http://pinguin-switdiari.blogspot.com
Cinta memang datang secara tiba-tiba, tak bisa ditentukan kepada siapa kita menujukannya. Seperti yang kita tahu, kisah cinta Yuni Sara dan Raffy Achmad menjadi sorotan publik akhir-akhir ini. Perbedaan usia mereka yang cukup jauh (menurut pemberitaan sih 15 tahun) dalam menjalin suatu hubungan kasmaran menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat luas. Tidak begitu menghebohkan kalau yang berada di posisi yang lebih muda adalah si wanita, tapi sayangnya dalam kasus Yuni-Raffy ini, yang muda adalah si Raffy (dalam artian, si lelaki). Apalagi baru-baru ini kita dengar si Yuni menegur Asha Syara dengan caranya sendiri yang diartikan sebagai labrakan oleh si Asha. Riskan memang sebagai wanita dewasa yang berpacaran dengan berondong. Kalau sesama anak muda, cemburu dengan kawan wanita kekasih kita, pasti komentar yang kita dengar hanyalah, "Ah biasa...". Berbeda jika seorang wanita dewasa yang berpacaran dengan pria yang jauh lebih muda darinya, cemburu dengan kawan wanita kekasihnya yang usianya juga jauh lebih muda dari dirinya (apalagi jika mereka-mereka itu dari kalangan selebritis), wah...sudah jadi bahan pembicaraan seantero negeri ini deh.
Sebelumnya yang telah kita ketahui juga hubungan spesial tanpa ikatan pernikahan antara Andy Soraya dan Steve Emanuel yang perbedaan usia keduanya juga cukup jauh, bahkan telah dikarunia anak-anak yang lucu-lucu (anak-anak mewarisi tampang bule si ayah). Sudah menjadi rahasia umum deh hubungan spesial mereka yang disebut-sebut oleh orang kebanyakan adalah "kumpul kebo". Tapi mereka toh tak risih dengan istilah status yang mereka jalani selama itu. Namanya juga cinta.
Seandainya saja bisa memilih...kepada siapa cinta itu akan kita berikan, dimana cinta itu harus berlabuh...tapi tak ada yang tahu, itu adalah rahasia hati. Awal aku kuliah di Bali, ada seorang kakak seniorku yang menarik perhatianku,...yang ternyata juga sama tertariknya pada diriku. Kami berteman begitu akrab sampai akhirnya kami memutuskan untuk menjalin kasih. Kadang kalau mengingat masa-masa itu, aku jadi malu dan geli sendiri. Aku seorang muslim sedangkan cowokku itu Hindu Bali (cowok satu-satunya pula dalam keluarga). Sangking cintanya, kami sudah sampai membicarakan masalah pernikahan (konyol ga sih, baru aja masuk kuliah). Apalagi masalah kami kalau bukan perbedaan agama. Aku memintanya untuk mengikuti ajaran agamaku agar kami bisa menikah, sementara si doi adalah cowok satu-satunya dalam keluarga, ayahnya sudah meninggal (kakeknya apalagi), dan dalam sistem kekeluargaan Bali, cowok adalah yang paling berharga, cowok adalah pemimpin peribadatan dalam keluarga. Jadilah si doi yang berharap aku bisa menyesuaikan diri dengan kebudayaan mereka. Aku bahkan sempat membicarakan hal ini dengan kedua orang-tuaku, dan 'merengek' untuk tetap menikah dengan si doi apapun yang terjadi. Yang lucunya...begitu menggebu-gebunya kami di awal hubungan dengannya...lama-kelamaan hubungan kami terasa membosankan...sampai akhirnya aku merasakan cinta itu sirna dan memutuskan hubunganku dengannya. Cinta itu memang misteri.
Ada lagi ceritaku setelahnya. Teman seangkatanku yang paling aku benci (setiap ketemu pasti aku caci, benciiii banget...karena si doi tak pernah tidak mengganggu hidupku, apalagi kondisinya adalah kami tinggal di satu kawasan indekosan. Bukan rahasia lagi kalau kami berdua adalah musuh bebuyutan. Tapi entah kenapa, dan aku tak tahu juga bagaimana awal terjadinya...mendadak kami merasakan hal yang berbeda jika berdekatan...yang lebih aneh lagi, akhirnya kami pacaran!!! Malu dong mengakuinya, hubungan itu kami awali dengan backstreet dari teman-teman kami, fiuh...setelah capek umpet-umpetan terus...akhirnya ketauan juga. Awal-awalnya juga senang-senang saja, pada akhirnya uda agak bosan (tapi masih butuh temen jalan)...sampai kemudian kami yang sama-sama sudah selesai kuliah pulang ke kampung halaman masing-masing. Akhirnya, terjadi lagi...kami putus. Bahkan bukan hanya putus, hubungan dari benci ke cinta tadi, kembali lagi menjadi benci. Sungguh misteri yang belum dapat terpecahkan...mudah datang dan pergi...
Makanya kadang aku tak habis pikir dengan acara 'take me out', 'take him out', cari-cari jodoh, dan semacamnya. Apa bisa hanya dalam pertemuan semalam sudah bisa tumbuh rasa cinta? Yang aku tahu sih cinta itu butuh proses.
Ada tambahan nih soal misteri cinta tadi. Seorang wanita anggun yang berkesan bangsawan seperti Halimah, ditinggalkan oleh Bambang Triatmodjo hanya untuk seorang wanita 'prengesan' seperti Mayangsari. Mau bilang karena pelet juga,...emang ada yang bisa membuktikan? Yang bisa kita simpulkan kan hanya yang terlihat selama ini saja (entah itu fakta maupun bukan). Yang terlihat, Bambang memilih Mayang daripada Halimah, dan terlihat sangat sayang terhadap Kiran, anak dari Mayangsari (terlepas dari pemikiran itu anak Bambang atau bukan). Walaupun pengadilan telah memutuskan Bambang dan Halimah tidak boleh bercerai, tapi apa ada yang bisa menahan perasaan Bambang terhadap Mayang? Itu merupakan salah satu misteri cinta juga. Tak ada yang bisa menjawab, karena cinta memang tak butuh alasan. Bahkan poligami bisa terjadi juga karena rasa cinta yang sangat dari si istri yang rela dipoligami oleh sang suami. Cinta juga tak kenal rasa malu, gengsi, dan sebagainya, apalagi bagi mereka penganut 'unconditional love'. Sungguh berupa misteri cinta itu.
Luapan perasaanku, yang tak dapat aku ungkapkan kepada siapapun, yang tak mampu terpuaskan dengan kata-kata, terkadang ada kata yang terlupa jika secara lisan, kutuangkan dalam bentuk tulisan. Walaupun siapapun bisa saja berkunjung di blog ini, namun semua yang kuungkapkan di sini adalah sebuah 'kejujuran', karena 'rasa' memang tak dapat berbohong.
Jumat, November 13, 2009
Kamis, November 12, 2009
Mimpiku kelas 4SD
Sebelumnya, tak pernah terpikirkan olehku untuk menjadi seorang penulis. Aku menulis hanya karena aku tipikal wanita yang lebih mudah mengungkapkan perasaanku melalui pena dan secarik kertas. Tidak seperti kebanyakan wanita yang bisa dengan bebas bersikap, spontanitas yang tinggi, dan sebagainya, aku seorang yang sukar menentukan bagaimana harus bersikap.
Berawal ketika aku kelas 4 SD. Aku senang sekali mengoleksi buku diary. Berbeda dengan teman-temanku yang lain yang lebih senang dihadiahi berbagai macam mainan (atau mungkin juga karena papaku sudah memfasilitasi diriku dengan berbagai macam permainan anak di rumah, jadi aku tak begitu respek dengan hadiah mainan dari teman-temanku itu), aku lebih berbahagia jika isi kado pemberian dari teman-temanku berupa diary atau komik Jepang (serial Mary Chan/ballet ketika itu, mamiku yang selalu membelikannya). Saat itu aku bersahabat kental dengan Dewa yang kebetulan hobinya sama yaitu menyukai komik ballet Jepang dan buku kosong/diary buat corat-coret. Hanya saja, Dewa lebih condong mencoreti bukunya dengan gambar-gambar berbicara (komik), sedangkan aku berupa tulisan yang panjaaaang sekali alias karangan indah.
Cerpen pertamaku (pada waktu kelas 4 SD), berjudul "Sebatang kara". Aku bangga sekali dengan karyaku itu. Walaupun tulisannya masih jelek khas anak-anak banget (sampe sekarang masih jelek sih sebenernya, hihihihiiii), cara tuturnya juga masih kental SDnya,...tapi aku membiarkan orang tuaku dan para pegawai kantor mereka membacanya. Rasanya saat itu, aku tuh berharga banget karena bisa menciptakan sebuah cerita yang begitu dramatis. Entah kemana sekarang cerita itu, aku sudah lupa tempat menyimpannya.
