Minggu, Januari 10, 2010

Berharap mendapat benefit dengan menjadi yang bonafit

Memang berbeda dunia kerja dengan ketika masih duduk di bangku kuliah. Dosen selalu memberikan kesempatan mahasiswanya untuk bertanya, dan yang paling sering bertanya justru menjadi yang paling diperhatikan (dalam artian positif) di dalam kelas.

Saat menjadi seorang pegawai kantor, aku adalah seorang yang paling reseh, dari dulu sampai sekarang, sekiranya begitulah anggapan dari atasanku maupun rekan-rekan kerja. Maklum, tiada hari tanpa bertanya, mengingat pekerjaanku sebagai Customer Service (CS) yang menyangkut kepentingan orang banyak.

Seperti ketika aku masih bekerja di sebuah perusahaan provider telekomunikasi, mungkin aku menjadi yang paling bodoh di mata atasan karena selalu bertanya. Pada kenyataannya, dalam hal meng-handle pelanggan, semua rekanku yang telah bekerja terlebih dahulu daripada aku selalu bertanya padaku jika menemukan permasalahan yang tidak dapat mereka pecahkan, dan aku yang berhasil mencarikan jalan keluarnya. Tapi atasan tak pernah tahu, karena rekan-rekan kerjaku segan bertanya pada beliau. Begitulah susahnya kalau atasan kurang berbaur dengan anak buah, sehingga beliau tidak pernah tahu apa saja yang kami kerjakan di garda depan.

Setelahnya, lagi-lagi sebagai CS dan di bidang perbankan, bidang yang masih sangat asing bagi aku. Begitulah, kejadian terulang lagi, sepertinya para atasanku menganggap aku reseh dan sangat bodoh, karena sulit sekali menghentikan mulut untuk bertanya. Bedanya dengan atasan di kerjaanku sebelumnya adalah atasan langsung kami di sini cukup berbaur dengan anak buah, hanya saja tak kurang-kurang dia membentakku. Dan kemudian, selalu saja aku yang salah di matanya.

Padahal menurutku, gaji yang aku terima tidak sebanding dengan apa yang telah aku lakukan, belum lagi peraturan lembur yang walau telah dihapuskan tetap membuatku menjalankan tanggung jawabku di hari itu hingga over time. Ditambah lagi request yg hampir tiap hari untuk meeting seusai jam kerja. Dan satu lagi, ikatan kontrak dengan pinalti yang besarnya 4 kali dari gaji, padahal tidak mendapatkan benefit apapun (tak ada training khusus ke luar kota, dsb).

Rekan kerjaku bahkan tidak peduli ambil langkah seribu melanggar kontrak kerjanya begitu saja demi pekerjaan lain yang menawarkan sesuatu yang lebih, dan mengabaikan begitu saja masalah pinalti, karena ia mengetahui betul bahwa 'pinalti' melanggar peraturan disnaker. Sementara aku, masih melaksanakan tanggung jawabku, melamar di perusahaan lain tidak aku lakoni, walau teguran tak pernah tak aku terima dalam satu hari.

Berharap mendapat benefit dengan menjadi yang bonafit? Apa mungkin? Sudahlah, aku jalani saja dulu sambil berharap mereka yang 'lebih tinggi' tidak buta lagi dan bisa melihat pegawai yang masih loyal, dan bisa membimbing dengan sabar, apalagi hanya mampu mengikat dengan imbalan segitu.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Jumat, Januari 08, 2010

Perihnya masa lalu

Berbicara soal hati, tak ada yang bisa menebak. Setelah lama tidak berhubungan dengan seorang kawan, kami bertemu kembali di sebuah chat room. Kawan ini bukanlah teman sekolah, kuliah, apalagi teman main. Hanya saja mantan calon ipar. Begini ceritanya, ia adalah mantan pacar kakaknya mantan cowokku. Tuu kan, belibet ngejelasinnya. Ia berasal dari Yogya dan sempat berlibur sekitar seminggu di kosku di Nusadua-Bali.

