cintanya yang tak terbalaskan tetap setia kepadaku. Dan dia benar-benar menyerah menghadapiku, karena seorang pria yang ketika itu kucintai.
Kemudian huru-hara antar wanita di kos yang melibatkan aku dan lima orang teman yang juga satu indekos ditambah lima orang lagi yang di luar kos kami. Diawali oleh sikap dominasi seseorang terhadap kami semua, hingga kasus pencurian HP yang membuat kami saling curiga bahkan menuduh satu sama lain. Dicekokin air dukun sampai berantem mulut di indekos. Sahabat yang tak terduga, ternyata mengidap kleptomania sejak lama lah yang ternyata biang dari perpecahan di antara kami, dengan kata kunci yang ngetren ketika itu, 'maling teriak maling.'
Mulai perginya aku dan sahabat-sahabatku ke night club sekedar menikmati kehidupan malam. Suara musik yang sangat nyaring, lampu kerlap-kerlip yang yang membuatku cukup menikmati suara musik, mabuknya sahabat-sahabat pria kami, orang-orang Jakarta yang sedang berlibur ke Bali. Keadaan yang cukup mencekam karena mobil yang dikendarai oleh orang mabuk, mampirnya kami ke penginapan mereka agar si pengendara bisa beristirahat terlebih dahulu sehingga kemudian bisa mengantarkan kami pulang kembali ke indekos. Pertama kalinya aku pulang ke kos jam 4 pagi.
Kemudian kedekatanku dengan seorang pria karena sahabatku ketika itu sedang tertarik pada sahabatnya. Seorang pria dengan kesan yang sangat baik di mataku, berbeda agama denganku, begitupun sahabatku dan sahabatnya yang juga berbeda keyakinan. Kemudian mengalir cerita dari pria itu bahwa sahabatnya sudah memiliki istri dan anak, patah hatinya sahabatku, surat putus yang membuat sahabatku nangis berhari-hari dan matanya menjadi bengkak, renggangnya hubunganku dan pria itu karena ternyata aku tak mencintainya.
Kemudian seorang pria Bali yang lain mendekatiku, kebetulan satu kampus dan satu tempat, yaitu Nusa Dua, yah pria Nusa Dua. Kami saling jatuh cinta dan menjadi kekasih. Pertama kalinya aku merasakan cinta dan takut akan kehilangan. Walau ketika itu kami sama-sama menyadari bahwa perbedaan di antara kami tak dapat dipersatukan oleh waktu sekalipun. Kemudian sahabatku yang sama-sama dari Balikpapan menjalani hubungan dengan sahabat dari priaku itu. Sempat merasa berdosa pada sahabatku itu ketika aku yang pada akhirnya mengetahui bahwa pria itu bukanlah pria yang cukup baik buat sahabatku. Dia memiliki kekasih yang belum putus sampai diikrarkan juga hubungannya dengan sahabatku itu, kemudian sempat mengajakku untuk menjalani affair yang artinya aku mengkhianati kekasih dan sahabatku sekaligus.
Bom Bali 1 yang terjadi di Pedish dan Sari Club, membuat pandangan orang Bali sedikit berubah kepada kami kaum minoritas, kekecewaan tergambar jelas di mata masing-masing orang yang merupakan warga setempat termasuk beberapa dari dosen kami. Kami yang merasa sangat berduka, sempat berhari-hari berduka cita namun juga bersyukur karena di antara kami tidak ada yang jadi korban, libur dari hura-hura dan mengheningkan cipta di kamar kos.
Hampir dilabraknya oleh kakak kelas karena rasa curiga yang berlebihan kalau aku memiliki hubungan gelap dengan kekasihnya. Kebetulan wanitanya beragama Hindu dan prianya beragama Islam, sama seperti diriku. Kebetulan prianya adalah kakak tingkatku di kampus dan sempat mencoba bermain mata denganku, namun namanya juga cinta, wanitanya tidak menyalahkan prianya, malah menyalahkanku. Nasib ...
Putusnya aku dan pria Baliku karena aku merasa harus mengakhirinya sebelum semuanya berjalan lebih jauh lagi. Dua tahun yang menyenangkan berakhir dengan kata putus yang kukirimkan lewat sms kepadanya. Dia yang mengajak bertemu empat mata, sementara aku yang selalu menghindar dari tatapan matanya, bahkan tak punya nyali untuk bertemu. Kemudian sahabat yang sempat menjadi musuh beratku di kos, membantuku menghapus air mata, menemaniku kala sakit, dan selalu ada saat kubutuhkan, akhirnya menjadi kekasihku. Pria yang seagama denganku, satu pulau denganku dan sama-sama merantau sebagai mahasiswa di Pulau Bali.
Persahabatanku dengan dua orang sahabatku di kos tak luput dari ujian. Seorang sahabat yang memiliki kekasih, dan kekasih dari sahabatku yang selalu mencari gara-gara denganku dan sahabat yang satunya lagi. Kemudian pindahnya ia dari kos kami demi menghindar dari pertengkaran antara kami dan prianya yang tak kunjung usai. Sampai kemudian kabar kehamilannya dan cerita di balik kehamilannya yang mengalir deras dari kawan kami yang lainnya.
Kecelakaan motor yang menimpa aku dan kekasihku, truk parkir di jalan kecil dan gelap yang dihantam oleh priaku itu mengakibatkannya jatuh pingsan dan darah yang terus mengucur deras dari dagunya. Beruntungnya aku tidak mengalami luka sedikitpun maupun hantaman yang keras, hanya terasa sakit sedkit di bagian dada karena angin yang begitu kuatnya menghantam dadaku, sehingga masih bisa melakukan upaya penyelamatan terhadap kekasihku itu. Beruntungnya dia hidup, walau dengan 4 jahitan di dagunya.