Hingga sekarang aku masih menyukai menulis. Jika sedang susah hati, punya masalah di tempat kerja, masalah dengan keluarga, aku menuangkannya dalam bentuk tulisan,...walau hanya berupa update status di facebook, berupa note di fb juga, maupun di blog ini. Sayangnya dengan waktu senggangku yang sangat minim, aku tidak bisa terlalu mengeksplorasi bakatku ini. Berbeda ketika aku yang baru saja menyelesaikan kuliahku (tinggal nyelesaikan skripsi saja), waktu senggangku banyaaak banget. Berbagai tulisan mampir di komputerku (bahkan sekarang sudah bersemayam di komputerku, maklum...uda 5 taon berlalu, komputerku uda minta ganti perangkat), diantaranya adalah cerpen "Calon Mertua".
Cerpen "Calon Mertua" itu aku tulis bersetting antara Banjarmasin-Balikpapan. Bahasa yang digunakan sebagiannya adalah bahasa Banjar. Kejadian yang dikisahkan terinspirasi dari kondisiku saat itu. Kisah yang ringan saja sih sebenarnya, tapi yang bikin spesial adalah, cerita itu adalah ceritaku yang pertama yang dimuat di media massa, yaitu di majalah Kartika (edisi Juni 2007). Bukan hanya itu, yang bikin aku surprise lagi, cerita remaja yang aku buat, berjudul "Ketupat Merah Jambu" menjadi juara kedua lomba cerpen lebaran Tabloid Gaul (tahun 2007 juga tuh) dan dimuat pula di Tabloid GAUL. Senaaaaaangggg dehhh...bukan masalah duitnya, tapi karena cerpenku yang terpampang di majalah dengan namaku sebagai pengarangnya-lah yang lebih spesial.
Bulan April tahun 2008 adalah yang paling spesial dari semuanya. Karena iseng-iseng mengarang cerita bersambung, ber-setting Bali dan kebudayaannya, dengan judul "Ketika Dayu memilih Cinta", dan iseng mengirimkannya (ketika sudah selesai aku tulis) ke majalah Femina, yang katanya majalah wanita paling bergengsi di Indonesia ini,...tidak begitu optimis juga sih bakalan dimuat, mengingat Femina punya kelas tersendiri,...namun ternyata, kisah itu dimuat! Aku berhasil menjadi penulis cerita bersambung. Berturut-turut dalam 4 edisi ceritaku itu dimuat dan tertulis namaku di sana, dengan honor yang juga menurutku sangat banyak (Khususnya untuk penulis pemula sepertiku. Bukan hanya dimuat di majalahnya (dalam bentuk media massa), melainkan juga di websitenya...dan masih dimuat sampai sekarang, alasan itu pula yang membuatku sangat respek pada Femina. Bagi kalian yang belum sempat membaca karyaku, bisa kunjungi web-nya Femina: http://www.femina-online.com/cerber/cerber_detail.asp?id=637&views=5012
Setelah itu, aku belum pernah lagi mengirimkan tulisanku ke majalah, karena hasil tulisanku saat ini menurutku sangat standard sedangkan aku belum mood-ku ga begitu bagus sejak pekerjaanku menyita banyak sekali waktuku, mungkin karena rasa capek...aku agak malas untuk berpikir, jadinya keseharianku habis untuk bekerja dan browsing di internet aja, atau sedikit cuap-cuap ga penting melalui blog. Walaupun begitu, masih tersimpan hasratku untuk menerbitkan sebuah buku karyaku sendiri suatu saat. Entah itu novel atau hanya kumpulan cerpen karyaku. Jika suatu saat aku berhasil menerbitkan sebuah buku, aku kasih satu buat Femina deh, heheee...semoga aja suatu waktu aku bisa mewujudkan mimpiku itu, mimpi dan kebanggaanku sejak kelas 4 SD.
Berawal ketika aku kelas 4 SD. Aku senang sekali mengoleksi buku diary. Berbeda dengan teman-temanku yang lain yang lebih senang dihadiahi berbagai macam mainan (atau mungkin juga karena papaku sudah memfasilitasi diriku dengan berbagai macam permainan anak di rumah, jadi aku tak begitu respek dengan hadiah mainan dari teman-temanku itu), aku lebih berbahagia jika isi kado pemberian dari teman-temanku berupa diary atau komik Jepang (serial Mary Chan/ballet ketika itu, mamiku yang selalu membelikannya). Saat itu aku bersahabat kental dengan Dewa yang kebetulan hobinya sama yaitu menyukai komik ballet Jepang dan buku kosong/diary buat corat-coret. Hanya saja, Dewa lebih condong mencoreti bukunya dengan gambar-gambar berbicara (komik), sedangkan aku berupa tulisan yang panjaaaang sekali alias karangan indah.
Cerpen pertamaku (pada waktu kelas 4 SD), berjudul "Sebatang kara". Aku bangga sekali dengan karyaku itu. Walaupun tulisannya masih jelek khas anak-anak banget (sampe sekarang masih jelek sih sebenernya, hihihihiiii), cara tuturnya juga masih kental SDnya,...tapi aku membiarkan orang tuaku dan para pegawai kantor mereka membacanya. Rasanya saat itu, aku tuh berharga banget karena bisa menciptakan sebuah cerita yang begitu dramatis. Entah kemana sekarang cerita itu, aku sudah lupa tempat menyimpannya.
Hingga sekarang aku masih menyukai menulis. Jika sedang susah hati, punya masalah di tempat kerja, masalah dengan keluarga, aku menuangkannya dalam bentuk tulisan,...walau hanya berupa update status di facebook, berupa note di fb juga, maupun di blog ini. Sayangnya dengan waktu senggangku yang sangat minim, aku tidak bisa terlalu mengeksplorasi bakatku ini. Berbeda ketika aku yang baru saja menyelesaikan kuliahku (tinggal nyelesaikan skripsi saja), waktu senggangku banyaaak banget. Berbagai tulisan mampir di komputerku (bahkan sekarang sudah bersemayam di komputerku, maklum...uda 5 taon berlalu, komputerku uda minta ganti perangkat), diantaranya adalah cerpen "Calon Mertua".
Cerpen "Calon Mertua" itu aku tulis bersetting antara Banjarmasin-Balikpapan. Bahasa yang digunakan sebagiannya adalah bahasa Banjar. Kejadian yang dikisahkan terinspirasi dari kondisiku saat itu. Kisah yang ringan saja sih sebenarnya, tapi yang bikin spesial adalah, cerita itu adalah ceritaku yang pertama yang dimuat di media massa, yaitu di majalah Kartika (edisi Juni 2007). Bukan hanya itu, yang bikin aku surprise lagi, cerita remaja yang aku buat, berjudul "Ketupat Merah Jambu" menjadi juara kedua lomba cerpen lebaran Tabloid Gaul (tahun 2007 juga tuh) dan dimuat pula di Tabloid GAUL. Senaaaaaangggg dehhh...bukan masalah duitnya, tapi karena cerpenku yang terpampang di majalah dengan namaku sebagai pengarangnya-lah yang lebih spesial.
Bulan April tahun 2008 adalah yang paling spesial dari semuanya. Karena iseng-iseng mengarang cerita bersambung, ber-setting Bali dan kebudayaannya, dengan judul "Ketika Dayu memilih Cinta", dan iseng mengirimkannya (ketika sudah selesai aku tulis) ke majalah Femina, yang katanya majalah wanita paling bergengsi di Indonesia ini,...tidak begitu optimis juga sih bakalan dimuat, mengingat Femina punya kelas tersendiri,...namun ternyata, kisah itu dimuat! Aku berhasil menjadi penulis cerita bersambung. Berturut-turut dalam 4 edisi ceritaku itu dimuat dan tertulis namaku di sana, dengan honor yang juga menurutku sangat banyak (Khususnya untuk penulis pemula sepertiku. Bukan hanya dimuat di majalahnya (dalam bentuk media massa), melainkan juga di websitenya...dan masih dimuat sampai sekarang, alasan itu pula yang membuatku sangat respek pada Femina. Bagi kalian yang belum sempat membaca karyaku, bisa kunjungi web-nya Femina: http://www.femina-online.com/cerber/cerber_detail.asp?id=637&views=5012
Setelah itu, aku belum pernah lagi mengirimkan tulisanku ke majalah, karena hasil tulisanku saat ini menurutku sangat standard sedangkan aku belum mood-ku ga begitu bagus sejak pekerjaanku menyita banyak sekali waktuku, mungkin karena rasa capek...aku agak malas untuk berpikir, jadinya keseharianku habis untuk bekerja dan browsing di internet aja, atau sedikit cuap-cuap ga penting melalui blog. Walaupun begitu, masih tersimpan hasratku untuk menerbitkan sebuah buku karyaku sendiri suatu saat. Entah itu novel atau hanya kumpulan cerpen karyaku. Jika suatu saat aku berhasil menerbitkan sebuah buku, aku kasih satu buat Femina deh, heheee...semoga aja suatu waktu aku bisa mewujudkan mimpiku itu, mimpi dan kebanggaanku sejak kelas 4 SD.