Singkat cerita, kakak mantan cowokku itu menikah dengan wanita lain, dengan kata lain kawanku itu (sebut saja namanya 'U') mengalami patah hati berat. Sesudahnya, hampir tiap hari kami perang SMS, dikeluarkannya semua rasa kesal, unek-unek dan kebencian dalam curhatannya. Walau tak lama berselang aku juga memutuskan meninggalkan cowokku itu. Ternyata kakak-beradik sama aja. Heheee, peace Bro!

Setelah tak bersua begitu lamanya, kami saling menanya kabar dan kemudian terlibat sedikit pembicaraan seputar masa lalu:
U: Dsr bndar togel!
Aku: Hahaaa...(+icon smile)
U: Mmng iya.
U: Untung ga jd sma aq.
Aku: Knp?
U: Ya dia itu crt krjaan dia itu ap.
Aku: Oo...dsna?
U: Iy.
Aku: Tp hub ma dia msh baik aj kan?
U: Ud ga minat lg, bodo amt!
Aku: Ga, tp msh brtmn kan?
U: Mgkn.
Aku: Hehe, koq mgkn?
U: Tmn yg sngt biasa.
U: Mending ga usa bertmn deh.
U: Ga pntg!
U: Ga perlu diingt lg!
Aku: Iy, ud lupain aj kejelekanny itu.
Aku: Yg pntg km hepi2 aj kan?
U: Skrg aq hepi.
U: Aq pngn hps ingtanQ ttg mrk semua.

Setelah membaca sekilas percakapan kami, teman-teman semua pasti dapat menyimpulkan apa yang sebenarnya telah terjadi. Tapi apapun itu, bagaimanapun itu, aku selalu berharap segala sesuatunya demi kebahagiaannya.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Sinetron...oh Sinetron Indonesia...

Jengah dengan sinetron Indonesia tapi mau saja dibodohin? Bisa dibilang aku termasuk salah satunya. Bukan mengaku sebagai yang bodoh, bukan pula tak mengetahui bahwa ceritanya hanyalah fiktif belaka, melainkan karena kekurangan hiburan pada jam-jam istirahat malam setelah lelah seharian beraktifitas di kantor.

Diawali dari iseng-iseng setel TV, kemudian ketelanjuran menonton sinetron tersebut, sampai tak bisa ketinggalan untuk 'memelototi'nya setiap hari. Mungkin itu yang sedang dialami oleh papaku. Tidak begitu mengherankan kalau papa adalah orang pribumi, tapi papa adalah asli orang Tiong Hoa. Sementara aku dan mami masih asyik menonton the Great Queen Seon Deok, cerita dinasti Shilla kerajaan Korea, di Indosiar dari senja dan memang durasinya terlampau panjang, papa memilih menonton sinetron 'Bintang dan Kejora' sendirian di dalam kamar. Berbeda denganku yang lebih memilih drama Korea atau Taiwan jika sedang tayang, dibandingkan capek hati melihat sinetron Indonesia.

Bukan karena tidak cinta pada produk dalam negeri, melainkan karena menurut saya sinetron itu sendiri terlalu mengada-ada dengan ide cerita yang itu-itu saya. Yang taat beribadah, santun, dan baik hatinya, justru selalu selalu menjadi yang teraniyaya. Setelah berhasil kabur dari para orang jahat, kemudian pergi beribadah, dan ketika keluar dari tempat ibadah malah ketabrak mobil, kemudian ditolong oleh orang baik dan dibawa ke rumahnya, eh ternyata rumahnya juga tempat tinggal si orang jahat, singkat cerita si 'bidadari' masuk ke perangkap si jahat lagi. Atau si tokoh baik jatuh miskin karena warisannya direbut sama si jahat, kemudian terseok-seok di jalanan demi sesuap nasi, sampai akhirnya dapat pekerjaan dan punya sedikit uang, pulang dari kerjaan sangking kesenangannya, uang diewer-ewer sepanjang jalan, ketemu dengan orang jahat, dirampok lagi dan menderita lagi. Yang baik bisa baik sekali seperti bidadari bahkan menjurus ke naif, sementara yang jahat bisa jahat sekali seperti setan sampai tega membunuh atau menjadi otak dari pembunuhan berencana, seakan-akan tidak adalagi hukum yang perlu ditakuti. Cerita mengenai anak angkat dan anak tiri juga sedang marak mewarnai persinetronan kita, kemudian setelah mau ketemu malah hilang ingatan. Atau ada juga cerita yang memang bagus pada awalnya, lama-lama ditinggalkan penontonnya karena kepanjangan dan ga tamat-tamat, lanjut ke session 2, 3, 4, 5, dan seterusnya, sengsaraaa terus.

