Bangunan mini berdinding cet warna cream, beratap seng warna merah, dengan teras yang cukup luas dan teduh di tengah panasnya matahari jam 12 siang di Kota Balikpapan. Saya membayangkan seorang pria berusia hampir 70 tahun sedang membaca koran di teras itu, seorang wanita yang berusia lebih muda sedikit darinya sedang mengobrol di depan televisi bersama seorang wanita berusia sekitar 30an tahun, dan seorang gadis remaja sedang menonton DVD kesayangannya seputar kehidupan remaja Korea masa kini di dalam kamarnya. Sementara seorang wanita tua yang terlihat pucat sedang tidur pulas di dalam kamarnya. Sebuah rumah adalah tempat berlindung dan berkumpul sebuah keluarga. Saya yang sedang asyik bersama 'Cherry', laptop kesayangan saya, sambil sesekali menengok ke arah jendela kamar saya yang tirainya sudah sengaja saya singkap agar saya bisa leluasa mengamati segala sesuatunya.
Saya bisa menggambarkan kondisi keluarga yang berada di dalam rumah mungil itu karena, itu adalah rumah kakek saya, dimana di dalamnya terdiri dari kakek, nenek, tante Nelly, adik sepupu saya si Lini, dan juga nenek kecil saya (panggilan kepada kakak perempuannya nenek) yang memang sedang sakit.
Beralih pada pepohonan yang hijau, membuat hati dan pikiran menjadi sejuk, walau mentari memancarkan cahaya dengan sangat terang membuat peluh pada dahi seseorang tak berhenti mengalir. Pandangan saya tertuju pada pohon pisang yang berada di sudut lapangan di samping rumah nenek. Hijau dan lembut daunnya pasti membuat ulat betah meliuk-liuk di dedaunnya, mencari tempat yang pas untuk membuat sarangnya menyerupai gumpalan kapas dan bergelantungan dengan nyamannya (kepompong), kemudian yang lainnya sudah terbangun dari tidur panjang dan mengepakkan sayapnya yang indah berwarna-warni (kupu-kupu), terbang ke sana ke mari.
Mobil-mobil yang terparkir di lapangan itu seakan teriak kepanasan, merasa lembab dan tak dapat bernapas dengan lapang. Mobil-mobil itu adalah milik beberapa anak kos yang tinggal di rumah saya dan milik orang yang ngontrak rumahnya tante Renny yang lokasinya juga tak jauh dari rumah saya. Ia pasti sudah teriak memanggil-manggil si empunya, "Furqan, engkau puasa berteduh di dalam rumah, bagaimana denganku?", yang lainnya kemudian menyusul dengan keluhannya juga, "Pak Supiyan...bisakah aku ikut tidur bersamamu di kamar ber - AC itu?"
Semakin dekat dengan rumah saya, saya memandang pohon kedondong dengan buahnya yang masih berwarna hijau terang bergelantungan, sementara yang sudah kering berjatuhan di sekitarnya. Di sampingnya berdiri tegak pohon sirsak yang tidak begitu tinggi, dan sangat jarang berbuah.
Mayang, si belang tiga, kucing tercantik di kampung ini tengah mengendap-endap di rerumputan, tampak ia menggendong bayinya dengan moncongnya, entah kemana lagi akan dia bawa bayi-bayinya setelah seminggu berada di teras rumah kami.
Banyak sekali yang bisa dilihat dari jendela kamar saya ini, dan saya lukiskan dengan pikiran saya sendiri, kemudian saya tuangkan dalam bentuk tulisan di blog, hingga kalian yang berkunjung dapat ikut menikmati hasil pandangan dan bayangan saya ini.
Saya sendiri di dalam kamar, bertemankan laptop bernama Cherry, dan pemandangan yang terlihat dari jendela kamar saya sedikit menyingkirkan rasa jenuh dan kesepian dari diri saya. Melihat Mas Rajab dengan wajah lelahnya memarkir taxy bandara, tempat ia mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istrinya, melihat seorang ibu yang keberatan membawa barang belanjaan atau apa entahlah, kemudian sang ànak yang masih sangat belia membantunya, melihat seorang pria paruh baya yang lari tergopoh-gopóh di jalanan turun di samping rumah saya tersebut, dan masih banyak orang yang bisa saya amati.
Jendela kamar saya sesungguhnya adalah potret kehidupan saya. Terlihat sangat tenang, namun banyak cerita di dalamnya.
Luapan perasaanku, yang tak dapat aku ungkapkan kepada siapapun, yang tak mampu terpuaskan dengan kata-kata, terkadang ada kata yang terlupa jika secara lisan, kutuangkan dalam bentuk tulisan. Walaupun siapapun bisa saja berkunjung di blog ini, namun semua yang kuungkapkan di sini adalah sebuah 'kejujuran', karena 'rasa' memang tak dapat berbohong.
Minggu, Agustus 07, 2011
Sabtu, Agustus 06, 2011
Menemukan jawaban takdir dan berharap tetap 'MANIS'
Bertemu dengan setiap orang tanpa direncanakan terlebih dahulu bagi saya adalah suatu takdir. Bertemu, kemudian berkenalan dan menjalin suatu hubungan, hubungan kekeluargaan, persahabatan bahkan percintaan. Ketika saya dilahirkan di muka bumi ini, itulah takdir saya menjadi bagian dari anggota keluarga saya saat ini, menjadi seorang anak, seorang kakak, seorang adik, seorang ponakkan, seorang cucu, dan lainnya. Kemudian ketika saya bertemu dengan pria, kakak kelas di kampus yang berbeda jurusan dengan saya, kemudian menjalin hubungan kasih, bagi saya itu juga merupakan sebuah takdir. Walau akhirnya hubungan itu harus berakhir dengan adanya 'perbedaan' yang bersifat prinsip di antara kami, saya tak akan pernah menyesali takdir yang sudah terjadi.
Takdir pula yang mempertemukan saya dengan kekasih saya yang berikutnya, berawal dari pertemuan awal mengenal kampus, satu indekos, kemudian menjadi teman, bahkan menjadi musuh karena sesuatu hal, kemudian menjadi sepasang kekasih yang akhirnya dipisahkan oleh jarak. Takdir pula yang membuat nomor XL saya (0819) dengan nomor belakang 5566 hangus terbakar, sedangkan pasangannya (5544) yang dipegang oleh kekasih saya itu masih bertahan hingga saat ini. Nomor yang lainnya yang juga kembar dengannya adalah nomor As (0852), dengan nomor belakang 555 dan 888. Nomor As yang 555 masih bertahan hingga saat ini, saya bahkan menggunakannya di BB saya, sedangkan beberapa bulan yang lalu saya mendapat kabar dari kekasih saya itu (mantan pacar saya), nomor 888 yang ia pegang sudah hangus terbakar. Takdir yang berbicara, takdir yang memutuskan bahwa tak akan ada alasan lagi kepada kami untuk saling mengenang satu sama lain.