Rabu, November 11, 2009
Klarifikasi soal "Punk Rock Jalanan"
Sedikit klarifikasi atas cerita yang sempat aku tulis berjudul "Punk Rock Jalanan" sekitar satu setengah tahun yang lalu di blogku yang lain: http://annisa_pinguin.blog.friendster.com
Memang aku bukanlah artis (pasti kalian berpikir, "Sok ngartis, klarifikasi segala!"), bukan selebritis, maupun bukan Rani Juliani yang mendadak jadi selebritis karena kasus Antasari Azhar dan Nasrudin Zulkarnain,...("Siapa sih Annisa Tang itu?", pasti banyak yang tak tahu dan merasa tak penting untuk mengetahui. Begitu sudah mengetahui, sekiranya beginilah komentar mereka, "Ah, ternyata si pinguin itu, ga penting."),...dan aku juga tak ingin mendadak menjadi selebritis yang membuat heboh dunia maya, apalagi dunia media (ampuuun...), hanya karena kisah tak penting yang aku buat ini. Berikut aku sertakan secara utuh kisah itu, dan kisah ini memang ternyata banyak mengundang komen-komen positif (ada juga sih beberapa yang mencercanya), terutama dari kalangan anak punk itu sendiri.
“Punk Rock Jalanan”
(kisah ini Terinspirasi dari kisah nyata)
Tersebutlah seorang pemuda berusia 15 tahun. Namanya Tigor bersekolah kelas 3 SMP
Kartika Balikpapan. Lahir di keluarga baik-baik. Konon ceritanya keluarganya yang
tadinya kaya-raya mendadak jatuh miskin karena perusahaan sang ayah yang bergerak
di bidang kontraktor sipil gulung tikar. Di tengah hobinya bergabung dengan klub
BMX, Tigor tidak dapat memenuhi kebutuhannya untuk menyalurkan hobinya itu lebih
dalam…yaitu memakai barang-barang bermerk di tubuhnya, membeli ornamen-ornamen
untuk sepedanya, dan sebagainya. Belum lagi ejekan dari teman-teman satu klub yang
selalu diterimanya. Sementara di satu sisi, terdapat sebuah klub juga yang menamai
diri mereka ‘street guys‘. Dalam jiwanya yang labil, Tigor akhirnya membelot.
Anak-anak ‘street‘ jiwa kekeluargaannya lebih besar dibanding anak-anak BMX yang
berasal dari keluarga ‘berada’.
Tigor mulai merokok, bahkan untuk anak seusianya
yang masih tergolong belia, ia sudah mulai mengenal alkohol. Orang tuanya tak
henti-henti menasehatinya, tapi doktrin punk terlalu kuat…isinya antara lain
“Nazi fuck…polisi anjing…kita bukan budak, jangan mau disuruh-suruh…kami
anti kemapanan!!!”. Orang tuanya hanya bisa mengurut-urut dada saja ketika Tigor
membantah sewaktu disuruh membuang sampah rumah tangga mereka di tempat pembuangan
sampah yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Hingga suatu waktu sang ayah marah
besar ketika Tigor membentak beliau hanya karna disuruh pergi ke warung makan.
Kemarahan sang ayah membuat Tigor begitu sakit hati karena Tigor belum pernah
melihat sang ayah semarah itu kepadanya. Tigor pergi dari rumah tanpa membawa baju
ganti satupun. Ia pergi bersama kumpulan barunya yaitu ‘street guys‘ ato lebih
kita kenal dengan nama anak punk yang sesungguhnya keberadaan mereka sangat
meresahkan masyarakat sekitar dan selalu membuat para polisi jengkel.
Di sinilah petualangan Tigor dimulai. Bersama kumpulan barunya ia ikut mengamen di
lampu merah, jika lapar dan tidak cukup uang ia mentegakan dirinya mengorek-ngorek
tempat sampah demi mengobati perutnya yang sangat kelaparan. Sementara ayah dan
ibunya menangis berhari-hari di rumah, berharap Tigor, anak laki-laki satu-satunya
mereka segera pulang ke rumah. Tigor memiliki seorang kakak perempuan yang
kemudian diasuh oleh tantenya setelah mereka jatuh miskin.
Akhirnya suatu saat ibunya mendapati anak lelakinya itu sedang mengorek sebuah tong sampah. Kulitnya
bertambah hitam, tubuh jangkungnya terlihat semakin kurus, rambutnya yang hitam
legam bagus berubah menjadi model mohawk yang tak beraturan dan berwarna merah
yang entah mungkin dari cat rambut murahan. Ibunya menangis melihat anaknya itu
dan memintanya pulang ke rumah. Tapi Tigor tetap membantah sampai akhirnya
temannya membujuknya untuk pulang…dan pulanglah ia.
Ayahnya mulai mengalah padanya. Motor satu-satunya yang tersisa di rumah itu khusus untuk Tigor pakai.
Tigor mulai mau sekolah lagi, tapi di akhir pekan, tak ada yang bisa menghalangi
langkahnya untuk pergi ke Samarinda, 2 setengah jam dari Balikpapan waktu
tempuhnya, bersama anak-anak punk. Namun ayah dan ibunya tak begitu khawatir
karena di Samarinda banyak tante-tante dan sepupunya.
Sampai akhirnya ia berkenalan dengan seorang gadis kelas 3 SMP di SMPN 2 Samarinda bernama
Liza. Kebetulan Liza adalah teman satu sekolah sepupunya. Tigor pulang ke
Balikpapan dengan hati berbunga-bunga. Bertambah rajinlah ia berkunjung ke
Samarinda karena gadis bernama Liza ini. Orang tuanya sungguh khawatir sesuatu
terjadi padanya sepanjang perjalanan lintas kota itu.
Akhirnya kelulusan tiba juga. Tigor masuk ke STM Swasta satu-satunya di Balikpapan, jurusan elektro.
Belum selesai cobaan yang harus Tigor dan keluarganya terima, berawal
dari kecurigaan kedua orang tuanya kalau si anak buta warna karena Tigor
sangat susah membedakan antara warna merah muda dan hijau, ditambah lagi dengan
sang ayah adalah seorang yang buta warna. Akhirnya keluarga membawanya ke
puskesmas, namun kata puskesmas hanyalah kurang latihan. Oleh karena itu kedua
orang tuanya tetap nekad memasukkan ke STM yang terdekat dari rumahnya.Namun
karena sudah dilatih berulang-ulang si Tigor belum juga bisa menghafal warna-warna
tersebut, dengan bantuan sang tante, kemudian Tigor kembali untuk melakukan pemeriksaan dan dibawa ke dokter
spesialis mata. Tigor dinyatakan buta warna parsial (60%). Bermaksud baik, sang ibu
membawa surat pernyataan dari dokter itu ke pihak sekolahnya agar anaknya
dipindahkan jurusan ke jurusan otomotif saja. Ternyata pihak sekolah malah
beranggapan bahwa anak buta warna sama sekali tidak bisa masuk di STM di jurusan apapun, jadi lebih
baik pindah ke sekolah umum saja. Padahal STM tersebut sebelumnya tidak melakukan
test buta warna terhadap calon-calon siswanya maupun meminta surat pernyataan
tidak buta warna terlebih dahulu dari para calon siswanya, seperti yang dilakukan
oleh STM negeri.
Di sekolah teman-teman memperlakukannya seperti orang yang
dikucilkan, sikap sang guru juga kurang baik kepadanya (karena Tigor memang bukan
siswa teladan di sekolahnya). Akhirnya Tigor membuat keputusan untuk berhenti
sekolah. Ia hanya mempunyai ijazah SMP dan tambah menjadi-jadi kehidupan malam
dijalaninya di usianya yang baru 16 tahun itu.
Suatu hari yang paling membuat orang tuanya shock adalah Tigor yang baru pulang dari Samarinda, membawa Liza
pacarnya ke rumah. Saat itu memang sang kakak sedang nginap juga di rumahnya.