Walau sambil mengomel jika menontonnya, tapi papa sama sekali tidak bisa ketinggalan menontonnya, dengan alasan masih seru. Hanya satu yang sudah mulai papa tinggalkan yaitu 'Cinta dan Anugerah'. Sudah bosan katanya, masa 1 orang bisa jadi 3 orang di situ. Kalau aku, karena belum ada hiburan lain, maka aku terpaksa turut serta dengan papa mengomel di depan TV.

Sekedar usulan dan gambaran dalam membuat drama seri, aku mengambil contoh sebuah drama seri Taiwan berjudul 'Silence'. Ceritanya tidak ringan, namun jalan ceritanya tidak perlu ada tokoh 'bidadari' dan 'setan' walau tetap ada konflik, semuanya manusiawi saja. Kisah gadis bisu yang bertemu dengan seorang pemuda di rumah sakit saat usia mereka masih tiga belas tahun, dan janji untuk bertemu lagi pada natal tahun 2006 yang mana itu sudah 13 tahun kemudian. Pada saat itu si gadis bisu yang yatim piatu tumbuh dan besar bersama orang tua asuh dan kakak lelaki asuhnya, sementara yang pemuda menjadi seorang yang arogan karena didikan sang ayah dan sudah memiliki seorang tunangan. Air mata terus mengalir sepanjang film itu padahal pemerannya tidak perlu nangis teriak-teriak, malah tokohnya digambarkan sosok yang ceria. Hanya dari kata-kata yang indah, yang bisa membuat kami terharu. Ketika tunangan Qin Wei Yi (nama pemuda itu) yang bernama Siao Quang bertanya kepada Huang Zhi Yi/Yellow yang sangat tergila-gila padanya, "Apa yang akan kamu lakukan untukku jika usaku tinggal tiga bulan?" (dalam bahasa Mandarin tentunya, ketika ia masih tidak rela melepaskan Qin Wei Yi untuk kembali pada Shiao Shen-Shen si gadis bisu walau hidup Qin Wei Yi sisa tiga bulan karena mengidap kanker usus stadium akhir). Yang membuat tercengang adalah jawaban dari Huang Zhi Yi setelah berpikir sejenak, katanya sambil tersenyum, "Aku akan membantumu mengejar Qin Wei Yi". Siao Quang balas tersenyum karena ia sudah tau apa yang harus dia lakukan setelah mendengar jawaban itu. Lagi-lagi air mataku mengalir melihat adegan itu, tanpa kontak fisik, tanpa banyak bicara, tanpa menangis teriak-teriak, sudah bisa membawa penonton hanyut.

Seperti halnya juga Full House, drama Korea yang kocak, cerita ringan yang bisa membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Tak begitu banyak air mata juga di dalamnya.

Justru melihat para pemeran yang nangis teriak-teriak tidak bisa juga kami ikut hanyut ke dalamnya, paling buruk lagi ikut menangis. Malah kalau ada adegan menangis teriak-teriak bak orang gila seperti itu, cenderung kami 'mute' (hilangkan suaranya) atau mengganti ke saluran TV lain terlebih dahulu. Baik itu Cinta Fitri, Bintang dan Kejora, Safa dan Marwah, Cinta dan Anugerah, Manohara, Doa dan Karunia (lagi tren rupanya nama tokoh dijadikan judul, mungkin daripada susah-susah mikir),...semuanya sama saja. Padahal walaupun drama harian, kan bisa dibuat lebih berkualitas, jangan dianggap enteng.

Belum ada sinetron Indonesia yang bisa membuatku benar-benar terkesan sampai hari ini seperti sangat terkesannya aku dengan drama Taiwan berjudul 'Silence' tadi, bahkan sinetron 'Aura Kasih' yang sudah diiklankan lama belum tayang-tayang, mungkin karena kurang menarik penonton ya? Tapi aku berharap akan ada sinetron Indonesia yang mampu membuat para penonton terkesan dan kemudian tidak dipanjang-panjangin kayak ga punya ide lain lagi. Setelah tamat ya buat cerita baru lagi yang berbeda dengan yang sebelumnya. Atau mau aku yang menjadi penulis skenarionya? Kalau ada tawaran boleh juga tuh. ^_^

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Jumat, Januari 01, 2010

Hépi Nü Yèär 2010

Hepi Nu Year 2010 Guyz !!!