Bom Bali 2 yang sangat mengejutkan karena terjadi di daerah Jimbaran, Kuta dan Renon. Kebetulan aku dan teman-teman sedang PKL di daerah Kedonganan, di deretan kafe-kafenya yang berbatasan pas dengan kafe di Jimbaran, dan sore hari aku dan sahabatku sering nongkrong makan rujak gula tepat di samping kafe Nyoman, kafe yang menjadi korban bom ketika itu. Bersyukurnya kami ketika itu sedang memutuskan untuk libur dari kegiatan PKL. Lagi-lagi Tuhan berbaik hati kepada kami semua.
Digebukinnya priaku karena menyelamatkan kehormatanku dari pria-pria yang mengusiliku di jalanan. Pria-pria mabuk yang menggangguku sehingga membuat kekasihku tergoda untuk membela kehormatanku juga harga dirinya sendiri. Sampai akhirnya doi yang kusayang yang tak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiranku akan meninggalkanku akhirnya kutawarkan pekerjaan di tempatku bekerja harian dan kemudian tertarik dengan seorang gadis Gorontalo yang kebetulan sedang training di tempatku bekerja itu, bermain di belakangku. Tamparan di pipinya olehku, pikiran yang kalut kemudian melarikan motor langsung menemui sahabatku di rumahnya dan menangis tersedu-sedu cerita kepadanya. Kata putus yang keluar dari bibirku, kemudian kata maaf yang terus terucap dari bibirnya, dan cinta yang hilang dari hatiku, namun menyetujui untuk 'rujuk' karena rasa saling membutuhkan, hingga akhirnya ia mengantarkan kepulanganku ke Balikpapan, membawa barang-barangku pulang, dan ia pulang juga ke kampung halamannya, dan berakhirnya kisah cinta yang sudah kami jalani selama 3 tahun lamanya.
Pulangnya ke Balikpapan ... kehidupanku datar kembali. Kerja, trus pulang kerja diam di rumah sampai pagi kembali menjelang. Tidak punya pria di sisi, bahkan tidak memiliki sahabat. Yang berubah hanyalah tidak memiliki kamar di rumah sendiri. Selama aku kos di Bali, ternyata kamarku pun dikoskan ke orang lain, termasuk 4 kamar lainnya. Aneh saja rasanya tinggal serumah dengan orang asing. Untung dibatasi oleh tangga. Mereka di lantai dasar, sedangkan kami sekeluarga tinggal di lantai atas. Direlakannya kamar mami dan papa untuk tempatku tidur, dalihnya karena aku anak perempuan, tidak boleh tidur di luar. Adikku dengan kamarnya yang cukup sempit juga karena kamarnya di lantai dasar juga menjadi kamar anak kos.
Perginya wisuda ke Bali mempertemukanku dengan mantan yang ternyata kembali merantau di Bali, namun karena rasa sakit hati membuatku sedikit malas untuk melihat kepadanya. Kemudian pulangnya aku ke Balikpapan kembali dan menjadikanku pegawai bank. Tak terasa dua tahun sudah menjadi karyawan bank, dan status pegawai tetap sejak 21 Agustus 2011.
Sempat dilamarnya aku dengan anak tokoh yang cukup terkenal di Balikpapan, namun kemudian jatuh hatinya aku dengan seseorang di satu kerjaanku yang akhirnya membuatku sakit hati karena wanita di masa lalunya yang belum bisa ia lupakan. Kemudian bertemu dengan kawan lama sejak SMA dan saling jatuh cinta, mengikrarkan hubungan 11 September 2011, 11 tahun silam yang bertemu kembali 11 tahun kemudian di tahun 11. Berharap hubungan akan berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun.
Belum ada gambaran tentang akhir dari drama kehidupanku ini. Drama ini akan terus berlanjut dan penuh dengan kejutan. Akhir ceritanya akan diketahui bersamaan dengan akhir masaku di dunia. Apakah happy ending ataukah sad ending ? Yang jelas setiap kehidupan pasti punya cerita. Ini ceritaku, apa ceritamu ?
Rabu, Oktober 05, 2011
Ungkapan hati seorang kawan
Pagi ini saya mendapatkan BBM dari seorang kawan, ia mengatakan ingin bertemu di suatu tempat.
Beberapa hari yang lalu sempat terjadi huru-hara antara saya dan kekasih saya. Setelah telponnya tak terjawab beberapa kali oleh saya, karena saya sedang disibukkan oleh sesuatu hal, tiba-tiba dia BBM dan menuduh saya menjalin hubungan dengan seorang kawan. Setelah membaca pesan singkat yang cukup mengejutkan itu, saya langsung menelponnya, dan dia tidak mengangkat telpon saya. Kemudian setelah berhasil saling berhubungan via telpon, dia berbicara dengan nada yang agak keras seakan menuduh saya bermain di belakangnya. Saya marah dan ngambek karena dia tidak mempercayai saya.
Temen saya yang BBM saya adalah kekasih dari pria yang dicurigai oleh pacar saya sebagai orang ketiga dari hubungan kami. Saya memang sempat mencurigainya sebagai seseorang yang membawa kabar tak sedap tentang hubungan saya dan pacarnya sendiri, namun yang saya perdulikan hanyalah kepercayaan dari kekasih saya terhadap saya. Saya mencintai kekasih saya dan saya cukup tersinggung jika doi meragukan cinta saya kepadanya.
BBM yang mengajak bertemu oleh kawan tersebut seakan membenarkan dugaan saya tentang adanya sangkut-paut prahara yang sempat terjadi antara saya dan kekasih saya beberapa hari yang lalu. Waktu berlalu dengan cepat, sepulang kerja ada ada pertemuan dengan atasan yang membuat hati saya cukup gelisah karena janji yang sudah saya buat sebelumnya dengan kawan saya itu. Untung saja atasan saya sedang berbaik hati mengijinkan saya pulang lebih awal.