Takdir banyak berbicara dalam kehidupan saya, sesungguhnya sih dalam kehidupan setiap orang, namun karena saya seorang yang sangat sensitif, maka saya merasa bahwa 'takdir' sangat berarti bagi saya. Takdir membuat orang silih berganti datang dalam kehidupan saya. Seorang pemuda yang mungkin diimpikan setiap wanita; kaya, cukup tampan, berpendidikan tinggi, anak dari orang terkenal, ... memutuskan untuk berkenalan dengan saya dan menginginkan suatu hubungan spesial. Seorang kawan masa kecil yang terpisah belasan tahun, dipertemukan kembali di social web, kemudian menjadi dekat dan salah seorang dari mereka merasakan perasaan yang berbeda, bukan lagi persahabatan melainkan percintaan, bagi saya semua itu adalah takdir.
Takdir berikutnya juga sedang berbicara pada saya. Seorang pria yang baru sekitar tiga bulan dekat dengan saya juga, berawal dari munculnya BB contact yang tdk saya kenal di BB saya, kemudian saling BBM-an, jalan bareng, dan saling bercerita tentang segala hal pada saya. Sesuatu yang mengejutkan, istrinya teman kecil saya adalah teman kecilnya juga. Beberapa teman kecil saya adalah kawan-kawannya ketika ia beranjak dewasa. Dan yang terakhir adalah nomor As yang ia gunakan bernomor belakang 666, dan nomor As saya adalah 555 !!!!
Kalau dulu saya dan kekasih saya memang berjanji untuk menggunakan nomor yang kembar, dengan alasan supaya berpasangan seumur hidup. Tapi dengan pria yang di mata saya saat ini sangat spesial itu, tak pernah ada perjanjian sebelumnya di antara kami untuk menggunakan nomor yang berpasangan. Lagi-lagi takdir ! Dan saya sangat menyukai hal ini.
Sekali lagi saya ingin sekali mendengar jawaban takdir. Baru saja saya BBM mantan saya itu dengan hati berdebar untuk menanyakan mengenai nomor XL-nya itu. Apakah masih aktif ataukah sudah almarhum seperti nomor XL saya. Dan, sekali lagi saya mendengar jawaban takdir !
Nomor XLnya sudah hangus, dalam artian nomor XL 'pasangan' ala kami sudah tidak ada, dan nomor As saya menemukan pasangan baru. Saya sangat menyukai kebetulan ini. Thanks God atas takdir yang begitu manisnya. (Buat yang baru mampir di blog saya ini, harap jangan merasa 'lebay' ketika membaca tulisan saya kali ini, seorang penulis pasti menyukai hal-hal yang berbau seni, apalagi seni dalam berkata-kata yang bagi sebagian orang adalah hal yang 'lebay'. Heheheee.)
Seandainya saja perjalanan jodoh saya bisa semanis takdir yang sudah sangat dalam saya rasakan. Jodoh dimana kedua orang yang dipertemukan oleh takdir, kemudian saling jatuh cinta, berakhir di pelaminan dan memiliki anak-anak yang lucu. Saya sudah banyak sekali menemukan jawaban takdir, tapi untuk takdir akan jodoh saya, saya masih terus berharap, berharap menjadi seperti yang saya mau (#^___^#). Karena saya sangat menyukai takdir yang sedang terjadi pada saya saat ini, saya sangat menginginkan takdir kali ini juga akan memberi jawaban akan 'jodoh' saya. Let's sing a song, "Tetap kumau, kau sebagai...kaaasihkuuu...", Melly Goeslow mode on.
Takdir pula yang mempertemukan saya dengan kekasih saya yang berikutnya, berawal dari pertemuan awal mengenal kampus, satu indekos, kemudian menjadi teman, bahkan menjadi musuh karena sesuatu hal, kemudian menjadi sepasang kekasih yang akhirnya dipisahkan oleh jarak. Takdir pula yang membuat nomor XL saya (0819) dengan nomor belakang 5566 hangus terbakar, sedangkan pasangannya (5544) yang dipegang oleh kekasih saya itu masih bertahan hingga saat ini. Nomor yang lainnya yang juga kembar dengannya adalah nomor As (0852), dengan nomor belakang 555 dan 888. Nomor As yang 555 masih bertahan hingga saat ini, saya bahkan menggunakannya di BB saya, sedangkan beberapa bulan yang lalu saya mendapat kabar dari kekasih saya itu (mantan pacar saya), nomor 888 yang ia pegang sudah hangus terbakar. Takdir yang berbicara, takdir yang memutuskan bahwa tak akan ada alasan lagi kepada kami untuk saling mengenang satu sama lain.
Takdir banyak berbicara dalam kehidupan saya, sesungguhnya sih dalam kehidupan setiap orang, namun karena saya seorang yang sangat sensitif, maka saya merasa bahwa 'takdir' sangat berarti bagi saya. Takdir membuat orang silih berganti datang dalam kehidupan saya. Seorang pemuda yang mungkin diimpikan setiap wanita; kaya, cukup tampan, berpendidikan tinggi, anak dari orang terkenal, ... memutuskan untuk berkenalan dengan saya dan menginginkan suatu hubungan spesial. Seorang kawan masa kecil yang terpisah belasan tahun, dipertemukan kembali di social web, kemudian menjadi dekat dan salah seorang dari mereka merasakan perasaan yang berbeda, bukan lagi persahabatan melainkan percintaan, bagi saya semua itu adalah takdir.
Takdir berikutnya juga sedang berbicara pada saya. Seorang pria yang baru sekitar tiga bulan dekat dengan saya juga, berawal dari munculnya BB contact yang tdk saya kenal di BB saya, kemudian saling BBM-an, jalan bareng, dan saling bercerita tentang segala hal pada saya. Sesuatu yang mengejutkan, istrinya teman kecil saya adalah teman kecilnya juga. Beberapa teman kecil saya adalah kawan-kawannya ketika ia beranjak dewasa. Dan yang terakhir adalah nomor As yang ia gunakan bernomor belakang 666, dan nomor As saya adalah 555 !!!!
Kalau dulu saya dan kekasih saya memang berjanji untuk menggunakan nomor yang kembar, dengan alasan supaya berpasangan seumur hidup. Tapi dengan pria yang di mata saya saat ini sangat spesial itu, tak pernah ada perjanjian sebelumnya di antara kami untuk menggunakan nomor yang berpasangan. Lagi-lagi takdir ! Dan saya sangat menyukai hal ini.