Terlambat lagi...telat sehari tuk mengucapkan...

Harapan-harapan di tahun ini:
Semoga tahun ini menjadi tahun yang baik buat aku. Walau aku tahu tahun ini (menjelang tahun Macan) bukan tahun yang baik buat kami kaum Babi, tapi aku berharap unsur logam membawa kecerahan di tahun ini bagiku 'si air'. Hanya bisa berharap dan memohon agar dikabulkan pada yang kuasa, Allah SWT.

Sekali-sekali ingin juga diramal oleh peramal-peramal di Indonesia sekelas mama Laurenz ato malah oleh mama Laurenz sendiri. Heheee, percaya ga percaya sih, tapi rata-rata banyak hal kebetulan yang terjadi berawal dari ramalan mereka.

Sekali lagi, Happy New Year 2010 yaaa...wish all the best for me! amen! ^_^

December in heart

Yuhuuu...lama ga update blog,but I'm still here!!!

Mo ngomongin Desember,telat ga y?

Arti Desember sangat besar bagiku. Aku lahir 22 Desember pada 26 tahun silam. Pada hari jadiku itu pula semua wanita di Indonesia merayakannya. Mereka berlomba-lomba memberi penghargaan pada ibu mereka, kakak-adik mereka, tante, nenek, dan sahabat-sahabat wanita mereka.

Selain hari kelahiranku, mami tersayang juga dilahirkan pada bulan ini, pada tanggal 9 Desember. Tanggal itu tentu saja menjadi hari istimewa bagi kami sekeluarga juga.

Masih ada beberapa anggota keluarga yang lain dilahirkan pada bulan bersejarah kami ini. Ada adik sepupu yang dilahirkan 11 Des (Jolsvy Daely), Om yang mana adik lelaki mamiku (Om Deny, 24 Des), dan sebagian orang di dunia merayakan hari rayanya (natal, 25 Des) yang mana hari kelahiran Yesus Kristus...walaupun aku bukan bagian dari mereka yang merayakan hari itu namun aku bisa merasakan keceriaan itu sendiri.

Sukar aku ungkapkan dengan kata-kata. Bahkan hanya satu kalimat yg tersembunyi di dalam hatiku..."I Love memories of December"

Sabtu, Desember 05, 2009

Saat Allah SWT hadir

Fenomena taon kerbau yang kurasa buruk bagi kehidupan keuangan maupun percintaanku ternyata juga dirasakan oleh beberapa orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya pada tahun ini. Seperti yang dialami oleh Iswadi, warga Kota Balikpapan berusia 62 tahun (sumber: Tribun Kaltim), karena penyakit yang tak kunjung sembuh (konon katanya kanker paru-paru, entah karena itu ataukah ada penyebab lain), akhirnya memutuskan melompat dari tingkat 8 Hotel Grand Tiga Mustika (lokasi vihara, niatnya untuk bersembahyang, yang bersangkutan beragama Budha). Pada hari yang sama, warga Sepinggan (masih di Balikpapan), gantung diri di rumah mertuanya di Karang Jati.

Belum lama berselang, dunia pertelevisian dihebohkan oleh berita seorang gadis lompat dari sebuah mall di Jakarta, sementara itu seorang lelaki juga lompat dari mall yang berbeda, pada hari dan jam yang bersamaan juga di DKI Jakarta. Entah karena urusan percintaan atau apa sampai mereka memutuskan untuk bunuh diri pada waktu yang bersamaan, dugaan sementara adalah cinta yang tak direstui.

Beberapa hari sesudahnya, masih juga terdengar seorang lelaki setengah baya lompat dari mall (di Jakarta juga), kalau yang ini tak jelas penyebabnya, hanya saja yang bersangkutan sedang mabuk pada saat itu, entah sengaja bunuh diri atau terjatuh ketika sedang mabuk seperti yang dialami seseorang yang sedang berada di tanah suci (yang memang sebelumnya sering berhalusinasi hingga terjatuh dari tingkat ke sekian tempatnya menginap di sana).