Kami bertemu di Solaria, seperti biasa, sekedar say hello kemudian dengan nada suara bergetar ia bercerita tentang maksud dan tujuannya mengundang saya untuk datang menemuinya. Dia menanyakan tentang perasaan saya terhadap kekasihnya, dan dia mengatakan mendengar kabar bahwa saya memiliki suatu hubungan khusus dengan kekasihnya itu. Dia cerita tentang banyak hal. Dan dari tatapan matanya yang mulai berkaca-kaca sejak awal membuka percakapan dengan saya, saya bisa melihat adanya cinta yang teramat sangat terhadap kekasih hatinya itu.
Yang cukup mengejutkan saya, kabar tak sedap itu adalah hasil 'karangan' dari kekasihnya itu sendiri. Dan dia juga mengaku bahwa kekasih saya mengetahui 'kabar' itu darinya karena perasaan yang tidak sanggup dia pendam sendiri. Dan saya juga mengatakan bahwa saya tidak marah pada mereka dengan pikirannya tentang saya, karena yang saya perdulikan hanyalah pikiran kekasih saya mengenai saya. Dia juga mengaku sempat menaruh perhatian pada kekasih saya semasa sekolah dulu, saya hanya tertawa kecil, karena yang seharusnya saya pertanyakan adalah perasaan kekasih saya terhadap orang lain, bukan orang lain terhadap kekasih saya. Tanpa saya sadari, saya juga sudah menasehati kawan saya itu untuk menanyakan terlebih dahulu tentang perasaan kekasihnya terhadapnya dan juga tentang perasaan kekasihnya terhadap saya. Karena sungguh dari dalam diri saya, saya lebih mementingkan perasaan kekasih saya dan perasaan saya sendiri dibandingkan perasaan orang lain terhadap saya atau kekasih saya. Saya harap dia pun dapat menyelesaikan masalahnya dengan cara saya.
Kami berpisah dengan berpelukan dan saling minta maaf. Bagaimanapun dia merasa bersalah karena sempat membuat saya dan kekasih saya huru-hara, sementara saya akhirnya merasa bersalah juga karena 'nama' saya menjadi salah satu penyebab retaknya hubungan kawan saya itu dengan kekasihnya. Saya tidak bisa membuat kawan saya itu begitu saja percaya dengan pernyataan saya, karena dia tidak bisa menengok langsung ke dalam hati saya, namun semua perkataan saya itu bukan untuk membuat dia percaya, namun sebagai ungkapan hati saya juga sebagai seorang kawan. Saya tidak punya perasaan apapun terhadap kekasihnya, yang saya cintai hanya satu dan satu-satunya, dia adalah kekasih saya saat ini, dan semoga bisa menjadi pendamping saya kelak dalam menjalani sisa hidup saya.
Beberapa hari yang lalu sempat terjadi huru-hara antara saya dan kekasih saya. Setelah telponnya tak terjawab beberapa kali oleh saya, karena saya sedang disibukkan oleh sesuatu hal, tiba-tiba dia BBM dan menuduh saya menjalin hubungan dengan seorang kawan. Setelah membaca pesan singkat yang cukup mengejutkan itu, saya langsung menelponnya, dan dia tidak mengangkat telpon saya. Kemudian setelah berhasil saling berhubungan via telpon, dia berbicara dengan nada yang agak keras seakan menuduh saya bermain di belakangnya. Saya marah dan ngambek karena dia tidak mempercayai saya.
Temen saya yang BBM saya adalah kekasih dari pria yang dicurigai oleh pacar saya sebagai orang ketiga dari hubungan kami. Saya memang sempat mencurigainya sebagai seseorang yang membawa kabar tak sedap tentang hubungan saya dan pacarnya sendiri, namun yang saya perdulikan hanyalah kepercayaan dari kekasih saya terhadap saya. Saya mencintai kekasih saya dan saya cukup tersinggung jika doi meragukan cinta saya kepadanya.
BBM yang mengajak bertemu oleh kawan tersebut seakan membenarkan dugaan saya tentang adanya sangkut-paut prahara yang sempat terjadi antara saya dan kekasih saya beberapa hari yang lalu. Waktu berlalu dengan cepat, sepulang kerja ada ada pertemuan dengan atasan yang membuat hati saya cukup gelisah karena janji yang sudah saya buat sebelumnya dengan kawan saya itu. Untung saja atasan saya sedang berbaik hati mengijinkan saya pulang lebih awal.
Kami bertemu di Solaria, seperti biasa, sekedar say hello kemudian dengan nada suara bergetar ia bercerita tentang maksud dan tujuannya mengundang saya untuk datang menemuinya. Dia menanyakan tentang perasaan saya terhadap kekasihnya, dan dia mengatakan mendengar kabar bahwa saya memiliki suatu hubungan khusus dengan kekasihnya itu. Dia cerita tentang banyak hal. Dan dari tatapan matanya yang mulai berkaca-kaca sejak awal membuka percakapan dengan saya, saya bisa melihat adanya cinta yang teramat sangat terhadap kekasih hatinya itu.
Yang cukup mengejutkan saya, kabar tak sedap itu adalah hasil 'karangan' dari kekasihnya itu sendiri. Dan dia juga mengaku bahwa kekasih saya mengetahui 'kabar' itu darinya karena perasaan yang tidak sanggup dia pendam sendiri. Dan saya juga mengatakan bahwa saya tidak marah pada mereka dengan pikirannya tentang saya, karena yang saya perdulikan hanyalah pikiran kekasih saya mengenai saya. Dia juga mengaku sempat menaruh perhatian pada kekasih saya semasa sekolah dulu, saya hanya tertawa kecil, karena yang seharusnya saya pertanyakan adalah perasaan kekasih saya terhadap orang lain, bukan orang lain terhadap kekasih saya. Tanpa saya sadari, saya juga sudah menasehati kawan saya itu untuk menanyakan terlebih dahulu tentang perasaan kekasihnya terhadapnya dan juga tentang perasaan kekasihnya terhadap saya. Karena sungguh dari dalam diri saya, saya lebih mementingkan perasaan kekasih saya dan perasaan saya sendiri dibandingkan perasaan orang lain terhadap saya atau kekasih saya. Saya harap dia pun dapat menyelesaikan masalahnya dengan cara saya.