Sekali lagi saya ingin sekali mendengar jawaban takdir. Baru saja saya BBM mantan saya itu dengan hati berdebar untuk menanyakan mengenai nomor XL-nya itu. Apakah masih aktif ataukah sudah almarhum seperti nomor XL saya. Dan, sekali lagi saya mendengar jawaban takdir !
Nomor XLnya sudah hangus, dalam artian nomor XL 'pasangan' ala kami sudah tidak ada, dan nomor As saya menemukan pasangan baru. Saya sangat menyukai kebetulan ini. Thanks God atas takdir yang begitu manisnya. (Buat yang baru mampir di blog saya ini, harap jangan merasa 'lebay' ketika membaca tulisan saya kali ini, seorang penulis pasti menyukai hal-hal yang berbau seni, apalagi seni dalam berkata-kata yang bagi sebagian orang adalah hal yang 'lebay'. Heheheee.)
Seandainya saja perjalanan jodoh saya bisa semanis takdir yang sudah sangat dalam saya rasakan. Jodoh dimana kedua orang yang dipertemukan oleh takdir, kemudian saling jatuh cinta, berakhir di pelaminan dan memiliki anak-anak yang lucu. Saya sudah banyak sekali menemukan jawaban takdir, tapi untuk takdir akan jodoh saya, saya masih terus berharap, berharap menjadi seperti yang saya mau (#^___^#). Karena saya sangat menyukai takdir yang sedang terjadi pada saya saat ini, saya sangat menginginkan takdir kali ini juga akan memberi jawaban akan 'jodoh' saya. Let's sing a song, "Tetap kumau, kau sebagai...kaaasihkuuu...", Melly Goeslow mode on.
Sabtu, Juli 30, 2011
Mengejar bayangan PRIA PLANET MARS
Aku duduk menatap langit, malam itu kurasakan angin berhembus kencang bertubi-tubi menghantam tubuhku. Tak terlihat bintang, bulan pun hampir tertutup awan. Dinginnya malam ini dan sunyinya jiwa ini, menambah kenistaan diri ini, terisolasi dari kumpulan riuh tawa kebahagiaan.
Sayup kudengar nyanyian pilu hati ini, "Gelap...gelap...aku ingin keluar dari tempat ini...aku takut, aku benci gelap dan sendiri...aku ingin pergi keluar, mencari hati yang lain, agar satu jiwa menjadi utuh...keluarkan aku dari sini...tolong...tolong...sebelum penderitaan ini semakin dalam kurasakan...sebelum nafas cinta pergi membuatku tak bernyawa lagi...tolong aku...tolong aku..."
Malam semakin larut, kurasakan tulang rusukku ngilu tak sanggup lagi menahan dinginnya malam, aku masuk ke dalam rumah, membuat secangkir kopi susu hangat dan mengambil jaketku. Masih beratapkan langit tanpa bintang, tubuhku sedikit lebih hangat walau hatiku mulai beku. Perlahan kuminum kopi yang sudah aku buat itu, demi menghangatkan bagian dalam tubuh ini, mencairkan es yang menutup jantung hatiku.
Kali ini aku mendengar nyanyian sunyi jiwaku, "Dimana kau yang sempat menjadi pelengkapku, bagian dariku. Aku tak dapat bertahan tanpa bagian yang lain. Tanpamu aku hanya sebagian hal yang tak berarti, tak dapat menghidupkan hati yang sudah beku. Bahkan air kesedihan tak mau keluar dari tatapan mata yang hampa. Kemana kau belahanku. Datang padaku, hangatkan hati tuanku, teteskan air mata harunya, ciptakan senyum di bibirnya, agar aku menjadi lebih berarti baginya."
Aku tersentak ketika melihat rintik hujan mulai membasahi balkon kamarku. Sekali lagi aku pandangi handphone-ku, masih sama, sunyi tak menandakan akan ada pesan ataupun telpon masuk. Aku meneguk kopiku hingga habis tak bersisa. Aku membawa Handphone-ku dan bersiap masuk ke dalam kamar, namun belum sempat terlaksana, ia bersenandung menandakan bahwa ada pesan yang sedang mendesak untuk aku baca. Tertulis pada layar, "Maaf.". Nama pengirim: Pria planet MARS.
Aku melepas jaketku, kurentangkan tangan di pinggir pagar, membiarkan hujan membasahi tubuhku, kurasakan hati ini panas, air mata mengalir membasahi wajahku dan hujan menjadi penyempurna basah itu, kesakitan itu, kekecewaan yang bisa terluapkan oleh jatuhnya air mata di pipi. Janji yang diucapkan, ingkar yang yang sudah telanjur terjadi, kata 'maaf' yang sangat mudah terucap setelah penantian tanpa penjelasan. Aku tak dapat mengerti apa yang telah terjadi dan apa yang sedang terjadi pada diriku, yang aku tahu, cinta ini membuat aku selalu menerima kata 'Maaf' itu, baik puluhan kali, ratusan kali, ribuan kali, bahkan jutaan kali. Khusus buat 'PRIA PLANET MARS'.
Sayup kudengar nyanyian pilu hati ini, "Gelap...gelap...aku ingin keluar dari tempat ini...aku takut, aku benci gelap dan sendiri...aku ingin pergi keluar, mencari hati yang lain, agar satu jiwa menjadi utuh...keluarkan aku dari sini...tolong...tolong...sebelum penderitaan ini semakin dalam kurasakan...sebelum nafas cinta pergi membuatku tak bernyawa lagi...tolong aku...tolong aku..."
Malam semakin larut, kurasakan tulang rusukku ngilu tak sanggup lagi menahan dinginnya malam, aku masuk ke dalam rumah, membuat secangkir kopi susu hangat dan mengambil jaketku. Masih beratapkan langit tanpa bintang, tubuhku sedikit lebih hangat walau hatiku mulai beku. Perlahan kuminum kopi yang sudah aku buat itu, demi menghangatkan bagian dalam tubuh ini, mencairkan es yang menutup jantung hatiku.
Kali ini aku mendengar nyanyian sunyi jiwaku, "Dimana kau yang sempat menjadi pelengkapku, bagian dariku. Aku tak dapat bertahan tanpa bagian yang lain. Tanpamu aku hanya sebagian hal yang tak berarti, tak dapat menghidupkan hati yang sudah beku. Bahkan air kesedihan tak mau keluar dari tatapan mata yang hampa. Kemana kau belahanku. Datang padaku, hangatkan hati tuanku, teteskan air mata harunya, ciptakan senyum di bibirnya, agar aku menjadi lebih berarti baginya."
Aku tersentak ketika melihat rintik hujan mulai membasahi balkon kamarku. Sekali lagi aku pandangi handphone-ku, masih sama, sunyi tak menandakan akan ada pesan ataupun telpon masuk. Aku meneguk kopiku hingga habis tak bersisa. Aku membawa Handphone-ku dan bersiap masuk ke dalam kamar, namun belum sempat terlaksana, ia bersenandung menandakan bahwa ada pesan yang sedang mendesak untuk aku baca. Tertulis pada layar, "Maaf.". Nama pengirim: Pria planet MARS.