Saat aku update status di facebook yang berbunyi: "I love 2008, I hate 2009", banyak menimbulkan komen, ternyata sebagian dari kawanku juga merasakan seretnya tahun 2009. Mereka menyerukan "Hidup tikus!" (tahun tikus maksudnya). Kalau tahun tikus maupun tahun babi, adalah tahun terbaikku yang bershio babi, setidaknya begitulah yang aku rasakan. Entah dirasakan juga oleh babi-babi lainnya ataukan tidak.

Kadang aku berpikir kalau aku adalah orang yang paling tidak beriman,...aku sering meninggalkan kewajibanku sebagai seorang muslimah. Aku jarang solat 5 waktu, aku menyukai hewan berbulu yang rajin menggonggong dan menjulurkan lidahnya (kangen banget dengan Byuti), aku masih suka berpakaian yang minim, aku sering menangis sendiri di dalam kamar karena kesialan-kesialan yang aku alami,...tapi aku sangat takut mengakhiri hidupku sendiri karena aku percaya Dia ada dan ada kehidupan lain yang lebih kejam daripada kehidupan duniawi ini, intinya aku sangat takut pada kematian.

Saat kegundahan hatiku, semua obat sedang menggodaku untuk merengguknya semua tanpa memikirkan dosis yang tepat, gunting menari-nari dihadapanku, kurasakan tanganku menjadi memiliki kekuatan ekstra, dinding-dinding merayuku untuk menghampiri mereka tanpa pikir panjang dan secepat kilat,...tapi lagi-lagi bayangan kematian membuat bulu kudukku berdiri (bahkan 2012 terus membayangiku), sehingga membuatku menampar pipiku kuat-kuat supaya segera terbangun dari mimpi buruk sekaligus melampiaskan kekesalan pada diriku sendiri.

Saat-saat aku kesal pada keadaan, banyak yang aku inginkan tapi apa daya bagi seorang pegawai rendahan sepertiku, keluargaku juga sedang seret ekonomi (sangat!), jadi teringat sebelas tahun silam saat nasi dan mie mewarnai hari-hari kami, alhamdulillah untuk makan tak pernah ada lagi masalah, sekarang dalam tangisku, aku selalu menyebut namaNya, memohon petunjuknya, yang membuatku lebih lega jika aku langsung mengambil air wudhu, kemudian aku bersujud padaNya, memohon agar jalanku terbuka, selalu hatiku kembali tenang. Dan ketika ketiduran dengan linangan air mata di pipiku, aku selalu bermimpi hal-hal yang indah mengenai kehidupan pribadiku. Saat bangun di pagi hari, tersungging senyuman di bibirku, dan berharap mimpi itu akan menjadi kenyataan.

Kini aku percaya bahwa mimpi itu mungkin saja menjadi nyata (karena Allah selalu menunjukan masa depanku melalui mimpi), yang terpenting adalah kujalani saja hidupku dulu, toh aku masih bisa berkumpul dengan keluargaku, papa-mami-adikku sayang (Vigo), selama masih ada senyuman mereka, hidupku belum boleh berakhir, justru aku harus berusaha keras agar senyuman itu tak hilang malah bertambah lebar.

Jumat, November 20, 2009

Cicak tidaklah lemah !

Hebohnya di televisi mengenai Cicak dan Buaya menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat. Yang lemah dianggap sebagai cicak oleh sekelompok bagian yang menamakan dirinya sebagai buaya. Pertama kali mendengar soal cicak dan buaya (sebelum tahu cerita yang sebenarnya), aku beranggapan bahwa cicak adalah sekelompok bagian yang baik, sedangkan buaya adalah sekelompok bagian yang kerjaannya mendzalimi pihak lain. Ternyata yang dimaksud adalah soal kekuasaan...yang berkuasa adalah buaya, sedangkan cicak adalah bagian yang lemah...menurut para buaya tadi...(menurutku, tetap aja image-nya lebih baik cicak daripada buaya dengan adanya pernyataan seperti itu...hihihiii...yang bodoh siapa ya?)

