Pagi ini saya mendapatkan BBM dari seorang kawan, ia mengatakan ingin bertemu di suatu tempat.
Beberapa hari yang lalu sempat terjadi huru-hara antara saya dan kekasih saya. Setelah telponnya tak terjawab beberapa kali oleh saya, karena saya sedang disibukkan oleh sesuatu hal, tiba-tiba dia BBM dan menuduh saya menjalin hubungan dengan seorang kawan. Setelah membaca pesan singkat yang cukup mengejutkan itu, saya langsung menelponnya, dan dia tidak mengangkat telpon saya. Kemudian setelah berhasil saling berhubungan via telpon, dia berbicara dengan nada yang agak keras seakan menuduh saya bermain di belakangnya. Saya marah dan ngambek karena dia tidak mempercayai saya.
Temen saya yang BBM saya adalah kekasih dari pria yang dicurigai oleh pacar saya sebagai orang ketiga dari hubungan kami. Saya memang sempat mencurigainya sebagai seseorang yang membawa kabar tak sedap tentang hubungan saya dan pacarnya sendiri, namun yang saya perdulikan hanyalah kepercayaan dari kekasih saya terhadap saya. Saya mencintai kekasih saya dan saya cukup tersinggung jika doi meragukan cinta saya kepadanya.
BBM yang mengajak bertemu oleh kawan tersebut seakan membenarkan dugaan saya tentang adanya sangkut-paut prahara yang sempat terjadi antara saya dan kekasih saya beberapa hari yang lalu. Waktu berlalu dengan cepat, sepulang kerja ada ada pertemuan dengan atasan yang membuat hati saya cukup gelisah karena janji yang sudah saya buat sebelumnya dengan kawan saya itu. Untung saja atasan saya sedang berbaik hati mengijinkan saya pulang lebih awal.
Kami bertemu di Solaria, seperti biasa, sekedar say hello kemudian dengan nada suara bergetar ia bercerita tentang maksud dan tujuannya mengundang saya untuk datang menemuinya. Dia menanyakan tentang perasaan saya terhadap kekasihnya, dan dia mengatakan mendengar kabar bahwa saya memiliki suatu hubungan khusus dengan kekasihnya itu. Dia cerita tentang banyak hal. Dan dari tatapan matanya yang mulai berkaca-kaca sejak awal membuka percakapan dengan saya, saya bisa melihat adanya cinta yang teramat sangat terhadap kekasih hatinya itu.
Yang cukup mengejutkan saya, kabar tak sedap itu adalah hasil 'karangan' dari kekasihnya itu sendiri. Dan dia juga mengaku bahwa kekasih saya mengetahui 'kabar' itu darinya karena perasaan yang tidak sanggup dia pendam sendiri. Dan saya juga mengatakan bahwa saya tidak marah pada mereka dengan pikirannya tentang saya, karena yang saya perdulikan hanyalah pikiran kekasih saya mengenai saya. Dia juga mengaku sempat menaruh perhatian pada kekasih saya semasa sekolah dulu, saya hanya tertawa kecil, karena yang seharusnya saya pertanyakan adalah perasaan kekasih saya terhadap orang lain, bukan orang lain terhadap kekasih saya. Tanpa saya sadari, saya juga sudah menasehati kawan saya itu untuk menanyakan terlebih dahulu tentang perasaan kekasihnya terhadapnya dan juga tentang perasaan kekasihnya terhadap saya. Karena sungguh dari dalam diri saya, saya lebih mementingkan perasaan kekasih saya dan perasaan saya sendiri dibandingkan perasaan orang lain terhadap saya atau kekasih saya. Saya harap dia pun dapat menyelesaikan masalahnya dengan cara saya.
Kami berpisah dengan berpelukan dan saling minta maaf. Bagaimanapun dia merasa bersalah karena sempat membuat saya dan kekasih saya huru-hara, sementara saya akhirnya merasa bersalah juga karena 'nama' saya menjadi salah satu penyebab retaknya hubungan kawan saya itu dengan kekasihnya. Saya tidak bisa membuat kawan saya itu begitu saja percaya dengan pernyataan saya, karena dia tidak bisa menengok langsung ke dalam hati saya, namun semua perkataan saya itu bukan untuk membuat dia percaya, namun sebagai ungkapan hati saya juga sebagai seorang kawan. Saya tidak punya perasaan apapun terhadap kekasihnya, yang saya cintai hanya satu dan satu-satunya, dia adalah kekasih saya saat ini, dan semoga bisa menjadi pendamping saya kelak dalam menjalani sisa hidup saya.
Luapan perasaanku, yang tak dapat aku ungkapkan kepada siapapun, yang tak mampu terpuaskan dengan kata-kata, terkadang ada kata yang terlupa jika secara lisan, kutuangkan dalam bentuk tulisan. Walaupun siapapun bisa saja berkunjung di blog ini, namun semua yang kuungkapkan di sini adalah sebuah 'kejujuran', karena 'rasa' memang tak dapat berbohong.
Rabu, Oktober 05, 2011
Ungkapan hati seorang kawan
Senin, Oktober 03, 2011
Waktu yang mempersatukan menciptakan mimpi bersama
Pertama kali kita berkenalan, masa-masa SMA, kelas 2 SMA, takdir mempertemukan kita dalam 1 kelas. Aku yang kala itu sedang dirundung masalah dengan kekasihku sedikit menaruh perhatian padamu. Kamu yang selalu ceria, supel dan suka tertawa membuatku yang culun bin cupu ketika itu tertarik. Tapi rasa itu hanya sekejap kurasakan, bagaimanapun aku harus kembali pada kekasihku untuk kejelasan hubungan kami yang sedang diterjang badai. Dan kamu pun juga tengah asyik dengan teman-temanmu.
Hari Sabtu 10 September 2011, aku mendapat request dari seseorang untuk menjadi BBM kontakku. Aku yang ketika itu sedang lembur di kantor bersama seorang kawan, spontan menunjukkan foto profil kawan baruku itu kepada teman kantorku, dan ternyata teman kantorku itu tidak mengenalnya. Akhirnya dengan rasa penasaran, aku mengirimkan pesan singkat kepada si empunya profil, "Siapa ya?". Dan kamu hanya menjawab dengan singkat, "Sabanano Kamiko, ingat nggak?"
Tentu saja aku ingat ! Mana mungkin aku lupa dengan si empunya nama terunik yang pernah aku kenal seumur hidupku, bahkan aku masih ingat bahwa aku pernah mampir ke rumahmu ketika sedang jalan santai sekolah, minta minum karena kehausan bersama seorang teman. Saat itu kamu masih tinggal di perumahan pertamina di jalan minyak.
Kamu bersama Rizal sibuk menggangguku malam itu. Kebetulan ketita itu Rizal sedang berkunjung ke rumahmu seusai kalian pergi bermain billyard. Kalian sama-sama asyik dan baik, itu yang aku suka dengan kalian. Malam itu pula aku mendapat BBM dari Betty yang mengajak ketemuan di BC keesokan harinya. Ketika aku mengundangmu dan Rizal, ternyata Rizal sudah pulang dari rumahmu.