Aku melepas jaketku, kurentangkan tangan di pinggir pagar, membiarkan hujan membasahi tubuhku, kurasakan hati ini panas, air mata mengalir membasahi wajahku dan hujan menjadi penyempurna basah itu, kesakitan itu, kekecewaan yang bisa terluapkan oleh jatuhnya air mata di pipi. Janji yang diucapkan, ingkar yang yang sudah telanjur terjadi, kata 'maaf' yang sangat mudah terucap setelah penantian tanpa penjelasan. Aku tak dapat mengerti apa yang telah terjadi dan apa yang sedang terjadi pada diriku, yang aku tahu, cinta ini membuat aku selalu menerima kata 'Maaf' itu, baik puluhan kali, ratusan kali, ribuan kali, bahkan jutaan kali. Khusus buat 'PRIA PLANET MARS'.
Ijinkan aku menangis (Tuhan)
Tuhan ...
Bolehkah aku menangis malam ini ?
Ketika aku baru saja merasa bahagia
Kebahagiaan tak ingin tetap bersamaku
Ia pergi meninggalkan duka khusus untukku
Tuhan ...
Ketika air mataku mulai menetes
Kebahagiaan menghampiri dan menghapusnya
Ketika bibirku mulai tersenyum
Ia menikam jantung hatiku membuat luka yang sangat dalam
Tuhan ...
Dapatkah aku menangis tanpa ijinMu?
Aku ingin bersembunyi dan menangis
Tak ingin diketahui oleh mereka
Tak ingin diketahui olehMu
Tuhan ...
Ingin kurengkuh kebahagiaan
Inginku meneteskan air mata
Bukan karena sakit yang kurasakan
Melainkan karena rasa bahagia tak terkira
Tuhan ...
Akhirnya aku dapat menangis
Terima kasih banyak atas ijinMu
Tak memberiku duka kemudian memanjakan sukaku lagi
Namun duka yang kurasakan sangat dalam membuat air mataku tak berhenti mengalir
Yah, ... Malam ini aku berhasil menangis
Menangis karena kebahagiaan yang tak lekat bersamaku
Karena hal yang sudah aku putuskan sendiri
Yaitu melupakan rasa bahagia itu
Terima kasih Tuhan sudah memberiku air mata, dan pada malam ini adalah diriku yang terkuat seumur hidupku
Bolehkah aku menangis malam ini ?
Ketika aku baru saja merasa bahagia
Kebahagiaan tak ingin tetap bersamaku
Ia pergi meninggalkan duka khusus untukku
Tuhan ...
Ketika air mataku mulai menetes
Kebahagiaan menghampiri dan menghapusnya
Ketika bibirku mulai tersenyum
Ia menikam jantung hatiku membuat luka yang sangat dalam
Tuhan ...
Dapatkah aku menangis tanpa ijinMu?
Aku ingin bersembunyi dan menangis
Tak ingin diketahui oleh mereka
Tak ingin diketahui olehMu
Tuhan ...
Ingin kurengkuh kebahagiaan
Inginku meneteskan air mata
Bukan karena sakit yang kurasakan
Melainkan karena rasa bahagia tak terkira
Tuhan ...
Akhirnya aku dapat menangis
Terima kasih banyak atas ijinMu
Tak memberiku duka kemudian memanjakan sukaku lagi
Namun duka yang kurasakan sangat dalam membuat air mataku tak berhenti mengalir
Yah, ... Malam ini aku berhasil menangis
Menangis karena kebahagiaan yang tak lekat bersamaku
Karena hal yang sudah aku putuskan sendiri
Yaitu melupakan rasa bahagia itu
Terima kasih Tuhan sudah memberiku air mata, dan pada malam ini adalah diriku yang terkuat seumur hidupku
Kamis, Desember 23, 2010
Lintasan usia saya ...
Dear my swit diari ...
Sepanjang perjalanan hidup saya sebagai seorang freelance writer, mungkin kalian hanya mengenal Annisa Tang ataupun Tang Annisa I H, tapi tahukah kalian kisah di balik hidup saya? Kemarin tepat tanggal 22 Desember 2010 adalah perayaan hari jadi saya yang ke 27. Merasa beruntung memiliki hari lahir yang dirayakan oleh seluruh wanita di Indonesia, serta menjelang hari raya umat kristiani maupun tahun baru International. Namun yang paling berkesan adalah di balik angka 27 tadi, sudah lebih dari seperempat abad saya berada di dunia, dan saya masih diijinkan untuk melewati hari ini.
Pada hari itu sebelas tahun yang lalu, saya menerima kado yang pertama kali oleh pacar pertama saya. Isinya kaset album la luna dan kaset rekaman lagu2 favorite saya (dan mungkin juga lagu-lagu favorite-nya) dan sebuah jam tangan berwarna biru. Pada hari itu pula sepuluh tahun yang lalu, saya menerima kado boneka panda bertuliskan 'be my valentine' dari seorang lelaki yang mengejar saya sejak pertemuan di kapal yang membawa saya pulang dari berlibur di Bali, seorang anak ustadz yang mengejutkan saya dengan kehadirannya secara tiba-tiba di rumah saya, tentu saja mengagetkan kedua orang tua saya juga, mengingat saat itu usia saya masih 17 tahun. Pada hari itu juga tujuh tahun yang lalu, seorang sahabat karib saya (pada waktu itu), lelaki tentunya, mengejutkan seluruh keluarga saya dengan membawa karangan bunga yang dipersembahkan langsung kepada saya. Pada hari itu enam tahun yang lalu, kekasih hati saya memberikan bantal berbentuk hati berwarna merah muda yang menjadi teman tidur saya di kamar kos, ketika itu saya kuliah di perantauan. Pada hari itu lima tahun yang lalu, kekasih saya yang berikutnya memberi saya memberi boneka sapi yang saya beri nama Pidung, dan tahun berikutnya ia memberi saya boneka Teddy Bear, kemudian pada ulang tahun saya berikutnya, kami sudah tak memiliki hubungan apapun.
Kemarin adalah hari ulang tahun saya. Hanya ada saya, dan keluarga saya. Tak ada pria di sisi saya pada saat itu, sekalipun yang dekat dengan saya. Walau keluarga mengucapkan dengan riuh, tetap ada sesuatu yang hilang dari diri saya. Bahkan rasa cinta atau tertarik pada lelaki pun saya belum ada, dalam artian saya sama sekali tidak mempunyai sasaran yang tepat agar cinta saya dapat menghampiri. Setiap saya menemani mami saya ke pernikahan anak kerabatnya, selalu ditanya, "Kapan nyusulnya?"