Sesungguhnya politik bukan bidangku. Hanya saja kenapa aku mendadak membahas soal cicak dan buaya, karena aku selalu saja batal masuk kamar mandi hanya karena ada cicak bertenger di langit-langitnya. Aku memang sangat geli dengan binatang yang satu itu dan kawan-kawannya (melata lainnya). Apalagi jika mereka sedang saling menggoda satu sama lainnya, lalu kemudian saling mencubit dengan genitnya, tindis-tindisan sampai akhirnya salah satunya kalah dan jatuh dengan suksesnya dengan kondisi aku sedang di bawahnya....hiiiii, membayangkannya saja aku jijik.

Baik hidup atau mati, cicak selalu tampak menjijikkan di mataku. Sering kali mereka penyet dengan suksesnya karena kejepit pintu, meluncur dengan hebatnya ke dalam bajuku, ataupun hanya bersenda gurau di langit-langit rumah. Padahal kalau dipikir-pikir lebih dalam lagi, sudah 26 tahun mereka menjadi peliharaanku di rumah, tapi entah kenapa aku masih belum terbiasa dengan kehadirannya.

Seperti ketika aku masih kos di Nusa Dua, kawan sebelah kamarku teriak ketakutan karena seekor kodok berenang dengan santainya di bak mandinya. Maklum, kampus kami berada di Desa, terpaksa kami juga tinggal di Desa, kos terdekat dari kampus. Kodok itu mungkin saja memang bisa manjat pohon sehingga bisa meloncat masuk melalui fentilasi kamar mandi sobatku itu, atau memang ada yang sengaja memasukkannya. Jadilah aku bak pahlawan kesiangan menawarkan bantuan untuk mengusir sang kodok. Kata kawanku itu, "Hebat Anis, berani sama kodok."

Pernah juga kawan lelaki melompat ketakutan karena ada kecoa lari-lari santai di lantai kos-kosan, dengan enteng kuambil pakai tisyu dan kubuang ke halaman. Legalah hati kawanku itu. Tapi itu kalau kodok dan kecoa. Kalau melata's friends? Nah, kalau yang ini, aku ga janji lowh bisa menjadi 'pahlawan' lagi.

Saat aku sedang santai berdua pacarku ke toko buku Tragia (satu-satunya swalayan di Nusa Dua saat itu, sayangnya sekarang uda tinggal kenangan,...uda tutup...), seperti biasa aku melihat di seputaran stationary, dan entah pacarku hanya berkeliling saja. Tapi tiba-tiba aku merasa leherku geli, ternyata kekasihku itu melingkarkan ular karet di leherku (dengan maksud bercanda), langsung terasa dingin tubuhku, spontan aku meloncat dan berteriak. Si doi jadi malu sendiri. Sejak saat itu, dia tahu kalau aku sangat geli terhadap hewan melata walau hanya sekedar mainan.

Kembali lagi soal cicak. Pernah suatu ketika di rumah nenekku, aku membantu adik sepupuku mencari VCD untuk karaokean di tumpukan VCD miliknya. Saat itu aku sedang mengenakan celana joger (celana pantai) yang lebar dan panjangnya selutut. Tiba-tiba seekor cicak meloncat dari tumpukan VCD dan melesat masuk melalui ujung celanaku, spontan aku lompat dan berteriak, cicak yang ikutan kaget kemudian meluncur keluar lagi melalui pinggul celanaku dan bertenger di punggungku, aku langsung berdiri kaku (takut cicak itu masuk kembali ke dalam bajuku) dan berteriak-teriak meminta tolong seseorang agar mengusir cicak itu dari punggungku.

Yang ada di dekatku saat itu hanya sepupuku itu dan tanteku yang sama gelinya denganku, sehingga mereka hanya sanggup menatap dari kejauhan dengan wajah prihatin karena tidak bisa berbuat apapun untuk membantuku. Untunglah adik sepupuku yang satu lagi (yang lelaki) keluar dari sarangnya (ups...kamarnya maksudku), dia keluar membawa tongkat, dan dengan sedikit sentilan saja, cicak itu sudah melompat ke lantai. Aku langsung menepuk-nepuk punggungku seakan-akan kalau masih ada jejak kaki si cicak tubuhku bisa gatal-gatal.