Hari minggu, aku bertemu dengan Betty, seperti biasa kami bertemu di Solaria, aku bercerita banyak hal dengannya, tentang perasaan kecewaku dengan pria teman kantorku yang memang sangat menyita perhatianku akhir-akhir itu, kemudian satu-persatu kawan kami temui, yang pertama bertemu dengan kami adalah Dewi dan Omy, kebetulan kami belum membuat janji dengan mereka, namun tanpa sengaja kami berempat dapat berkumpul bersama dan bercanda. Kemudian yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga, Rachmad yang memang selalu menepati janjinya untuk berkumpul bersama aku dan Betty.
Saat itu orang yang paling ingin aku temui adalah kamu, aku sangat berharap kamu bisa datang dan berkumpul bersama kami. Bagaimanapun aku sempat merasakan 'sesuatu' terhadapmu di jaman SMA dulu. Hasil pemaksaan Betty, Rizal pun menyanggupi untuk datang dan berkumpul bersama kami, kebetulan kalian berdua adalah tamu yang paling kami tunggu. Rizal yang selama ini hanya berhubungan lewat BBM dan suka iseng, ramai dan asyik, namun selalu menolak ketika diajak berkumpul bersama kami, akhirnya datang juga ke tempat dimana kami berkumpul.
Kalian datang berdua ! Dan aku sangat surprise ketika bertemu denganmu. Kamu masih sama seperti dulu, hanya saja terlihat lebih dewasa. Rizal, ketika menjemput kalian di pintu masuk Gramedia, aku masih sangat ingat dengan tampang Rizal, dia sama sekali tak berubah, hanya terlihat lebih kekar sedikit dibanding masa SMA. Dan kamu, entah kenapa, aku melihat ketika Rizal keluar dari Gramedia, namun aku mengarahkan telunjukku kepadamu. Ternyata aku memang masih mengingatmu.
Hari minggu itu sungguh berkesan buat aku. Sayang waktu berlalu begitu cepat, rasanya kelu untuk mengucapkan selamat tinggal padamu. Kebetulan saat itu adalah hari ketujuh tante Nelly meninggalkanku dan keluarga, dan sebagai orang yang sangat berduka atas kepergiannya, aku harus ikut mendoakan perjalanannya menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Malam itu kamu meminta ijin untuk menelponku, dan dengan senang hati aku menyambutnya. Kamu bercerita panjang-lebar tentang dirimu, tentang keluargamu dan tentang rasa kehilanganmu terhadap ibunda tercintamu. Kala itu aku yang masih sangat sangat berduka tak sadar menangis padamu, seolah-olah kamu adalah sandaran hidupku, aku bisa terbuka denganmu dan bercerita banyak hal denganmu. Kamu yang dewasa, perhatian, berhati lembut, sudah membuatku jatuh hati. Dan ketika permainan mesra ala kita kemudian menjadi serius olehmu dan disambut serius olehku, itulah hari untuk kita berdua, 11 September 2011. Cintaku padamu yang kilat saat ini, sebenarnya sudah sempat terjadi pada 11 tahun silam.
Kita dipertemukan oleh waktu, dan pertemuan itu telah menyatukan cinta kita berdua. Mimpiku kini telah menjadi mimpi kita berdua, hidup bersama dengan orang yang aku cintai dan memiliki anak-anak yang lucu dan pintar. Semoga mimpi kita direstui oleh yang kuasa dan akan kuhabiskan hidupku bersamamu, Sabanano Kamiko Djusal.
Hari Sabtu 10 September 2011, aku mendapat request dari seseorang untuk menjadi BBM kontakku. Aku yang ketika itu sedang lembur di kantor bersama seorang kawan, spontan menunjukkan foto profil kawan baruku itu kepada teman kantorku, dan ternyata teman kantorku itu tidak mengenalnya. Akhirnya dengan rasa penasaran, aku mengirimkan pesan singkat kepada si empunya profil, "Siapa ya?". Dan kamu hanya menjawab dengan singkat, "Sabanano Kamiko, ingat nggak?"
Tentu saja aku ingat ! Mana mungkin aku lupa dengan si empunya nama terunik yang pernah aku kenal seumur hidupku, bahkan aku masih ingat bahwa aku pernah mampir ke rumahmu ketika sedang jalan santai sekolah, minta minum karena kehausan bersama seorang teman. Saat itu kamu masih tinggal di perumahan pertamina di jalan minyak.
Kamu bersama Rizal sibuk menggangguku malam itu. Kebetulan ketita itu Rizal sedang berkunjung ke rumahmu seusai kalian pergi bermain billyard. Kalian sama-sama asyik dan baik, itu yang aku suka dengan kalian. Malam itu pula aku mendapat BBM dari Betty yang mengajak ketemuan di BC keesokan harinya. Ketika aku mengundangmu dan Rizal, ternyata Rizal sudah pulang dari rumahmu.
Hari minggu, aku bertemu dengan Betty, seperti biasa kami bertemu di Solaria, aku bercerita banyak hal dengannya, tentang perasaan kecewaku dengan pria teman kantorku yang memang sangat menyita perhatianku akhir-akhir itu, kemudian satu-persatu kawan kami temui, yang pertama bertemu dengan kami adalah Dewi dan Omy, kebetulan kami belum membuat janji dengan mereka, namun tanpa sengaja kami berempat dapat berkumpul bersama dan bercanda. Kemudian yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga, Rachmad yang memang selalu menepati janjinya untuk berkumpul bersama aku dan Betty.
Saat itu orang yang paling ingin aku temui adalah kamu, aku sangat berharap kamu bisa datang dan berkumpul bersama kami. Bagaimanapun aku sempat merasakan 'sesuatu' terhadapmu di jaman SMA dulu. Hasil pemaksaan Betty, Rizal pun menyanggupi untuk datang dan berkumpul bersama kami, kebetulan kalian berdua adalah tamu yang paling kami tunggu. Rizal yang selama ini hanya berhubungan lewat BBM dan suka iseng, ramai dan asyik, namun selalu menolak ketika diajak berkumpul bersama kami, akhirnya datang juga ke tempat dimana kami berkumpul.
Kalian datang berdua ! Dan aku sangat surprise ketika bertemu denganmu. Kamu masih sama seperti dulu, hanya saja terlihat lebih dewasa. Rizal, ketika menjemput kalian di pintu masuk Gramedia, aku masih sangat ingat dengan tampang Rizal, dia sama sekali tak berubah, hanya terlihat lebih kekar sedikit dibanding masa SMA. Dan kamu, entah kenapa, aku melihat ketika Rizal keluar dari Gramedia, namun aku mengarahkan telunjukku kepadamu. Ternyata aku memang masih mengingatmu.