Saya hanya bisa tersenyum masem, yang kemudian disusul dengan pertanyaan lainnya, "Masa cantik-cantik belum ada calonnya?"
Sangat spesial di usia saya ke 27 saya masih belum memiliki pacar, apalagi calon suami, namun diijinkan untuk bertemu kembali dengan hari itu, 22 Desember 2010, saya sangat bersyukur sekali, karena saya masih diijinkan oleh yang kuasa untuk menemukan jawaban dari takdir hidup saya. Hidup saya masih akan terus berlanjut sampai Allah SWT memutuskan bahwa 'Inilah akhir dari kisah hidupmu'. Dan sampai saatnya tiba, saya masih memiliki kesempatan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dibisikkan oleh hati saya setiap malam menjelang tidur tiba.
Sepanjang perjalanan hidup saya sebagai seorang freelance writer, mungkin kalian hanya mengenal Annisa Tang ataupun Tang Annisa I H, tapi tahukah kalian kisah di balik hidup saya? Kemarin tepat tanggal 22 Desember 2010 adalah perayaan hari jadi saya yang ke 27. Merasa beruntung memiliki hari lahir yang dirayakan oleh seluruh wanita di Indonesia, serta menjelang hari raya umat kristiani maupun tahun baru International. Namun yang paling berkesan adalah di balik angka 27 tadi, sudah lebih dari seperempat abad saya berada di dunia, dan saya masih diijinkan untuk melewati hari ini.
Pada hari itu sebelas tahun yang lalu, saya menerima kado yang pertama kali oleh pacar pertama saya. Isinya kaset album la luna dan kaset rekaman lagu2 favorite saya (dan mungkin juga lagu-lagu favorite-nya) dan sebuah jam tangan berwarna biru. Pada hari itu pula sepuluh tahun yang lalu, saya menerima kado boneka panda bertuliskan 'be my valentine' dari seorang lelaki yang mengejar saya sejak pertemuan di kapal yang membawa saya pulang dari berlibur di Bali, seorang anak ustadz yang mengejutkan saya dengan kehadirannya secara tiba-tiba di rumah saya, tentu saja mengagetkan kedua orang tua saya juga, mengingat saat itu usia saya masih 17 tahun. Pada hari itu juga tujuh tahun yang lalu, seorang sahabat karib saya (pada waktu itu), lelaki tentunya, mengejutkan seluruh keluarga saya dengan membawa karangan bunga yang dipersembahkan langsung kepada saya. Pada hari itu enam tahun yang lalu, kekasih hati saya memberikan bantal berbentuk hati berwarna merah muda yang menjadi teman tidur saya di kamar kos, ketika itu saya kuliah di perantauan. Pada hari itu lima tahun yang lalu, kekasih saya yang berikutnya memberi saya memberi boneka sapi yang saya beri nama Pidung, dan tahun berikutnya ia memberi saya boneka Teddy Bear, kemudian pada ulang tahun saya berikutnya, kami sudah tak memiliki hubungan apapun.
Kemarin adalah hari ulang tahun saya. Hanya ada saya, dan keluarga saya. Tak ada pria di sisi saya pada saat itu, sekalipun yang dekat dengan saya. Walau keluarga mengucapkan dengan riuh, tetap ada sesuatu yang hilang dari diri saya. Bahkan rasa cinta atau tertarik pada lelaki pun saya belum ada, dalam artian saya sama sekali tidak mempunyai sasaran yang tepat agar cinta saya dapat menghampiri. Setiap saya menemani mami saya ke pernikahan anak kerabatnya, selalu ditanya, "Kapan nyusulnya?"
Saya hanya bisa tersenyum masem, yang kemudian disusul dengan pertanyaan lainnya, "Masa cantik-cantik belum ada calonnya?"
Sangat spesial di usia saya ke 27 saya masih belum memiliki pacar, apalagi calon suami, namun diijinkan untuk bertemu kembali dengan hari itu, 22 Desember 2010, saya sangat bersyukur sekali, karena saya masih diijinkan oleh yang kuasa untuk menemukan jawaban dari takdir hidup saya. Hidup saya masih akan terus berlanjut sampai Allah SWT memutuskan bahwa 'Inilah akhir dari kisah hidupmu'. Dan sampai saatnya tiba, saya masih memiliki kesempatan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dibisikkan oleh hati saya setiap malam menjelang tidur tiba.
Sabtu, November 20, 2010
A Ba Ta Tsa - Neno Warisman (feat. Aulade Gemintang)
Dulu (lebih dari 10 tahun yang lalu) satu album milik Neno Warisman feat. Aulade Gemintang ini menjadi favorite bagi saya. Terutama lagu utamanya yang berjudul "A Ba Ta Tsa". Lagu ini terdengar indah serta mengajarkan dasar-dasar ajaran agama Islam maupun sedikit Bahasa Inggris kepada anak-anak. Entah kemana kaset milik saya itu lenyap (saya sih menduganya pada waktu Izusu Panther kami itu berganti pemilik alias dijual, kaset itu berada di dalamnya, akhir tahun 1998), sesudahnya saya sibuk mencari di toko kaset manapun tetapi sudah tidak saya temukan lagi.
Diminta browsing lagu-lagu lama oleh nyokap, antara lain lagu Farid Hardja yang berjudul "Bercinta Di Udara", lagu jamannya ngebrik (ajang pertemuan dunia maya pemuda-pemudi jaman dahulu kala), saya jadi teringat lagu jaman saya masih kanak-kanak itu juga. Gregetan saya mencoba mencarinya, 'deg' ketika saya berhasil menemukannya. Ternyata masih ada yang punya soft copy-nya alias bisa free download lagu-lagu itu, senang sekali rasanya. Melalui blog ini, saya ingin berbagi juga deh lagu ini, semoga anak-anak jaman sekarang bisa ikut menikmatinya juga (buat para ibu dan bapak, bisa mendengarkannya ke anak-anaknya juga ya?).
Saya harap, akan ada yang kreatif seperti dulu lagi untuk menciptakan lagu anak-anak, apalagi yang sarat ilmu seperti lagu-lagunya Aulade Gemintang. Oh iya, kemana nih Aulade Gemintang sekarang? Yang paling saya ingat sih si kembar itu, soalnya kalo gak salah yang agak gedean pada waktu itu yah mereka berdua. Rindu melihat mereka-mereka lagi.
Heheheee ... boro-boro bakal ada lagu yang kayak beginian lagi, wong sekedar lagu 'bolo-bolo' aja sudah gak ada, kasian deh anak-anak masa kini, dipaksa dengerin lagu-lagu ala 'Surti-Tejo' alias lagu ngeres, upsss... ^_^
Semoga sharring ini bisa bermanfaat buat adik-adik sekalian juga yahhh ... Selamat mendengarkan ... 'Kiss' buat kalian semua ... ^__^ Cup-cup muachhh ...