Kami berpisah dengan berpelukan dan saling minta maaf. Bagaimanapun dia merasa bersalah karena sempat membuat saya dan kekasih saya huru-hara, sementara saya akhirnya merasa bersalah juga karena 'nama' saya menjadi salah satu penyebab retaknya hubungan kawan saya itu dengan kekasihnya. Saya tidak bisa membuat kawan saya itu begitu saja percaya dengan pernyataan saya, karena dia tidak bisa menengok langsung ke dalam hati saya, namun semua perkataan saya itu bukan untuk membuat dia percaya, namun sebagai ungkapan hati saya juga sebagai seorang kawan. Saya tidak punya perasaan apapun terhadap kekasihnya, yang saya cintai hanya satu dan satu-satunya, dia adalah kekasih saya saat ini, dan semoga bisa menjadi pendamping saya kelak dalam menjalani sisa hidup saya.
Senin, Oktober 03, 2011
Waktu yang mempersatukan menciptakan mimpi bersama
Pertama kali kita berkenalan, masa-masa SMA, kelas 2 SMA, takdir mempertemukan kita dalam 1 kelas. Aku yang kala itu sedang dirundung masalah dengan kekasihku sedikit menaruh perhatian padamu. Kamu yang selalu ceria, supel dan suka tertawa membuatku yang culun bin cupu ketika itu tertarik. Tapi rasa itu hanya sekejap kurasakan, bagaimanapun aku harus kembali pada kekasihku untuk kejelasan hubungan kami yang sedang diterjang badai. Dan kamu pun juga tengah asyik dengan teman-temanmu.
Hari Sabtu 10 September 2011, aku mendapat request dari seseorang untuk menjadi BBM kontakku. Aku yang ketika itu sedang lembur di kantor bersama seorang kawan, spontan menunjukkan foto profil kawan baruku itu kepada teman kantorku, dan ternyata teman kantorku itu tidak mengenalnya. Akhirnya dengan rasa penasaran, aku mengirimkan pesan singkat kepada si empunya profil, "Siapa ya?". Dan kamu hanya menjawab dengan singkat, "Sabanano Kamiko, ingat nggak?"
Tentu saja aku ingat ! Mana mungkin aku lupa dengan si empunya nama terunik yang pernah aku kenal seumur hidupku, bahkan aku masih ingat bahwa aku pernah mampir ke rumahmu ketika sedang jalan santai sekolah, minta minum karena kehausan bersama seorang teman. Saat itu kamu masih tinggal di perumahan pertamina di jalan minyak.
Kamu bersama Rizal sibuk menggangguku malam itu. Kebetulan ketita itu Rizal sedang berkunjung ke rumahmu seusai kalian pergi bermain billyard. Kalian sama-sama asyik dan baik, itu yang aku suka dengan kalian. Malam itu pula aku mendapat BBM dari Betty yang mengajak ketemuan di BC keesokan harinya. Ketika aku mengundangmu dan Rizal, ternyata Rizal sudah pulang dari rumahmu.
Hari minggu, aku bertemu dengan Betty, seperti biasa kami bertemu di Solaria, aku bercerita banyak hal dengannya, tentang perasaan kecewaku dengan pria teman kantorku yang memang sangat menyita perhatianku akhir-akhir itu, kemudian satu-persatu kawan kami temui, yang pertama bertemu dengan kami adalah Dewi dan Omy, kebetulan kami belum membuat janji dengan mereka, namun tanpa sengaja kami berempat dapat berkumpul bersama dan bercanda. Kemudian yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga, Rachmad yang memang selalu menepati janjinya untuk berkumpul bersama aku dan Betty.
Saat itu orang yang paling ingin aku temui adalah kamu, aku sangat berharap kamu bisa datang dan berkumpul bersama kami. Bagaimanapun aku sempat merasakan 'sesuatu' terhadapmu di jaman SMA dulu. Hasil pemaksaan Betty, Rizal pun menyanggupi untuk datang dan berkumpul bersama kami, kebetulan kalian berdua adalah tamu yang paling kami tunggu. Rizal yang selama ini hanya berhubungan lewat BBM dan suka iseng, ramai dan asyik, namun selalu menolak ketika diajak berkumpul bersama kami, akhirnya datang juga ke tempat dimana kami berkumpul.
Kalian datang berdua ! Dan aku sangat surprise ketika bertemu denganmu. Kamu masih sama seperti dulu, hanya saja terlihat lebih dewasa. Rizal, ketika menjemput kalian di pintu masuk Gramedia, aku masih sangat ingat dengan tampang Rizal, dia sama sekali tak berubah, hanya terlihat lebih kekar sedikit dibanding masa SMA. Dan kamu, entah kenapa, aku melihat ketika Rizal keluar dari Gramedia, namun aku mengarahkan telunjukku kepadamu. Ternyata aku memang masih mengingatmu.
Hari minggu itu sungguh berkesan buat aku. Sayang waktu berlalu begitu cepat, rasanya kelu untuk mengucapkan selamat tinggal padamu. Kebetulan saat itu adalah hari ketujuh tante Nelly meninggalkanku dan keluarga, dan sebagai orang yang sangat berduka atas kepergiannya, aku harus ikut mendoakan perjalanannya menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Malam itu kamu meminta ijin untuk menelponku, dan dengan senang hati aku menyambutnya. Kamu bercerita panjang-lebar tentang dirimu, tentang keluargamu dan tentang rasa kehilanganmu terhadap ibunda tercintamu. Kala itu aku yang masih sangat sangat berduka tak sadar menangis padamu, seolah-olah kamu adalah sandaran hidupku, aku bisa terbuka denganmu dan bercerita banyak hal denganmu. Kamu yang dewasa, perhatian, berhati lembut, sudah membuatku jatuh hati. Dan ketika permainan mesra ala kita kemudian menjadi serius olehmu dan disambut serius olehku, itulah hari untuk kita berdua, 11 September 2011. Cintaku padamu yang kilat saat ini, sebenarnya sudah sempat terjadi pada 11 tahun silam.