Ketika ditanya oleh orang tuanya, katanya si Liza akan menginap semalam, mau
jalan-jalan dulu di Balikpapan, tidurnya bareng kakaknya saja. Ketika orang
tuanya menanyai Liza apakah sudah ijin kepada orang tuanya, Liza bilang sudah.
Walau masih sedikit curiga karena Liza masih menggunakan seragam pramuka, namun
orang tua Tigor cukup lega karena menurut Liza ia sudah meminta ijin sebelum ke
Balikpapan.
Sampai kemudian terjadi kehebohan besar. Tantenya Tigor telpon ke rumah
menanyai Tigor tentang keberadaan Liza karena orang tua Liza membuat ribut di
rumah tantenya tersebut. Ketika mengetahui Tigor membawa Liza ke Balikpapan,
tantenya langsung menyuruh mamanya Liza berbicara sendiri kepada ibunya Tigor. Ibu
meminta mamanya Liza untuk tidak terlalu khawatir, namun mamanya Liza tetap
bersikukuh meminta alamat Tigor di Balikpapan.
Di tengah tidur pulasnya, Liza, jam 4 subhu, orang tuanya menjemput menggunakan taxi argo. Mereka tampak sangat
khawatir karena Liza adalah anak semata-wayang mereka. Akhirnya Liza dilarang orang tuanya menemui Tigor lagi.
Tigor datang ke Samarinda sudah tidak disambut baik lagi oleh
keluarganya Liza. Orang tua Liza tidak suka Tigor bergaul dengan Liza karena Tigor
hanyalah seorang yang lulusan SMP, dan seorang punker. Liza berasal dari keluarga
kaya.
Tigor patah hati berat dengan Liza. Tigor mencoba untuk bunuh diri, namun teman-teman satu kumpulannya
mencegahnya. Kehidupan Tigor tambah lekat pada
kehidupan punk. Waktunya habis untuk mengamen dan berkumpul bersama anak-anak punk
di jalanan. Puskib adalah tempat berkumpulnya mereka. Lampu merah adalah tempat
mereka mengamen. Lagu andalan anak-anak punk berjudul “Punk Rock Jalanan”. Lagu itu selalu Tigor nyanyikan saat
mengamen, karena Tigor merasa bahwa lagu itu sangat sesuai untuknya, dia memang seorang “Punk Rock Jalanan”.
Sewaktu orang tuanya memohonnya melepaskan diri dari punk, Tigor berkata, “Bu,
mereka juga keluargaku. Sewaktu motorku kehabisan bensin di kilometer 20-an, di
tengah hutan sana, aku menghubungi seorangpun temanku tak ada yang bisa datang
menolongku, tapi ketika aku menelpon Dedy, salah seorang teman punk, semua anak
punk Balikpapan datang menghampiriku, jalan kaki mereka dari kota demi aku,
menemaniku mendorong motor sampai aku bisa mengisi bensin motorku. Aku menangis dalam hati
saat itu. Karena sebenarnya saat itu aku sudah ingin lepas dari mereka. Saat Liza meninggalkanku, punk tidak
pernah meninggalkanku.”
Orang tuanya terharu dan tidak sanggup berkata apapun lagi.
Punk memang meresahkan masyarakat, mungkin karena mereka
terkesan urakan, tapi sikap kekeluargaan mereka terhadap sesamanya patut diacungi
jempol. Begitulah kisah Tigor, Punk Rock Jalanan.
Catatan: It’s not a true story, just inspiration from a true story
Aku memang telah menyelipkan catatan di akhir kisah itu, yang menyatakan kalau ini bukan kisah nyata! Tokoh dan setting tempat hanyalah fiktif belaka, jangan dipikir beneran lowh! Hanya memang ada tertulis bahwa kisah itu terinspirasi dari kisah nyata,...maksudnya adalah, heheee...(sedikit usil nih), karena lagu yang entah dikarang oleh siapa berjudul "Punk Rock Jalanan"-lah yang membuatku menulis kisah ini, aku juga mendapatkan lagu itu dari rekan, dengan nama penyanyinya adalah Ucil (Aku juga menampilkan Mp3 Punk Rock Jalanan dan liriknya (namun tidak utuh, baru kuketahui belakangan ini kalau lagu itu ada sambungannya) pada blogku yang di friendster itu. Kenapa aku tulis terinspirasi dari kisah nyata, karena ada kisah sekitarku yang mirip-mirip seperti itu (hanya berdasarkan sistem 'dengar-dengar' semata.
Jadi aku mohon maaf sebelumnya jika ada pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh ditulisnya kisah ini. Dan aku tegaskan sekali lagi, nama tokoh, lokasi dan setting (tempat, nama sekolah, dsb), hanyalah karangan belaka. Kenapa SMP Kartika yang saat itu ada dalam pikiranku, karena kebetulan ada adik sepupuku yang bersekolah di SMP tersebut. Aku juga mohon maaf seutuhnya jika ada yang benar-benar menyakini kebenaran dari kisah ini.
Kalian semua pasti bertanya, kenapa aku begitu mempermasalahkan cerita karyaku yang hampir aku sendiri lupakan (karena blogku itu sendiri sudah ga pernah aku update, oleh karenanya aku baru-baru membuat blog lagi di blogger ini). Aku hanya tak ingin kisah ini menimbulkan kehebohan dan kecemasan yang berlebihan di kedepannya, seperti 'kedatangan Miyabi' di Indonesia baru-baru ini yang justru semakin meningkatkan kepopulerannya.
Karena aku agak kaget saja ketika baru-baru ini adik sepupuku yang kebetulan browsing di sebuah situs mengenai 'sejarah SMP Kartika', menemukan cerita ini (cerita yang nyaris aku lupakan), dan ketika ia menceritakannya padaku, terkaget-kagetlah aku karena ternyata cerita itu adalah cerita yang pernah aku tulis dan publish di blog. Apalagi dia publish kembali kisah itu melalui facebook dan tag aku ke dalam cerita itu. Yang lebih bikin aku kaget, ketika adikku itu berkata, "Tapi itu kayaknya bukan dari blog kakak kok, masa iya kakak?"
Sangking penasarannya, aku coba browsing di internet dengan kata kunci 'Sejarah SMP Kartika Balikpapan' (seperti sebelumnya adikku browsing), dan benar saja, aku menemukan kisah itu dimuat dari berbagai blog,...bukan hanya satu blog yang memuatnya, terdapat beberapa blog yang memuatnya juga. Sekarang aku hanya bisa berharap agar semua orang segera melupakan kisah yang tak penting itu sebelum menjadikannya beban dalam hidupku.
Memang aku bukanlah artis (pasti kalian berpikir, "Sok ngartis, klarifikasi segala!"), bukan selebritis, maupun bukan Rani Juliani yang mendadak jadi selebritis karena kasus Antasari Azhar dan Nasrudin Zulkarnain,...("Siapa sih Annisa Tang itu?", pasti banyak yang tak tahu dan merasa tak penting untuk mengetahui. Begitu sudah mengetahui, sekiranya beginilah komentar mereka, "Ah, ternyata si pinguin itu, ga penting."),...dan aku juga tak ingin mendadak menjadi selebritis yang membuat heboh dunia maya, apalagi dunia media (ampuuun...), hanya karena kisah tak penting yang aku buat ini. Berikut aku sertakan secara utuh kisah itu, dan kisah ini memang ternyata banyak mengundang komen-komen positif (ada juga sih beberapa yang mencercanya), terutama dari kalangan anak punk itu sendiri.
“Punk Rock Jalanan”
(kisah ini Terinspirasi dari kisah nyata)
Tersebutlah seorang pemuda berusia 15 tahun. Namanya Tigor bersekolah kelas 3 SMP
Kartika Balikpapan. Lahir di keluarga baik-baik. Konon ceritanya keluarganya yang
tadinya kaya-raya mendadak jatuh miskin karena perusahaan sang ayah yang bergerak
di bidang kontraktor sipil gulung tikar. Di tengah hobinya bergabung dengan klub
BMX, Tigor tidak dapat memenuhi kebutuhannya untuk menyalurkan hobinya itu lebih
dalam…yaitu memakai barang-barang bermerk di tubuhnya, membeli ornamen-ornamen
untuk sepedanya, dan sebagainya. Belum lagi ejekan dari teman-teman satu klub yang
selalu diterimanya. Sementara di satu sisi, terdapat sebuah klub juga yang menamai
diri mereka ‘street guys‘. Dalam jiwanya yang labil, Tigor akhirnya membelot.