Hari minggu itu sungguh berkesan buat aku. Sayang waktu berlalu begitu cepat, rasanya kelu untuk mengucapkan selamat tinggal padamu. Kebetulan saat itu adalah hari ketujuh tante Nelly meninggalkanku dan keluarga, dan sebagai orang yang sangat berduka atas kepergiannya, aku harus ikut mendoakan perjalanannya menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Malam itu kamu meminta ijin untuk menelponku, dan dengan senang hati aku menyambutnya. Kamu bercerita panjang-lebar tentang dirimu, tentang keluargamu dan tentang rasa kehilanganmu terhadap ibunda tercintamu. Kala itu aku yang masih sangat sangat berduka tak sadar menangis padamu, seolah-olah kamu adalah sandaran hidupku, aku bisa terbuka denganmu dan bercerita banyak hal denganmu. Kamu yang dewasa, perhatian, berhati lembut, sudah membuatku jatuh hati. Dan ketika permainan mesra ala kita kemudian menjadi serius olehmu dan disambut serius olehku, itulah hari untuk kita berdua, 11 September 2011. Cintaku padamu yang kilat saat ini, sebenarnya sudah sempat terjadi pada 11 tahun silam.
Kita dipertemukan oleh waktu, dan pertemuan itu telah menyatukan cinta kita berdua. Mimpiku kini telah menjadi mimpi kita berdua, hidup bersama dengan orang yang aku cintai dan memiliki anak-anak yang lucu dan pintar. Semoga mimpi kita direstui oleh yang kuasa dan akan kuhabiskan hidupku bersamamu, Sabanano Kamiko Djusal.
Sabtu, September 24, 2011
Tanteku ... Wa Ode Nelly Olivia Wahid (Alm)
Cerita tentang kepedihanku sejak sepeninggalan tante sulit rasanya untuk diungkapkan dengan kata-kata. Beliau adalah adik mami yang nomor delapan, mami sembilan bersaudara dan mami adalah anak nomor dua. Tanteku bertubuh kurus dan kulitnya berwarna kuning pucat, rambut berwarna kuning dan ikal seperti orang bule. Karena tanteku usianya hanya beda 10 tahun denganku, aku cukup dekat dengannya. Merasa bahwa kami itu sama, sama-sama golongan pemalu, hanya saja berbeda dalam hal berbicara, tanteku itu suka sekali mengobrol, ia selalu menceritakan banyak hal, sedangkan aku hanya berbicara seperlunya karena aku tak begitu suka orang lain mengetahui kepribadianku, aku tergolong introvert.
Seandainya saat ini tante masih ada dan aku tahu bahwa peristiwa 05 September 2011 itu akan terjadi, aku akan selalu menghabiskan waktuku bersamanya, mendengarkannya berbicara (karena aku memang tipe yang bosan jika mendengarkan pembicaraan yang tidak ada sangkut pautnya denganku), menemaninya tertawa, dan berada di sampingnya ketika ia menghadapi maut. Aku tahu tante adalah orang yang kesepian, sama seperti diriku, oleh karena itulah aku termasuk salah satu orang yang merasa kehilangan atas tanteku itu, orang pertama tentu adalah adik sepupuku Lini yang sudah ikut dengannya sejak berusia 3 tahun sepeninggalan mama kandungnya yang merupakan adik mami nomor enam. Kemudian tante Nelly menjadi istri kedua dari ayahanda Lini pada akhir tahun 2010.
Awalnya semua berjalan baik-baik saja sampai ketika pertengahan tahun 2008 tante Nelly didiagnosa oleh dokter terserang kista ovarium, dan diminta segera melakukan operasi paling lambat satu minggu setelah pemeriksaan karena kalau tidak harus mengulangi pemeriksaan dari awal. Kemudian hasil dari perbincangan keluarga besar, diambil kesimpulan bahwa tante Nelly tidak boleh operasi, harus mencari second opinion, karena kami memang mengalami traumatik yang sangat berat dengan rumah sakit. Kebetulan ibunda (kandung) Lini meninggal karena diduga usus buntu sehingga berulang kali dilakukan pembedahan sampai akhirnya meninggal dunia. Kemudian tante Nelly dibawa oleh tanteku yang lain ke Samarinda, dan ketika sekitar tiga bulan (sudah minum berbagai macam jamu-jamuan, pijit-pijitan) barulah dibawa kembali ke rumah sakit, dan dokter yang kedua menentang keras tindak operasi. Setelah tanteku pulang ke Balikpapan dan membawa hasil USG yang kedua, aku dan mami melihat dengan jelas catatan pada hasil print out - nya kalau hasil diagnosa yang kedua adalah 'Ca Suspend'. Setelahnya kami kembali berkunjung ke dokter Sp Onk untuk konsultasi, kemudian kami disarankan pergi ke salah satu dari beberapa dokter yang langka di Indonesia yaitu dokter Sp Onk Og yang hanya terdapat di 4 kota, salah satunya adalah Denpasar.
Tahun 2009, setelah bekerja selama satu tahun di sebuah perusahaan provider di Balikpapan, terkumpul juga dana supaya aku bisa kembali ke Bali, wisuda dengan memboyong tiga keluarga intiku; mami, papa, dan Vigo. Saat itulah tanteku itu ikut bersama kami untuk pergi ke dokter Mayun, salah seorang dokter Sp Onk Og yang praktek di RS Sanglah Denpasar, dan dari hasil diagnosa adalah tante positif kanker ovarium dan sel sudah menyebar kemana-mana, tindakan yang bisa dilakukan oleh Rumah Sakit hanyalah dengan jalan operasi dan kemoterapi, tapi kemungkinan untuk sembuh adalah fifty-fifty, kalaupun sehat hanya bisa bertahan sampai 5 tahun.
Akhirnya setelah mengalami dilema, kami memutuskan untuk membawa tante ke pengobatan alternatif akar pinang dengan Pak Haji Andy Muhammad. Kami pulang pada tanggal 02 Juni 2009, sementara tanteku itu tinggal bersama keluarga kami yang lain di Bali agar bisa terus berobat di Akar Pinang. Pada saat tante pergi ke Bali, rupanya tanteku itu sudah dekat dengan ayahanda dari Lini. Pada pertengahan tahun 2010, tante pulang ke Balikpapan agar bisa berkumpul bersama kami, kemudian bulan Desember 2010 tante menjadi mama kedua dari Lini.
Tante melewatkan lebaran tahun 2011 dengan suka cita. Terakhir kali aku melihat tante, ketika lebaran tante berkunjung ke rumahku bersama Lini untuk menikmati soto Banjar buatan mamiku, berhubung ketika itu dua orang teman sedang berkunjung ke rumahku, aku tidak bisa menemani tanteku sampai tante pamit kembali ke rumahnya yang hanya berjarak lima langkah dari rumahku. Pada tanggal 05 September 2011, hari pertama aku masuk kerja, sekitar jam setengah sepuluh ketika adik mengantar makanan ke kantor, aku mendapat kabar bahwa tanteku telah tiada, tubuhku lemas dan air mata tak terbendung lagi, aku ijin pulang. Aku mengikuti lengkap prosesi pemakaman.
Tanteku itu telah tiada, namun kenangan tentangnya tak mudah terhapus dari hatiku. Ia tanteku yang senang tertawa, ceria, senang bercerita tentang apapun, dan tidak pernah marah padaku. Sekali aku melihat ia marah besar adalah ketika aku membawa Lini ke pernikahan seorang kerabat yang tidak ia sukai, dan kejadian itu juga baru-baru saja terjadi, sekitar dua bulan sebelum ia meninggalkan kami semua.