Begitulah kisahku dengan cicak. Hewan yang ditakdirkan hidup dengan manusia ini, justru membuat hari-hariku agak berantakan. Dengan hadirnya di langit kamar mandiku pun bisa membuatku batal masuk kamar mandi dan rela menahan 'panggilan alam' yang saat itu sudah di ujung banget. Sudah berhari-hari penyet di engsel pintu, tak membuat hatiku tergerak untuk mengambilnya dan membuangnya (apalagi menguburnya!), sampai ada papaku yang berbaik hati mau membantu membuangnya (kalau adik lelakiku satu-satunya, tentu saja tak bisa diharap, sama semua binatang yang masuk ke dalam rumah saja ia bisa berteriak ketakutan, dan ia sanggup tidur di ruang tamu kalau ada belalang -semacam cangcorang dkk- masuk ke dalam kamarnya).

So, dengan membaca kisahku tadi, masih bisakah kalian mengatakan bahwa cicak adalah makhluk yang lemah? Tidak! Sama sekali tidak! Cicak bisa membuat seorang 'pahlawan' sekalipun (seperti aku maksudnya), tak berkutik!

Rabu, November 18, 2009

Blognya sobatku

Yuhuuu Dewa sobatku...
Heheee...dari blognya, daku dapet web tuk nguji kepribadian nih (http://ipersonic.com/id/), setelah sebelumnya aku menemukan web untuk menciptakan anak khayalanku dengan Dude Harlino (dari blognya juga), kyahaaa... ^_^

Entah akurat, entah tidak, tapi yang jelas apa yang aku jawab adalah memang kepribadianku sesungguhnya (gue banget getho). Berikut adalah hasil analisanya (bagus ga ya? deg-degan neh):

Idealis Penyelaras


Tipe Idealis Penyelaras dikenali dari kepribadiannya yang kompleks dan memiliki begitu banyak pemikiran dan perasaan. Mereka orang-orang yang pada dasarnya bersifat hangat dan penuh pengertian. Tipe Idealis Penyelaras berharap banyak pada diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang sifat-sifat manusia dan seringnya menilai karakter dengan sangat baik. Namun mereka lebih sering menyimpan perasaan dan hanya mencurahkan pemikiran serta perasaan mereka kepada sedikit orang yang mereka percaya. Mereka sangat terluka jika ditolak atau dikritik. Tipe Idealis Penyelaras menganggap konflik sebagai situasi yang tidak menyenangkan dan lebih menyukai hubungan harmonis. Namun demikian, jika pencapaian sebuah target tertentu sangat penting bagi mereka, mereka dapat dengan berani mengerahkan seluruh tekad mereka hingga cenderung keras kepala.

Tipe Idealis Penyelaras memiliki fantasi yang hidup, intuisi yang nyaris seperti mampu membaca masa depan, dan seringkali sangat kreatif. Begitu berkutat dengan sebuah proyek, mereka melakukan segala daya upaya untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka sering membuktikan diri sebagai pemecah masalah ulung. Mereka suka mendalami hingga ke akar permasalahan dan memiliki sifat ingin tahu alamiah serta haus akan pengetahuan. Pada saat bersamaan, mereka berorientasi praktis, terorganisir dengan baik, dan siap menangani situasi-situasi rumit dengan cara terstruktur dan pertimbangan matang. Ketika mereka berkonsentrasi pada sesuatu, mereka melakukannya dengan seratus persen – mereka sering begitu terbenam dalam sebuah pekerjaan sehingga melupakan hal lain di sekitar mereka. Itulah rahasia kesuksesan profesional mereka yang seringkali gilang gemilang.

Sebagai pasangan, tipe Idealis Penyelaras setia dan dapat diandalkan; hubungan permanen sangat penting bagi mereka. Mereka jarang jatuh cinta hingga mabuk kepayang dan juga tidak menyukai hubungan-hubungan asmara singkat. Kadang-kadang mereka sulit menunjukkan rasa sayang mereka dengan jelas sekalipun perasaan mereka dalam dan tulus. Dalam hal lingkaran pertemanan, semboyan mereka adalah: sedikit berarti lebih banyak! Sejauh menyangkut kenalan baru, mereka hanya dapat didekati hingga jarak tertentu; mereka lebih suka mencurahkan tenaga ke dalam pertemanan akrab yang jumlahnya sedikit. Tuntutan mereka kepada teman dan pasangan mereka sangat tinggi. Karena mereka tidak menyukai konflik, mereka akan diam sejenak sebelum menyuarakan masalah-masalah yang tidak memuaskan dan, ketika melakukannya, mereka berusaha sangat keras untuk tidak menyakiti siapa pun karenanya.