Kita dipertemukan oleh waktu, dan pertemuan itu telah menyatukan cinta kita berdua. Mimpiku kini telah menjadi mimpi kita berdua, hidup bersama dengan orang yang aku cintai dan memiliki anak-anak yang lucu dan pintar. Semoga mimpi kita direstui oleh yang kuasa dan akan kuhabiskan hidupku bersamamu, Sabanano Kamiko Djusal.
Hari Sabtu 10 September 2011, aku mendapat request dari seseorang untuk menjadi BBM kontakku. Aku yang ketika itu sedang lembur di kantor bersama seorang kawan, spontan menunjukkan foto profil kawan baruku itu kepada teman kantorku, dan ternyata teman kantorku itu tidak mengenalnya. Akhirnya dengan rasa penasaran, aku mengirimkan pesan singkat kepada si empunya profil, "Siapa ya?". Dan kamu hanya menjawab dengan singkat, "Sabanano Kamiko, ingat nggak?"
Tentu saja aku ingat ! Mana mungkin aku lupa dengan si empunya nama terunik yang pernah aku kenal seumur hidupku, bahkan aku masih ingat bahwa aku pernah mampir ke rumahmu ketika sedang jalan santai sekolah, minta minum karena kehausan bersama seorang teman. Saat itu kamu masih tinggal di perumahan pertamina di jalan minyak.
Kamu bersama Rizal sibuk menggangguku malam itu. Kebetulan ketita itu Rizal sedang berkunjung ke rumahmu seusai kalian pergi bermain billyard. Kalian sama-sama asyik dan baik, itu yang aku suka dengan kalian. Malam itu pula aku mendapat BBM dari Betty yang mengajak ketemuan di BC keesokan harinya. Ketika aku mengundangmu dan Rizal, ternyata Rizal sudah pulang dari rumahmu.
Hari minggu, aku bertemu dengan Betty, seperti biasa kami bertemu di Solaria, aku bercerita banyak hal dengannya, tentang perasaan kecewaku dengan pria teman kantorku yang memang sangat menyita perhatianku akhir-akhir itu, kemudian satu-persatu kawan kami temui, yang pertama bertemu dengan kami adalah Dewi dan Omy, kebetulan kami belum membuat janji dengan mereka, namun tanpa sengaja kami berempat dapat berkumpul bersama dan bercanda. Kemudian yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga, Rachmad yang memang selalu menepati janjinya untuk berkumpul bersama aku dan Betty.
Saat itu orang yang paling ingin aku temui adalah kamu, aku sangat berharap kamu bisa datang dan berkumpul bersama kami. Bagaimanapun aku sempat merasakan 'sesuatu' terhadapmu di jaman SMA dulu. Hasil pemaksaan Betty, Rizal pun menyanggupi untuk datang dan berkumpul bersama kami, kebetulan kalian berdua adalah tamu yang paling kami tunggu. Rizal yang selama ini hanya berhubungan lewat BBM dan suka iseng, ramai dan asyik, namun selalu menolak ketika diajak berkumpul bersama kami, akhirnya datang juga ke tempat dimana kami berkumpul.
Kalian datang berdua ! Dan aku sangat surprise ketika bertemu denganmu. Kamu masih sama seperti dulu, hanya saja terlihat lebih dewasa. Rizal, ketika menjemput kalian di pintu masuk Gramedia, aku masih sangat ingat dengan tampang Rizal, dia sama sekali tak berubah, hanya terlihat lebih kekar sedikit dibanding masa SMA. Dan kamu, entah kenapa, aku melihat ketika Rizal keluar dari Gramedia, namun aku mengarahkan telunjukku kepadamu. Ternyata aku memang masih mengingatmu.
Hari minggu itu sungguh berkesan buat aku. Sayang waktu berlalu begitu cepat, rasanya kelu untuk mengucapkan selamat tinggal padamu. Kebetulan saat itu adalah hari ketujuh tante Nelly meninggalkanku dan keluarga, dan sebagai orang yang sangat berduka atas kepergiannya, aku harus ikut mendoakan perjalanannya menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Malam itu kamu meminta ijin untuk menelponku, dan dengan senang hati aku menyambutnya. Kamu bercerita panjang-lebar tentang dirimu, tentang keluargamu dan tentang rasa kehilanganmu terhadap ibunda tercintamu. Kala itu aku yang masih sangat sangat berduka tak sadar menangis padamu, seolah-olah kamu adalah sandaran hidupku, aku bisa terbuka denganmu dan bercerita banyak hal denganmu. Kamu yang dewasa, perhatian, berhati lembut, sudah membuatku jatuh hati. Dan ketika permainan mesra ala kita kemudian menjadi serius olehmu dan disambut serius olehku, itulah hari untuk kita berdua, 11 September 2011. Cintaku padamu yang kilat saat ini, sebenarnya sudah sempat terjadi pada 11 tahun silam.
Kita dipertemukan oleh waktu, dan pertemuan itu telah menyatukan cinta kita berdua. Mimpiku kini telah menjadi mimpi kita berdua, hidup bersama dengan orang yang aku cintai dan memiliki anak-anak yang lucu dan pintar. Semoga mimpi kita direstui oleh yang kuasa dan akan kuhabiskan hidupku bersamamu, Sabanano Kamiko Djusal.