Hari ini ketika aku membuka HP Esiaku, ditumpukan SMS di kotak masuk, aku menemukan beberapa SMS dari tante Nelly yang belum aku hapus. Tante, walau Engkau telah tiada, namun semua tentangmu tak terlupakan. Semoga tante tenang di alam tante yang baru, mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Bersama dengan kakak Citra, tante Etty, om Elly, nenek buyut, dan nenek kecil Unga yang menyusul tante di dua hari setelah kepergian tante.
"Suatu saat Anis juga pasti nyusul ke sana, menemani tante ngobrol dan tertawa lagi, berkenalan dengan kakak Citra dan om Elly, ketemu dengan tante Etty (sudah sejak 1998 Anis tidak ketemu beliau), cium tangan nenek buyut dan nenek Unga. Tapi sementara, biar Anis di sini dulu ya tante, supaya bisa menemani mereka yang masih hidup di dunia dalam suka dan duka. Anis sayang tante, sayang banget. Dan kami sudah ikhlas dengan kepergian tante, karena kami percaya Allah sayang pada tante dengan tidak membiarkan tante menderita lebih lama lagi, dan sekarang Ia mengambil tante untuk menggantikan kami menjaga tante." Love you so much Tanteku Wa Ode Nelly Olivia Wahid.
Wa Ode Nelly Olivia Wahid
In Memoriam
Seandainya saat ini tante masih ada dan aku tahu bahwa peristiwa 05 September 2011 itu akan terjadi, aku akan selalu menghabiskan waktuku bersamanya, mendengarkannya berbicara (karena aku memang tipe yang bosan jika mendengarkan pembicaraan yang tidak ada sangkut pautnya denganku), menemaninya tertawa, dan berada di sampingnya ketika ia menghadapi maut. Aku tahu tante adalah orang yang kesepian, sama seperti diriku, oleh karena itulah aku termasuk salah satu orang yang merasa kehilangan atas tanteku itu, orang pertama tentu adalah adik sepupuku Lini yang sudah ikut dengannya sejak berusia 3 tahun sepeninggalan mama kandungnya yang merupakan adik mami nomor enam. Kemudian tante Nelly menjadi istri kedua dari ayahanda Lini pada akhir tahun 2010.
Awalnya semua berjalan baik-baik saja sampai ketika pertengahan tahun 2008 tante Nelly didiagnosa oleh dokter terserang kista ovarium, dan diminta segera melakukan operasi paling lambat satu minggu setelah pemeriksaan karena kalau tidak harus mengulangi pemeriksaan dari awal. Kemudian hasil dari perbincangan keluarga besar, diambil kesimpulan bahwa tante Nelly tidak boleh operasi, harus mencari second opinion, karena kami memang mengalami traumatik yang sangat berat dengan rumah sakit. Kebetulan ibunda (kandung) Lini meninggal karena diduga usus buntu sehingga berulang kali dilakukan pembedahan sampai akhirnya meninggal dunia. Kemudian tante Nelly dibawa oleh tanteku yang lain ke Samarinda, dan ketika sekitar tiga bulan (sudah minum berbagai macam jamu-jamuan, pijit-pijitan) barulah dibawa kembali ke rumah sakit, dan dokter yang kedua menentang keras tindak operasi. Setelah tanteku pulang ke Balikpapan dan membawa hasil USG yang kedua, aku dan mami melihat dengan jelas catatan pada hasil print out - nya kalau hasil diagnosa yang kedua adalah 'Ca Suspend'. Setelahnya kami kembali berkunjung ke dokter Sp Onk untuk konsultasi, kemudian kami disarankan pergi ke salah satu dari beberapa dokter yang langka di Indonesia yaitu dokter Sp Onk Og yang hanya terdapat di 4 kota, salah satunya adalah Denpasar.
Tahun 2009, setelah bekerja selama satu tahun di sebuah perusahaan provider di Balikpapan, terkumpul juga dana supaya aku bisa kembali ke Bali, wisuda dengan memboyong tiga keluarga intiku; mami, papa, dan Vigo. Saat itulah tanteku itu ikut bersama kami untuk pergi ke dokter Mayun, salah seorang dokter Sp Onk Og yang praktek di RS Sanglah Denpasar, dan dari hasil diagnosa adalah tante positif kanker ovarium dan sel sudah menyebar kemana-mana, tindakan yang bisa dilakukan oleh Rumah Sakit hanyalah dengan jalan operasi dan kemoterapi, tapi kemungkinan untuk sembuh adalah fifty-fifty, kalaupun sehat hanya bisa bertahan sampai 5 tahun.
Akhirnya setelah mengalami dilema, kami memutuskan untuk membawa tante ke pengobatan alternatif akar pinang dengan Pak Haji Andy Muhammad. Kami pulang pada tanggal 02 Juni 2009, sementara tanteku itu tinggal bersama keluarga kami yang lain di Bali agar bisa terus berobat di Akar Pinang. Pada saat tante pergi ke Bali, rupanya tanteku itu sudah dekat dengan ayahanda dari Lini. Pada pertengahan tahun 2010, tante pulang ke Balikpapan agar bisa berkumpul bersama kami, kemudian bulan Desember 2010 tante menjadi mama kedua dari Lini.
Tante melewatkan lebaran tahun 2011 dengan suka cita. Terakhir kali aku melihat tante, ketika lebaran tante berkunjung ke rumahku bersama Lini untuk menikmati soto Banjar buatan mamiku, berhubung ketika itu dua orang teman sedang berkunjung ke rumahku, aku tidak bisa menemani tanteku sampai tante pamit kembali ke rumahnya yang hanya berjarak lima langkah dari rumahku. Pada tanggal 05 September 2011, hari pertama aku masuk kerja, sekitar jam setengah sepuluh ketika adik mengantar makanan ke kantor, aku mendapat kabar bahwa tanteku telah tiada, tubuhku lemas dan air mata tak terbendung lagi, aku ijin pulang. Aku mengikuti lengkap prosesi pemakaman.
Tanteku itu telah tiada, namun kenangan tentangnya tak mudah terhapus dari hatiku. Ia tanteku yang senang tertawa, ceria, senang bercerita tentang apapun, dan tidak pernah marah padaku. Sekali aku melihat ia marah besar adalah ketika aku membawa Lini ke pernikahan seorang kerabat yang tidak ia sukai, dan kejadian itu juga baru-baru saja terjadi, sekitar dua bulan sebelum ia meninggalkan kami semua.
Hari ini ketika aku membuka HP Esiaku, ditumpukan SMS di kotak masuk, aku menemukan beberapa SMS dari tante Nelly yang belum aku hapus. Tante, walau Engkau telah tiada, namun semua tentangmu tak terlupakan. Semoga tante tenang di alam tante yang baru, mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Bersama dengan kakak Citra, tante Etty, om Elly, nenek buyut, dan nenek kecil Unga yang menyusul tante di dua hari setelah kepergian tante.