Dulu (lebih dari 10 tahun yang lalu) satu album milik Neno Warisman feat. Aulade Gemintang ini menjadi favorite bagi saya. Terutama lagu utamanya yang berjudul "A Ba Ta Tsa". Lagu ini terdengar indah serta mengajarkan dasar-dasar ajaran agama Islam maupun sedikit Bahasa Inggris kepada anak-anak. Entah kemana kaset milik saya itu lenyap (saya sih menduganya pada waktu Izusu Panther kami itu berganti pemilik alias dijual, kaset itu berada di dalamnya, akhir tahun 1998), sesudahnya saya sibuk mencari di toko kaset manapun tetapi sudah tidak saya temukan lagi.
Diminta browsing lagu-lagu lama oleh nyokap, antara lain lagu Farid Hardja yang berjudul "Bercinta Di Udara", lagu jamannya ngebrik (ajang pertemuan dunia maya pemuda-pemudi jaman dahulu kala), saya jadi teringat lagu jaman saya masih kanak-kanak itu juga. Gregetan saya mencoba mencarinya, 'deg' ketika saya berhasil menemukannya. Ternyata masih ada yang punya soft copy-nya alias bisa free download lagu-lagu itu, senang sekali rasanya. Melalui blog ini, saya ingin berbagi juga deh lagu ini, semoga anak-anak jaman sekarang bisa ikut menikmatinya juga (buat para ibu dan bapak, bisa mendengarkannya ke anak-anaknya juga ya?).
Saya harap, akan ada yang kreatif seperti dulu lagi untuk menciptakan lagu anak-anak, apalagi yang sarat ilmu seperti lagu-lagunya Aulade Gemintang. Oh iya, kemana nih Aulade Gemintang sekarang? Yang paling saya ingat sih si kembar itu, soalnya kalo gak salah yang agak gedean pada waktu itu yah mereka berdua. Rindu melihat mereka-mereka lagi.
Heheheee ... boro-boro bakal ada lagu yang kayak beginian lagi, wong sekedar lagu 'bolo-bolo' aja sudah gak ada, kasian deh anak-anak masa kini, dipaksa dengerin lagu-lagu ala 'Surti-Tejo' alias lagu ngeres, upsss... ^_^
Semoga sharring ini bisa bermanfaat buat adik-adik sekalian juga yahhh ... Selamat mendengarkan ... 'Kiss' buat kalian semua ... ^__^ Cup-cup muachhh ...
Selasa, Agustus 31, 2010
Sinetron penggugah hati saya
Ada satu sinetron yang sedang aku gemari. Sinetron ramadhan berjudul 'Surga Untukmu' yang tayang setiap hari di Indosiar pada pukul 19:30 Wita. Sinetron ini bercerita tentang seorang ustadz beristri dua. Bukan karena saya penganut poligami, bahkan 'poligami' itu bukan gue banget (istilahnya), melainkan karena alur ceritanya yang berbeda dengan sinetron-sinetron kebanyakan, didukung oleh para 'bintang' yang sangat mendalami karakter peran yang sedang dimainkan.
Aku sudah menyukai Zumi Zola sejak aku masih duduk di kelas 1 SMA, sewaktu ia menjadi bintang video klip nya Nadila, 'Satu dari hatiku'. Kebetulan pula ia menjadi tokoh sentral di sinetron 'Surga Untukmu'. Senyumnya manis banget, dan karakternya pas banget dengan sosok Fahmi. Yang membuat aku berkesan saat Fahmi memberanikan diri untuk mengutarakan perasaan cintanya pada Halimah, janda beranak dua yang awalnya terpaksa ia nikahi demi menghindar dari fitnah.
Fahmi:"Ada satu hal yang ingin aku utarakan sejak lama namun aku belum memiliki keberanian." -berbicara dengan sangat hati-hati-
Halimah:"Apa itu Mas?" -sedikit heran-
Fahmi: "Halimah, aku mencintaimu.-jeda-. Apa Mbak juga merasakan hal yang sama?" -penuh harap menunggu jawaban-
Halimah: "Tak perlu diragukan lagi Mas."
Fahmi: -tersenyum lega-
Halimah: "Ada satu permintaan saya Mas." -berbicara berhati-hati-
Fahmi: "Apa itu Mbak?" -dagdigdug-
Halimah: "Tolong jangan panggil saya Mbak, saya kan istri Mas Fahmi."
Fahmi: -tersenyum lega- "Baiklah Halimah."
Kilasan dialog yang membuat saya terharu, sangat terharu! Bahkan ketika saya menceritakannya kembali kepada Mami saya, suara saya terdengar bergetar, air mata saya nyaris jatuh. Belum ada satu sinetron pun yang bisa membuat saya begitu terharu. Sedikit mengingatkan saya pada konflik rumah tangga poligami film 'ayat-ayat cinta' yang juga membuat hati saya begitu tersentuh.
Sekedar menikmati. Namun jika ada seorang pria yang bertanya pada saya, "Apa kamu bersedia dipoligami?", sudah pasti jawabannya, "NO WAY!"
Tulisan ini saya publish sekedar menyuarakan hati saya yang masih sangat 'bergetar' membayangkan cuplikan adegan Fahmi dan Halimah tadi, lembut tetapi 'dalam'. Jadi ngefans sama penulis skenario dan sutradaranya nih! Semoga saja pada saat rating naik, cerita tidak dipanjang-panjangin sehingga menjadi amburadul-acakadut. Dan sebagai saran saja, tolong si Rubiah jangan dibuat terlalu jahat bak 'iblis' gitu, karena bisa merusak cerita, selain itu hilangkan hal-hal yang berada di luar logika seperti: Rubiah tidak bekerja, tapi kenapa dia bisa memiliki uang banyak untuk membayar orang-orang guna mencelakakan Ranum? Buat senyumnya Zumi Zola, I loph u pul dah! ^_^
Cuplikan soundtrack sinetron (termasuk jadi favorite saya juga): :"Subhanallah...aku mencintainya...subhanallah...aku menyayanginya...dari ufuk timur hingga ke barat...slalu di hatiku..."
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
Minggu, Agustus 29, 2010
Saya yang pegang kendali !!!
Baru-baru ini saya mendapat kabar bahwa teman saya seperjuangan dulu sedang hamil. Kabar ini tentu sangat membahagiakan jika teman saya ini berada dalam ikatan pernikahan. Namun kenyataannya adalah sahabat saya masih dalam kondisi sama-sama bebas merdeka, belum ada ikatan apapun. Huru-hara sudah pasti yang pertama kali pasangan itu rasakan sebelum akhirnya merasa lega dan bahagia, sedikit berbeda dengan pasangan-pasangan yang sudah terlebih dahulu terikat dalam jalinan kasih yang sah secara agama maupun hukum.