Anak-anak ‘street‘ jiwa kekeluargaannya lebih besar dibanding anak-anak BMX yang
berasal dari keluarga ‘berada’.
Tigor mulai merokok, bahkan untuk anak seusianya
yang masih tergolong belia, ia sudah mulai mengenal alkohol. Orang tuanya tak
henti-henti menasehatinya, tapi doktrin punk terlalu kuat…isinya antara lain
“Nazi fuck…polisi anjing…kita bukan budak, jangan mau disuruh-suruh…kami
anti kemapanan!!!”. Orang tuanya hanya bisa mengurut-urut dada saja ketika Tigor
membantah sewaktu disuruh membuang sampah rumah tangga mereka di tempat pembuangan
sampah yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Hingga suatu waktu sang ayah marah
besar ketika Tigor membentak beliau hanya karna disuruh pergi ke warung makan.
Kemarahan sang ayah membuat Tigor begitu sakit hati karena Tigor belum pernah
melihat sang ayah semarah itu kepadanya. Tigor pergi dari rumah tanpa membawa baju
ganti satupun. Ia pergi bersama kumpulan barunya yaitu ‘street guys‘ ato lebih
kita kenal dengan nama anak punk yang sesungguhnya keberadaan mereka sangat
meresahkan masyarakat sekitar dan selalu membuat para polisi jengkel.
Di sinilah petualangan Tigor dimulai. Bersama kumpulan barunya ia ikut mengamen di
lampu merah, jika lapar dan tidak cukup uang ia mentegakan dirinya mengorek-ngorek
tempat sampah demi mengobati perutnya yang sangat kelaparan. Sementara ayah dan
ibunya menangis berhari-hari di rumah, berharap Tigor, anak laki-laki satu-satunya
mereka segera pulang ke rumah. Tigor memiliki seorang kakak perempuan yang
kemudian diasuh oleh tantenya setelah mereka jatuh miskin.
Akhirnya suatu saat ibunya mendapati anak lelakinya itu sedang mengorek sebuah tong sampah. Kulitnya
bertambah hitam, tubuh jangkungnya terlihat semakin kurus, rambutnya yang hitam
legam bagus berubah menjadi model mohawk yang tak beraturan dan berwarna merah
yang entah mungkin dari cat rambut murahan. Ibunya menangis melihat anaknya itu
dan memintanya pulang ke rumah. Tapi Tigor tetap membantah sampai akhirnya
temannya membujuknya untuk pulang…dan pulanglah ia.
Ayahnya mulai mengalah padanya. Motor satu-satunya yang tersisa di rumah itu khusus untuk Tigor pakai.
Tigor mulai mau sekolah lagi, tapi di akhir pekan, tak ada yang bisa menghalangi
langkahnya untuk pergi ke Samarinda, 2 setengah jam dari Balikpapan waktu
tempuhnya, bersama anak-anak punk. Namun ayah dan ibunya tak begitu khawatir
karena di Samarinda banyak tante-tante dan sepupunya.
Sampai akhirnya ia berkenalan dengan seorang gadis kelas 3 SMP di SMPN 2 Samarinda bernama
Liza. Kebetulan Liza adalah teman satu sekolah sepupunya. Tigor pulang ke
Balikpapan dengan hati berbunga-bunga. Bertambah rajinlah ia berkunjung ke
Samarinda karena gadis bernama Liza ini. Orang tuanya sungguh khawatir sesuatu
terjadi padanya sepanjang perjalanan lintas kota itu.
Akhirnya kelulusan tiba juga. Tigor masuk ke STM Swasta satu-satunya di Balikpapan, jurusan elektro.
Belum selesai cobaan yang harus Tigor dan keluarganya terima, berawal
dari kecurigaan kedua orang tuanya kalau si anak buta warna karena Tigor
sangat susah membedakan antara warna merah muda dan hijau, ditambah lagi dengan
sang ayah adalah seorang yang buta warna. Akhirnya keluarga membawanya ke
puskesmas, namun kata puskesmas hanyalah kurang latihan. Oleh karena itu kedua
orang tuanya tetap nekad memasukkan ke STM yang terdekat dari rumahnya.Namun
karena sudah dilatih berulang-ulang si Tigor belum juga bisa menghafal warna-warna
tersebut, dengan bantuan sang tante, kemudian Tigor kembali untuk melakukan pemeriksaan dan dibawa ke dokter
spesialis mata. Tigor dinyatakan buta warna parsial (60%). Bermaksud baik, sang ibu
membawa surat pernyataan dari dokter itu ke pihak sekolahnya agar anaknya
dipindahkan jurusan ke jurusan otomotif saja. Ternyata pihak sekolah malah
beranggapan bahwa anak buta warna sama sekali tidak bisa masuk di STM di jurusan apapun, jadi lebih
baik pindah ke sekolah umum saja. Padahal STM tersebut sebelumnya tidak melakukan
test buta warna terhadap calon-calon siswanya maupun meminta surat pernyataan
tidak buta warna terlebih dahulu dari para calon siswanya, seperti yang dilakukan
oleh STM negeri.
Di sekolah teman-teman memperlakukannya seperti orang yang
dikucilkan, sikap sang guru juga kurang baik kepadanya (karena Tigor memang bukan
siswa teladan di sekolahnya). Akhirnya Tigor membuat keputusan untuk berhenti
sekolah. Ia hanya mempunyai ijazah SMP dan tambah menjadi-jadi kehidupan malam
dijalaninya di usianya yang baru 16 tahun itu.
Suatu hari yang paling membuat orang tuanya shock adalah Tigor yang baru pulang dari Samarinda, membawa Liza
pacarnya ke rumah. Saat itu memang sang kakak sedang nginap juga di rumahnya.
Ketika ditanya oleh orang tuanya, katanya si Liza akan menginap semalam, mau
jalan-jalan dulu di Balikpapan, tidurnya bareng kakaknya saja. Ketika orang
tuanya menanyai Liza apakah sudah ijin kepada orang tuanya, Liza bilang sudah.
Walau masih sedikit curiga karena Liza masih menggunakan seragam pramuka, namun
orang tua Tigor cukup lega karena menurut Liza ia sudah meminta ijin sebelum ke
Balikpapan.
Sampai kemudian terjadi kehebohan besar. Tantenya Tigor telpon ke rumah
menanyai Tigor tentang keberadaan Liza karena orang tua Liza membuat ribut di
rumah tantenya tersebut. Ketika mengetahui Tigor membawa Liza ke Balikpapan,
tantenya langsung menyuruh mamanya Liza berbicara sendiri kepada ibunya Tigor. Ibu
meminta mamanya Liza untuk tidak terlalu khawatir, namun mamanya Liza tetap
bersikukuh meminta alamat Tigor di Balikpapan.
Di tengah tidur pulasnya, Liza, jam 4 subhu, orang tuanya menjemput menggunakan taxi argo. Mereka tampak sangat
khawatir karena Liza adalah anak semata-wayang mereka. Akhirnya Liza dilarang orang tuanya menemui Tigor lagi.
Tigor datang ke Samarinda sudah tidak disambut baik lagi oleh
keluarganya Liza. Orang tua Liza tidak suka Tigor bergaul dengan Liza karena Tigor
hanyalah seorang yang lulusan SMP, dan seorang punker. Liza berasal dari keluarga
kaya.
Tigor patah hati berat dengan Liza. Tigor mencoba untuk bunuh diri, namun teman-teman satu kumpulannya
mencegahnya. Kehidupan Tigor tambah lekat pada
kehidupan punk. Waktunya habis untuk mengamen dan berkumpul bersama anak-anak punk
di jalanan. Puskib adalah tempat berkumpulnya mereka. Lampu merah adalah tempat
mereka mengamen. Lagu andalan anak-anak punk berjudul “Punk Rock Jalanan”. Lagu itu selalu Tigor nyanyikan saat
mengamen, karena Tigor merasa bahwa lagu itu sangat sesuai untuknya, dia memang seorang “Punk Rock Jalanan”.
Sewaktu orang tuanya memohonnya melepaskan diri dari punk, Tigor berkata, “Bu,
mereka juga keluargaku. Sewaktu motorku kehabisan bensin di kilometer 20-an, di
tengah hutan sana, aku menghubungi seorangpun temanku tak ada yang bisa datang
menolongku, tapi ketika aku menelpon Dedy, salah seorang teman punk, semua anak
punk Balikpapan datang menghampiriku, jalan kaki mereka dari kota demi aku,
menemaniku mendorong motor sampai aku bisa mengisi bensin motorku. Aku menangis dalam hati
saat itu. Karena sebenarnya saat itu aku sudah ingin lepas dari mereka. Saat Liza meninggalkanku, punk tidak
pernah meninggalkanku.”