"Suatu saat Anis juga pasti nyusul ke sana, menemani tante ngobrol dan tertawa lagi, berkenalan dengan kakak Citra dan om Elly, ketemu dengan tante Etty (sudah sejak 1998 Anis tidak ketemu beliau), cium tangan nenek buyut dan nenek Unga. Tapi sementara, biar Anis di sini dulu ya tante, supaya bisa menemani mereka yang masih hidup di dunia dalam suka dan duka. Anis sayang tante, sayang banget. Dan kami sudah ikhlas dengan kepergian tante, karena kami percaya Allah sayang pada tante dengan tidak membiarkan tante menderita lebih lama lagi, dan sekarang Ia mengambil tante untuk menggantikan kami menjaga tante." Love you so much Tanteku Wa Ode Nelly Olivia Wahid.
Wa Ode Nelly Olivia Wahid
In Memoriam
Kamis, September 15, 2011
Thanks God aku menemukan dia !
Malam ini aku benar-benar menyaksikan kebesaranMu ya Allah. Hati yang selalu bertanya, tentang cinta seseorang, perasaan hati seseorang, kini terjawabkan dengan satu kalimat ucapan ulang tahun seorang wanita di wall facebook seorang pria 'jomblowan'. Setelah tiga malam berturut-turut aku melakukan istikharah untuk menemukan jawaban atas kebimbanganku dalam memilih, aku hampir putus asa karena ada tak kunjung jua mendapat petunjuk dariMu. Tiga pria, ... seorang pria yang sempat melamarku, namun ternyata hampir mengambil keuntungan dariku ... seorang pria yang sangat aku sukai, namun selalu membuat hatiku bertanya-tanya tentang kesungguhan hatinya ... kemudian seorang pria sahabatku yang sangat baik namun tak ada cinta sedikitpun di hatiku untuknya ... fokus dari permohonanku adalah pada pria yang sempat sangat aku sukai dan dekat denganku itu. Antara memilihnya atau memilih sahabatku, karena pria pertama sudah tereliminasi terlebih dahulu.
Dan kemudian aku bertemu dengan dia ! Kawan lama sejak masih di SMU. Bermula dari pertemuan di hari minggu, kemudian dia menelponku di tengah malam, tepat di tujuh harian meninggalnya tanteku, dan air mata tak terbendung lagi, cerita tentang perasaanku mengalir deras dari bibirku. Pernyataannya yang sempat membuat hatiku bimbang, karena hubungan jarak jauh yang belum pernah aku jalani sebelumnya, ditambah ketidak-jelasan status hubungan antara aku dan seorang pria yang akhir-akhir ini hadir dalam hidupku. Bimbang karena takut hubungan baru yang akan aku jalani menyakiti orang-orang di sekitarku.
Malam ini yah malam ini ! Aku yang belum sempat mengintip facebook, akhirnya malam ini kubuka facebook-ku dan aku menemukan ucapan ulang tahun dari seseorang yang kamu sebut 'mantan' di wall facebook-mu. Malam ini aku menemukan jawaban atas kebimbanganku selama ini. Terima kasih ya Allah karena Engkau telah memberikan pilihan tanpa keraguan lagi. Thanks God karena Engkau meridhai cintaku pada orang yang tepat, thanks God jika ia juga memberikan cinta yang sama besarnya dengan yang aku berikan, thanks God karena tak ada yang tersakiti dengan hubungan ini. Thanks God aku menemukan dia !
Dan kemudian aku bertemu dengan dia ! Kawan lama sejak masih di SMU. Bermula dari pertemuan di hari minggu, kemudian dia menelponku di tengah malam, tepat di tujuh harian meninggalnya tanteku, dan air mata tak terbendung lagi, cerita tentang perasaanku mengalir deras dari bibirku. Pernyataannya yang sempat membuat hatiku bimbang, karena hubungan jarak jauh yang belum pernah aku jalani sebelumnya, ditambah ketidak-jelasan status hubungan antara aku dan seorang pria yang akhir-akhir ini hadir dalam hidupku. Bimbang karena takut hubungan baru yang akan aku jalani menyakiti orang-orang di sekitarku.
Malam ini yah malam ini ! Aku yang belum sempat mengintip facebook, akhirnya malam ini kubuka facebook-ku dan aku menemukan ucapan ulang tahun dari seseorang yang kamu sebut 'mantan' di wall facebook-mu. Malam ini aku menemukan jawaban atas kebimbanganku selama ini. Terima kasih ya Allah karena Engkau telah memberikan pilihan tanpa keraguan lagi. Thanks God karena Engkau meridhai cintaku pada orang yang tepat, thanks God jika ia juga memberikan cinta yang sama besarnya dengan yang aku berikan, thanks God karena tak ada yang tersakiti dengan hubungan ini. Thanks God aku menemukan dia !
Jumat, September 02, 2011
Buat Kau Indonesiaku ...
Puisi ini saya copy dari 'note' di facebook saya yang saya tulis beberapa saat yang lalu, yang menggambarkan betapa bangganya saya pada TimNas, walau kalah di final, namun mereka tetap pemenang bagi kami.
Tadi malam saya sedikit kecewa dengan TimNas karena Iran begitu mudahnya mencuri gol dari kalian. Namun setelah membaca puisi ini, saya teringat kembali gol demi gol yang sempat kalian ciptakan di pertandingan-pertandingan sebelumnya, dan hal ini membangkitkan kepercayaan saya lagi terhadap kalian.
Berikut adalah lukisan kebanggaan hati saya terhadap TimNas ketika itu, dan sampai sekarang pun rasa bangga masih tersimpan di lubuk hati yang paling dalam.
HomeProfileFriendsMessages
Buat kau Indonesiaku ...
By Annisa Tang
Sampai final bukan perkara gampang ...
Bukan karna Gonzalez, bukan krn Bachdim, BP, Okto, Bustomi, Firman, juga Markus ...
Melainkan kalian adalah TimNas ...
TimNas RI, kebanggaan kami ...
'Sporty' harus selalu diawali dengan prinsip SPORTIF ...
Dan kami melihatnya saat kalian mulai membusungkan dada dan menyanyikan lagu 'Indonesia Raya' ...
Saat kalian mulai berlari dan peluh membasahi kening ...
Kami tahu bahwa kalianlah PEMENANGnya ...
Garuda tak terkalahkan ...
Karena selalu berpegang teguh pada PANCASILA ...
Tak perlu bersembunyi di balik sinar laser dan serbuk gatal ...
Maju terus pantang mundur ...
Malam ini kami bangga pada kalian ...
TimNas Indonesia ...
You are The Win !!!
January 1 at 6:31am · 12 · Unlike · Edit · Delete
You, توفيق إدي برينو and 10 others like this.
Aryanto Pratowo HIDUP...GARUDA....!!
Dec 29, 2010 · Like · Remove
Tadi malam saya sedikit kecewa dengan TimNas karena Iran begitu mudahnya mencuri gol dari kalian. Namun setelah membaca puisi ini, saya teringat kembali gol demi gol yang sempat kalian ciptakan di pertandingan-pertandingan sebelumnya, dan hal ini membangkitkan kepercayaan saya lagi terhadap kalian.
Berikut adalah lukisan kebanggaan hati saya terhadap TimNas ketika itu, dan sampai sekarang pun rasa bangga masih tersimpan di lubuk hati yang paling dalam.
HomeProfileFriendsMessages
Buat kau Indonesiaku ...
By Annisa Tang
Sampai final bukan perkara gampang ...
Bukan karna Gonzalez, bukan krn Bachdim, BP, Okto, Bustomi, Firman, juga Markus ...