Sabtu, September 24, 2011
Tanteku ... Wa Ode Nelly Olivia Wahid (Alm)
Cerita tentang kepedihanku sejak sepeninggalan tante sulit rasanya untuk diungkapkan dengan kata-kata. Beliau adalah adik mami yang nomor delapan, mami sembilan bersaudara dan mami adalah anak nomor dua. Tanteku bertubuh kurus dan kulitnya berwarna kuning pucat, rambut berwarna kuning dan ikal seperti orang bule. Karena tanteku usianya hanya beda 10 tahun denganku, aku cukup dekat dengannya. Merasa bahwa kami itu sama, sama-sama golongan pemalu, hanya saja berbeda dalam hal berbicara, tanteku itu suka sekali mengobrol, ia selalu menceritakan banyak hal, sedangkan aku hanya berbicara seperlunya karena aku tak begitu suka orang lain mengetahui kepribadianku, aku tergolong introvert.
Seandainya saat ini tante masih ada dan aku tahu bahwa peristiwa 05 September 2011 itu akan terjadi, aku akan selalu menghabiskan waktuku bersamanya, mendengarkannya berbicara (karena aku memang tipe yang bosan jika mendengarkan pembicaraan yang tidak ada sangkut pautnya denganku), menemaninya tertawa, dan berada di sampingnya ketika ia menghadapi maut. Aku tahu tante adalah orang yang kesepian, sama seperti diriku, oleh karena itulah aku termasuk salah satu orang yang merasa kehilangan atas tanteku itu, orang pertama tentu adalah adik sepupuku Lini yang sudah ikut dengannya sejak berusia 3 tahun sepeninggalan mama kandungnya yang merupakan adik mami nomor enam. Kemudian tante Nelly menjadi istri kedua dari ayahanda Lini pada akhir tahun 2010.
Awalnya semua berjalan baik-baik saja sampai ketika pertengahan tahun 2008 tante Nelly didiagnosa oleh dokter terserang kista ovarium, dan diminta segera melakukan operasi paling lambat satu minggu setelah pemeriksaan karena kalau tidak harus mengulangi pemeriksaan dari awal. Kemudian hasil dari perbincangan keluarga besar, diambil kesimpulan bahwa tante Nelly tidak boleh operasi, harus mencari second opinion, karena kami memang mengalami traumatik yang sangat berat dengan rumah sakit. Kebetulan ibunda (kandung) Lini meninggal karena diduga usus buntu sehingga berulang kali dilakukan pembedahan sampai akhirnya meninggal dunia. Kemudian tante Nelly dibawa oleh tanteku yang lain ke Samarinda, dan ketika sekitar tiga bulan (sudah minum berbagai macam jamu-jamuan, pijit-pijitan) barulah dibawa kembali ke rumah sakit, dan dokter yang kedua menentang keras tindak operasi. Setelah tanteku pulang ke Balikpapan dan membawa hasil USG yang kedua, aku dan mami melihat dengan jelas catatan pada hasil print out - nya kalau hasil diagnosa yang kedua adalah 'Ca Suspend'. Setelahnya kami kembali berkunjung ke dokter Sp Onk untuk konsultasi, kemudian kami disarankan pergi ke salah satu dari beberapa dokter yang langka di Indonesia yaitu dokter Sp Onk Og yang hanya terdapat di 4 kota, salah satunya adalah Denpasar.
Tahun 2009, setelah bekerja selama satu tahun di sebuah perusahaan provider di Balikpapan, terkumpul juga dana supaya aku bisa kembali ke Bali, wisuda dengan memboyong tiga keluarga intiku; mami, papa, dan Vigo. Saat itulah tanteku itu ikut bersama kami untuk pergi ke dokter Mayun, salah seorang dokter Sp Onk Og yang praktek di RS Sanglah Denpasar, dan dari hasil diagnosa adalah tante positif kanker ovarium dan sel sudah menyebar kemana-mana, tindakan yang bisa dilakukan oleh Rumah Sakit hanyalah dengan jalan operasi dan kemoterapi, tapi kemungkinan untuk sembuh adalah fifty-fifty, kalaupun sehat hanya bisa bertahan sampai 5 tahun.
Akhirnya setelah mengalami dilema, kami memutuskan untuk membawa tante ke pengobatan alternatif akar pinang dengan Pak Haji Andy Muhammad. Kami pulang pada tanggal 02 Juni 2009, sementara tanteku itu tinggal bersama keluarga kami yang lain di Bali agar bisa terus berobat di Akar Pinang. Pada saat tante pergi ke Bali, rupanya tanteku itu sudah dekat dengan ayahanda dari Lini. Pada pertengahan tahun 2010, tante pulang ke Balikpapan agar bisa berkumpul bersama kami, kemudian bulan Desember 2010 tante menjadi mama kedua dari Lini.
Tante melewatkan lebaran tahun 2011 dengan suka cita. Terakhir kali aku melihat tante, ketika lebaran tante berkunjung ke rumahku bersama Lini untuk menikmati soto Banjar buatan mamiku, berhubung ketika itu dua orang teman sedang berkunjung ke rumahku, aku tidak bisa menemani tanteku sampai tante pamit kembali ke rumahnya yang hanya berjarak lima langkah dari rumahku. Pada tanggal 05 September 2011, hari pertama aku masuk kerja, sekitar jam setengah sepuluh ketika adik mengantar makanan ke kantor, aku mendapat kabar bahwa tanteku telah tiada, tubuhku lemas dan air mata tak terbendung lagi, aku ijin pulang. Aku mengikuti lengkap prosesi pemakaman.
Tanteku itu telah tiada, namun kenangan tentangnya tak mudah terhapus dari hatiku. Ia tanteku yang senang tertawa, ceria, senang bercerita tentang apapun, dan tidak pernah marah padaku. Sekali aku melihat ia marah besar adalah ketika aku membawa Lini ke pernikahan seorang kerabat yang tidak ia sukai, dan kejadian itu juga baru-baru saja terjadi, sekitar dua bulan sebelum ia meninggalkan kami semua.