Orang tuanya terharu dan tidak sanggup berkata apapun lagi.
Punk memang meresahkan masyarakat, mungkin karena mereka
terkesan urakan, tapi sikap kekeluargaan mereka terhadap sesamanya patut diacungi
jempol. Begitulah kisah Tigor, Punk Rock Jalanan.
Catatan: It’s not a true story, just inspiration from a true story
Aku memang telah menyelipkan catatan di akhir kisah itu, yang menyatakan kalau ini bukan kisah nyata! Tokoh dan setting tempat hanyalah fiktif belaka, jangan dipikir beneran lowh! Hanya memang ada tertulis bahwa kisah itu terinspirasi dari kisah nyata,...maksudnya adalah, heheee...(sedikit usil nih), karena lagu yang entah dikarang oleh siapa berjudul "Punk Rock Jalanan"-lah yang membuatku menulis kisah ini, aku juga mendapatkan lagu itu dari rekan, dengan nama penyanyinya adalah Ucil (Aku juga menampilkan Mp3 Punk Rock Jalanan dan liriknya (namun tidak utuh, baru kuketahui belakangan ini kalau lagu itu ada sambungannya) pada blogku yang di friendster itu. Kenapa aku tulis terinspirasi dari kisah nyata, karena ada kisah sekitarku yang mirip-mirip seperti itu (hanya berdasarkan sistem 'dengar-dengar' semata.
Jadi aku mohon maaf sebelumnya jika ada pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh ditulisnya kisah ini. Dan aku tegaskan sekali lagi, nama tokoh, lokasi dan setting (tempat, nama sekolah, dsb), hanyalah karangan belaka. Kenapa SMP Kartika yang saat itu ada dalam pikiranku, karena kebetulan ada adik sepupuku yang bersekolah di SMP tersebut. Aku juga mohon maaf seutuhnya jika ada yang benar-benar menyakini kebenaran dari kisah ini.
Kalian semua pasti bertanya, kenapa aku begitu mempermasalahkan cerita karyaku yang hampir aku sendiri lupakan (karena blogku itu sendiri sudah ga pernah aku update, oleh karenanya aku baru-baru membuat blog lagi di blogger ini). Aku hanya tak ingin kisah ini menimbulkan kehebohan dan kecemasan yang berlebihan di kedepannya, seperti 'kedatangan Miyabi' di Indonesia baru-baru ini yang justru semakin meningkatkan kepopulerannya.
Karena aku agak kaget saja ketika baru-baru ini adik sepupuku yang kebetulan browsing di sebuah situs mengenai 'sejarah SMP Kartika', menemukan cerita ini (cerita yang nyaris aku lupakan), dan ketika ia menceritakannya padaku, terkaget-kagetlah aku karena ternyata cerita itu adalah cerita yang pernah aku tulis dan publish di blog. Apalagi dia publish kembali kisah itu melalui facebook dan tag aku ke dalam cerita itu. Yang lebih bikin aku kaget, ketika adikku itu berkata, "Tapi itu kayaknya bukan dari blog kakak kok, masa iya kakak?"
Sangking penasarannya, aku coba browsing di internet dengan kata kunci 'Sejarah SMP Kartika Balikpapan' (seperti sebelumnya adikku browsing), dan benar saja, aku menemukan kisah itu dimuat dari berbagai blog,...bukan hanya satu blog yang memuatnya, terdapat beberapa blog yang memuatnya juga. Sekarang aku hanya bisa berharap agar semua orang segera melupakan kisah yang tak penting itu sebelum menjadikannya beban dalam hidupku.
Senin, November 02, 2009
Jumat, Oktober 30, 2009
Rasa sesal
Ada seekor anak kucing dibuang di muka rumahku.Sepanjang malam mengeong tak henti,berjalan tak tentu arah sampai di persinggahan terakhirnya yaitu di belakang rumahku (benar-benar persinggahan terakhirnya).
Pagi hari yang cerah aku mandi keramas,blow rambutku yang masih basah,masih pula kudengar suara kucing yang mengeong itu.Aku mengintipnya dari teras atas kamarku,anak kucing itu terus mengeong,mondar mandir mencari induknya.
Tergerak hatiku ingin memungutny,namun kemudian kuurungkan niatku itu mengingat papaku sedikit terganggu dengan hadirnya banyak kucing di halaman rumahku.Saat itu juga kebetulan ada ibu-ibu gendut bersepeda motor yang sedang melihat rumah kontrakan nenekku.
Masih mondar-mandir ga jelas antara mau mengambil naik anak kucing itu atau hanya sekedar mencarikannya wadah untuk mengantarkanny susu demi menyelamatkan sedikit dari rasa lapar,aku dengar suara gaduh dari luar.
Ibu gendut itu sibuk minta-minta maaf pada mami,mendadak jantungku berhenti berdetak melihat sang anak kucing yang sudah tergelepar tak berdaya tepat di belakang ban motor si ibu gendut.Sontak aku ambil langkah seribu menuju TKP.Dengan tangan gemetar aku ambil anak kucing yang masih kejang-kejang mengeluarkan darah terus-terusan dari mulutnya.Ternyata ia terlindas tepat di lehernya.
Walau rasa tak mungkin,pertolongan pertama tetap kami coba lakukan dengan meminumkannya cairan tulang harimau,namun apa daya anak kucing itu menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya.Air mataku tak berhenti mengalir karenanya,diselimuti rasa sesal yang begitu mendalam.
Penuh kata 'seaindainya' dalam hati.Seandainya saja aku tegas,langsung membawanya naik tanpa banyak pikiran antara sebab-akibat.Seandainya saja aku tak terlalu memikirkan ucapan orang atas perbuatan baik yang aku lakukan.Seandainya saja aku selalu mengikuti hati nuraniku,mungkin aku tak pernah menyesal.
Kami menguburkan anak kucing itu di dekat kuburan Kitty dan adik tiri Kitty yang belang tiga loreng.Kali ini adalah kematian tragis kucing yang pernah aku saksikan.Bukan hanya tragis baginya,tapi juga tragis bagi hatiku,sakiiit banget,mungkin juga tragis bagi ibu-ibu gendut tadi karena tanpa sengaja telah menjadikannya seorang pembunuh.
Kadang aku berpikir,mungkinkah Tuhan ingin menghukumku atas dosa-dosa yang pernah aku perbuat sehingga membuatku menjadi orang yang yang selalu mengambil keputusan yang salah yang membuatku menjadi sangat menyesal.Apalagi tadi malam seorang rekanku yang datang berkunjung ke rumahku mendoakanku agar mendapatkan rezeki yang banyak karena suka memberi makan kucing,ketika melihat banyak kucing di rumahku,ternyata hari ini seekor anak kucing malah mati tragis di sekitar rumahku.Ya Allah,maafkanlah aku,jangan buat aku merasa menyesal lagi karena sesuatu hal,jangan hukum aku seperti ini.
Pagi hari yang cerah aku mandi keramas,blow rambutku yang masih basah,masih pula kudengar suara kucing yang mengeong itu.Aku mengintipnya dari teras atas kamarku,anak kucing itu terus mengeong,mondar mandir mencari induknya.
Tergerak hatiku ingin memungutny,namun kemudian kuurungkan niatku itu mengingat papaku sedikit terganggu dengan hadirnya banyak kucing di halaman rumahku.Saat itu juga kebetulan ada ibu-ibu gendut bersepeda motor yang sedang melihat rumah kontrakan nenekku.
Masih mondar-mandir ga jelas antara mau mengambil naik anak kucing itu atau hanya sekedar mencarikannya wadah untuk mengantarkanny susu demi menyelamatkan sedikit dari rasa lapar,aku dengar suara gaduh dari luar.
Ibu gendut itu sibuk minta-minta maaf pada mami,mendadak jantungku berhenti berdetak melihat sang anak kucing yang sudah tergelepar tak berdaya tepat di belakang ban motor si ibu gendut.Sontak aku ambil langkah seribu menuju TKP.Dengan tangan gemetar aku ambil anak kucing yang masih kejang-kejang mengeluarkan darah terus-terusan dari mulutnya.Ternyata ia terlindas tepat di lehernya.
Walau rasa tak mungkin,pertolongan pertama tetap kami coba lakukan dengan meminumkannya cairan tulang harimau,namun apa daya anak kucing itu menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya.Air mataku tak berhenti mengalir karenanya,diselimuti rasa sesal yang begitu mendalam.