Melainkan kalian adalah TimNas ...
TimNas RI, kebanggaan kami ...
'Sporty' harus selalu diawali dengan prinsip SPORTIF ...
Dan kami melihatnya saat kalian mulai membusungkan dada dan menyanyikan lagu 'Indonesia Raya' ...
Saat kalian mulai berlari dan peluh membasahi kening ...
Kami tahu bahwa kalianlah PEMENANGnya ...
Garuda tak terkalahkan ...
Karena selalu berpegang teguh pada PANCASILA ...
Tak perlu bersembunyi di balik sinar laser dan serbuk gatal ...
Maju terus pantang mundur ...
Malam ini kami bangga pada kalian ...
TimNas Indonesia ...
You are The Win !!!
January 1 at 6:31am · 12 · Unlike · Edit · Delete
You, توفيق إدي برينو and 10 others like this.
Aryanto Pratowo HIDUP...GARUDA....!!
Dec 29, 2010 · Like · Remove
Hey Kau ... !!!
Balikpapan, September Rain.
Hey Kau !!!
Tahukah kau apa yang kupikirkan saat ini ?
Apapun itu, semuanya adalah tentang kamu !
Ya kamu ! Semuanya hanya kamu !
Tak tahukah kamu atau tidak mau tahukah kamu ?
Tahukah kau apa yang kurasakan saat ini ?
Sakit ! Karena aku tidak tahu kabarmu hari ini.
Kangen ! Karena cukup lama kita tidak bersua.
Pilu ! Karena aku tak tahu apa yang kau rasakan padaku.
Tahukah kau bahwa hanya kau yang kuharapkan ?
Orang pertama yang ingin kulihat ketika membuka mata di pagi hari.
Orang pertama yang menanyakan kabarku hari ini.
Namun orang terakhir yang ingin kulihat di malam menjelang tidurku.
Kau ! Kau ! Dan kau ! Kau lagi !
Dan malam ini, lagi-lagi aku merasakan rindu padamu.
Ingin berada di sampingmu, selalu dengan kamu.
Tak perduli bagaimana kondisimu, yang kumau hanya kamu.
Ketika kau mulai ingat untuk menanyakan kabarku.
Ketika kau mulai rindu untuk bertemu denganku.
Ketika kau mulai merasakan hal yang sama denganku.
Aku masih di sini menunggu, hanya untukmu.
Hey Kau !!!
Tahukah kau apa yang kupikirkan saat ini ?
Apapun itu, semuanya adalah tentang kamu !
Ya kamu ! Semuanya hanya kamu !
Tak tahukah kamu atau tidak mau tahukah kamu ?
Tahukah kau apa yang kurasakan saat ini ?
Sakit ! Karena aku tidak tahu kabarmu hari ini.
Kangen ! Karena cukup lama kita tidak bersua.
Pilu ! Karena aku tak tahu apa yang kau rasakan padaku.
Tahukah kau bahwa hanya kau yang kuharapkan ?
Orang pertama yang ingin kulihat ketika membuka mata di pagi hari.
Orang pertama yang menanyakan kabarku hari ini.
Namun orang terakhir yang ingin kulihat di malam menjelang tidurku.
Kau ! Kau ! Dan kau ! Kau lagi !
Dan malam ini, lagi-lagi aku merasakan rindu padamu.
Ingin berada di sampingmu, selalu dengan kamu.
Tak perduli bagaimana kondisimu, yang kumau hanya kamu.
Ketika kau mulai ingat untuk menanyakan kabarku.
Ketika kau mulai rindu untuk bertemu denganku.
Ketika kau mulai merasakan hal yang sama denganku.
Aku masih di sini menunggu, hanya untukmu.
Kamis, September 01, 2011
Jangan marah padaku, Sahabat.
Dear sahabat,
Jangan marah padaku ...
Diammu membuat pilu hatiku
Cuekmu membuat gelisah hatiku
Hilangmu membuat resah hatiku
Jangan marah padaku ...
Ketika aku menolak berdua denganmu
Ketika aku tak membalas pesanmu
Ketika aku mengabaikan telpon masuk darimu
Jangan marah padaku ...
Karena aku adalah sahabatmu
Tempatmu berbagi suka dan duka
Aku sayang kamu
Jangan marah padaku ...
Bukan karena aku tak menginginkanmu
Bukan karena aku tak menyukaimu
Bukan karena aku benci padamu
Jangan marah padaku, Sahabatku ...
Sampai kapanpun aku adalah sahabatmu
Walau cintaku bukan untukmu
Tapi posisimu tak tergantikan
Maaf karena kebersamaan ini menyakitkanmu
Jangan marah padaku ...
Diammu membuat pilu hatiku
Cuekmu membuat gelisah hatiku
Hilangmu membuat resah hatiku
Jangan marah padaku ...
Ketika aku menolak berdua denganmu
Ketika aku tak membalas pesanmu
Ketika aku mengabaikan telpon masuk darimu
Jangan marah padaku ...
Karena aku adalah sahabatmu
Tempatmu berbagi suka dan duka
Aku sayang kamu
Jangan marah padaku ...
Bukan karena aku tak menginginkanmu
Bukan karena aku tak menyukaimu
Bukan karena aku benci padamu
Jangan marah padaku, Sahabatku ...
Sampai kapanpun aku adalah sahabatmu
Walau cintaku bukan untukmu
Tapi posisimu tak tergantikan
Maaf karena kebersamaan ini menyakitkanmu
Senin, Agustus 29, 2011
Fang Fang
Membaca judul di atas pasti kalian sudah menduga kalau judul itu menggunakan nama seseorang. Yah, namanya Fang Fang, perempuan keturunan Tiong Hoa campur Jawa, dan marganya adalah Tang, sama dengan saya. Secara langsung saya belum pernah bertemu dengannya, mungkin ketika kecil dulu pernah dan itupun saya sudah lupa tampangnya seperti apa, namun dalam hal hubungan darah, kami cukup dekat karena ia adalah anak dari kakak laki-laki papa saya, dengan artian kalau ia adalah sepupu sekali saya.
Saya memanggil Oom saya itu dengan sebutan Apek, ia sudah almarhum sejak beberapa tahun yang lalu. Apek menikah beberapa kali, anak Apek yang paling dekat dengan saya adalah koko Ahok, karena ia sudah ikut dengan keluarga saya sejak baru lulus SMP. Ibu kandung koko Ahok adalah wanita Batak yang tinggal di daerah Sibolga. Kemudian Apek ada beberapa kali menikah; ada dengan wanita India, Jawa, dan juga sesama Chinese. Nah, Fang Fang adalah anak kedua dari seorang wanita Jawa yang dinikahi oleh Apek.