Sifat-sifat yang menggambarkan tipe ini: introvert, teoritis, emosional, penuh perencanaan, idealis, mencari keharmonisan, pengertian, mencintai kedamaian, peka, tidak banyak bicara, simpatik, mengikuti kata hati, penuh tekad, rumit, tidak mudah terbaca, ramah, kompleks, imajinatif, memberi inspirasi, suka menolong, menuntut, komunikatif, tertutup, mudah tersinggung.

Minggu, November 15, 2009

Kuliah Vs Jalan-jalan ???

http://pinguin-switdiari.blogspot.com

Mengingat saat-saat kuliahku dulu. Aku yang mengambil bidang Manajemen Kepariwisataan (MKP) di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) yang bertempat di Nusa Dua-Bali, sudah pasti menjalani hidup di indekosan di kawasan Nusa Dua, lebih tepatnya di Bukit Kampial, selama 5 tahun. Seruuu sekali. Tapi bukan itu yang mau aku bahas kali ini.

Aku ingin membahas mengenai jurusanku yang di bidang pariwisata membuat hari-hari kami penuh dengan wisata sambil penelitian. Wisatanya sih menyenangkan (banget bahkan!), hanya saja harus memakai embel-embel 'penelitian' yang membuat kami jenuh...seputaran check list, kuisioner, dan teodolit,...hahahaaa...bagi kalian yang menempuh pendidikan sama sepertiku, pasti sudah familiar (bahkan bosan!) dengan tiga alat penelitian itu.

Sudahlah, kita lupakan mengenai 'penelitian' dan kita lihat foto-foto kebersamaan kami, dalam suka...dalam duka...dalam perjalanan wisata kami, baik masih seputaran Bali maupun sudah di luar Bali. Daripada kalian bosan baca tulisanku ini, lebih seru langsung ke foto aja. ^_^




Ket: Foto yang di atas itu waktu ke Git-git-Singaraja. Jadul banget yaaa...awal-awal kuliah...



Ket: Di Hotel Lovina Beach nginepnya. Malem-malem nekad berenang, mumpung yang nginep kita-kita aja waktu itu, kan booking-an.



Ket: Nah, ini waktu semester 4 ke Bromo, brrr...dingin banget.



Ket: Di Padang Pasir di Bromo nih ama temen satu kelompok.



Ket: Jadul banget yaaa...tuuu ada Riepeh, dia mang sentimen banget ma kita beduo dulu,...auk tuh napa...hueheheee...



Ket: Waktu penelitian di Hutan Mangrove nih.



Ket: Tetep narsis walau lelah perjalanan menghinggapi kami berdua. Di stasiun kereta nuju Bandung nih. (Jill dan aku)


Ket: Nah, ini waktu di Tangkuban Perahu di Bandung, semester 6.



Ket: Di Saung Angklung Mang Udjo nih, lucu-lucu anak-anaknya.



Ket: Museum Geologi di Bandung.



Ket: Waktu seminar di Kampus nih.



Ket: Suka-suka di Planning Team Base Camp.


Ket: Namanya juga anak MKP, ga pernah lepas deh ama yang namanya penelitian. So, kita punya base camp tuh di Jimbaran untuk penelitian plus ngerombak Food Tourism di Pantai Kedonganan supaya lebih rapi (hasilnya bisa kalian lihat kan sampe sekarang, rapi berkat kami, Planning Team!), berdasarkan maket yang kami buat. Ini waktu semester 7, namanya Tourism Field Study (TFS).



Ket: Planning Team in black.



Ket: Planning Team in white nih!!!



Ket: Horeee....TFS kelar...perayaan nih, makan ikan bakar di Marketing Team Base Camp.



Ket: MKP in kolase.



Ket: Farewell Party di Kafe di Kedonganan.