Hari ini ketika aku membuka HP Esiaku, ditumpukan SMS di kotak masuk, aku menemukan beberapa SMS dari tante Nelly yang belum aku hapus. Tante, walau Engkau telah tiada, namun semua tentangmu tak terlupakan. Semoga tante tenang di alam tante yang baru, mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Bersama dengan kakak Citra, tante Etty, om Elly, nenek buyut, dan nenek kecil Unga yang menyusul tante di dua hari setelah kepergian tante.
"Suatu saat Anis juga pasti nyusul ke sana, menemani tante ngobrol dan tertawa lagi, berkenalan dengan kakak Citra dan om Elly, ketemu dengan tante Etty (sudah sejak 1998 Anis tidak ketemu beliau), cium tangan nenek buyut dan nenek Unga. Tapi sementara, biar Anis di sini dulu ya tante, supaya bisa menemani mereka yang masih hidup di dunia dalam suka dan duka. Anis sayang tante, sayang banget. Dan kami sudah ikhlas dengan kepergian tante, karena kami percaya Allah sayang pada tante dengan tidak membiarkan tante menderita lebih lama lagi, dan sekarang Ia mengambil tante untuk menggantikan kami menjaga tante." Love you so much Tanteku Wa Ode Nelly Olivia Wahid.
Wa Ode Nelly Olivia Wahid
In Memoriam
Seandainya saat ini tante masih ada dan aku tahu bahwa peristiwa 05 September 2011 itu akan terjadi, aku akan selalu menghabiskan waktuku bersamanya, mendengarkannya berbicara (karena aku memang tipe yang bosan jika mendengarkan pembicaraan yang tidak ada sangkut pautnya denganku), menemaninya tertawa, dan berada di sampingnya ketika ia menghadapi maut. Aku tahu tante adalah orang yang kesepian, sama seperti diriku, oleh karena itulah aku termasuk salah satu orang yang merasa kehilangan atas tanteku itu, orang pertama tentu adalah adik sepupuku Lini yang sudah ikut dengannya sejak berusia 3 tahun sepeninggalan mama kandungnya yang merupakan adik mami nomor enam. Kemudian tante Nelly menjadi istri kedua dari ayahanda Lini pada akhir tahun 2010.
Awalnya semua berjalan baik-baik saja sampai ketika pertengahan tahun 2008 tante Nelly didiagnosa oleh dokter terserang kista ovarium, dan diminta segera melakukan operasi paling lambat satu minggu setelah pemeriksaan karena kalau tidak harus mengulangi pemeriksaan dari awal. Kemudian hasil dari perbincangan keluarga besar, diambil kesimpulan bahwa tante Nelly tidak boleh operasi, harus mencari second opinion, karena kami memang mengalami traumatik yang sangat berat dengan rumah sakit. Kebetulan ibunda (kandung) Lini meninggal karena diduga usus buntu sehingga berulang kali dilakukan pembedahan sampai akhirnya meninggal dunia. Kemudian tante Nelly dibawa oleh tanteku yang lain ke Samarinda, dan ketika sekitar tiga bulan (sudah minum berbagai macam jamu-jamuan, pijit-pijitan) barulah dibawa kembali ke rumah sakit, dan dokter yang kedua menentang keras tindak operasi. Setelah tanteku pulang ke Balikpapan dan membawa hasil USG yang kedua, aku dan mami melihat dengan jelas catatan pada hasil print out - nya kalau hasil diagnosa yang kedua adalah 'Ca Suspend'. Setelahnya kami kembali berkunjung ke dokter Sp Onk untuk konsultasi, kemudian kami disarankan pergi ke salah satu dari beberapa dokter yang langka di Indonesia yaitu dokter Sp Onk Og yang hanya terdapat di 4 kota, salah satunya adalah Denpasar.
Tahun 2009, setelah bekerja selama satu tahun di sebuah perusahaan provider di Balikpapan, terkumpul juga dana supaya aku bisa kembali ke Bali, wisuda dengan memboyong tiga keluarga intiku; mami, papa, dan Vigo. Saat itulah tanteku itu ikut bersama kami untuk pergi ke dokter Mayun, salah seorang dokter Sp Onk Og yang praktek di RS Sanglah Denpasar, dan dari hasil diagnosa adalah tante positif kanker ovarium dan sel sudah menyebar kemana-mana, tindakan yang bisa dilakukan oleh Rumah Sakit hanyalah dengan jalan operasi dan kemoterapi, tapi kemungkinan untuk sembuh adalah fifty-fifty, kalaupun sehat hanya bisa bertahan sampai 5 tahun.
Akhirnya setelah mengalami dilema, kami memutuskan untuk membawa tante ke pengobatan alternatif akar pinang dengan Pak Haji Andy Muhammad. Kami pulang pada tanggal 02 Juni 2009, sementara tanteku itu tinggal bersama keluarga kami yang lain di Bali agar bisa terus berobat di Akar Pinang. Pada saat tante pergi ke Bali, rupanya tanteku itu sudah dekat dengan ayahanda dari Lini. Pada pertengahan tahun 2010, tante pulang ke Balikpapan agar bisa berkumpul bersama kami, kemudian bulan Desember 2010 tante menjadi mama kedua dari Lini.
Tante melewatkan lebaran tahun 2011 dengan suka cita. Terakhir kali aku melihat tante, ketika lebaran tante berkunjung ke rumahku bersama Lini untuk menikmati soto Banjar buatan mamiku, berhubung ketika itu dua orang teman sedang berkunjung ke rumahku, aku tidak bisa menemani tanteku sampai tante pamit kembali ke rumahnya yang hanya berjarak lima langkah dari rumahku. Pada tanggal 05 September 2011, hari pertama aku masuk kerja, sekitar jam setengah sepuluh ketika adik mengantar makanan ke kantor, aku mendapat kabar bahwa tanteku telah tiada, tubuhku lemas dan air mata tak terbendung lagi, aku ijin pulang. Aku mengikuti lengkap prosesi pemakaman.