Baru-baru ini Fang Fang ada menghubungi papa saya, mengabari kalau ia sekarang berada di kawasan transmigran di Kalimantan Tengah mengikuti suaminya, ia mengetahui nomor HP papa pasti dari la'ko (kakak perempuan papa yang berada di Jakarta). Sewaktu saya dan mami berlibur ke Jakarta, kami sempat bertemu dengan chi-chi Amey di rumahnya di daerah Muara Karang, ia adalah salah seorang anak la'ko, dan mengalirlah cerita dari mulutnya kalau Fang Fang sempat tinggal di rumahnya, dan mau dikursuskan salon agar bisa membantu chi-chi Amey di salon miliknya, tapi Fang Fang selalu lari ke dapur untuk mencuci piring. Kemudian chi-chi Risa, kakak sepupu saya juga, diceritakan oleh chi-chi Amey, sempat mau mengajak Fang Fang untuk tinggal bersamanya di Australia dan dijodohkan dengan bule Aussie, Fang Fang menolak dengan tegas.
Fang Fang jatuh hati dengan seorang buruh bangunan yang ketika itu bekerja pada tetangga chi-chi Amey, lalu mereka pun menikah. Chi-chi Amey tak habis pikir akan jalan yang dipilih oleh Fang Fang. Tapi kalau cinta sudah berbicara, pertanyaan seperti apapun tak akan ada jawabannya.
Kembali pada Fang Fang, dia berbicara dengan papa melalui telepon seperti sudah lama mengenal papa, sempat saya menguping pembicaraan mereka, terdengar akrab. Fang Fang merayakan lebaran juga sama seperti kami, namun ia merayakan lebaran sehari sebelum kami yaitu pada tanggal 30 Agustus 2011. Kemudian papa mengenalkan Fang Fang pada mami, ia juga menanyakan kabarku pada mami, dan ia menangis pada mami. Ia bercerita pada mami kalau ia hanya lulusan SD, ia berkata ingin seperti saya yang bisa sekolah tinggi sehingga bisa bekerja di bank. Apek memang semasa hidupnya kurang memperhatikan anak-anaknya, oleh karena itulah koko Ahok dulu tinggal bersama kami agar bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Apa daya, Fang Fang luput dari kami, karena ketika Apek meninggal dunia, kami pun sedang mengalami krisis moneter. Semoga alm Apek tidak merasa terganggu dengan diceritakannya kisah ini.
Fang Fang cerita tentang kondisi dirinya yang hanya menghidupi diri dengan bertani, ia sudah memiliki seorang putri, dan di musim kemarau ini, ia harus setengah mati menggarap sawahnya. Ibunya sedang sakit dan masuk rumah sakit di Jawa, sedangkan kakak lelakinya tidak begitu peduli. Kakak lelakinya itu memang sempat terkena kasus pencurian di rumah seorang kerabat kami juga di Jakarta.
Hati saya terenyuh juga mendengar kisahnya. Saya belum sempat bertemu dengannya, namun saya sudah merasa cukup dekat dengannya. Sebagai wanita dewasa yang sudah wajib zakat, saya merasa alangkah baiknya jika penerimanya itu adalah dia, dan ketika saya menelponnya untuk memastikan apakah kiriman saya sudah sampai atau belum, ia terdengar seperti wanita yang santun, walau pendidikannya tidak memadai. Dan jika suatu saat saya mendapat rezeki yang lebih lagi, saya sudah tahu harus membaginya pada siapa. Tetap menjadi wanita yang kuat ya ... saudariku Fang Fang ...
Saya memanggil Oom saya itu dengan sebutan Apek, ia sudah almarhum sejak beberapa tahun yang lalu. Apek menikah beberapa kali, anak Apek yang paling dekat dengan saya adalah koko Ahok, karena ia sudah ikut dengan keluarga saya sejak baru lulus SMP. Ibu kandung koko Ahok adalah wanita Batak yang tinggal di daerah Sibolga. Kemudian Apek ada beberapa kali menikah; ada dengan wanita India, Jawa, dan juga sesama Chinese. Nah, Fang Fang adalah anak kedua dari seorang wanita Jawa yang dinikahi oleh Apek.
Baru-baru ini Fang Fang ada menghubungi papa saya, mengabari kalau ia sekarang berada di kawasan transmigran di Kalimantan Tengah mengikuti suaminya, ia mengetahui nomor HP papa pasti dari la'ko (kakak perempuan papa yang berada di Jakarta). Sewaktu saya dan mami berlibur ke Jakarta, kami sempat bertemu dengan chi-chi Amey di rumahnya di daerah Muara Karang, ia adalah salah seorang anak la'ko, dan mengalirlah cerita dari mulutnya kalau Fang Fang sempat tinggal di rumahnya, dan mau dikursuskan salon agar bisa membantu chi-chi Amey di salon miliknya, tapi Fang Fang selalu lari ke dapur untuk mencuci piring. Kemudian chi-chi Risa, kakak sepupu saya juga, diceritakan oleh chi-chi Amey, sempat mau mengajak Fang Fang untuk tinggal bersamanya di Australia dan dijodohkan dengan bule Aussie, Fang Fang menolak dengan tegas.
Fang Fang jatuh hati dengan seorang buruh bangunan yang ketika itu bekerja pada tetangga chi-chi Amey, lalu mereka pun menikah. Chi-chi Amey tak habis pikir akan jalan yang dipilih oleh Fang Fang. Tapi kalau cinta sudah berbicara, pertanyaan seperti apapun tak akan ada jawabannya.
Kembali pada Fang Fang, dia berbicara dengan papa melalui telepon seperti sudah lama mengenal papa, sempat saya menguping pembicaraan mereka, terdengar akrab. Fang Fang merayakan lebaran juga sama seperti kami, namun ia merayakan lebaran sehari sebelum kami yaitu pada tanggal 30 Agustus 2011. Kemudian papa mengenalkan Fang Fang pada mami, ia juga menanyakan kabarku pada mami, dan ia menangis pada mami. Ia bercerita pada mami kalau ia hanya lulusan SD, ia berkata ingin seperti saya yang bisa sekolah tinggi sehingga bisa bekerja di bank. Apek memang semasa hidupnya kurang memperhatikan anak-anaknya, oleh karena itulah koko Ahok dulu tinggal bersama kami agar bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Apa daya, Fang Fang luput dari kami, karena ketika Apek meninggal dunia, kami pun sedang mengalami krisis moneter. Semoga alm Apek tidak merasa terganggu dengan diceritakannya kisah ini.
Fang Fang cerita tentang kondisi dirinya yang hanya menghidupi diri dengan bertani, ia sudah memiliki seorang putri, dan di musim kemarau ini, ia harus setengah mati menggarap sawahnya. Ibunya sedang sakit dan masuk rumah sakit di Jawa, sedangkan kakak lelakinya tidak begitu peduli. Kakak lelakinya itu memang sempat terkena kasus pencurian di rumah seorang kerabat kami juga di Jakarta.
Hati saya terenyuh juga mendengar kisahnya. Saya belum sempat bertemu dengannya, namun saya sudah merasa cukup dekat dengannya. Sebagai wanita dewasa yang sudah wajib zakat, saya merasa alangkah baiknya jika penerimanya itu adalah dia, dan ketika saya menelponnya untuk memastikan apakah kiriman saya sudah sampai atau belum, ia terdengar seperti wanita yang santun, walau pendidikannya tidak memadai. Dan jika suatu saat saya mendapat rezeki yang lebih lagi, saya sudah tahu harus membaginya pada siapa. Tetap menjadi wanita yang kuat ya ... saudariku Fang Fang ...