Ada satu pertanyaan yang selalu muncul dalam benak saya. Apa untuk dinikahi secara resmi oleh seorang pria, seorang wanita muda harus hamil terlebih dahulu? Hampir semua sahabat wanita saya menikah dalam kondisi 'membawa tambur'. Kenyataannya adalah saya masih single, dan pernah berpacaran beberapa kali, belum sampai ke jenjang pernikahan sudah 'bubar jalan' duluan. Beda dengan kawan-kawan saya yang 'sudah pasti' dinikahi karena kondisinya sedang hamil.
Pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya oleh saya. Hidup ini adalah pilihan. Dan pilihan itu adalah kualitasmu. Saya memilih untuk tidak menghamilkan diri, saya memilih untuk tetap bebas dengan pilihan saya (dalam artian saya masih punya hak mutlak untuk memilih 'lanjut' atau 'stop'). Seorang sahabat lelaki saya pernah membuat pernyataan, "Harus 'dicoba' dulu, bisa hamil atau gak, kalau bisa ya baru kawin." (Pernyataan yang sungguh ketika itu membuat saya tercengang, saya yang ketika itu baru mulai mengenal kehidupan sebagai seorang mahasiswi).
Pacar pertama saya di kampus adalah seorang pria yang cukup diidolakan oleh sahabat-sahabat wanita di kampus saya. Ia seorang yang berprestasi, cakep, tinggi, berpenampilan rapi dan identik dengan motor RGR-nya. Kesannya cowok banget. Sayangnya kami berdua berbeda keyakinan. Saya sudah mengenal keluarganya dengan baik, lingkungan tempat tinggalnya dan kawan-kawannya. Kami saling mencintai. Namun suatu hari ada satu hal yang tanpa sengaja ia utarakan, dan secara 'kepercayaan', apa yang selama ini saya 'yakini', telah menyinggung hati saya. Ia mengucapkan hal yang sangat sensitif. Syukurnya 'hak veto' masih saya pegang, saya memilih untuk meninggalkannya. Saya sadar, bagaimanapun kami 'berbeda' dan tak dapat bersatu.
Sepanjang perjalanan kasih teman-teman saya, masih dapat disyukuri tidak ada yang berakhir tragis. Para pria tetap bertanggung-jawab atas perbuatannya, dan akhirnya menikah, membangun bahtera rumah tangga tanpa menoleh ke belakang lagi. Itulah yang saya namakan berakhir 'lega dan bahagia', walau ada beberapa diantaranya yang berakhir dengan kata 'lega' saja (karena ada yang sekedar bertanggung-jawab padahal cinta sudah pupus).
Sahabat-sahabat saya sering bertanya, "Kamu kapan nyusulnya?". Sebagai wanita, saya tentu juga ingin menikah dan merasakan ada janin yang lahir, tumbuh dan berkembang dalam rahim saya. Saya tetap berikhtiar dan menanti 'jodoh' itu datang pada saya. Yang saya pegang adalah hak mutlak untuk memutuskan. Yah, hidup ini adalah pilihan. Dan pilihan itu adalah kualitasmu. Saya memilih untuk tidak menghamilkan diri, saya memilih untuk tetap bebas dengan pilihan saya (dalam artian saya masih punya hak mutlak untuk memilih 'lanjut' atau 'stop').
Ada satu pertanyaan yang selalu muncul dalam benak saya. Apa untuk dinikahi secara resmi oleh seorang pria, seorang wanita muda harus hamil terlebih dahulu? Hampir semua sahabat wanita saya menikah dalam kondisi 'membawa tambur'. Kenyataannya adalah saya masih single, dan pernah berpacaran beberapa kali, belum sampai ke jenjang pernikahan sudah 'bubar jalan' duluan. Beda dengan kawan-kawan saya yang 'sudah pasti' dinikahi karena kondisinya sedang hamil.
Pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya oleh saya. Hidup ini adalah pilihan. Dan pilihan itu adalah kualitasmu. Saya memilih untuk tidak menghamilkan diri, saya memilih untuk tetap bebas dengan pilihan saya (dalam artian saya masih punya hak mutlak untuk memilih 'lanjut' atau 'stop'). Seorang sahabat lelaki saya pernah membuat pernyataan, "Harus 'dicoba' dulu, bisa hamil atau gak, kalau bisa ya baru kawin." (Pernyataan yang sungguh ketika itu membuat saya tercengang, saya yang ketika itu baru mulai mengenal kehidupan sebagai seorang mahasiswi).
Pacar pertama saya di kampus adalah seorang pria yang cukup diidolakan oleh sahabat-sahabat wanita di kampus saya. Ia seorang yang berprestasi, cakep, tinggi, berpenampilan rapi dan identik dengan motor RGR-nya. Kesannya cowok banget. Sayangnya kami berdua berbeda keyakinan. Saya sudah mengenal keluarganya dengan baik, lingkungan tempat tinggalnya dan kawan-kawannya. Kami saling mencintai. Namun suatu hari ada satu hal yang tanpa sengaja ia utarakan, dan secara 'kepercayaan', apa yang selama ini saya 'yakini', telah menyinggung hati saya. Ia mengucapkan hal yang sangat sensitif. Syukurnya 'hak veto' masih saya pegang, saya memilih untuk meninggalkannya. Saya sadar, bagaimanapun kami 'berbeda' dan tak dapat bersatu.
Sepanjang perjalanan kasih teman-teman saya, masih dapat disyukuri tidak ada yang berakhir tragis. Para pria tetap bertanggung-jawab atas perbuatannya, dan akhirnya menikah, membangun bahtera rumah tangga tanpa menoleh ke belakang lagi. Itulah yang saya namakan berakhir 'lega dan bahagia', walau ada beberapa diantaranya yang berakhir dengan kata 'lega' saja (karena ada yang sekedar bertanggung-jawab padahal cinta sudah pupus).
Sahabat-sahabat saya sering bertanya, "Kamu kapan nyusulnya?". Sebagai wanita, saya tentu juga ingin menikah dan merasakan ada janin yang lahir, tumbuh dan berkembang dalam rahim saya. Saya tetap berikhtiar dan menanti 'jodoh' itu datang pada saya. Yang saya pegang adalah hak mutlak untuk memutuskan. Yah, hidup ini adalah pilihan. Dan pilihan itu adalah kualitasmu. Saya memilih untuk tidak menghamilkan diri, saya memilih untuk tetap bebas dengan pilihan saya (dalam artian saya masih punya hak mutlak untuk memilih 'lanjut' atau 'stop').