Tanteku itu telah tiada, namun kenangan tentangnya tak mudah terhapus dari hatiku. Ia tanteku yang senang tertawa, ceria, senang bercerita tentang apapun, dan tidak pernah marah padaku. Sekali aku melihat ia marah besar adalah ketika aku membawa Lini ke pernikahan seorang kerabat yang tidak ia sukai, dan kejadian itu juga baru-baru saja terjadi, sekitar dua bulan sebelum ia meninggalkan kami semua.
Hari ini ketika aku membuka HP Esiaku, ditumpukan SMS di kotak masuk, aku menemukan beberapa SMS dari tante Nelly yang belum aku hapus. Tante, walau Engkau telah tiada, namun semua tentangmu tak terlupakan. Semoga tante tenang di alam tante yang baru, mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Bersama dengan kakak Citra, tante Etty, om Elly, nenek buyut, dan nenek kecil Unga yang menyusul tante di dua hari setelah kepergian tante.
"Suatu saat Anis juga pasti nyusul ke sana, menemani tante ngobrol dan tertawa lagi, berkenalan dengan kakak Citra dan om Elly, ketemu dengan tante Etty (sudah sejak 1998 Anis tidak ketemu beliau), cium tangan nenek buyut dan nenek Unga. Tapi sementara, biar Anis di sini dulu ya tante, supaya bisa menemani mereka yang masih hidup di dunia dalam suka dan duka. Anis sayang tante, sayang banget. Dan kami sudah ikhlas dengan kepergian tante, karena kami percaya Allah sayang pada tante dengan tidak membiarkan tante menderita lebih lama lagi, dan sekarang Ia mengambil tante untuk menggantikan kami menjaga tante." Love you so much Tanteku Wa Ode Nelly Olivia Wahid.
Wa Ode Nelly Olivia Wahid
In Memoriam
Kamis, September 15, 2011
Thanks God aku menemukan dia !
Malam ini aku benar-benar menyaksikan kebesaranMu ya Allah. Hati yang selalu bertanya, tentang cinta seseorang, perasaan hati seseorang, kini terjawabkan dengan satu kalimat ucapan ulang tahun seorang wanita di wall facebook seorang pria 'jomblowan'. Setelah tiga malam berturut-turut aku melakukan istikharah untuk menemukan jawaban atas kebimbanganku dalam memilih, aku hampir putus asa karena ada tak kunjung jua mendapat petunjuk dariMu. Tiga pria, ... seorang pria yang sempat melamarku, namun ternyata hampir mengambil keuntungan dariku ... seorang pria yang sangat aku sukai, namun selalu membuat hatiku bertanya-tanya tentang kesungguhan hatinya ... kemudian seorang pria sahabatku yang sangat baik namun tak ada cinta sedikitpun di hatiku untuknya ... fokus dari permohonanku adalah pada pria yang sempat sangat aku sukai dan dekat denganku itu. Antara memilihnya atau memilih sahabatku, karena pria pertama sudah tereliminasi terlebih dahulu.
Dan kemudian aku bertemu dengan dia ! Kawan lama sejak masih di SMU. Bermula dari pertemuan di hari minggu, kemudian dia menelponku di tengah malam, tepat di tujuh harian meninggalnya tanteku, dan air mata tak terbendung lagi, cerita tentang perasaanku mengalir deras dari bibirku. Pernyataannya yang sempat membuat hatiku bimbang, karena hubungan jarak jauh yang belum pernah aku jalani sebelumnya, ditambah ketidak-jelasan status hubungan antara aku dan seorang pria yang akhir-akhir ini hadir dalam hidupku. Bimbang karena takut hubungan baru yang akan aku jalani menyakiti orang-orang di sekitarku.
Malam ini yah malam ini ! Aku yang belum sempat mengintip facebook, akhirnya malam ini kubuka facebook-ku dan aku menemukan ucapan ulang tahun dari seseorang yang kamu sebut 'mantan' di wall facebook-mu. Malam ini aku menemukan jawaban atas kebimbanganku selama ini. Terima kasih ya Allah karena Engkau telah memberikan pilihan tanpa keraguan lagi. Thanks God karena Engkau meridhai cintaku pada orang yang tepat, thanks God jika ia juga memberikan cinta yang sama besarnya dengan yang aku berikan, thanks God karena tak ada yang tersakiti dengan hubungan ini. Thanks God aku menemukan dia !
Dan kemudian aku bertemu dengan dia ! Kawan lama sejak masih di SMU. Bermula dari pertemuan di hari minggu, kemudian dia menelponku di tengah malam, tepat di tujuh harian meninggalnya tanteku, dan air mata tak terbendung lagi, cerita tentang perasaanku mengalir deras dari bibirku. Pernyataannya yang sempat membuat hatiku bimbang, karena hubungan jarak jauh yang belum pernah aku jalani sebelumnya, ditambah ketidak-jelasan status hubungan antara aku dan seorang pria yang akhir-akhir ini hadir dalam hidupku. Bimbang karena takut hubungan baru yang akan aku jalani menyakiti orang-orang di sekitarku.
Malam ini yah malam ini ! Aku yang belum sempat mengintip facebook, akhirnya malam ini kubuka facebook-ku dan aku menemukan ucapan ulang tahun dari seseorang yang kamu sebut 'mantan' di wall facebook-mu. Malam ini aku menemukan jawaban atas kebimbanganku selama ini. Terima kasih ya Allah karena Engkau telah memberikan pilihan tanpa keraguan lagi. Thanks God karena Engkau meridhai cintaku pada orang yang tepat, thanks God jika ia juga memberikan cinta yang sama besarnya dengan yang aku berikan, thanks God karena tak ada yang tersakiti dengan hubungan ini. Thanks God aku menemukan dia !
Langganan:
Postingan (Atom)
