Minggu, Agustus 28, 2011
Oom korannya Oom ...
Sibuk jungkir balik mencari remote televisi di kamar saya, mulai menyelidik ke seluruh ruangan sampai guling-guling di tempat tidur (untuk merasakan ada atau tidaknya benda di balik springbed yang cukup tebal), dan kemudian malah menemukannya terselip di belakang laptop yang sedang saya gunakan untuk menulis blog saat ini.
Niat meneruskan menonton acara Mario Teguh Golden Ways yang sempat saya tonton sebentar di ruang keluarga, dan kebetulan memang acara favorite saya dan keluarga, setelah menekan tombol power dan mengganti-ganti channel guna mencari channel Metro TV, saya malah berhenti menekan remote ketika melihat sekilas acara religi yang ditayangkan oleh trans TV.
Tak terlalu mengerti mula cerita, yang saya lihat hanya seorang pemuda yang nampak terburu-buru untuk pergi solat Ied, entah karena telat bangun atau apa, yang jelas ia tampak sangat kewalahan mencari atributnya (peci) untuk pergi solat. Di tengah jalan ia bertemu dengan seorang bocah berusia sekitar 13 tahunan berkulit hitam legam dan berambut keriting (lihat perawakannya seperti orang dari daerah Timur Indonesia) sambil membawa koran.
Bocah lelaki itu sibuk mencegat pemuda yang sedang terburu-buru tadi sambil menawarkan korannya, "Oom, korannya Oom.". Pemuda itu menjawab dengan jutek, "Tidak, saya sedang terburu-buru.". Si bocah masih keukeuh mengikuti pemuda itu sambil menyodor-nyodorkan korannya, "Oom, korannya Oom.". Melihat si bocah terus berada di sekitarnya sehingga membatasi ruang geraknya yang sedang ingin segera sampai ke tujuan, pemuda tadi murka dan membentak si bocah, kemudian meninggalkan si bocah yang masih menyodorkan korannya.
Sesampainya di lokasi solat Ied, si pemuda baru sadar kalau ia lupa membawa sajadah. Tiba-tiba di belakangnya sudah ada bocah berkulit hitam tadi sambil menyodorkan korannya kembali, "Oom, korannya Oom.". Pemuda itu sudah siap membentak lagi hingga kemudian terdiam ketika si bocah membentangkan korannya di lantai, lalu berkata, "Dengan koran ini, Oom bisa melaksanakan solat Ied. Silakan Oom.".
Si pemuda tertegun sejenak namun kemudian bertindak sesuai perkataan si bocah. Sementara bocah itu terus mengamati jamaah solat Ied sambil tersenyum dari belakang. Seusai solat Ied, jamaah saling bersalam-salaman lalu bubaran, si bocah memunguti koran-koran bekas yang digunakan untuk para jamaah solat barusan. Si pemuda menghampiri si bocah lalu meminta maaf, "Maaf ya, saya pikir tadi kamu jualan koran.". Bocah itu tersenyum, "Tidak apa Oom.". "Oh iya, kamu suka opor nggak?", tanya si pemuda itu yang kemudian diiringi dengan anggukan dan senyuman manis si bocah. "Kalau begitu, habis ini kamu ke rumah saya ya, kita makan opor. Sini saya bantu kamu.", kata pemuda itu pada akhirnya sambil membantu si bocah memunguti koran.
Cerita ringan itu membuat air mata saya mengalir tanpa saya sadari. Bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru saya melihat akhir yang begitu indahnya. Ketika memiliki awal yang buruk, alangkah baiknya jika berakhir dengan tanpa dendam dan saling memaafkan. Dan kalimat bocah itu, masih membayangi saya hingga blog ini saya tulis, "Oom, korannya Oom.". Karena kalimat itu diucapkan berdasarkan dari hati yang tulus ikhlas.
Niat meneruskan menonton acara Mario Teguh Golden Ways yang sempat saya tonton sebentar di ruang keluarga, dan kebetulan memang acara favorite saya dan keluarga, setelah menekan tombol power dan mengganti-ganti channel guna mencari channel Metro TV, saya malah berhenti menekan remote ketika melihat sekilas acara religi yang ditayangkan oleh trans TV.
Tak terlalu mengerti mula cerita, yang saya lihat hanya seorang pemuda yang nampak terburu-buru untuk pergi solat Ied, entah karena telat bangun atau apa, yang jelas ia tampak sangat kewalahan mencari atributnya (peci) untuk pergi solat. Di tengah jalan ia bertemu dengan seorang bocah berusia sekitar 13 tahunan berkulit hitam legam dan berambut keriting (lihat perawakannya seperti orang dari daerah Timur Indonesia) sambil membawa koran.
Bocah lelaki itu sibuk mencegat pemuda yang sedang terburu-buru tadi sambil menawarkan korannya, "Oom, korannya Oom.". Pemuda itu menjawab dengan jutek, "Tidak, saya sedang terburu-buru.". Si bocah masih keukeuh mengikuti pemuda itu sambil menyodor-nyodorkan korannya, "Oom, korannya Oom.". Melihat si bocah terus berada di sekitarnya sehingga membatasi ruang geraknya yang sedang ingin segera sampai ke tujuan, pemuda tadi murka dan membentak si bocah, kemudian meninggalkan si bocah yang masih menyodorkan korannya.
Sesampainya di lokasi solat Ied, si pemuda baru sadar kalau ia lupa membawa sajadah. Tiba-tiba di belakangnya sudah ada bocah berkulit hitam tadi sambil menyodorkan korannya kembali, "Oom, korannya Oom.". Pemuda itu sudah siap membentak lagi hingga kemudian terdiam ketika si bocah membentangkan korannya di lantai, lalu berkata, "Dengan koran ini, Oom bisa melaksanakan solat Ied. Silakan Oom.".
Si pemuda tertegun sejenak namun kemudian bertindak sesuai perkataan si bocah. Sementara bocah itu terus mengamati jamaah solat Ied sambil tersenyum dari belakang. Seusai solat Ied, jamaah saling bersalam-salaman lalu bubaran, si bocah memunguti koran-koran bekas yang digunakan untuk para jamaah solat barusan. Si pemuda menghampiri si bocah lalu meminta maaf, "Maaf ya, saya pikir tadi kamu jualan koran.". Bocah itu tersenyum, "Tidak apa Oom.". "Oh iya, kamu suka opor nggak?", tanya si pemuda itu yang kemudian diiringi dengan anggukan dan senyuman manis si bocah. "Kalau begitu, habis ini kamu ke rumah saya ya, kita makan opor. Sini saya bantu kamu.", kata pemuda itu pada akhirnya sambil membantu si bocah memunguti koran.
Cerita ringan itu membuat air mata saya mengalir tanpa saya sadari. Bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru saya melihat akhir yang begitu indahnya. Ketika memiliki awal yang buruk, alangkah baiknya jika berakhir dengan tanpa dendam dan saling memaafkan. Dan kalimat bocah itu, masih membayangi saya hingga blog ini saya tulis, "Oom, korannya Oom.". Karena kalimat itu diucapkan berdasarkan dari hati yang tulus ikhlas.
Langganan:
Postingan (Atom)






