Wanita spesial itu adalah Mamiku
Aku hanya memiliki satu orang mami, tapi mami memiliki 'banyak anak' dari penjuru tempat di Indonesia. Aku terlahir sebagai anak kedua, mami pernah melahirkan tiga tahun sebelum aku dilahirkan, namun takdir tidak mengijinkan kakak perempuanku untuk mengenal dunia lebih lama, beliau meninggal 15 hari setelah dilahirkan. Mami merasa sangat terpukul dan hampir kehilangan kesadarannya. Namanya 'Citra Revalusi', mami memajang puisi tentangnya di dalam sebuah bingkai dan memajangnya di ruang keluarga. Aku membaca puisi itu dan sangat menyukainya, sampai usiaku ke 10 aku tidak melihat puisi itu di dinding ruang keluarga kami lagi, mungkin mami sudah tidak ingin mengingat hal-hal yang bisa membuatnya bersedih dan tidak ingin aku ikut terobsesi dengan sosok Kakak Citra, atau mungkin juga karena aku sudah memiliki seorang adik laki-laki yang walau bukan lahir dari rahim mami, namun sudah memiliki ikatan bathin yang sangat kuat dengan kami sekeluarga sehingga mami memutuskan untuk 'menatap jauh ke depan' dan 'berhenti menoleh ke belakang'.
Mami mengadopsi adikku itu sejak usianya masih 15 hari dan usiaku sudah jalan 8 tahun, kulitnya hitam, pipinya tembem, dan matanya sangat besar. Seperti coklat pada GERY CHOCOLATOS; warnanya yang hitam namun rasanya sangat manis dan menggiurkan, begitu lucunya adikku itu. Sungguh kontras jika bersanding denganku. Mami sangat menyayanginya. Dua kali mengalami operasi caesar membuat dokter melarang mami untuk melahirkan lagi karena bisa sangat beresiko bagi mamiku. Sebelum menikah dengan mami, papa sudah pernah menikah dengan wanita keturunan Tiong Hoa juga dan memiliki seorang anak lelaki. Kakak lelakiku itu usianya cukup jauh dariku. Mami juga menganggap kokoku itu anaknya sendiri. Mami sangat bangga mengatakan bahwa ia memiliki tiga orang anak, hidupnya lengkap memiliki; seorang anak tiri, seorang anak kandung, dan seorang anak angkat. Bahkan kokoku itu telah memberi mami dan papa empat orang cucu.
Mami sangat tahu mengkondisikan dirinya sebagai seorang ibu, bahkan semua ponakkannya memanggil mami dengan sebutan 'mami', bukan 'tante' seperti yang pada umumnya digunakan oleh para ponakkan terhadap bibinya. Itu yang membuatku sangat menyayangi mami dan selalu menyelipkan nama mami di dalam doaku, seperti mami selalu menyelipkan nama anak-anaknya di dalam doanya. Kuingat betapa tabahnya mami saat seorang wanita mencoba merebut papa, tidak terselip sedikitpun benci dari pandangan matanya, mungkin itu pula yang membuat papa sangat mencintai mami.
Mami bisa segalanya. Masakan mami yang 'is the best' (tiada duanya) baik soal appetizer, main course, apalagi dessert. Mami yang ahli soal renovasi rumah, bisa tukang-menukang, bantuin papa benerin genteng, pintar design baju dan menjahit, pintar 'make up artist', ahli bercocok tanam, pandai menulis ceerita, pintar politik, juga pengetahuan umum yang bahkan lulusan S2 tidak mengetahuinya. Sejak aku mengenalkan mami dengan facebook, di waktu-waktu senggang mami selalu menyempatkan 'mengintip' profilenya demi menyapa 'anak-anaknya' dari berbagai penjuru tempat di Indonesia. Di facebook, 'anak-anak mami' itu memanggil mami dengan sebutan 'bunda'. Mereka sangat menyukai 'update status' mami yang selalu pintar, bijak dan penuh nasehat. Betapa bangganya aku untuk mengatakan bahwa sosok itu adalah mamiku. Aku sayang mami.
Keterangan Foto: Aku dan Mami
Mami mengadopsi adikku itu sejak usianya masih 15 hari dan usiaku sudah jalan 8 tahun, kulitnya hitam, pipinya tembem, dan matanya sangat besar. Seperti coklat pada GERY CHOCOLATOS; warnanya yang hitam namun rasanya sangat manis dan menggiurkan, begitu lucunya adikku itu. Sungguh kontras jika bersanding denganku. Mami sangat menyayanginya. Dua kali mengalami operasi caesar membuat dokter melarang mami untuk melahirkan lagi karena bisa sangat beresiko bagi mamiku. Sebelum menikah dengan mami, papa sudah pernah menikah dengan wanita keturunan Tiong Hoa juga dan memiliki seorang anak lelaki. Kakak lelakiku itu usianya cukup jauh dariku. Mami juga menganggap kokoku itu anaknya sendiri. Mami sangat bangga mengatakan bahwa ia memiliki tiga orang anak, hidupnya lengkap memiliki; seorang anak tiri, seorang anak kandung, dan seorang anak angkat. Bahkan kokoku itu telah memberi mami dan papa empat orang cucu.
Mami sangat tahu mengkondisikan dirinya sebagai seorang ibu, bahkan semua ponakkannya memanggil mami dengan sebutan 'mami', bukan 'tante' seperti yang pada umumnya digunakan oleh para ponakkan terhadap bibinya. Itu yang membuatku sangat menyayangi mami dan selalu menyelipkan nama mami di dalam doaku, seperti mami selalu menyelipkan nama anak-anaknya di dalam doanya. Kuingat betapa tabahnya mami saat seorang wanita mencoba merebut papa, tidak terselip sedikitpun benci dari pandangan matanya, mungkin itu pula yang membuat papa sangat mencintai mami.
Mami bisa segalanya. Masakan mami yang 'is the best' (tiada duanya) baik soal appetizer, main course, apalagi dessert. Mami yang ahli soal renovasi rumah, bisa tukang-menukang, bantuin papa benerin genteng, pintar design baju dan menjahit, pintar 'make up artist', ahli bercocok tanam, pandai menulis ceerita, pintar politik, juga pengetahuan umum yang bahkan lulusan S2 tidak mengetahuinya. Sejak aku mengenalkan mami dengan facebook, di waktu-waktu senggang mami selalu menyempatkan 'mengintip' profilenya demi menyapa 'anak-anaknya' dari berbagai penjuru tempat di Indonesia. Di facebook, 'anak-anak mami' itu memanggil mami dengan sebutan 'bunda'. Mereka sangat menyukai 'update status' mami yang selalu pintar, bijak dan penuh nasehat. Betapa bangganya aku untuk mengatakan bahwa sosok itu adalah mamiku. Aku sayang mami.
Langganan:
Postingan (Atom)