Penuh kata 'seaindainya' dalam hati.Seandainya saja aku tegas,langsung membawanya naik tanpa banyak pikiran antara sebab-akibat.Seandainya saja aku tak terlalu memikirkan ucapan orang atas perbuatan baik yang aku lakukan.Seandainya saja aku selalu mengikuti hati nuraniku,mungkin aku tak pernah menyesal.
Kami menguburkan anak kucing itu di dekat kuburan Kitty dan adik tiri Kitty yang belang tiga loreng.Kali ini adalah kematian tragis kucing yang pernah aku saksikan.Bukan hanya tragis baginya,tapi juga tragis bagi hatiku,sakiiit banget,mungkin juga tragis bagi ibu-ibu gendut tadi karena tanpa sengaja telah menjadikannya seorang pembunuh.
Kadang aku berpikir,mungkinkah Tuhan ingin menghukumku atas dosa-dosa yang pernah aku perbuat sehingga membuatku menjadi orang yang yang selalu mengambil keputusan yang salah yang membuatku menjadi sangat menyesal.Apalagi tadi malam seorang rekanku yang datang berkunjung ke rumahku mendoakanku agar mendapatkan rezeki yang banyak karena suka memberi makan kucing,ketika melihat banyak kucing di rumahku,ternyata hari ini seekor anak kucing malah mati tragis di sekitar rumahku.Ya Allah,maafkanlah aku,jangan buat aku merasa menyesal lagi karena sesuatu hal,jangan hukum aku seperti ini.
Selasa, Oktober 27, 2009
Party ala BunCit




Ini nih party ala BunCit ... BCL ... alias, Bunga Citra Lestari ...
Ketika masih lajang tentunya ...
Tp ini jg kudapat dari kawan sih...imel beruntun alias hasil forward sana-sini...
Tau deh mereka dapet darimana, tapi oke juga buat koleksi, secara BunCit tuh cantik banget.
Waaah...jadi pengen party nih!!!
Senin, Oktober 26, 2009
Minggu, Oktober 25, 2009
Indah bila kukenang
Taraaa...setelah lama tak memotong rambut menjadi sangat pendek...akhirnya aku melakukannya lagi kemarin, Sabtu 24 Oktober 2009. Potong rambut ala Yuanita 'take me out' host kulakoni juga. Ini mengingatkan aku saat-saat kuliah dulu, aku yang biasanya pergi berdua dengan sobat kentalku, Jill Joy de Queljoe (ahaaa, lengkap namamu Jill tak tulis...), si nona Ambon manise, kala itu di siang hari yang terik, di tengah ke Be Te-an dan kesendirianku di dalam kamar kos DW29X Nusa Dua, kosku di bukit nan kering, muncul ide dalam benakku...berbekal motor Jupee-ku tersayang, helm dan jaket andalan, aku pergi hang out ke Mall Bali Galleria di Simpang Siur, by myself alias alone!
Saat itu entah sedang terjadi masalah dalam bathinku, mumetnya pikiranku, ditambah kondisi kos yang sedang sepi...nyanyi teriak-teriak dalam kamar sudah bosan aku kerjakan sehari-harinya...Sesampainya di Mall Bali Galleria, aku berjalan kesana-kemari bak anak hilang, ke hypermart (so pasti!), ke matahari, liat film di twenty one pas ga ada yang bagus, sampai aku kehabisan tujuan. Sampai ketika aku melewati Jhonny Andrean, mengingat rambutku yang modelnya sudah terlalu monoton, mengingat usiaku yang masih terlalu muda untuk terus mempertahankan rambut panjang bak mbok-mbok, aku memutuskan untuk memotong rambutku pendeeek sekali, hampir kayak cowok-lah...xixixixixiii...
Sempat shock juga melihat wajahku di kaca...beda 180 derajad! Seperti bukan diriku, aku yang biasanya anggun dengan rambut panjang lurus tergerai, mendadak menjadi rada emo Jepang dengan rambutku yang sangat pendeknya. Oh my gosh! Tapi tak apalah pikirku, itung-itung buang sial,...semoga aja pikiranku ga penuh lagi, hatiku plong, dan juga jiwaku kembali berkobar.
Sesampainya aku di kos, aku menggedor kamar Jill. Yaaa, kalian yang mengenal kami berdua pasti langsung dapat membayangkan ekspresinya dan tahu betapa cemprengnya suaranya meneriakkan kegilaanku. Di kos yang sepi kala itu, suara kami berdua saja yang terdengar riuh, sejenak aku bisa melupakan masalah yang sedang melandaku saat itu.
Entah saat-saat itu bisa terulang kembali atau tidak. Yang jelas, aku memotong rambutku kali ini, bukan karena masalah yang memburuku, bukan karena kesendirianku (padahal, justru kali ini aku lagi jomblo), tetapi...hanya karena sanggul! Hahaaa...pasti kalian berpikir akan hubungannya antara sanggul dan potong rambut...yaitu karena kantorku sekarang mengharuskan kami yang berambut panjang untuk menyanggul rambut kami. Dan karenanya, hampir setiap hari rambutku termakan oleh karet gelang (banyak sekali), sedangkan rambutku panjang, tebal dan cukup indahlah (menurutku khannn???), sayang kalau harus rusak hanya karena sanggul!!!
Kita lihat saja, apa komentar orang-orang mengenai perubahan rambutku setelah aku upload fotoku before dan after di blogku ini, maupun di facebook. Yang jelas tak akan sama dengan riuhnya suasana kami sesama anak kos2an...seperti saat suatu ketika aku pergi ke salon bersama Jill di Jhonny Andrean Ramayana Mall Bali, aku potong rambut (rencananya sih bob nungging kruis-kruis ala Nirina Zubir saat itu) sedangkan Jill hanya Hair Spa sambil menemaniku potong rambut.
Kemudian, setelah potong rambut, kami yang memang janjian dengan dua rekan kami Arif dan Dimas, menunggu mereka sambil makan di food court, sambil terus mengeluhkan kekesalanku pada si mbok tukang potong rambut yang sangat tidak profesional dan hasilnya sangat jauh dari bayanganku. Dan benar saja, masih di ujung escalator, Dimas yang melihatku dari kejauhan langsung tertawa terbahak-bahak dan memanggilku 'Dora'. Whuaaa...Saat-saat itu yang sangat memalukan, tapi ternyata kangen jika kukenang saat ini...
Saat itu entah sedang terjadi masalah dalam bathinku, mumetnya pikiranku, ditambah kondisi kos yang sedang sepi...nyanyi teriak-teriak dalam kamar sudah bosan aku kerjakan sehari-harinya...Sesampainya di Mall Bali Galleria, aku berjalan kesana-kemari bak anak hilang, ke hypermart (so pasti!), ke matahari, liat film di twenty one pas ga ada yang bagus, sampai aku kehabisan tujuan. Sampai ketika aku melewati Jhonny Andrean, mengingat rambutku yang modelnya sudah terlalu monoton, mengingat usiaku yang masih terlalu muda untuk terus mempertahankan rambut panjang bak mbok-mbok, aku memutuskan untuk memotong rambutku pendeeek sekali, hampir kayak cowok-lah...xixixixixiii...
Sempat shock juga melihat wajahku di kaca...beda 180 derajad! Seperti bukan diriku, aku yang biasanya anggun dengan rambut panjang lurus tergerai, mendadak menjadi rada emo Jepang dengan rambutku yang sangat pendeknya. Oh my gosh! Tapi tak apalah pikirku, itung-itung buang sial,...semoga aja pikiranku ga penuh lagi, hatiku plong, dan juga jiwaku kembali berkobar.
Sesampainya aku di kos, aku menggedor kamar Jill. Yaaa, kalian yang mengenal kami berdua pasti langsung dapat membayangkan ekspresinya dan tahu betapa cemprengnya suaranya meneriakkan kegilaanku. Di kos yang sepi kala itu, suara kami berdua saja yang terdengar riuh, sejenak aku bisa melupakan masalah yang sedang melandaku saat itu.
Entah saat-saat itu bisa terulang kembali atau tidak. Yang jelas, aku memotong rambutku kali ini, bukan karena masalah yang memburuku, bukan karena kesendirianku (padahal, justru kali ini aku lagi jomblo), tetapi...hanya karena sanggul! Hahaaa...pasti kalian berpikir akan hubungannya antara sanggul dan potong rambut...yaitu karena kantorku sekarang mengharuskan kami yang berambut panjang untuk menyanggul rambut kami. Dan karenanya, hampir setiap hari rambutku termakan oleh karet gelang (banyak sekali), sedangkan rambutku panjang, tebal dan cukup indahlah (menurutku khannn???), sayang kalau harus rusak hanya karena sanggul!!!
Kita lihat saja, apa komentar orang-orang mengenai perubahan rambutku setelah aku upload fotoku before dan after di blogku ini, maupun di facebook. Yang jelas tak akan sama dengan riuhnya suasana kami sesama anak kos2an...seperti saat suatu ketika aku pergi ke salon bersama Jill di Jhonny Andrean Ramayana Mall Bali, aku potong rambut (rencananya sih bob nungging kruis-kruis ala Nirina Zubir saat itu) sedangkan Jill hanya Hair Spa sambil menemaniku potong rambut.
Kemudian, setelah potong rambut, kami yang memang janjian dengan dua rekan kami Arif dan Dimas, menunggu mereka sambil makan di food court, sambil terus mengeluhkan kekesalanku pada si mbok tukang potong rambut yang sangat tidak profesional dan hasilnya sangat jauh dari bayanganku. Dan benar saja, masih di ujung escalator, Dimas yang melihatku dari kejauhan langsung tertawa terbahak-bahak dan memanggilku 'Dora'. Whuaaa...Saat-saat itu yang sangat memalukan, tapi ternyata kangen jika kukenang saat ini...
"Would you marry me?"
Berada di antara mereka yang telah menikah, aku merasa sedikit minder, mengingat usiaku yang sudah seperempat abad. Bukan hanya karena aku belum menikah, melainkan karena pacar pun aku belum punya. Bukan karena aku terlalu pilih-pilih, melainkan memang belum ada pria yang benar-benar dekat denganku saat ini. Di samping itu, kedua orang-tuaku yang 'serba berlebihan' membuatku selalu takut mau menjalin hubungan dengan seorang pria. Padahal mamiku paling suka mengatakan hal-hal yang sensitive bagi wanita seusiaku yang membuatku semakin merasa minder, entah mengataiku 'jomblo forever'-lah, 'stres karena jomblo'-lah, dan sebagainya, disamping itu juga selalu mendesakku untuk segera menikah dan ingat sama umur. Bingung juga dengan sikap mamiku. Apalagi tak ada lelaki 'yang beres' di mata papaku. Lama-lama aku berpikir, mungkin mereka memang senang kalau anaknya tak ada yang menikah. Walau selalu cool tampangku, tapi rasa bimbang ada juga terbersit di hatiku.
Pernah suatu waktu papa berkata pada adik lelakiku ketika adikku meminta uang untuk pergi malam mingguan bersama teman wanitanya, "Kalau tidak ada uang, tak usah pacaran dulu!". Kata-kata itu mengingatkanku pada kakak tiriku (anak papaku dari Ibu yang lain), yang telah menikah (dalam keadaan miskin), bahkan telah memiliki 4 orang anak! Dan juga masih selalu ingin melibatkan keluarga kami dalam keadaan miskinnya, untungnya kami juga hidup tak serba berlebihan sehingga si doi tak bisa terlalu merepotkan keluargaku. (Kata-kata papaku itu lebih pantas disampaikan pada kakak lelakiku itu sepertinya)
Kembali lagi padaku. Impian seorang wanita untuk segera menikah adalah tentu saja kalau bukan masalah memiliki bayi, selain karena risih rong-rongan para nenek-nenek sok tahu di sekitarku. Saat ke Bali bulan Mei kemarin, aku mengunjungi seorang kawanku sejak SMU sampai sama-sama berkuliah di Bali hingga akhirnya ia menetap di Bali dan menikah dengan seorang bule Australia. Ia telah memiliki seorang bayi perempuan yang sangaaat lucu. Melihat bayinya, terbersit rasa iri di hatiku. Belum lagi berjumpa dengan sahabatku semasa kuliah yang telah memiliki dua orang anak balita laki-laki yang tampan-tampan. Sempurnalah hidup mereka karena telah menjadi seorang ibu.
Harusnya aku memang tidak perlu merasa terlalu malu akan status lajangku, mengingat aku adalah seorang wanita pekerja, namun impian terbesar dalam diriku adalah merasakan menjadi seorang ibu. Memiliki sepasang anak, lelaki dan perempuan, sudahlah cukup bagi diriku. Membesarkan mereka dengan kasih sayang, mengajarkan berbagai hal dalam hidup ini, menjadikan mereka anak-anak yang penuh percaya diri, dan sebagainya. Tapi tak mungkin juga semua dilewati tanpa menempuh jenjang pernikahan, kecuali kita hidup di negeri antah-berantah yang tak memiliki adat-istiadat tentunya.
Bosan juga mendengar para orang tuha bertanya di setiap kedatanganku pada acara pernikahan kerabat kami, "Kapan nyusulnya?". Lucu juga membaca tulisan humor seseorang di networking web twitter, konon ceritanya ia bosan jika di setiap pernikahan rekannya, para orang tuha suka bertanya kapan nyusulnya, maka...ia berencana di suatu acara pemakaman, ia akan bertanya kapan nyusulnya juga ke orang tuha tersebut. Pikiranku, wah...gue banget tuh!
Kadang aku berpikir, haruskah aku hengkang dari rumah agar aku lebih berani melangkah lebih jauh, tidak jalan di tempat, lebih bebas melebarkan sayapku, tidak serba khawatir akan anggapan orang-orang sekitarku terhadap pilihanku, dan juga agar aku lebih bisa menentukan sikap. Ataukah aku tetap diam manis di rumah, menunggu sang pangeran berkuda putih datang menjemputku di rumah kemudian mengatakan padaku, "Would you marry me?"
Pernah suatu waktu papa berkata pada adik lelakiku ketika adikku meminta uang untuk pergi malam mingguan bersama teman wanitanya, "Kalau tidak ada uang, tak usah pacaran dulu!". Kata-kata itu mengingatkanku pada kakak tiriku (anak papaku dari Ibu yang lain), yang telah menikah (dalam keadaan miskin), bahkan telah memiliki 4 orang anak! Dan juga masih selalu ingin melibatkan keluarga kami dalam keadaan miskinnya, untungnya kami juga hidup tak serba berlebihan sehingga si doi tak bisa terlalu merepotkan keluargaku. (Kata-kata papaku itu lebih pantas disampaikan pada kakak lelakiku itu sepertinya)
Kembali lagi padaku. Impian seorang wanita untuk segera menikah adalah tentu saja kalau bukan masalah memiliki bayi, selain karena risih rong-rongan para nenek-nenek sok tahu di sekitarku. Saat ke Bali bulan Mei kemarin, aku mengunjungi seorang kawanku sejak SMU sampai sama-sama berkuliah di Bali hingga akhirnya ia menetap di Bali dan menikah dengan seorang bule Australia. Ia telah memiliki seorang bayi perempuan yang sangaaat lucu. Melihat bayinya, terbersit rasa iri di hatiku. Belum lagi berjumpa dengan sahabatku semasa kuliah yang telah memiliki dua orang anak balita laki-laki yang tampan-tampan. Sempurnalah hidup mereka karena telah menjadi seorang ibu.
Harusnya aku memang tidak perlu merasa terlalu malu akan status lajangku, mengingat aku adalah seorang wanita pekerja, namun impian terbesar dalam diriku adalah merasakan menjadi seorang ibu. Memiliki sepasang anak, lelaki dan perempuan, sudahlah cukup bagi diriku. Membesarkan mereka dengan kasih sayang, mengajarkan berbagai hal dalam hidup ini, menjadikan mereka anak-anak yang penuh percaya diri, dan sebagainya. Tapi tak mungkin juga semua dilewati tanpa menempuh jenjang pernikahan, kecuali kita hidup di negeri antah-berantah yang tak memiliki adat-istiadat tentunya.
Bosan juga mendengar para orang tuha bertanya di setiap kedatanganku pada acara pernikahan kerabat kami, "Kapan nyusulnya?". Lucu juga membaca tulisan humor seseorang di networking web twitter, konon ceritanya ia bosan jika di setiap pernikahan rekannya, para orang tuha suka bertanya kapan nyusulnya, maka...ia berencana di suatu acara pemakaman, ia akan bertanya kapan nyusulnya juga ke orang tuha tersebut. Pikiranku, wah...gue banget tuh!
Kadang aku berpikir, haruskah aku hengkang dari rumah agar aku lebih berani melangkah lebih jauh, tidak jalan di tempat, lebih bebas melebarkan sayapku, tidak serba khawatir akan anggapan orang-orang sekitarku terhadap pilihanku, dan juga agar aku lebih bisa menentukan sikap. Ataukah aku tetap diam manis di rumah, menunggu sang pangeran berkuda putih datang menjemputku di rumah kemudian mengatakan padaku, "Would you marry me?"
Langganan:
Postingan (Atom)



